Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Belum melayani


__ADS_3

Viona memutar kepalanya dan menyandarkannya di bahu, Vigo seraya menahan tawanya agar tidak lepas. Bahkan, Vigo sendiri menunduk dan berusaha keras agar tidak tertawa


Luthfi hanya diam saja tanpa ekspresi memandang, Dika yang memicingkan matanya menatap, Fahri. Sedangkan, Syifa, ia tersenyum mengejek, Dika


"Dia siapa?" tanya, Dika kepada, Risa yang menunjuk, Fahri, namun tatapannya bahkan tidak teralihkan dari, Fahri yang merangkul, Risa


"Dia...", Risa baru saja ingin memperkenalkan, Fahri. Namun, Fahri dengan cepat mengulurkan tangannya


"Gue, Fahri. Pacarnya, Risa" ucap, Fahri yang menunggu uluran tangan mantan kekasih, Risa


"Dika" sahutnya yang membalas tangan, Fahri


"Oh, Dika yang ini sayang?", Fahri berpura-pura tidak tau tentang, Dika inilah mantan, Risa


Risa hanya mengangguk dan memaksakan senyumnya tanda mengiyakan perkataan, Fahri. Ia benar-benar gusar ketika kembali bertemu dengan mantan kekasihnya yang baru saja putus dengannya.


"Dia pacar loh, Risa?" kekasih, Dika menunjuk, Fahri


"Emang loh ngga dengar?" sahut, Syifa yang tersenyum manis namun mengejek dirinya


"Kok bisa sih loh dapat cowok seganteng dia? Loh ngga pake pelet kan?" tanyanya dengan penuh selidik


"Riana" seru, Syifa yang kesal kepada mantan sahabatnya itu. Rasanya ia benar-benar kesal


"Loh tuh maunya apa sih? Loh udah dapat, Dika. Sekarang gue punya pacar yang lebih ganteng dari, Dika loh ngatain gue pake pelet? Nyadar diri loh" seru, Risa yang ingin sekali meluapkan emosinya


Fahri menatap, Risa dengan penuh tanda tanya. Ini pertama kalinya, Fahri melihat, Risa semarah ini. Ia bahkan bisa melihat, Risa berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah


"Sayang?", Fahri membelai rambut, Syifa lalu menggeleng. "Jangan menghiraukan yang akan buat sakit hati" ucapnya dengan lembut membuat, Risa kembali tegar dan menatap ke depan lalu tersenyum sinis kepada dua orang dihadapannya


"Gue ngga perduli loh mau ngomong apa tentang gue. Kenapa? Sekarang loh iri karna gue bisa dapetin yang jauh lebih ganteng dari pacar loh?" ujar, Risa yang tersenyum penuh kemenangan setelah mendapat dukungan dari, Fahri


"Loh?" geram, Riana yang ingin sekali mencakar wajah, Risa hingga berdarah-darah


"Mungkin bagi loh dia lebih ganteng dari gue. Tapi rasa sayang loh ke dia, belum tentu sama dengan rasa sayang loh ke gue dulu" telak, Dika yang menghancurkan pertahanan, Risa


Risa menjadi sedikit gemetar. Namun, Fahri berusaha tenang dan tersenyum kepada, Dika


"Tentang perasaan seseorang itu ngga ada yang tau. Dan loh juga ngga tau sudah sampai dimana tahap kami selama ini. Kalaupun perasaan, Risa lebih dalam ke loh dulu, itu karna dia menyerahkan hatinya sebelum akhirnya dipatahkan. Dan sekarang, gue lagi berusaha menyatukan kembali hati, Risa yang dipatahkan oleh seseorang yang salah bagi hidupnya" ujar, Fahri dengan wajah santainya


Risa menunduk berusaha keras menahan tangisnya agar tidak tumpah.


