
"Fa? Jangan nangis terus dong" bujuk, Risa
Syifa menghela napas dalam-dalam. "Gue udah ngga apa-apa kok" ia memaksakan senyumnya
"Luthfi?" panggil, Syifa kepada, Luthfi yang masih kacau dalam posisi berdiri
Luthfi melirik ke, Syifa. "Kenapa?"
Syifa melihat semua teman-temannya tengah memperhatikan dirinya
"Gue mau ngomong tapi diluar yah?" tanya, Syifa pelan
Luthfi hanya mengiakan dan berlalu dari sana yang disusul oleh, Syifa. Saat mereka sampai disalah satu gedung yang sepi, Luthfi berhenti namun masih tetap membelakangi, Syifa
"Mau ngomong apa?" tanya, Luthfi tanpa menoleh
Syifa sejenak menggigit bibir bawahnya. Kemudian menarik napas lalu membuangnya pelan. Luthfi mengernyit saat, Syifa tidak menjawab pertanyaannya. Ia pun membalikkan badannya bertepatan saat, Syifa hendak bersuara. Mata mereka bertemu. Namun dengan cepat, Syifa mengalihkan pandangannya
"Jadi mau ngomong apa?" tanya, Luthfi kembali
"Luthfi. Loh tau kan cewek punya hati yang lemah?" tanya, Syifa dengan hati-hati
Luthfi hanya mengangguk
"Tadi loh nyakitin hati, Marcelia" ucap, Syifa dengan pelan
"Maksud loh?", Luthfi menampilkan aura dingin pada wajahnya
"Hmm. Gue ngerasa, Celia pasti sakit hati sama kata-kata loh tadi" ujar, Syifa yang tidak berani menatap, Luthfi. "Loh harus minta maaf sama dia" imbuhnya
"Tatap mata gue" perintah, Luthfi dengan dingin, Syifa hanya menurut. "Loh sendiri ngga sakit hati sama kata-kata dia barusan?", Luthfi memicingkan matanya
Syifa menggeleng pelan lalu menunduk menghela napas sebelum kembali menatap, Luthfi. "Gue ngga apa-apa kok. Gue punya, Risa sama Viona yang bisa nenangin gue saat gue nangis. Tapi, Celia? Gue ngga tau dia punya siapa yang bisa nenangin dia saat ini. Jadi, gue mohon sama loh. Tolong minta maaf sama dia" sahut, Syifa yang memaksa senyumnya terbit
Luthfi mengusap kasar rambutnya. "Bisa ngga sih loh ngga usah terlalu baik sama orang lain?" kesal, Luthfi
Syifa menggeleng. "Ngga gitu, Fi. Emang loh ngga sadar? Kata-kata loh tadi nyakitin hatinya, Celia" ujar, Syifa
Luthfi menghela napas dengan kasar. Ia membalikkan badannya lalu meninju udara
"Luthfi!" teriak, Syifa namun tidak bergeming ditempatnya
"Gue ngga suka loh terlalu baik sama orang" seru, Luthfi menatap dingin, Syifa
"Gue ngga terlalu baik, Fi. Emang loh mau dicap sebagai laki-laki yang ngga bertanggung jawab? Ngga kan? Apa salahnya loh minta maaf sama, Celia?", Syifa meluapkan emosinya
Bruk!!
Luthfi meninju tembok yang tidak bersalah apa-apa. Tangan putihnya terlihat memerah bersamaan dengan raut wajahnya yang juga memerah dengan otot-otot di pelipisnya terlihat mengencang.
