
Syifa dengan cepat menjauhkan bibirnya dari pipi, Luthfi. Syifa menoleh ke belakang dan melihat, Celia disana yang pura-pura ikut bernyanyi bersama yang lainnya. Beruntungnya, fokus semua orang mengarah ke pemain gitar sehingga tidak ada yang menyadari apa yang dilakukan, Syifa dan Luthfi termasuk, Celia yang ketika sudah menendang kursi, Syifa ia berpura-pura tidak melihat dan tidak tau apa-apa
"Lut... Luthfi... Gue.. Gue.. Ngga sengaja" ucap, Syifa dengan pelan dan terbata-bata. Ia bahkan meremas kedua tangannya saking takutknya, Luthfi marah. Badannya gemetar, air matanya mulai membendung
"Ngga apa-apa", Luthfi meraih tangan, Syifa yang ia remas tadi dengan penuh ketakutan. Luthfi bahkan bisa merasakan tangan, Syifa yang gemetar. Karena, Syifa menghadap dirinya, Luthfi meraih kepala, Syifa untuk bersandar dikursinya agar tidak ada yang melihat, Syifa yang ketakutan dengan air mata yang memenuhi matanya
"Jangan nangis" ujar, Luthfi dengan pelan yang berusaha menenangkan, Syifa yang ketakutan.
"Tapi beneran, gue ngga sengaja. Ada yang dorong gue tadi" jelas, Syifa yang menggeleng bersamaan dengan air matanya yang mulai berjatuhan.
"Ia gue tau. Gue ngerasain kok. Tapi jangan nangis. Nanti teman-teman yang lain lihat gimana" ucap, Luthfi sambil membantu, Syifa menghapus air matanya. "Jangan nangis lagi, dan gue minta maaf" imbuhnya
Syifa menggeleng. "Ngga kok. Loh ngga salah. Gue yang salah". "Ngga ada yang salah. Loh juga ngga sengaja kan?" tanya, Luthfi yang menatap lekat-lekat mata, Syifa. Syifa pun mengangguk dan menghapus air matanya.
"Jadi jangan takut. Gue ngga marah kok" tukas, Luthfi yang membuat, Syifa sedikit tenang dan lega. Pasalnya, ia sangat takut, Luthfi marah kepadanya karena ketidaksengajaannya
'jantung gue' batin, Luthfi
Karna kejadian tadi. Syifa dan Luthfi menjadi canggung, dan berbicara hanya jika benar-benar diperlukan oleh kelompok mereka. Celia yang tidak tau malu terus saja menempel kepada, Luthfi meski lelaki itu sudah berusaha untuk menghindarinya, namun ia tidak perduli
"Pasang tenda disini, Ri" seru, Syifa kepada, Fahri yang masih sibuk mengeluarkan alat yang akan mereka pakai untuk memasang tenda bersama, Luthfi
"Ia bentar", Fahri dan Luthfi segera menghadap, Syifa.
"Dimana?" tanya, Fahri. "Disini", Syifa menunjuk tempat mereka sesuai petunjuk yang ada di peta mereka
"Terus gue bantuin apa nih?", Celia yang kerjanya dari tadi hanya duduk manis memperhatikan tiga teman kelompok mereka yang sedang bekerja
"Cari kayu bakar loh sana" kesal, Fahri yang tidak suka dengan, Celia karena tidak membantu sama sekali.
"Sembarangan loh kalau ngomong. Loh aja sana, gue ogah" saut, Celia yang sinis kepada, Fahri.
"Terus loh ngapain nawarin diri kalau loh ngga mau ngebantu? Ngga guna emang loh" seru, Fahri yang berjongkok memasang tenda
"Ngga guna emang loh" teriak, Risa di seberang tenda mereka yang seakan-akan mengejek, Celia namun pandangan, Risa mengarah ke, Viona.
"Loh nyindir gue?", Celia sudah berdiri dari tempat yang ia duduki dan menunjuk, Risa
"Apaan sih loh? Datang-datang main nunjuk aja. Loh ngga liat gue ngomong sama teman gue" seru, Risa yang menunjuk, Viona. Namun yang ditunjuk hanya berusaha menahan tawanya
"Loh pikir gue bodoh?" seru, Celia yang tidak ingin kalah.
__ADS_1
"Ya bagus sih kalau loh nyadar diri" jawab, Risa dengan santai sambil membantu teman kelompok mereka memasang tenda.
"Kurang aja loh yah", Celia sudah ingin beranjak namun langkahnya ditahan oleh, Fahri, "Mau kemana loh hah?"
"Gue pengen ngasih pelajaran buat dia", Celia yang dipenuhi emosi menunjuk, Risa dengan tatapan yang mematikan. Namun tentu saja, Risa tidak pernah takut dengan siapapun dan malah menantang balik tatapan, Celia
"Mau nyari ribut lagi loh?", Fahri menahan tangan, Celia yang meronta ingin pergi. "Bukan gue yang nyari ribut. Tapi teman loh yang nyari ribut sama gue" seru, Celia yang benar-benar sudah naik pitam jika berhadapan dengan, Risa dan Viona
"Loh aja yang hobi nyari ribut sama gue. Gue sih ogah" jawab, Risa yang sudah tidak lagi menatap, Celia.
"Loh pikir gue ogah? Ngga yah" seru, Celia hingga membuat, menghela napas dengan kasar
"Tadi gue bilang, loh nyari ribut kan? Kenapa masih nyari ribut juga" seru, Luthfi yang membuat, Syifa melirik padanya. "Tapi bukan gue yang mulai, Fi. Mereka yang mulai duluan" saut, Celia yang merendahkan suaranya. Yah, jika berbicara dengan, Luthif, Celia akan melunak seketika.