"Ayo kita pergi. Ngapain sih ngeladenin mereka berdua disini? Ngga guna ngeladenin orang yang ngga tau malu kayak mereka" ujar, Syifa menarik tangan, Risa


Viona ikut memegang lengan, Risa untuk menenangkannya dan, Syafa mengikut di belakang kakaknya. Syifa membawa, Risa, Syafa dan Viona ke kursi taman yang jarang di kunjungi


Sedangkan ketiga pria tadi masih berdiri disana menyaksikan kepergian empat wanita itu. Luthfi kembali menatap, Dika


"Dika? Perasaan cewek loh ngga pernah tau. Mungkin loh ngerasa dulu, Risa cinta banget sama loh. Tapi kenyataannya, Risa sekarang jauh lebih bahagia dengan, Fahri dan teman-temannya. Dan loh?", Luthfi menunjuk, Riana. "Risa ngga butuh pelet, karna dia dengan ketulusan hatinya bisa mendapatkan yang jauh lebih bisa membuatnya bahagia"


"Dan satu hal lagi. Mungkin gue ngga tau seperti apa hubungan kalian dulu. Tapi bisa gue pastikan, teman gue ini" ucap, Vigo yang memegang pundak, Fahri, "Bisa menjaga, Risa dengan baik" ucapnya

__ADS_1


"Dan loh tenang aja. Gue bakal buat, Risa lupa dengan seseorang membuat hatinya patah, dan menggantinya dengan kebahagiaan" ujar, Fahri


Ketiga pria itupun pergi dari hadapan, Dika dan Riana yang masih tidak bergeming dari tempatnya. Dika mengerang kesal, sedang, Riana memutar pelan kepalanya melihat kepergian ketiga pria tersebut.


"Sejak kapan, Luthfi dekat sama, Syifa dan Risa?" guman, Riana yang memang tidak pernah melihat ketiga bersama selama di SMU


***


"Kak Risa jangan nangis lagi. Tadi Kak Risa hebat banget loh bisa ngomong gitu ke Kak Dika" seru, Syafa yang melihat sahabat kakaknya itu menangis


"Syafa benar, Sa. Setelah ini gue yakin, dia ngga bakal lagi ganggu hidup loh" ucap, Syifa menenangkan sahabatnya itu


"Meskipun gue ngga tau apapun tentang hubungan loh dulu sama dia. Tapi gue yakin, dia yang bakal nyesel karna menyia-nyiakan loh" cetus, Viona


"Akhirnya kelar juga dramanya" seru, Fahri yang datang bersama, Luthfi dan Vigo. Ia duduk di kursi sebelah para gadis dan menyandarkan punggungnya. "Gila. Gue sampai ngga tau mau ngomong apa tadi? Semua yang keluar dari mulut gue, itu benar-benar refleks dan gue sendiri udah lupa sekarang"


"Itu namanya bahasa hati, Ri" goda, Viona untuk mencairkan suasana yang sedih


"Apaan bahasa hati. Kepala gue pusing", Fahri memijat kepalanya


"Suruh Kak Risa aja yang mijitin kepala kakak. Kak Risa kan pacar kakak" ucap, Syafa dengan polosnya


"Eh bocah, diam luh" ketus, Risa yang sudah kembali ceria. Ia menghapus sisa air matanya


"Harus baik loh, Sa sama, Fahri. Fahri udah nolongin loh tuh" ledek, Syifa yang terkekeh


"Kalian ngga tau kan setelah kalian pergi, Fahri ngomong apa ke mantannya, Risa?" cetus, Vigo


"Fahri ngomong apa? Ngga aneh-aneh kan?" seru, Risa dengan penuh selidik menatap, Fahri dan Vigo secara bergantian untuk mendapatkan jawaban


"Udah. Gue aja ngga tau tadi ngomong apa. Gue lupa" tukas, Fahri karna ia memang benar-benar tidak tau semua ucapan yang keluar dari mulutnya


"Ya ampun. Sampai sebucin itu yah Kak Fahri sekarang sama Kak Risa? So sweet banget" ucap, Syafa yang mengatupkan kedua tangannya dan menaruhnya di pipinya


Risa menjewer telinga, Syafa hingga gadis itu mengaduh kesakitan hingga membuat semuanya tertawa bahkan, Syifa sendiri sebagai kakaknya


***


"Loh ngga mau mandi sebelum tidur?" tanya, Syifa yang melihat, Luthfi masih sibuk memainkan ponselnya di tempat tidur setelah ia keluar dari kamar mandi.


