
"Mereka ngapain sih di kamar? Ngga ngehargain kita banget disini sebagai tamu" seru, Dinar yang tidak berhenti menatap pintu kamar, Luthfi dan Syifa dari ruang tv
"Tau tuh mereka. Kurang ajar banget. Ngga tau sopan santun" cetus, Lury yang ikut kesal menatap daun pintu kamar tersebut
"Gue ngga habis pikir sama, Viona. Dia dulu baik banget sama gue. Kenapa sekarang dia jadi galak gitu" gerutu, Dini yang tidak menyangka perubahan, Viona yang dulu baik padanya
"Itu karna dia termakan omongan, Syifa sama, Risa. Dua cewek itu paling manjur pelet-nya" sahut, Dinar yang begitu geram menyebut nama, Syifa dan Risa
"Atau kita ngintip mereka aja yah?" usul, Lury
"Loh masih belum kapok sama kejadian semalam? Loh masih pengen ngulang? Kita ngintipin mereka dan ketahuan?" ujar, Dini dengan kesal pada, Lury
"Ngga mungkinlah gue lupa. Tapi daripada kita penasaran" tukas, Lury
"Ada benarnya sih yang dibilang sama, Lury. Semalam kan kita ketahuan karna mereka ngga sama-sama. Kalau sekarang kan mereka semua di dalam kamar. Berarti ngga akan ketahuan dong" ujar, Dinar
"Benar tuh Kak", Lury menimpali
"Ada benarnya juga sih. Ya udah. Gimana caranya kita ngintipin mereka? Ngga mungkin juga kan kita ngebuka pintunya? Yang ada kita malah ketahuan" sahut, Dini
"Mikir dong, Din" seru, Lury
"Pelanin suara loh. Kalau mereka dengar gimana?" kesal, Dinar pada, Lury
"Nih sih, Dini", Lury menunjuk, Dini
"Kenapa jadi gue?" kesal, Dini
"Udah! Apaan sih kalian? Ribut mulu" sergah, Dinar
"Terus kita harus ngapain kak sekarang?" tanya, Dini
"Kita ngintip di balik celah pintu aja" usul, Lury
"Apa itu ngga berlebihan? Maksud gue, apa ngga akan ketahuan?" tanya, Dinar
"Kan di celahnya aja kak" cetus, Dini
"Ok. Ayo. Loh duluan, Ry", Dinar menarik tangan, Lury
"Kok gue terus sih kak? Dini? Loh aja deh. Semalam kan gue yang duluan. Gantian dong sekarang", Lury tidak mau berada di depan lagi
"Loh aja kenapa sih? Kan loh yang ngusulin idenya" tolak, Dini yang tidak mau mengambil resiko
"Gue ngga mau", Lury pun menolak
"Loh aja cepetan", Dinar menarik tangan, Lury. Namun, Lury yang tidak mau malah menarik tangan, Dini.
Dini yang tidak siap ditarik tangannya oleh, Lury terhuyung ke depan dan membentur vas bunga yang berada di dekat tv hingga menghasilkan bunyi yang begitu nyaring terdengar
"Astaga, Dini" seru, Dinar yang begitu panik
"Mati kita. Gimana ini?", Lury menggigit bibir bawahnya karna takut
"Fahri pasti marah" cetus, Dini yang menoleh pada kamar yang dimana, Fahri dan teman-temannya berada
***
"Suara apa itu?" tanya, Syifa
__ADS_1
"Ngga tau. Ayo keluar" sahut, Viona
"Kamu disini aja. Kamu pasti masih sakit" tegur, Luthfi pada, Syifa yang hendak beranjak
"Ia. Ngapain juga loh keluar. Udah disini aja" cetus, Risa
"Gue ngga apa-apa. Udah, ayo keluar" ajak, Syifa
Mereka tidak bisa lagi menahan, Syifa untuk tetap tinggal. Akhirnya mereka keluar dari kamar dan menuju ruang tv, hingga mendapati vas bunga pecah yang tengah bercecer di lantai
"Ngapain kalian pecahin vas bunga gue?" teriak, Fahri yang menggelegar di telinga ketiga gadis yang sedang menunduk itu
"Loh bertiga ngelakuin ulah apa lagi sih?" seru, Vigo lalu menggeleng
"Gue ngga sengaja" ucap, Dini dengan pelan
"Ngga sengaja loh bilang? Jelas-jelas vas bunganya di dekat tv. jauh banget dari jangkauan kalian sekarang" tukas, Risa
"Kalian sengaja kan pasti?" seru, Viona
"Viona" tegur, Syifa
"Jawab! Kenapa kalian diam? Kalian apakan vas bunga itu sampai bisa pecah?" ujar, Luthfi dengan dingin
"Kita ngga sengaja mecahinnya" sahut, Lury dengan gemetar
"Tadi kalian ngapain? Kenapa vas bunganya bisa pecah? Terus, kalian ngga kenapa-napa kan? Ngga ada yang terluka kan?" tanya, Syifa
"Sok baik banget sih. Pasti nyari perhatian, Luthfi biar dia makin bisa dapat hatinya, Luthfi" batin, Dinar
"Aku bilang jangan terlalu baik sama orang lain", Luthfi menatap tidak suka pada, Syifa
"Kalian mending pulang. Kalian cuma bikin rumah gue hancur aja. Pulang sana" usir, Fahri tanpa ampun
