
"Udahlah teman-teman. Ngapain sih?" tegur, Syifa. pada teman-temannya, "Dan kalian! Kalian ngga nemuin pulpennya kan? Silahkan pulang kalau gitu" ucapnya pada ketiga gadis itu
"Tapi pulpennya gimana?" tanya, Lury
"Dibilangin udah dibakar" seru, Viona
"Kok jahat banget sih ngebakar pulpen itu?" tukas, Dini menatap kesal, Viona
"Apa untungnya juga disimpan? Lagian cuma pulpen biasa kan? Bukan alat perekam?" cetus, Risa yang membuat mata ketiga gadis itu hampir keluar
"Ma.... Maksud loh apa?" tanya, Dinar yang mulai gugup dengan pertanyaan sekaligus pernyataan, Risa
"Kenapa kaget begitu? Itu cuma pulpen biasa kan?" sahut, Luthfi menaikkan alisnya
"Itu.... Hmm... Yah... Gimana, Ry?", Dini menyenggol, Lury karna tidak tau harus menjawab apa
"Hmmm... Kita pulang aja yuk? Pulpennya kan udah dibakar" ajak, Dinar dengan begitu gugupnya
"Ehemmm. Ia. Hmm. Ayo kita pulang" sahut, Lury
"Tunggu dulu", Fahri dan Vigo menhalangi jalan ketiga gadis itu yang hendak keluar dari rumah
"Cepat banget kalian mau pulang? Sebenarnya ada apa sama pulpen itu?" tanya, Vigo
"Ngga ada, Vigo. Tolong minggir. Kami mau pulang" ujar, Dini
"Sekali lagi kalian rencanain sesuatu? Gue pastiin kalian akan menyesal" seru, Luthfi pada ketiga gadis yang saling meremas tangan dengan takut, "Loh pikir kita ngga tau rencana busuk kalian? Hah?" serunya dengan penuh amarah, "Berhenti mengganggu"
"Luthfi jangan marah-marah" tegur, Syifa yang menyentakkan lengan suaminya
"Wajar, Luthfi marah, Fa. Mereka ini emang harus diberi pelajaran" sahut, Vigo lalu menunjuk ketiga gadis yang meringsut ketakutan
"Hufth", Syifa menghela napas kasar. "Yakin ngga sih? Kalian ngga bakal buat kesalahan kedepannya? Yakin ngga sih? Kalian ngga akan diperlakukan seperti apa yang kalian lakukan sekarang?" serunya
"Tapi, Fa.... " ucapan, Risa dipotong oleh, Syifa
"Kalian tau kan? Setiap apa yang kita lakukan sekarang? Akan kita tuai di kemudian hari?" ujar, Syifa yang masih menasihati temannya
"Fa! Jangan terlalu baik juga jadi orang" tegur, Viona
"Ini bukan masalah gue terlalu baik atau ngganya, Vi! Tapi ini masalah rasa kemanusiaan. Walaupun gue tau, mereka sama sekali ngga suka sama gue? Tapi gue ngga mesti harus balik ngga suka kan ke mereka? Terus bedanya gue sama mereka apa kalau gitu?" jelas, Syifa
"Sekarang kalian pulang" seru, Fahri. "Anggap aja kali ini rencana busuk kalian yang terakhir. Kalau sampai gue sama yang lain tau lagi kelicikan kalian? Jangan harap kalian bisa bebas" ucapnya dengan penuh penekanan, "Pergi kalian" teriaknya
Ketiga gadis itu berlari keluar dan menerobos tubuh, Vigo serta, Fahri yang sempat menghalangi jalan mereka tadinya
"Jangan terlalu baik. Aku kan sering bilang itu. Dan juga jan......" ucapan, Luthfi yang menasehati istrinya terhenti karna melihat raut wajah istrinya yang menunduk. "Jangan terlalu membela mereka" ujarnya dengan lembut seraya memeluk istrinya
"Loh butuh istirahat, Fa. Jangan sampai loh kelelahan" ujar, Viona yang menepuk bahu, Syifa
"Ayo istirahat dulu! Nanti sore kita pulang", Luthfi melepas pelukannya dan hendak mengajak, Syifa untuk kembali ke kamar
"Fa? Loh kapan ngehubungi Mommy? Buat sampein berita gembira ini?" seru, Risa
"Orangtua loh juga perlu tau, Fi" cetus, Vigo
__ADS_1
"Duduk dulu woy" tegur, Viona
"Ibu kompleks marah" ledek, Fahri
Mereka akhirnya duduk di ruang tv. Sembari menikmati beberapa cemilan yang sempat dibeli oleh, Viona dan Vigo tadi
***
"Mau telepon Mommy sekarang ngga?" tanya, Luthfi kepada, Syifa yang sejak tadi tidak berhenti memasukkan keripik ke dalam mulutnya
"Kan baru tiga minggu? Masih muda banget kalau harus sampein ke keluarga" sahut, Syifa yang terlihat malu-malu
"Lebih cepat lebih baik. Biasanya kan, banyak banget tuh ritual dari orangtua kalau anaknya hamil muda" seru, Risa
"Benar banget tuh. Bisa-bisa, Mommy loh marah kalau loh ngga ngasih tau dari awal. Semua Ibu itu bakal senang banget kalau dengar anaknya hamil. Bentar lagi kan jadi Nenek" timpal
"Kayak waktu Kak Viani hamil yah?" tanya, Vigo. Yang dimaksud, Viani oleh, Vigo adalah kakak pertama, Viona
