Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Lamaran dadakan


__ADS_3

"Puas banget yah kalian ketawanya" tegur, Risa yang mencibikkan bibirnya memandang satu persatu temannya yang sedang tertawa kecuali, Fahri


"Udah ah. Perut gue sakit ketawa mulu", Syifa memegang perutnya yang sakit akibat terlalu berlebihan tertawanya


"Makanya, loh jangan terlalu banyak ketawa. Ntar kalau ponakan gue kenapa-napa gimana?" seru, Risa pada, Syifa yang mengeluh sakit perut


"Ngga usah lebay deh" tegur, Syifa


"Ini pulpen siapa?", Luthfi mengambil pulpen yang berada di belakangnya karna sedari tadi terus mengganggu duduknya


"Coba gue lihat", Fahri meminta pulpen itu dari tangan, Luthfi. "Kayaknya bukan punya gue" ucapnya setelah melihat-lihat pulpen tersebut


"Bukan punya gue juga ini" seru, Vigo


"Sini coba gue lihat dulu. Kayaknya ini bukan pulpen sembarangan deh" ujar, Viona lalu, Fahri memberikan pulpen itu kepadanya


"Bentuknya rada aneh" cetus, Viona yang membolak-balikkan pulpen tersebut


"Ini apa?", Risa menekan tombol yang berada di kepala pulpen tersebut hingga keluarlah suara mereka


Mendengar rekaman suara mereka? betapa kagetnya hingga mereka membulatkan mata. Syifa merasa detak jantungnya menyebar ke seluruh tubuh. Karna sedari tadi, hal-hal yang mereka bicarakan, adalah tentang kehamilannya


"Buang pulpen itu" seru, Luthfi


"Jangan dibuang. Kalau orang lain dapat dan dengar gimana?" sahut, Syifa yang panik


"Bakar aja. Ini siapa yang berani naro alat perekam suara disini?" seru, Risa yang terlihat marah


"Ini pasti ulah ketiga cewek kurang tau malu itu", Viona ikut menampakkan raut marahnya


"Kalian ini. Jangan selalu menyalahkan orang lain tanpa bukti" tegur, Syifa pada kedua temannya


"Emangnya siapa lagi yang berani?" tanya, Viona


"Jangan harap mereka bisa dapat rekaman ini" geram, Risa


"Sini biar gue bakar", Fahri mengambil pulpen itu dari tangan, Risa dan berlalu menuju ke belakang


"Ayo" ajak, Vigo yang mengikuti, Fahri dan teman-temannya yang lain menyusul


Fahri membakar sampah di belakang rumahnya dan melepar pulpen tersebut ke dalam api yang sedang membakar sampah yang sudah terkumpul


"Gue yakin. Mereka pasti bakal datang cari pulpen ini. Dan setelah ini, kita bisa tau pulpen itu milik siapa" seru, Viona dengan kesal


"Benar banget. Gue ngga sabar pengen nyakar muka tuh orang" timpal, Risa


"Udah-udah. Kita lihat aja nanti, pulpen itu punya siapa" tegur, Vigo


"Ayo masuk. Gue ngga tahan bau asap" ajak, Syifa yang sedari tadi menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangannya


"Ayo", Luthfi menarik tangan istrinya untuk kembali masuk ke dalam rumah diikuti temannya


***


"Gue kenyang" seru, Syifa yang menepuk-nepuk perutnya setelah mereka makan siang


Luthfi tersenyum padanya, "Kamu harus banyak makan" sahutnya dan membuat istrinya itu mengangguk sempurna


"Harus dong. Ponakan gue ngga boleh kekurangan makanan" cetus, Risa yang membersihkan meja makan dan mengumpulkan piring kotor bersama, Viona karna mereka tidak mau, Syifa membantunya


"Loh bilang aja sama kita, Fa, kalau loh mau makan sesuatu. Biasanya kan hamil muda itu kan ngidamnya aneh-aneh" tukas, Viona


"Udah cocok tuh, Go, Viona jadi istri dan Ibu" ledek, Fahri


"Tahun depan gue kawinin, Vio" ujar, Vigo yang terlihat santai. Berbeda dengan teman-temannya termasuk, Viona terkejut mendengarnya

__ADS_1


"Serius loh, Go?" tanya, Lutfhi memastikan


"Serius lah gue. Kalau, Vio mau" sahut, Vigo


"Gimana, Vi? Mau ngga? Biar loh bisa nyusul gue sama, Luthfi. Kali aja kita bisa besanan" goda, Syifa lalu tertawa


Wajah, Viona seketika memerah karna malu sekaligus terkejut dengan pernyataan, Vigo yang tiba-tiba membuat napasnya kian melambat


"Kenapa loh, Vi? Merah banget muka loh" tegur, Risa lalu tertawa bersama, Syifa


"Lamaran dadakan" seru, Fahri


"Gue sih maunya tahun ini juga boleh. Gue tinggal nunggu, Vio aja bilang ia" cetus, Vigo yang santai sekali mengatakannya


Viona semakin membungkan dan lidahnya serasa keluh dan kaku hingga tidak bisa mengeluarkan suara apapun dalam rongga mulutnya


"Aaaa..... Gue baper", Risa mengatupkan kedua tangannya dan menaruhnya di pipi yang sedikit ia miringkan


"Baper mulu. Loh sama, Fahri kapan nyusulnya?" ledek, Syifa


"Loh bisa ngga sih jangan ngerusak momen manis mereka ini dulu?" gerutu, Risa. "Selalu aja bawa-bawa gue. Mentang-mentang udah nikah loh" serunya


"Santai aja lagi. Loh ngapain ngegas banget?" tegur, Fahri


"Biasa. Udah pengen nikah juga" goda, Luthfi


"Nih berdua pasangan suami istri cocok banget emang deh. Suka banget ngebully orang" celoteh, Risa


Mereka hanya tertawa mendengar celotehan, Risa. Bahkan, Viona pun yang sedari tadi membungkam ikut tertawa dibuatnya


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar samar-samar dan berhasil menghentikan tawa mereka


"Kalian?" ucap, Viona ketika ia sudah membuka pintu dan kembali menampilkan wajah yang sangat memuakkan matanya


"Ngapain kalian kesini?" seru, Viona tanpa basa-basi pada ketiga gadis yang baru saja mengangkat kaki dari rumah itu tadi pagi


"Siapa, Vio?" teriak, Vigo dari dalam


"Kesini aja kalau mau tau" teriak, Viona. "Jadi, ngapain lagi kalian kemari?" tanya, Viona lagi yang menyandarkan lengannya di samping pintu, menyilangkan kakinya, dan melipat tangannya di atas perut


"Barang gue ketinggalan" sahut, Lury yang juga tidak ingin berbasa basi dengan gadis yang ada di hadapannya saat ini


"Siapa yang dat..... " ucapan, Risa terhenti ketika melihat ketiga makhluk yang tidak ia sukai keberadaannya


"Ngapain kalian disini?" tanya, Fahri dengan sewot


"Lury ngelupain barangnya disini semalam" sahut, Dini yang sedikit takut


"Barang apa?" kini giliran, Vigo yang bertanya


"Pulpen gue ketinggalan, Go" tukas, Lury


"Semalam gue lihat ada di sofa" cetus, Dinar


"Pulpen?" tanya, Luthfi yang memastikan


"Ia pulpen" jawab, Dinar


"Hanya karna ketinggalan pulpen, kalian sampai harus balik kesini lagi?", Syifa mulai memancing


"Emang itu pulpen apa sih? Ajaib? Penting banget? Atau alat pe...... ", Risa sengaja menggantung ucapannya hingga membuat mereka bertiga terkejut. "Penjepit buku?" ia berkilah


