
"Hargai kami yang jomblo disini" tegur, Fahri yang membuat, Syifa dan Luthfi salah tingkah namun masih dengan air muka yang seperti biasanya. Syifa yang berwajah acuh tak acuh dengan kegengsiannya. Sedang, Luthfi dengan temperamennya cuek dan dingin.
"Ngenes amat loh jadi jomblo" tawa, Risa pecah saat mengatakannya.
"Emang loh ngga jomblo?" pertanyaan, Viona yang mengejek, Risa sukses membuat gadis tersebut menghentikan tawanya dan menatap tajam, Viona
Tawa, Syifa, Viona, Luthfi, Fahri dan Vigo tatkala melihat perubahan wajah, Risa yang tadinya terbahak mendadak menjadi kesal.
"Jangan mentang-mentang udah pacar loh yah" seru, Risa dengan kesal.
"Kalian berdua kan jomblo, kenapa ngga jadian aja" tawar, Vigo dengan entengnya lalu melihat, Fahri dan Risa secara bergantian yang membuat keduanya salah tingkah sekaligus kesal dengan ucapan, Vigo
"Mereka berdua udah pacaran kok" cetus, Syifa dengan santai sambil meminum minumannya.
"Apa?" teriakan dari keempat temannya kecuali, Luthfi yang hanya menoleh heran kepadanya terpaksa membuat, Syifa menutup telinganya lalu memejamkan matanya dan sedikit menunduk
"please. Suara kalian ngeganggu tau ngga" seru, Syifa menatap satu persatu temannya dengan kesal. Bahkan beberapa pasang mata melihat mereka dengan mengerutkan kening. "Tuh, kita jadi bahan perhatian" imbuhnya melirik orang-orang yang melihat ke meja mereka
"Ya loh sih bikin kaget. Sejak kapan coba gue pacaran sama, Fahri. Ngaco loh" seru, Risa yang menaikkan intonasi suaranya tidak terima dengan perkataan, Syifa. "Biasa aja dong, ngegas banget loh" tegur, Fahri yang duduk disamping, Risa.
"Gue ngga terima yah" lanjut, Risa dengan nada suara yang masih terdengar kesal.
"Fahri biasa aja tuh. Loh kenapa ngegas banget" cetus, Luthfi yang menaikkan sebelah alisnya dan melipat kedua tangannya di atas meja.
"Itu karna, Fahri emang suka sama gue" jawab, Risa dengan songong dan melipat kedua tangannya di atas perut
Dengusan dari teman-temannya diberikan kepada, Risa termasuk, Fahri. Untung saja, mereka sudah lumayan mengenal karakter dari masing-masingnya sehingga mereka bisa tau mana yang serius dan mana yang bercanda
"Tapi serius deh, Fa. Emang benar? Fahri sama Risa udah jadian? Kok ngga ngasih tau kita sih?" tanya, Viona dengan polosnya. Bahkan yang lainnya pun ikut polos dengan ucapan, Syifa tadi yang mengatakan bahwa, Fahri dan Risa sudah berpacaran
"Loh percaya sama nih anak?", Risa menunjuk, Syifa. "Sepuluh Tuhan loh. Beneran deh" lanjutnya yang membuat teman-temannya tertawa dengan perkataan lucu, Risa
"Jadi kalau kita percaya sama omongan, Syifa. Berarti Tuhan kita ada sepuluh nih? Sebutin dong apa aja tuh?" cetus, Vigo di sela-sela tawanya.
__ADS_1
"Ada-ada aja loh" timpal, Fahri yang hanya bisa menggeleng. "Fahri sama Risa beneran jadian?" tanya, Luthfi kepada, Syifa yang berada di sampingnya
"Udah" jawab, Syifa dengan cepat.
"Ngarang loh" seru, Risa yang berada tepat di depan, Syifa. "Seenggaknya sih bagi mantan terlaknat, Risa. Kalau sekarang, Risa punya pacar dan dialah, Fahri" saut, Syifa dengan santai seperti tanpa dosa yang menyebarkan berita palsu alias hoax.
"Benar-benar ya loh, ngeselin banget" gerutu, Risa yang menjadi bahan tertawaan yang lainnya.
***/
"Bawa apa lagi yah?", Syifa sudah memasukkan semua barang yang akan ia bawa di penelitian nantinya.
"Semua barang yang diperlukan untuk penelitian sudah lengkap?" tanya, Risa yang masih sibuk dengan barang-barangnya yang akan ia masukkan ke dalam koper.
"Udah lengkap semua sih. Tapi kayaknya disana dingin kan? Gue mau bawa jaket yang tebal ah. Takutnya disana kedinginan", Syifa hendak berjalan menghampiri lemari pakaiannya.
"Kan nanti disana ada, Luthfi yang bisa ngehangatin loh" cetus, Risa yang menahan tawanya namun tangannya masih sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam koper
"Bawa senter bisa dua kali yah? Buat jaga-jaga, takutnya senter yang kita bawa baterainya abis", Syifa mengambil dua senter di dalam lemarinya dan mengambil beberapa jaket yang sekiranya bisa menghangatkan tubuhnya disana nanti
"Kan nanti disana ada, Luthfi yang bisa nerangin loh" lagi-lagi, Risa menggoda, Syifa lalu menutup mulutnya umtuk menahan tawa.