"Ia. Mama aku senang banget waktu itu. Cucu pertama loh ini yang lahir" seru, Viona yang terlihat raut senang di wajahnya
"Ia, Vi. Ia. Udah seratus kali gue dengar ini" ketus, Fahri yang membuat, Vigo tertawa yang juga sudah lebih dari ratusan kali, Viona mengatakannya
"Gue kan cuma ngasih tau mereka" sahut, Viona yang tidak ingin kalah
"Sodara loh ada berapa sih, Vi?" tanya, Risa
"Empat. Gue anak ketiga. Satu lagi adek gue masih sekolah. Yah seumuran adek, Luthfi sama Syifa lah gitu. Terus kakak gue yang kedua cowok. Seumuran Abang loh, Sa" tutur, Viona
"Banyak juga yah" cetus, Syifa
"Banyak anak banyak rejeki" tukas, Luthfi
"Jangan aneh-aneh", Viona menunjuk, Vigo dan memperingatkannya
"Ngga ada yang aneh sayang. Luthfi kan mau banyak anak. Anehny itu dimana sayang?", Vigo mencoba bernego dengan, Viona
"Benar-benar" ketus, Risa yang menggeleng dengan tingkah sepasang kekasih itu
"Buruan terima lamaran, Vigo, Vi? Kasian tuh sih, Vigo. Udah kebelet nikah" goda, Fahri yang tertawa
"Jangan tunda momongan" timpal, Luthfi yang semakin tertawa bersama, Fahri
"Ngga akan gue nunda momongan. Kalau perlu langsung selusin gue bikinnya" ujar, Vigo yang sontak membuat teman-temannya tertawa
Namun tidak dengan, Viona. Wajah gadis itu memerah karna malu. Ia mencubit perut, Vigo yang suka sekali bergurau seperti itu
"Benar-benar deh, Vigo. Kebelet nikah banget" seru, Risa yang masih tertawa
"Fahri juga udah kebelet nikah, Sa" sahut, Luthfi
"Kenapa loh ngomongnya ke gue?" tawa, Risa terhenti dan malah menjadi kesal pada, Luthfi
"Loh ngga kasian sama, Fahri? Ya juga pengen ngerasain nikah?" ledek, Vigo
Tawa teman-temannya kembali menggema, tatkala melihat wajah, Risa yang kesal dan tatapan mematikannya ia layangkan kepada, Vigo. Si pembuat onar itu
__ADS_1
"Udah ah. Perut gue sakit ketawa mulu" ujar, Syifa yang mengelus perutnya
"Tuh dengerin, Go. Ponakan gue ngga suka ocehan loh yang bikin tantenya darah tinggi" celoteh, Risa
Bukannya berhenti tertawa. Malah tawa mereka semakin nyaring terdengar ketika, Risa mengeluarkan kata-kata yang tidak habis terpikir
"Jangan ikutin kecerewetan tante mu itu yah nak" sahut, Luthfi yang mengelus perut, Syifa sesaat ia telah berhasil menguasai dirinya
"Jangan sampai deh", Syifa ikut mengelus perutnya
"Hallah. Kalau kalian suka sama kecerewetan gue bilang aja? Ngga usah sok-sok'an bilang ngga suka" seru, Risa
"Emang yang bilang ngga tuh siapa sih, Sa? Heran gue" sahut, Viona
"Ilusi, Risa aja tuh. Biar dapat perhatian dari, Fahri" cetus, Vigo
"Biasa. Gue kan ganteng. Yang ngga mau sama gue siapa?" ujar, Fahri dengan percaya diri namun hanya sekadar bergurau
"Gue. Gue buktinya. Gue ngga mau tuh sama loh! PD banget loh" seru, Risa yang sewot
"Yakin?" ledek, Syifa
"Yakin!" sahut, Risa dengan cepat melihat ke arah, Syifa
"Wah. Patah hati deh, Fahri" goda, Viona
"Gimana, Ri? Ditolak sama, Risa langsung nih?" tukas, Luthfi yang bergurau
"Wah? Gimana nih bro?" timpal, Vigo yang terkekeh
"Gue belum selesai ngomong. Maksud gue. Ngga ada yang ngga mau sama gue. Kecuali cewek itu ngga normal" tutur, Fahri dan langsung tertawa
"Apa?" teriak, Risa yang langsung berdiri dan menatap tajam, Fahri yang sedang menertawakannya
Teman-temannya yang lain kembali tertawa setelah melihat, Risa menghampiri, Fahri dan memukul-mukulnya menggunakan bantal sofa yang tidak terlalu berat.
"Rasain tuh. Berani banget loh ngatain gue ngga normal" seru, Risa dengan kesal
"Ia, Sa. Ampun-ampun. Sakit" pinta, Fahri yang tersungkur di sofa karna dipukul oleh, Syifa menggunakan bantal sofa itu
"Berani loh, bikin darah gue naik" seru, Risa
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Hai teman2. Apa kabar? Semoga baik yah ☺ Cuma mau bilang. Kalau dalam sehari aku ngga up, berarti kondisi tubuh benar-benar down banget. Ngga tau kenapa, akhir2 ini badanku cpt banget pegal. Dan pekerjaan bentrokan juga, jadinya kurang fokus 🙏🏻 Aku cuma mau minta dukungan tmn2 melalui like dan votenya yah 😊 hehe 🤭 terima kasih untuk yang sudah mendukung 🤗