"Luthfi" teriak, Syifa yang menghampiri, Luthfi. "Loh ngapain mukul tembok?" serunya. Ia kemudian meraih tangan, Luthfi dengan pelan, memperhatikan setiap luka dipunggung tangan tersebut, air matanya bahkan terjatuh mengenai tangan, Luthfi yang terluka. "Ini pasti sakit banget" isaknya dengan membelai pelan punggung tangan, Luthfi yang luka
Luthfi kembali mengusap kasar wajahnya dengan tangan satunya. Ia meraih dagu, Syifa lalu menghapus air matanya. "Jangan menangis" ucapnya dengan lembut
"Tapi ini pasti sakit", Syifa kembali menunduk memperhatikan punggung tangan, Luthfi. "Ini semua gara-gara gue. Loh kesal sama gue, terus loh mukul tembok yang ngga salah apa-apa dan ngelukain tangan loh sendiri", Syifa semakin terisak
Luthfi berusaha menahan senyumnya, ia menarik tangannya dari genggaman tangan, Syifa lalu memeluk, Syifa yang masih terisak dalam tangisnya. "Maaf. Tapi ini ngga sakit" ucap, Luthfi membelai kepala, Syifa dalam pelukannya
"Mana mungkin ngga sakit? Tangan yang lagi kram aja sakit padahal ngga di apa-apain, apalagi mukul tembok yang keras", Syifa terus terisak meski beberapa kali ia menyeka air matanya
"Maaf juga. Tadi gue kasar sama loh" ujar, Luthfi membelai rambut dan punggung, Syifa
Syifa kemudian mendorong, Luthfi. "Ia. Loh kasar banget. Sampai harus mukul tembok segala" seru, Syifa dengan kesal
"Ia ia maaf", Luthfi kembali mendekati, Syifa
"Tapi loh mau kan?" tanya, Syifa saat, Luthfi mendekat kepadanya
__ADS_1
"Mau apa?", Luthfi mengernyit heran
"Minta maaf ke, Celia" ucap, Syifa dengan pelan
Luthfi diam sejenak menarik napas lalu membuangnya. Ia kemudian mengangguk walau berat hati. Syifa tersenyum puas walau tangisnya belum berhenti saat, Luthfi menganggukkan kepalanya
"Tapi gue punya syarat" cetus, Luthfi
Syifa mencibir ditengah kegirangannya. "Apa syaratnya?" ketus, Syifa
"Asal, Celia juga mau minta maaf sama loh", Luthfi melipat kedua tangannya di atas perut dengan bersandar pada tembok yang ia pukul tadi
Syifa memutar malas bola matanya. Ia kemudian pergi dari hadapan, Luthfi dengan kesal. Namun tiba-tiba ia berhenti dan membalikkan badannya menghadap, Luthfi
"Dia ngga akan mau minta maaf ke gue" gerutu, Syifa yang kemudian kembali berlalu
"Gue juga ngga mau minta maaf ke dia kalau gitu" seru, Luthfi yang sukses membuat, Syifa terhenti
Dengan cepat, Syifa berbalik "Luthfi!!!!!" teriak, Syifa dengan sangat kesal.
"Syifa", Luthfi menjawabnya dengan menahan tawanya
"Ngga guna juga gue ngomong sama loh" seru, Syifa yang hendak berlalu namun tiba-tiba menabrak seseorang yang ada di depannya. Mata, Syifa seperti sedang kemasukan sesuatu
"Gue minta maaf. Gue ngga lihat loh" ucap orang tersebut
"Ngga. Gue yang salah" sahut, Syifa tanpa menoleh. Ia terus mengusap kedua matanya yang kemasukan sesuatu
"Kenapa?" tanya, Luthfi yang menghampiri, Syifa
"Mata gue kemasukan sesuatu, Fi" rengek, Syifa yang terus mengusap matanya
"Sorry. Gue lagi bawa tanah liat buat percobaan kelas Biologi. Gue ada penelitian di jurusan gue. Sorry" ucap orang tersebut
"Tanah liat? Ahhhh. Mata gue perih", Syifa semakin mengusap matanya
"Sorry. Gue ngga sengaja" ujar orang tersebut merasa bersalah
"Ngga kok. Ini gue yang salah" tukas, Syifa
"Tapi sorry. Gue juga harus pergi. Gue buru-buru"
"Ngga apa-apa. Pergi aja" perintah, Syifa
"Sorry yah" ucap orang tersebut sambil berlalu
"Perih banget yah?" tanya, Luthfi
"Perih lah. Mata gue susah kebuka" rengek, Syifa beberapa kali menyeka air matanya
"Jangan nangis", Luthfi membantu, Syifa menghapus air matanya
"Gue bukan nangis. Mata gue kemasukan sesuatu, jadinya perih" kesal, Syifa
"Ia ia", Luthfi menggaruk tengkuknya. "Ayo ke kelas. Sini, gue bantuin loh", Luthfi meletakkan kedua tangannya di pundak, Syifa lalu menuntunnya menuju kelas
Saat mereka memasuki kelas. Semua pasang mata menuju kearah mereka berdua. Namun tentu saja, Syifa tidak tau karna matanya susah untuk terbuka. Viona dan Risa begitu heboh menyaksikan, Luthfi menuntun, Syifa memasuki kelas. Luthfi mendudukkan, Syifa pada kursinya
"Mata loh kenapa, Fa?" tanya, Risa yang baru tersadar
"Loh apain teman gue, Fi" tanya, Viona kepada, Luthfi
"Ngga usah lebay deh kalian. Ini mata gue kemasukan tanah liat" jawab, Syifa yang masih terus mengusap pelan kelopak matanya
"Kemasukan tanah liat? Gimana ceritanya?" tanya, Risa dengan heran
"Emang Fakultas kita ada tanah liatnya yah?" timpal, Viona
__ADS_1
"Aduh!!!! Diam dulu deh kalian. Ribut terus. Sakit mata gue nih. Ah" kesal, Syifa yang dicercol pertanyaan oleh kedua temannya
"Sssstttt", Vigo memberi isyarat ke mereka
Fahri menaikkan sebelah alisnya kepada, Luthfi. Namun, Luthfi hanya mengangguk sekali.