Syifa, Syafa dan Luthfi diantar menggunakan mobil, Fahri. Karna Risa memanggil teman-temannya kecuali pengantin baru untuk menginap di rumahnya. Namun, Syafa menolak karna ia akan pergi bersama teman-temannya setelah ini. Dan tidak mungkin pula pengantin baru menginap di rumahnya


"Loh udah selesai?", Luthfi menghentikan aktivitasnya dan segera beranjak lalu menaruh ponselnya di atas nakas di sampingnya


Syifa mengambilkan, Luthfi handuk untuknya mandi, "Ini", Syifa memberikan handuk tersebut


Luthfi meraihnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri disana


Syifa duduk di tepi tempat tidur. Ia penasaran dengan isi ponsel milik, Luthfi. Bahkan ia sangat penasaran karna, Luthfi tadi sepertinya sedang berkomunikasi dengan seseorang. Ia lalu meraih ponsel, Luthfi dan menekan tombol power.


Terlihat layar ponsel, Luthfi menampilkan foto pernikahan mereka. Senyumnya mengembang. Namun sesaat ia bingung karna ponsel, Luthfi menggunakan sandi yang tidak, Syifa tau.

__ADS_1


Saat hendak mencoba memasukkan sandi tanggal lahir suaminya. Luthfi keluar dari kamar mandi dan membuat, Syifa terkejut seperti maling yang kepergok


Luthfi malah terkekeh dengan wajah pucat, Syifa yang memegang ponselnya. "Kenapa?"


"Ah? Hmmm. Ng... Hmmm...", Syifa benar-benar gugup dan tidak lagi memperhatikan, Luthfi yang hanya menggunakan handuk di pinggulnya


"Sandinya tanggal ulang tahun loh" ucapnya tanpa menoleh dan langsung membuka lemari lalu mengambil pakaiannya disana


Wajah, Syifa memerah mendengarnya. Sesaat ia tertegun dan menatap layar ponsel, Luthfi yang sedari tadi ia genggam


"Sandinya beneran tanggal ulang tahun gue?" batinnya


"Kok diam?" tegur, Luthfi yang sudah memakai pakaiannya dan duduk di samping istrinya


"Kok tanggal ulang tahun gue?", Syifa menoleh. Tanyanya yang sudah penasaran


"Ngga boleh?"


"Bukan ngga boleh. Kan gue nanya"


"Karna gue mau"


"Yah maksudnya kenapa harus tanggal ulang tahun gue? Bukan tanggal ulang tahun loh? Atau tanggal pernikahan kita"


"Itu udah lama"


"Udah lama? Sandinya?"


"Ia. Udah dari kita kelas 2 SMU"


Syifa membelakkan matanya, "Kelas 2 SMU? Kok bisa?", Syifa benar-benar terkejut dibuatnya


"Nanti aja yah ceritanya", Luthfi tersenyum dan mengusap gemas kepala istrinya itu


"Ngga mau. Gue maunya sekarang" titah, Syifa


"Nanti aja gue cerita" tolak, Luthfi dengan halus


"Terus kapan?" cemberut, Syifa


"Setelah sah" ucap, Luthfi menahan senyumnya


"Emang loh pikir kita belum sah nikahnya?" seru, Syifa yang naik pitam denga perkataan suaminya


"Belum sah secara pasangan"


"Apanya"


"Karna loh belum melayani gue sebagai istri untuk suaminya"


Syifa membulatkan kedua matanya. Seketika tubuhnya menjadi bergetar

__ADS_1


"Gu... Gue... Tidur dulu", Syifa yang gugup merangkak naik ke tempat tidur lalu menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya


__ADS_2