
"Ngga usah ngejitak gue juga kali" ketus, Viona mengusap pelipisnya
"Ya loh sih. Ngomong ngga dipikir dulu" gerutu, Syifa
"Jangan ribut terus. Habisin minum kalian sana sebelum jam kuliah dimulai lagi", Luthfi melerai perdebatan mereka yang berkepanjangan hingga membuat selera makan mereka menghilang
"Tapi cuma itu aja kan? Ngga ada yang kalian sembunyiin lagi?" selidik, Risa sebelum menyudahi interogasi mereka
"Cuma itu" saut, Luthfi yang mengaduk aduk minumannya
"Eh ngga. Masih ada lagi loh satu", Syifa mengangkat jari telunjuknya satu
"Apa lagi?" tanya, Luthfi heran
"Loh kan belum minta maaf sama, Marcelia" jawab, Syifa yang sudah menurunkan jarinya
"What?" saut, Viona dan Risa
"Gue ngga salah dengar?", Viona menghadapkan sepenuhnya badannya kearah, Syifa
"Bentar-bentar. Maksud loh apa nyuruh, Luthfi buat minta maaf sama, Celia?", Risa pun ikut terkejut dibuatnya
"Loh ngga diapa-apain kan sama tuh cewek?" timpal, Fahri yang tidak terlalu mengenal, Marcelia karna dia hanya mahasiswa transfer
"Di ancam ya loh, Fa?" tanya, Vigo
Syifa dan Luthfi mendengus lalu memutar malas bola matanya melihat reaksi teman mereka yang terlalu berlebihan baginya
"Biasa aja kali. Lebay deh kalian" seru, Syifa yang mendegus dan melipat kedua tangannya di meja
"Ya udah jelasin" perintah, Risa yang sudah tidak sabar
"Apa yang mau gue jelasin? Gue nyuruh, Luthfi buat minta maaf sama, Celia. Udah itu aja" jawab, Syifa dengan santai
"Yah maksud kita tuh, ngapain gitu loh nyuruh, Luthfi minta maaf ke, Celia? Emang, Luthfi ada salah?" celoteh, Viona
"Adalah. Kalau ngga ada, ngapain gue nyuruh, Luthfi minta maaf. Gila apa gue" cercah, Syifa yang sewot
"Yah emang gila loh. Luthfi ngga ada salah tapi loh nyuruh dia minta maaf" hardik, Risa
"Ngga usah ngatain gue gila deh. Loh tanya sendiri sama, Luthfi kesalahan dia apa sama, Marcelia" tukas, Syifa yang tidak ingin disalahkan
"Punya salah apa loh sama si, Marcelia itu?" tanya, Fahri saat, Syifa menyuruh mereka untuk bertanya kepada, Luthfi
"Jangan bilang cuma karna masalah kemarin", Vigo berusaha menebak dengan menunjuk, Luthfi
__ADS_1
Luthfi mengangguk yang sambut mulut menganga dari keempatnya. "Padahal gue ngga tau salahnya dimana, tapi gue, disuruh minta maaf" saut, Luthfi lemas namun tidak punya pilihan
"Kesalahan loh, karna loh marahin dia di depan semua teman kelas kita. Bayangin gimana malunya, Marcelia waktu itu" seru, Syifa yang menganggap bahwa, Luthfi memang punya kesalahan
"Terserah loh deh", Luthfi pasrah dan tidak ingin memperpanjang masalah ini
"Jadi? Loh bakal minta maaf dong sama, Celia?", Viona memasang wajah tidak suka ketika nama wanita itu disebut
"Benar-benar gila loh, Fa. Padahal, Celia juga marah-marah sama loh kemarin, depan umum juga tuh" tukas, Risa yang menimpali ucapan, Viona
"Harusnya, Marcelia juga minta maaf sama loh" seru, Fahri menunjuk, Syifa
"Gue setuju" timpal, Vigo
"Gue juga udah ini ke dia", Luthfi menunjuk, Syifa dengan dagunya. "Tapi dianya ngga mau"
"Mau aja loh, Fa dibegoin" ujar, Vigo kepada, Syifa
"Kok jadi nyalahin gue sih?" gerutu, Syifa yang mulai menampakkan wajah cemberutnya
Mereka akhirnya menyerah dan tidak membalas lagi ucapan terakhir, Syifa karna melihat wajahnya yang sudah menampakkan kekesalan yang akan menjadi lebih ganas ketika diperpanjang dan berakhir dengan keluarnya kemarahan, Syifa
"Ingat, Fi! Nanti minta maaf sama, Celia", Syifa mengingatkan, Luthfi meski dengan berat hati, Luthfi harus mengangguk
Yang lain hanya menghela napas kasar dengan malas namun tidak ada yang berani berkomentar apalagi, Risa yang sudah sangat mengenal sifat, Syifa sejak lama.