"Loh pengen lemari ini sekalian gue banting ke muka loh?" seru, Syifa yang sudah kesal dan menghadap, Risa
"Bercanda kali. Serius banget loh" ujar, Risa yang sudah selesai memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper.
"Loh bawa berapa jaket?" tanya, Syifa yang menuju kearah, Risa dan langsung memasukkan jaket serta senternya ke dalam kopernya
"Gue bawa tiga sih. Kan cuma tiga hari kita disana" saut, Risa yang mendudukkan tubuhnya dengan baik di sisi tempat tidur milik, Syifa
"Semoga penelitiannya bisa lebih cepat selesainya supaya kita bisa ada waktu buat jalan-jalan" seru, Syifa yang begitu kegirangan saat mengetahui akan melakukan penelitian di pulau Lombok
***/
__ADS_1
"Ingat yah anak-anak. Selama disana nantinya, kalian harus mematuhi apa yang pembina kalian arahkan. Dan Ingat, disana kalian bukan sedang berlibur, tapi sedang melakukan penelitian. Bagi siapa saja yang tidak mematuhi peraturan, akan dikirim pulang saat itu juga. Apa kalian mengerti?" tutur dosen tersebut dengan panjang kali lebar sebelum mereka semua berangkat
"Mengerti pak" jawab mereka dengan kompak
"Baik. Sebelum kita berangkat. Mari kita berdoa bersama-sama terlebih dahulu menurut kepercayaan masing-masing. Doa, dimulai" Semua yang disana menundukkan pandangannya seraya berdoa sebelum keberangkatan mereka.
"Selesai. Baik. Silahkan naik ke bus masing-masing sesuai kelas yah. Jangan ada yang kesasar ataupun berpisah dengan teman kelasnya. Ayo, semuanya naik ke bus" mereka semua sudah mulai memadati tempat duduk di dalam bus tersebut.
"Duduk disini yuk, Fa?", Risa menunjuk tempat duduk yang lumayan berada dekat dengan pintu bus tersebut. "Ayo", Syifa langsung berhambur duduk di dekat jendela
"Curang loh, gue dong yang harusnya duduk disitu?" tegur, Risa yang bersikokoh ingin duduk di dekat jendela
"Ngga mau. Kan gue yang duluan. Gue juga pengen duduk dekat jendela tau" saut, Syifa yang juga tidak ingin berpindah dari tempat duduknya
"Ngga mau. Gue mau duduk disitu" bantah, Risa yang terus menunjuk tempat duduk, Syifa.
"Duduk disini aja kenapa sih?", Syifa menepuk kursi kosong yang ada di sampingnya
Risa hendak bersuara. "Kalian ini yah? tempat duduk aja kalian ributin. Tukaran sana sama, Luthfi" seru, Viona yang duduk di belakang mereka dan menunjuk tempat duduk, Luthfi dan Fahri yang berada di sebelah, Syifa dan Risa
"Sana tukaran duduk sama, Luthfi loh, Sa" timpal, Vigo yang juga ikut pusing dengan perdebatan kedua gadis tersebut. "Loh mau tukaran sama, Luthfi ngga nih? Sebelum gue duduk" ujar, Fahri yang masih berdiri
Risa sejenak berpikir, lalu melirik, Syifa dan Luthfi secara bergantian sebelum akhirnya ia dengan terpaksa harus rela bertukar posisi dengan, Luthfi. Syifa sempat menahan, Risa untuk tidak bertukar tempat duduk dengan, Luthfi. Namun, Risa tidak mau karna, Syifa masih tidak ingin pindah dari tempat duduknya
Sepanjang perjalanan, Syifa terus menatap keluar jendela dan memperhatikan semua yang ia lewati. Namun, Luthfi mengira bahwa, Syifa tidak menyukai dirinya yang duduk di sampingnya dan bahkan tidak mengucapkan apapun
Saat, Syifa hendak mengambil botol minum dari bawah kakinya yang sudah ia simpan tadi, kepalanya terbentur dengan kursi yang ada dihadapannya. Ingin sekali ia berteriak karna kesakitan, namun ia urungkan karna beberapa dari temannya sedang tertidur dan ia tidak mau karna teriakannya membuat teman-temannya terbangun.
"Loh kenapa?", Luthfi langsung membantu, Syifa saat mendengar suara benturan terdengar di kepala, Syifa. "Hati-hati", Luthfi mengelus kepala, Syifa yang terbentur.
"Benjol ngga?", Syifa meraba-raba kepalanya yang terbentur tadi, ia terus mengusap-usap kepalanya dengan meringis pelan. "Ngga kok. Hati-hati" saut, Luthfi yang memperhatikan seluruh kepala, Syifa untuk memastikan tidak terjadi apa-apa disana
Dan di saat, Syifa mengangkat kepalanya. Wajahnya dan wajah, Luthfi sangat dekat hingga membuat debaran jantungnya bergejolak dengan cepat. Aliran darahnya terasa panas dingin di seluruh tubuhnya. Bersamaan dengan tatapan mata, Luthfi yang semakin membuat hawa panas dingin dalam tubuhnya mengalir dengan deras.
__ADS_1