"Kok loh tega banget sih" seru, Dini yang menatap, Fahri setelah beberapa saat lalu menunduk
"Tega apa coba? Fahri udah ngijinin loh datang kesini, bahkan ngijinin kalian nginap disini. Dan tadi, kita ngasih loh makan. Terus sekarang loh bilang tega? Ngga ngerti lagi gue jalan pikiran loh" ujar, Risa
"Tau diri dikit tuh kenapa sih? Susah banget?" tukas, Viona yang mulai geram
"Tutup mulut loh" teriak, Lury menunjuk, Viona
"Loh yang harus tutup mulut", Viona balik menunjuk, Lury dengan kesal
"Vio", Vigo berusaha menahan emosi, Viona agar tidak meledak seperti semalam. "Loh lebih baik diam" tunjuknya pada, Lury
"Pulang sekarang" seru, Fahri
"Fahri" tegur, Syifa lalu menggeleng
"Ngga usah sok baik deh loh" seru, Dinar yang menunjuk kesal, Syifa
"Gue? Sok baik?", Syifa menunjuk dirinya padahal ia tidak mengerti sama sekali
"Gue tau loh cuma cari muka di depan, Luthfi aja. Ia kan? Padahal aslinya loh munafik, murahan", Dinar meluapkan emosi dengan mencaci, Syifa
"Tutup mulut loh" teriak, Luthfi yang menunjuk geram, Dinar yang telah menghina istrinya
Dinar beringsut mundur mendengar teriakan, Luthfi yang begitu dingin dan menakutkan baginya
__ADS_1
"Siapa loh berani ngehina, Syifa? Loh pikir loh berharga? Ngga! Loh bahkan lebih rendah dari banyak cewek yang gue kenal. Loh yang paling buruk selama gue pernah ketemu sama cewek" seru, Luthfi
"Luthfi. Jangan ngomong gitu" tegur, Syifa yang memegang lengan, Luthfi yang tampak emosi
Wajah, Dinar kian memias setelah mendengar apa yang baru saja, Luthfi katakan. Pendengarannya seakan tidak lagi berfungsi. Wanita paling rendah? Paling buruk? dari semua wanita yang ia kenal? Dinar menahan telapak kakinya agar tidak tumbang
"Kak", Dini dan Lury memegang lengan, Dinar yang berada di tengah saat ini
"Sekarang kalian pulang. Sebelum kalian benar-benar menyesal" seru, Fahri
"Pulang! Selagi gue masih nyuruh kalian pulang baik-baik" ujar, Vigo
"Pulang sana. Kalau kalian masih punya harga diri" cetus, Viona
"Kecuali kalau kalian ngga punya harga diri", Risa menimpali ucapan, Viona
"Loh?", Dini yang geram menunjuk, Risa
"Turunkan tangan loh. Dan jangan berani nunjuk, Risa! Atau loh akan berhadapan sama gue", Fahri menurunkan telunjuk, Dini yang menunjuk, Risa
"Gue pasti bakal balas kalian semua" seru, Lury dengan penuh penekanan. "Ayo kita pergi" ajaknya pada, Dini dan Dinar
"Ayo" sahut, Dini
Namun tidak dengan, Dinar. Gadis itu masih hilang suara saat mendengar ucapan, Luthfi yang begitu membuat jantungnya seperti tertusuk belati yang sangat tajam
Setelah kepergian ketiga gadis itu. Syifa menatap tidak suka pada teman-temannya atas perlakuan kasar mereka kepada ketiga gadis itu
"Gue ngga suka yah kalian yang terlalu kasar? Apalagi loh" tunjuk, Syifa pada, Risa, "Sejak kapan belajar ngehina orang?" marahnya
"Mereka emang berhak, Fa. Lihat aja Kak Dinar? Dia sampai berani ngehina loh! Jangan terlalu baik juga deh, Fa jadi orang. Orang lain tuh bakal nginjak-injak harga diri kita kalau kita ngga bisa ngelawan" tutur, Risa pada temannya yang terlalu baik itu
"Apapun itu. Tapi gue ngga suka cara loh ngehina" bentak, Syifa
"Udahlah, Fa. Ngga usah diributin lagi" sergah, Viona
"Kalau mereka dikasih hati, mereka akan semakin menjadi-jadi" tukas, Vigo
"Ngga usah di bahas lagi" seru, Fahri
"Aku selalu bilang jangan terlalu baik. Kamu sampai dihina tadi tapi masih baik sama mereka? Mereka tetap ngga akan suka meski kamu sebaik apa.... " ucapan, Luthfi terhenti ketika tubuh, Syifa tiba-tiba ambruk di lantai
"Syifa" teriak mereka bersamaan
"Siapkan mobil. Kita bawa, Syifa ke rumah sakit" seru, Luthfi dengan begitu panik
*
*
*
*
*
*
Maaf yah teman2 kalau kurang memuaskan. sebenarnya ngga ada niat mau nulis malam ini. Soalnya lagi ngga enak badan. Ini aja aku paksain karna tanggung jawab. Minta doanya biar aku cepat sehat kembali dan pikiran juga kembali berjalan normal 🙏🏻 Jangan lupa lika dan votenya 🤗
__ADS_1