
"Udah, Sa. Ntar, Syifa beneran marah loh" seru, Viona ketika, Syifa dan Luthfi sudah tidak terlihat
"Ngga akan marah dia. Kalaupun marah, ngga bakal nyampe sejam. Anaknya mah santuy" sahut, Risa yang sudah tau sifat, Syifa dari dulu
"Marahnya orang sabar itu bahaya loh. Kalau loh bisa cegah dia buat ngga pernah marah, kenapa harus loh pancing" tutur, Fahri
"Benar sih" cetus, Vigo
"Apanya yang benar? Loh tuh yang paling banyak ngegoda mereka tau" ketus, Viona
"Kan bercanda doang, Vio" jelas, Vigo
"Udah ah. Viona? Ayo ke kamar. Gue pengen istirahat" ajak, Risa kepada, Viona
Mereka masing-masing masuk ke dalan kamar yang sudah ditunjukkan oleh, Luthfi sebelumnya untuk mengistirahatkan tubuh mereka
***
"Besok aku cari asisten rumah tangga, biar ada yang ngurus rumah ini" ucap, Luthfi yang kini sedang tidur memeluk, Syifa
"Ngga usah. Aku bisa ngerjain pekerjaan rumah sendiri. Lagian kan cuma masak sama bersih-bersih" sahut, Syifa yang juga kini sedang memeluk tubuh, Luthfi
"Kamu kan harus kuliah. Mana sempat bersih-bersih rumah sebelum ke kampus" ujar, Luthfi melonggarkan pelukannya dan menundukkan pandangannya
"Aku bisa. Kamu ngga ingat? Waktu aku cuma tinggal berdua sama, Risa, aku bisa kok bersih-bersih rumah sambil masak? Habis itu ke kampus. Nanti aku bangunnya pagi-pagi banget. Biar ngga telat", Syifa mendongak dan mencoba menego
"Kalau urusan itu. Kamu cerita aja sama Bunda. Soalnya bunda yang nyuruh aku cari asisten rumah tangga" tukas, Luthfi
Syifa mengerucutkan bibirnya, ia tidak tau lagi harus membantah apa. Jika sudah bawa-bawa nama Bunda, Mommy dan Ayah, Syifa akan mengalah.
Luthfi, tersenyum puas ketika, Syifa tidak lagi membantah. Ia mengeratkan pelukannya tanpa memberi jeda diantara mereka
"Luthfi? Jangan terlalu erat, aku susah napas tau" gerutu, Syifa mencoba menghindar
"Ayo kita turuti permintaan teman-teman" cetus, Luthfi yang tidak mengindahkan ocehan, Syifa
"Permintaan teman-teman?" tanya, Syifa yang mengerutkan dahinya dan, Luthfi hanya mengangguk
"Memangnya apa permintaan teman-teman?" tanya, Syifa yang masih tidak mengerti
"Membuatkan mereka ponakan" ucap, Luthfi yang langsung mengulum bibirnya untuk tidak tertawa
Syifa membulatkan kedua matanya dan mendorong, Luthfi sekuat tenaga. Ia menatap tajam ke arah, Luthfi yang sedang menahan tawa
"Ngga usah aneh-aneh. Tidur sendiri sana. Jangan ganggu aku" seru, Syifa dengan penuh penekanan lalu menaruh guling di tengah-tengah mereka
Ia sedikit menjauh dari, Luthfi dan membalikkan badannya untuk membelakanginya. Luthfi bukannya marah malah menjadi terkekeh dengan tingkah gemas, Syifa. Luthfi menyingkirkan guling yang menghalangi mereka, lalu perlahan memeluk perut, Syifa dari belakang
"Aku bilang sana", Syifa menepis tangan, Luthfi yang menjalar di perutnya, "Jangan ganggu aku"
"Kenapa harus marah? Emang kamu ngga mau punya anak dari aku?" ledek, Luthfi yang tidak menyerah dan kembali memeluk, Syifa
"Bisa ngga sih, ngga usah ikut-ikutan mereka?" kesal, Syifa kembali menepis tangan, Luthfi dan membalikkan tubuhnya menatap tajam, Luthfi
"Tau ngga sih, kalau Mommy ngga suka kamu bersikap kasar sama aku?" ledek, Luthfi
"Selalu aja bawa-bawa nama Mommy" ketus, Syifa yang merengek dan mencubit perut, Luthfi
"Karna itu pesan Mommy" ucap, Luthfi lalu tertawa
"Aku tau. Itu pasti cuma akal-akalan kamu aja biar aku nurut sama kamu. Ia kan?" seru, Syifa yang sudah begitu kesal pada, Luthfi
"Ya udah. Ayo kita telepon Mommy sekarang", Luthfi hendak meraih ponselnya di atas nakas
"Jangan!", Syifa menarik tangan, Luthfi yang hendak meraih ponselnya. "Ia ia, aku percaya" pasrahnya
Luthfi menahan senyumnya, padahal ia sendiri tidak berniat untuk menghubungi mertuanya karna sudah hampir tengah malam.
"Ayo tidur", Luthfi kembali meraih tubuh, Syifa dan mendekapnya dengan erat
"Jangan erat-erat" tegur, Syifa
Luthfi melonggarkan pelukannya. Ia hendak melepas kancing piyama, Syifa namun tangannya tertahan
"Mau ngapain?" tanya, Syifa yang memegang tangan, Luthfi
"Mau ngapain lagi?", Luthfi menyeringai tipis dan membuat, Syifa memutar malas bola mata
"Aku berdoa. Semoga saja besok aku datang bulan" umpat, Syifa ketika, Luthfi sudah menjelajahi seluruh tubuhnya
***
"Astaga. Badanku sakit semua rasanya", Syifa yang sudah bangun terlebih dahulu berusaha memindahkan tangan, Luthfi yang melingkar di perutnya
Setelah tangan, Luthfi terlepas dari perutnya, ia memakai kembali piyamanya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya
Luthfi menggeliat. Ia meraba-raba samping tempat tidurnya namun tidak menemukan apapun. Ia mengerjap dan mengedarkan pandangannya. Saat mendengar suara air mengalir dari kamar mandi, ia tersenyum dan kembali merebahkan kepalanya
Beberapa detik, ia perlahan mendudukkan tubuhnya, kemudian ia berjalan dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Luthfi!!!!" teriak, Syifa ketika, Luthfi masuk padahal ia sedang mandi tanpa mengenakan sehelai pakaian sama sekali.
"Eh, aku lupa", Luthfi segera keluar dan menutup pintu itu kembali
__ADS_1
Syifa sudah mengoceh di dalam dan sana dan Luthfi hanya terkekeh tidak menyadari jika, Syifa masih berada di dalam kamar mandi
***
"Sarapan sudah siap" seru, Risa ketika hidangan mereka telah selesai
"Masih ada satu jam untuk kita sarapan dan berangkat ke kampus" cetus, Viona
"Panggil yang lain dulu. Kita sarapan sebelum berangkat" perintah, Syifa.
Risa dan Viona mengangguk. Mereka berdua lalu memanggil teman-temannya untuk sarapan bersama. Mereka sarapan dengan roti dan nutella. Setelah 20 menit, mereka telah selesai sarapan. Sebelum berangkat, Syifa membawa piring kotor ke wastafel.
"Nanti aja cuci piringnya, Fa. Ntar kita telah. Ayo", Risa menarik tangan, Syifa yang hendak mencuci puring
"Ia ia bentar" sahut, Syifa yang meraih ranselnya
Mereka menuju kampus memakai mobil, Fahri. Hanya membutuhkan sekitar 15 menit, mereka sudah sampai di halaman kampus mereka.
"Ayo turun" ajak, Vigo yang duduk di depan bersama, Fahri seperti biasanya
Drrrrtttt dddrrrttttt
Saku celana, Viona bergetar hingga membuat pemiliknya sedikit terkejut. Ia meraih ponselnya dan menatap layar ponsel yang tampak nomor tidak ia kenal sedang menghubunginya
"Siapa?" tanya, Vigo ketika, Viona hanya diam
"Ngga tau. Nomornya ngga kenal" sahut, Viona
"Jawab aja, Vi. Siapa tau penting" cetus, Syifa yang kini sudah berjalan menuju ruang kelas mereka
"Bentar", Viona menggeser icon hijau dan menaruh benda pipih itu di telinganya
"Halo?"
"Halo, Viona. Ini gue, Dini"
"Dini?", Viona mengulang nama tersebut dan sontak membuat, Fahri menghentikan langkahnya diikuti teman-temannya yang lain
"Ia. Ini gue, Dini. Viona? Loh dimana sekarang?"
"Ehmmm. gue lagi di kampus. Ada apa, Dini?" tanya, Viona yang begitu canggung karna, Fahri terlihat gusar dan kembali melanjutkan langkahnya
"Kuliah loh selesai jam berapa? Gue boleh ngga ke kampus loh?"
Viona menggigit bibir bawahnya karna merasa tidak enak dengan, Fahri dan Risa. "Hmm. 4 jam lagi" jawabnya dengan pelan
"Ok. Tunggu gue yah"
"Hmmm. Ia" sahut, Viona lalu menekan tombol merah
"Terserah loh. Gue ngga ada urusan lagi sama dia" jawab, Fahri dengan dingin
"Gue baru kali ini ngeliat, Fahri bersikap dingin ke kita. Dia pasti belum bisa move on" batin, Risa yang tidak berhenti memperhatikan, Fahri
"Gue benar-benar jadi ngga enak" batin, Viona ketika melihat, Fahri dan Risa bergantian
Selama berada di dalam kelas, Fahri hanya diam dan tidak menimpali obrolan teman-temannya seperti yang biasa ia lakukan. Viona semakin tidak enak, namun berkali-kali pula, Vigo menenangkannya. Syifa dan Risa berusaha mencairkan suasana agar tidak canggung. Sedangkan, Luthfi dan Vigo berusaha menimpali obrolan kedua gadis tersebut
"Loh kenapa diam-diam bae, Ri? Udah kek patung gitu loh" seru, Risa untuk mengajak, Fahri berbicara
"Emangnya gue kenapa?" sahut, Fahri dengan malas
"Dih. Jangan sok jual mahal sama gue loh, Ri. Ntar gue diembat sama yang lain, baru loh ngerasa kehilangan gue" ujar, Risa yang sedang bercanda
"Dih", Fahri mendengus sekaligus terkekeh
"Secara yah, gue tuh cantik, gampang aja sih gue nyari cowok lain. Tapi hati gue masih ada loh" ujar, Risa dengan gaya sok lebaynya
Fahri tidak menjawab, ia hanya melirik malas, Risa. Biasanya ia akan membalas candaan gadis di depannya itu, namun entah kenapa dia tidak membalasnya seperti biasa
Risa mengusap wajah, Fahri dengan telapak tangannya, "Ngga usah mandangin gue sampai segitunya, Ri. