
"Chattingan sama siapa loh?" Risa tiba-tiba masuk kedalam kamar Syifa dan langsung ikut membaringkan tubuhnya disamping Syifa
"Reza" jawab singkat Syifa yang bangun dan menyimpan ponselnya diatas meja kemudian kembali keposisinya semula
"What? Reza?" Risa membelakkan bola matanya saking terkejutnya
"He'em" Syifa hanya mengangguk sambil menghadapkan tubuhnya kearah Risa
"Pergerakannya cepat juga ternyata" Risa terkekeh sendiri dengan ucapannya
"Pergerakan apa?" Syifa mengerutkan keningnya
"Reza kayaknya suka sama loh deh, Fa" kini Risa juga sudah mengahadakan tubuhnya kearah Syifa
"Ngaco. Bisa ngga sih pikiran loh ngga seliar itu? Heran gue sama otak loh, ngawur mulu pikirannya" tutur Syifa
"Loh aja yang ngga bisa ngebaca situasi" Risa dengan nada sewotnya
"Ok. Lupain itu! Gue pengen nanya, kalian emang udah tukeran nomor? Kok gue ngga tau?" tanya Risa dengan polosnya
"Ngga. Gue ngga pernah tukeran nomor sama dia" jawab Syifa
"Loh? Terus kalian chattingannya dimana?" Risa semakin bingung
"Loh pikir sosial media itu cuma satu? Bego" Syifa mendorong pelan kepala Risa menggunakan jari telunjuknya.
"Apaan sih Fa" Risa menekuk wajahnya
"Terus dimana?" Risa terus melanjutkan pertanyaannya meski sedang kesal
"Instagram" cetus Syifa
"Dia nge-DM loh?" alis Risa sedikit terangkat
"Hmmm" Syifa hanya berdehem membenarkan
"Gila. Berani juga dia" senyum Risa terbit
__ADS_1
"Otak loh ini, jangan loh bikin ngawur lagi" lagi-lagi Syifa mendorong pelan dahi Risa
"Udah deh. Gue lapar" Risa mendudukkan tubuhnya diatas ranjang
"Gue juga lapar. Tapi gue malas masak. Pengen makan makanan luar. Pesan gofood aja kali yah?" Syifa juga sudah ikut mendudukkan tubuhnya
"Pesan aja. Gue juga malas makan masakan sendiri" timpal Risa
"Loh mau pesan apa" Syifa sudah mengambil ponselnya kemudian mulai mengotak atik ponsel tersebut
"Karna ini masih siang, gue pengen mie ayam aja deh" Risa melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya yang menunjukkan pukul dua siang
Mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam saat mengunjungi toko buku tadi. Sehingga mereka punya waktu istirahat yang lebih
"Ok" Syifa sudah mengorder makanan yang dipesannya juga makanan yang dipesan Syifa
"Loh pesan apa?" tanya Risa
"Soto" Syifa sudah kembali menyimpan ponselnya dimeja
Saat ini, mereka sudah berada di ruang tamu, tepatnya depan TV menunggu datangannya makanan sambil menonton salah satu acara yang sedang tayang di TV. Tak butuh waktu lama, suara ketukan pintu sudah terdengar diluar rumah
"Itu pasti dari gofood. Biar gue aja yang buka. Loh siapin piringnya Sa" perintah Syifa
"Ok" Risa kemudian ke dapur mengambil dua piring
Sedangkan Syifa sudah berjalan kearah pintu dan tak lupa membawa uang cash karena dirinya lupa untuk mengisi saldo gofoodnya
Ceklek
"Permisi mbak? Dengan Ibu Syifa Queendi?" abang ojol tersebut membaca nama yang memesan makanan tersebut
"Ia mas benar. Ini uangnya. Terima kasih yah mas" Syifa menyodorkan beberapa lembaran uang 20 ribuan lalu mengambil kantong plastik dari tangan bang ojol tersebut
"Ia mbak. Sama-sama. Kalau begitu saya permisi" Syifa mengiyakan lalu bang ojol tersebut sudah pergi.
Syifa langsung masuk kedalam rumah membawa dua kantong plastik makanan untuk dirinya dan Risa. Risa sudah mengambil piring lalu menaruhnya dimeja depan TV Syifa dan Risa kemudian memindahkan makanan tersebut dari kantong plastik ke piring. Mereka kemudian menyantap makanan mereka masing-masing
__ADS_1
"Hmmmm. Aromanya enak banget" Syifa mengendus-enduskan indera penciumannya untuk menikmati aroma soto tersebut
"Mulai deh" Risa memutar malas bola matanya, karna sudah kebiasaan Syifa saat berhadapan dengan makanan, indera penciumannya akan melunjak
"Langsung makan aja susah amat sih Fa? Emang mesti di cium dulu gitu aromanya sebelum dimakan?" Imbuhnya dengan nada kesal
Syifa hanya terkekeh dengan setiap kata-kata yang dilontarkan Risa. Memang benar adanya Syifa punya kebiasaan selalu mencium aroma makanan sebelum memakannya. Bukan karna dirinya jijik, hanya saja sudah menjadi kebiasaan Syifa dari dulu. Bahkan ketika ia sudah memakan makanan tersebut dari tangannya, kadang-kadang ia malah mencium aroma makanan itu dari tangannya, dan kadang membuat Syifa selalu mendapatkan teguran dari keluarganya maupun teman-temannya termasuk Risa yang selalu melayangkan protes kepada Syifa. Tapi tentu saja, kebiasaan itu tidak bisa dihilangkan dari diri Syifa
Orang-orang hanya tidak tau bagaimana nikmatnya mencium aroma makanan tersebut sebelum memakannya. Bagi Syifa itu adalah salah satu kenikmatan tersendiri bagi dirinya tanpa perlu memperdulikan pendapat orang yang sama sekali tidak tau apa-apa
Saat makanan mereka sudah habis. Mereka mencuci piring masing-masing sebelum menikmati waktu istirahat dengan menonton televisi.
"Gue bosan" ujar Risa saat mereka sedang asik menonton televisi
"Bosan mulu loh perasaan" Syifa tidak menoleh ke Risa
"Gimana ngga. Waktu berharga kita cuma terbuang dirumah doang" Risa cemberut mengingat ia hanya selalu berada di rumah
"Makanya, punya pacar dong biar ada yang bisa diajakin jalan" goda Syifa dengan tertawa keras
"Eh, nyadar diri loh. Loh juga jomblo tau ngga" Risa mulai kesal kepada Syifa
"Seenggaknya gue ngenes kayak loh" suara tawa Syifa makin keras
"Mentang-mentang didekatin Reza loh ya? Sekarang udah mulai ngebully gue lagi" ketus Risa
Syifa seketika menghentikan tawanya, "Gue ngga lagi didekatin sama Reza atau siapapun. Jadi ngga usah ngaco" seru Syifa
"Bilang aja loh senang" Risa masih tetap cemberut
"Senang apa sih, Sa. Ya ampun. Ia deh maaf-maaf" Syifa kemudian memeluk Risa
"Ih ngga usah peluk-peluk. Gue masih normal" goda Risa
"Huuui. Dasar otak loh ini yah. Pengen banget kayaknya ditoyor" Syifa menoyor pelipis Risa dengan tawanya yang diikuti suara tawa Risa
Mereka kemudian memasak bersama untuk makan malam. Saat dirasa sudah selesai, merekapun makan malam bersama. Malam sudah semakin larut, lalu mereka menyudahi pembicaraan mereka dan sama-sama mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah untuk stamina mereka esok hari
__ADS_1