"Itu pulpen.... pemberian seseorang...... Dan.....Ehm... Pulpen itu..... Penting banget. Ia, penting banget" sahut, Lury yang mulai tergagap

__ADS_1


"Pemberian seseorang?" tanya, Vigo yang menaikkan satu alisnya


"Tolong! Biarin kami cari pulpen itu dulu. Setelah itu, kami akan pulang" pinta, Dinar


"Ia. Kami akan pulang kalau pulpennya udah ketemu" timpal, Dini


"Kenapa jawaban kalian ngga meyakinkan?", Tanya, Fahri terang-terangan


"Gue juga. Ngerasa aneh sama tingkah mereka" cetus, Vigo seakan-akan hendak mencurigai mereka


"Gue ngga yakin. Hanya karna sebuah pulpen biasa, kalian sampai harus balik lagi kesini" ujar, Luthfi


Ketiga wanita itu menelan salivanya dengan susah payah. Tatapan ke-enam orang di hadapan mereka seperti sedang mengintimidasi


"Udah lah. Ayo, kalian cari. Tapi setelah ini, kalian benar-benar harus pulang" peringat, Syifa


"Ia. Setelah ini kami bakal langsung pulang" sahut, Lury dengan cepat


"Cepat masuk dan cari. Menyusahkan" perintah, Luthfi dengan ketus


Ketiga wanita itu mulai mencari di sofa yang sempat mereka sembunyikan. Wajah mereka mengernyit heran karna tidak mendapati benda kecil itu


"Kok ngga ada pulpennya?" tanya, Dinar dengan suara pelan


"Ngga tau kak. Semalam kan kita naronya disini" sahut, Lury yang tidak kalah pelan suaranya


"Atau jangan-jangan mereka udah bersihin yah?", Dini mengantisipasi hal itu


"Hmm. Pulpennya ngga ada. Mungkin tadi kalian habis bersih-bersih dan ngga sengaja ngambil pulpennya?" tanya, Dinar yang memberanikan diri bertanya


"Oh ia. Gue lupa", Risa menepuk jidatnya. "Tadi kan kita habis beres-beres yah?" tanyanya pada, Syifa dan Viona lalu mengedipkan mata, "Dan sampahnya kita bakar di belakang" ucapnya dengan nada yang menyesal dan dibuat-buat


"Apa?" keterkejutan ketiga wanita itu menggema hingga yang lainnya menutup telinga


"Jangan teriak-teriak bisa ngga sih? Lagian, itu cuma pulpen biasa kan? Kenapa kalian khawatir banget?" seru, Viona


"Atau jangan-jangan kalian nyembunyiin sesuatu di pulpen itu" ujar, Syifa


"Ap.... Apa? Jangan ngomong sembarangan. Hmmm.... Itu... Emang cuma pulpen biasa. Tapi itu pemberian" sahut, Lury dengan tergagap


"Terus kenapa wajah kalian pucat gitu?" tanya, Vigo yang mengerutkan keningnya


"Loh nyembunyiin apa di pulpen itu?" tanya, Fahri yang menambahi pertanyaan, Vigo


"Atau ada sesuatu yang buruk kalian rencanain?" tanya, Luthfi.


Ketiga wanita itu diserang tanpa ampun. Wajah mereka kian memias dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlontar


"Jawab" seru, Risa


*


*


*


*


*


*


*


Maaf yah. Semalam ngga bisa up, krn kondisi tubuh yg benar-benar drop 🤒 Ini bkn krn sy keluar malming yah teman2 😅 saya sendiri ngga suka keluar malam2. Ini juga bkn krn sy lagi berusaha ngitung usia yah 🤭 (seperti pertanyaan reader yg nanyain usia author 😅) Jangan lupa untuk selalu like dan vote yah teman2 😊 Terima kasih yang sudah mendukung 🤗

__ADS_1


__ADS_2