"Ayo balik ke kelas" ajak, Vigo setelah mereka membayar minuman mereka masing-masing
"Ayo" saut mereka
Mereka pun berjalan bersama menuju kelas berikutnya yang akan mereka tempati untuk belajar kembali. Saat memasuki kelas, ruangan tersebut sudah dipadati oleh beberapa mahasiswa yang lain. Hingga mereka berlima terpaksa harus duduk di kursi belakang yang masih tersisa
"Kelamaan apa kita yah di kantin?", Syifa menengok ke kiri dan ke kanan melihat beberapa mahasiswa yang sudah terlebih dulu memadati kelas
"Perasaan ngga sampai sejam deh kita di kantin" saut, Risa yang terus berjalan melewati beberapa orang untuk sampai di kursi belakang
"He'em", Viona mengangguk. "Atau banyak senior kali yah yang mengulang di mata kuliah ini" timpal, Viona
"Kayaknya sih ia" tukas, Vigo lalu duduk di samping, Viona
"Duduk disini, Fi sama, Syifa", Fahri menyuruh, Luthfi dan Syifa duduk di dua kursi paling ujung belakang.
Karna sudah tidak ada lagi tempat lain, Luthfi dan Syifa terpaksa duduk di kursi paling ujung belakang tersebut. Mengingat, Risa, Viona dan Vigo duduk di depan mereka yang sama-sama berada diujung. Luthfi berada ditengah hingga, Syifa yang benar-benar berada diujung tembok. Jika, Syifa bersandar ke samping kanan tepat ada tembok, dan bersandar ke belakang pun, ada tembok
"Ngga apa-apa kan loh diujung" tanya, Luthfi dengan pelan
__ADS_1
Syifa mengangguk lalu tersenyum. "Ngga apa-apa kok"
Terlihat, Reza mendatangi, Syifa yang berada diujung. "Syifa?" panggil, Reza
"Ia, Reza? Ada apa?" tanya, Syifa
"Loh duduk di depan aja di tempat gue. Biar gue yang duduk disitu", Reza memberika tawaran kepada, Syifa
"Eh. Ngga apa-apa, Za. Gue ngga apa-apa kok disini", Syifa melambaik-lambaikan tangannya di depan dada
"Ngga apa-apa juga, Fa. Kasian loh diujung sini. Biar gue gantiin loh" seru, Reza yang masih ingin berganti posisi duduk dengan, Syifa
"Cieeee, Syifa. Reza so sweet banget sih"
"Kalau punya cowok kayak, Reza pasti bikin hati adem"
"Beruntung banget, Syifa bisa dekat sama dua cowok ganteng di kelas kita"
"Ia bener banget. Dekat sama, Luthfi karna teman sekolah dulu. Dan sekarang dijadikan gebetan sama, Reza yang ngga kalah ganteng"
Ocehan teman-temannya yang lain membuat, Reza hanya tersenyum manis. Sedang, Syifa malah menjadi salah tingkah dan beberapa kali melirik, Luthfi yang tanpa ekspresi di sampingnya. Keempat teman mereka hanya saling memandang satu sama lain
"Reza?" panggil, Syifa dengan lembut hingga membuat, Luthfi menoleh kearahnya. "Ngga apa-apa kok gue disini. Gue malah suka disini, soalnya adem temboknya", Syifa berusaha keras menampilkan senyum tulusnya sambil meraba-raba tembok di sebelahnya.
"Ia, Reza. Syifa emang dari dulu suka nempel-nempel di tembok karna adem katanya. Kayak cicak gitu loh. Ia kan, Fa?" saut, Risa yang berusaha keras menahan senyum dan tawanya.
Berbeda dengan, Viona, Vigo dan Fahri. Mereka menutup mulut mereka agar suara tawanya tidak keras yang akan membuat, Syifa mengamuk dan berakhir dengan adegan ngambek gadis itu
Meski, Syifa ingin sekali memaki-maki, Risa saat ini. Namun ia berusaha menahan luapan emosinya serta mengatur napasnya agar emosinya bisa stabil
"Ia, Za", Syifa mengiakan perkataan, Risa walau dirinya sudah sangat ingin melempar temannya itu ke tengah laut hingga dimakan oleh Hiu sekalian
"Ya udah. Kalau gitu, gue ke depan yah" ucap, Reza bersamaan dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya. Syifa hanya mengangguk tak lupa membalas senyum, Reza
Syifa mencubit pinggang, Risa saat, Reza sudah berjalan ke depan. "Benar-benar loh yang bikin gue malu" geram, Syifa dengan pelan
"Awww... Syifa! Sakit gila" seru, Risa. "Harusnya loh berterima kasih ke gue, bukan malah nyubit-nyubit gue", Risa mengusap pinggangnya
"Mau berterima kasih apaan gue ke loh. Karna ngatain gue kek cicak?" geram, Syifa yang semakin kesal
Viona, Vigo dan Fahri tidak juga bersuara karna harus setengah mati menahan tawanya agar tidak lepas. Berbeda dengan, Luthfi yang masih menampilkan wajah cuek, dingin, datar miliknya
"Yang penting kan, Reza udah pergi" bisik, Risa melihat sekitarnya agar tidak ada yang mendengar
"Mending ngga usah loh bantuin gue kalau gitu" gerutu, Syifa sambil melipat kedua tangannya di atas perut lalu bersandar yang, menampilkan wajah cemberutnya
__ADS_1
"Udah" saut, Luthfi setelah lama terdiam hingga membuat yang lainnya langsung bungkam melihat ekspresi wajah, Luthfi yang dingin.
"Luthfi?" panggil, Syifa dengan sangat pelan yang menyentuh lengan, Luthfi