"Sini coba biar gue tiup" tawar, Risa yang memegang kedua pipi, Syifa lalu mulai meniup matanya
"Buka mata gue dikit biar anginnya masuk" perintah, Syifa yang kemudian dilakukan oleh, Risa
Risa terus meniup-niup lalu berhenti sebentar untuk menayakan bagaimana perkembangannya. Namun, Syifa hanya menggeleng. Risa terus meniup hingga dia hampir kehabisan napas
"Mata loh ini kemasukan berapa liter tanah sih, Fa? Kok ngga berenti-berenti sakitnya" ujar, Risa yang sudah kewalahan
"Ngga tau" Sahut, Syifa dengan manjanya. "Mata gue perih banget. Rasanya kasar nih kelopak mata gue" imbuhnya
"Biasanya kalau kemasukan sesuatu tuh di usap pelan-pelan, Fa dengan satu arah" cetus salah satu dari mereka
"Ia. Itu jangan diputar ke sembarang arah. Nanti makin lama berhentinya dan makin perih"
"Usap pelan-pelan lebih bagus"
"Tapi diusap pelan sambil ditiup tuh lebih manjur"
"Ia benar tuh, diusap sambil ditiup"
Syifa mulai mengusap pelan dengan satu arah sesuai petunjuk teman-teman kelasnya lalu menyuruh, Risa untuk meniupnya pelan
"Bentar, Fa. Gue ngambil napas dulu" ujar, Risa
"Sini, Biar gue yang usap", Luthfi membalikkan badan, Syifa untuk mengahadnya. Syifa hanya mengikut walau tidak membuka mata. Luthfi lalu menangkap kedua pipi, Syifa dengan ibu jarinya mengelus pelan kedua kelopak matanya
"Buka mata dikit" perintah, Luthfi
"Ngga bisa. Kalau bisa juga udah dari tadi gue buka mata" keluh, Syifa. Luthfi hanya menggeleng pelan
"Sabar, Fi" ucap, Fahri terkekeh
"Hmm". Luthfi terus mengusap pelan kelopak mata, Syifa lalu membuka sedikit matanya untuk bisa ia tiup
"Dikit lagi, Fi. Udah ngga terlalu sakit" ujar, Syifa yang berusaha membuka perlahan-lahan matanya
"Jangan dipaksa dulu. Nanti makin sakit" cetus, Luthfi
Luthfi dengan sabar terus mengusap dengan pelan sambil meniup perlahan. Matanya tidak lepas memandang wajah, Syifa yang hanya berjarak 10 cm saat ia mengusap dan berjarak 5 cm bila ia meniup mata, Syifa
Syifa perlahan mulai membuka matanya. Ia mengerjap-ngerjap menyesuaikan pencahayaan yang masuk ke matanya. Senyumnya mengembang, tanpa sadar ia menepuk-nepuk tangan, Luthfi yang berada di pipinya
"Udah ngga sakit lagi, Fi" ucapnya dengan menepuk tangan, Luthfi
"Awww. Tangan gue, Fa" rintih, Luthfi yang sukses membuat, Syifa meraih tangan, Luthfi yang luka
"Maaf. Gue lupa tangan loh lagi luka" ujar, Syifa merasa bersalah
"Tangan loh kenapa, Fi?" tanya, Vigo memperhatikan tangan, Luthfi di genggaman, Syifa
"Ia. Tangan loh kenapa? Kok bengkak gitu?" timpal, Fahri
"Kayak habis aja berantem loh" seru, Viona
"Ia habis berantem sama tembok", Syifa melirik tajam, Luthfi
"What? Tembok? Punya salah apa tembok sama loh, Fi?" seru, Risa dengan setengah berteriak
Mereka semua baru memperhatikan tangan, Luthfi yang luka. Sedari tadi, mereka tidak menyadarinya karna sibuk melihat adegan romantis antara, Luthfi dan Syifa
"Masih sakit banget?" tanya, Syifa mengelus-elus punggung tangan, Luthfi yang menampakkan luka lebam disana
__ADS_1