"Diam" seru, Luthfi membuat, Celia bungkam. Risa hanya terkekeh yang diikuti, Viona, Fahri dan Vigo. Namun tidak dengan, Reza dan Syifa
***/
"Ri, gue lapar" ucap, Syifa saat mereka telah istirahat seusai mendirikan tenda milik kelompok mereka.
"Kenapa loh ngomong ke gue? Ngomongnya sama, Luthfi. Dia kan ketuanya", Fahri mengerutkan dahinya dan menunjuk, Luthfi. Syifa tidak lagi berbicara saat, Fahri menyuruhnya untuk mengadu kepada, Luthfi
"Gue juga nih. Lapar" cetus, Celia di tengah kecanggungan, Luthfi dan Syifa.
"Tunggu disini. Biar gue menghadap ke pembina dulu" ujar, Luthfi yang bangkit dan hendak pergi. "Gue ikut" seru, Celia yang mengekor di belakang, Luthfi.
Syifa dan Fahri melihat, Luthfi dan Celia yang pergi dari sana. "Syifa?" panggil, Fahri setelah punggung, Luthfi sudah tidak terlihat. "Hmm? Ia? Kenapa?" saut, Syifa yang mengalihkan tatapannya kepada, Fahri
"Loh berantem sama, Luthfi?" tanya, Fahri dengan ragu.
"Berantem?", Syifa mengernyit heran, "Ngga. Kita baik-baik aja kok" imbuhnya
"Tapi, kok loh ngga mau ngomong sama, Luthfi gue perhatiin dari tadi" selidik, Fahri. "Sejak kapan gue akrab banget sama, Luthfi? Ngaco", Syifa berhasil menutupi rasa gugupnya dengan bertingkah acuh dengan pertanyaan, Fahri.
"Ia juga yah", Fahri menggaruk kepalanya dan membenarkan perkataan, Syifa. Memang benar, Syifa dan Luthfi kan memang tidak seakrab teman lama
***/
"Risa?" panggil, Reza yang duduk di hadapannya saat mereka juga sedang beristirahat seusai membangun tenda.
"Ia? Ada apa, Za?" saut, Risa yang memasukkan alat perkakas ke dalam tas kecil yang ia keluarkan tadi saat membangun tenda
__ADS_1
"Kok loh hobi banget isengin, Marcelia?" tanya, Reza dengan penasaran. Siapa pun pasti akan penasaran mengingat keduanya tidak pernah akur ketika bertemu
"Oh", Risa hanya tertawa pelan. "Habisnya dia ngeselin banget sih". "Ngeselin kenapa?", Reza semakin penasaran dibuatnya.
"Ya loh ngga liat apa? Dia genit banget, centil, sok cantik juga. Pokoknya gue yang jadi cewek aja risih liat tingkah dia", Risa bergidik sendiri ketika membicarakan tentang, Celia.
Reza yang masih penasaran dan hendak bertanya lagi, terpaksa ia urungkan karna, Viona dan Vigo sudah kembali dari mengambil makanan
***/
"Penelitiannya dimulai jam berapa sih?" tanya, Fahri di sela-sela mereka makan setelah, Luthfi dan Celia kembali membawa makanan
"Jam empat" jawab, Luthfi tanpa menoleh dan hanya fokus pada makanannya.
"Berarti sampai malam dong", Syifa menghentikan aktivitas memakannya setelah, Luthfi menjawab pertanyaan, Fahri
Luthfi melirik ke arah, Syifa, "Kemungkinan ia".
"Kenapa, Fa?" tanya, Fahri yang melihat perubahan wajah, Syifa.
"Pasti gelap banget kan? Terus kalau ada apa-apa gimana? Ini malam loh", Syifa sudah memperkirakan keburukan yang akan terjadi padanya
"Kita semua bawa senter", Luthfi mencoba menjelaskan kepada, Syifa. "Kan tetap aja gelap, Luthfi", Syifa sudah menunjukkan wajah cemberutnya kepada, Luthfi hingga lelaki tersebut hanya menunduk dan kembali makan.
"Loh takut ada binatang buas?" tanya, Fahri dan Syifa mengangguk dengan cepat. "Awas loh. Disini kalau gelap banyak binatang buas" ujar, Fahri yang terkekeh
"Fahri....... " teriak, Syifa. "Loh nakut-nakutin gue".
"Dasar cemen" guman, Celia namun masih bisa di dengar oleh, Syifa, Luthfi dan Fahri.
"Diam loh" seru, Syifa yang menunjuk, Celia dan membuat, Luthfi serta Fahri terkejut dengan ucapan, Syifa.
**
**
**
**
**
__ADS_1
Wah, Terima kasih yah untuk kakak-kakak semuanya yang antusias menunggu novel "Gadis gengsi dan Pria cuek" ini. Dan maaf juga, kadang aku ngga sempat baca komen karna harus buru2 ngerjain tugas yang lain. Dan hari ini, aku ngebacain semua komenan kalian, aku balasin satu-satu juga 🤭 Pokoknya terima kasih banget buat yang udah senantiasa ngedukung karya pertama aku ini 🤗 Oh ia, tadi aku sempat baca satu komen yang minta visualnya mereka. Sebenarnya dari awal aku nulis novel ini, aku udah bayangin semua visual mereka, cuma aku ngga up visual mereka sampai sekarang 🤭 Tapi nanti kalau banyak yang minta, aku akan masukin visual mereka di prolog. Btw, semangatin aku dong biar makin rajin upnya 🙈 kadang author kalau disemangatin sama readernya, jadi malah makin semangat buat up tiap hari. 😍