Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Extra Part 9 (Kepala batu)


__ADS_3

"Bian. Nanti kamu temani kakak cari motor yah" seru, Luthfi ditengah-tengah keributan para wanita itu


"Cari motor? Motor siapa kak?" tanya, Bian


"Emang ada yang kecurian motor?" tukas, Risa


"Ngga usah ngaco deh ngomongnya" cetus, Syifa


"Ngaco apaan. Laki loh tu yang bilang nyari motor. Kan berarti hilang" ujar, Risa


"Berantem terus" seru, Viona dengan jengah


"Gue mau beliin, Bian motor. Biar dia bisa barengan sama, Syafa ke kampus" cetus, Luthfi


"Loh, kok gitu? Emangnya Kak Luthfi ngga mau barengan sama kita?" ketus, Syafa


"Ngga gitu dek. Jam kuliah kita pasti beda. Ngga kayak di sekolah dulu. Sekarang tuh jam masuk kampusnya random" jelas, Syifa


"Ia. Wajib nih dibeliin motor. Biar makin dekat" ledek, Vigo


"Apaan sih kak" gerutu, Syafa


"Awas dek. Nanti kena lagunya Armada loh, yang..... " timpal, Fahri dan seketika para kakak-kakak mereka bernyanyi bersamaan


"Awas. Nanti jatuh cinta. Cinta kepada diriku, jangan-jangan ku jodoh mu. Kamu terlalu membenci, membenci diriku ini awas nanti jatuh cinta, padaku"


"Kompak banget" ujar, Bian yang menyeringai tipis


"Kenapa? Baper emang loh?" tukas, Syafa dengan ketusnya


"Loh aja kali" ujar, Bian dengan cuek


"Loh tau ngga, Bian? Dulu sifat, Vio, Syifa sama Risa tuh juga sama kayak, Syafa. Tapi coba loh liat sekarang, Gue, Luthfi sama Fahri bisa naklukin mereka. Loh juga pasti bisa" tutur, Vigo


"Dih. Kakak pikir, Syafa apaan?" ketus, Syafa


"Bukan tipe, Bian" lirih, Bian dengan malas


"Dih. Jangan sok ganteng deh. Loh pikir, loh itu tipe gue? Sorry yah. Loh jauh banget dari tipe gue" ujar, Syafa yang mengibaskan tangannya


"Cinta sama benci itu beda tipis loh" ledek, Fahri


"Ia. Liat aja, Risa sama Fahri. Dulu, kerjaannya berantem mulu. Tapi sekarang?" cetus, Viona yang menggantung


"Tetap aja masih berantem" sahut, Syifa yang membuat yang lainnya tertawa


"Oh ia. Ponakan ganteng gue dimana?" tanya, Risa saat tidak melihat, Gibran diantara mereka


"Dia baru aja tidur. Ngga usah diganggu dulu" jawab, Syifa


"Yah. Padahal gue kangen" ketus, Risa


"Nanti aja pass, Gibran bangun loh jagain dia. Soalnya gue mau ngajak, Syifa buat beliin, Bian motor" sahut, Luthfi


"Aelah. Bilang aja mau pacaran. Pake acara alasan beliin motor buat, Bian" celetuk, Risa


Syifa menjitak kepala, Risa "Ngomong sembarangan aja. Pacaran mah ngapain harus jauh-jauh. Di rumah lebih enak. Mau makan, minum, tidur, pipis, BAB, gratis" lanjutnya

__ADS_1


"Ayolah guys. Malas banget deh pembahasan kek ginian" sergah, Viona


"Dih. Mentang-mentang udah nikah. Pembahasan kek ginian udah mau ditinggalin" sahut, Riss


"Jangan mulai, Sa" tegur, Vigo


"Takut loh, Go?" ledek, Fahri


"Biasa, Ri. Kena perang nanti" timpal, Luthfi


"Kak. Syafa pengen minum susu" cetus, Syafa


"Ya udah. Sana buat" sahut, Syifa


"Ok" ujar, Syafa dengan semangat


"Tapi sekalian buatin kita-kita yah" tukas, Syifa


"Kakak mah" ketus, Syafa yang selalu saja berakhir seperti itu


"Jangan malas-malah loh kalau disuruh" cetus, Risa


"Diam aja deh Kak Risa" kesal, Syafa yang berlalu ke dapur


"Yaelah. Gitu aja ngambek" seru, Risa


***


"Ayo, Bian. Mau motor yang gimana?" tanya, Luthfi pada, Bian saat mereka bertiga tengah melihat-lihat motor yang berjejeran di toko


"Terserah kakak aja. Bian ngikut" sahut, Bian


"Atau ini aja? Matic keluaran terbaru" cetus, Luthfi yang menghampiri sebuah motor metic yang cukup besar pengeluaran terbaru


"Dari kakak aja. Bian juga suka motor ini" jawab, Bian


"Ok. Kita ambil motor ini" ujar, Luthfi


"Loh ngga kepaksa kan dek? Loh beneran suka motor ini?" tanya, Syifa


"Ngga kok kak. Bian suka motor ini" sahut, Bian


"Hmm. Ya udah. Karna nanti loh sama Syafa bakal berdua ke kampus pake motor ini" tukas, Syifa


"Boncengan sama Syafa kak?" seru, Bian yang terkejut


"Ia" jawab, Syifa yang mengangguk, "Emangnya mau siapa lagi?"


"Punya gebetan lain?" ledek, Luthfi


"Ngga ada" ketus, Bian yang mendahului keduanya


"Lucu deh mereka" cetus, Syifa yang tertawa bersama suaminya


***


"Cieee. Ke kampus nanti, Syafa bakal diboncengin sama, Bian" ledek, Risa setelah melihat motor yang dibelikan untuk, Bian dari, Luthfi

__ADS_1


"Apaan sih kak. Ngga jelas" gerutu, Syafa


"Ngga jelas tapi malu-malu" seru, Viona


"Nanti kalau diboncengin pegangan yah? Biar ngga jatuh" timpal, Vigo dengan ledekannya


"Yang erat tapi" cetus, Fahri


"Apaan sih? Kenapa semuanya jadi ngeledekin, Syafa? Kesal deh" teriak, Syafa yang begitu kesal


"Karna cuma loh sama Bian doang yang masih jomblo" tukas, Risa


"Tau ah. Kesal gue" gerutu, Syafa yang terus mengerucutkan bibirnya


"Udah-udah. Nih kalian senang banget sih ngisengin, Syafa" sergah, Syifa


"Soalnya lucu" ujar, Viona


"Lucu sampai nih anak ngambek? Parah nih kalian" tukas, Luthfi


"Makan dulu yuk? Lapar nih" seru, Vigo


"Wah. Vigo nih mewakili suara cacing di perut gue" sahut, Fahri lalu tertawa


"Astaga. Gue sampai lupa. Tunggu, biar gue siapin dulu" cetus, Syifa


"Udah, Syafa siapin di meja semua makanannya kak" sahut, Syafa


"Oh udah? Baik banget adik kakak ini" ujar, Syifa, "Kalau gitu, ayo kita makan dulu" ajaknya


"Ayo"


Syifa mengajak yang lainnya untuk makan bersama di meja makan yang telah disiapkan olehnya dan adiknya sebelum teman-temannya semua datang


"Gue berharap pertemanan kita selalu kek gini" ujar, Viona yang baru saja duduk


"Ngga usah ngebaper dulu, Vi. Kita mau makan nih" sahut, Risa


"Dasar kepala batu" tukas, Syifa pada, Risa


"Ribut lagi nih? Makan dulu" sergah, Luthfi


"Heran gue sama nih cewek-cewek. Ribut mulu kerjaannya" tukas, Vigo


"Karna kalau ngga ribut yah ngga seru" cetus, Fahri lalu tertawa


"Jadi hidup yah kak suasananya" tukas, Bian


"Benar" jawab, Fahri


"Ngga ada yang mau makan nih? Maunya ngobrol terus?" sergah, Risa


"Bunda negara udah marah. Ayo cepat makan" ledek, Fahri


"Ayo. Sebelum Mama negara marah" timpal, Vigo


"Dan sebelum Ibu negara ngamuk" tukas, Luthfi

__ADS_1


Yang mereka maksud Bunda negara adalah Risa, Mama negara adalah Viona, dan Ibu negara adalah Syifa


__ADS_2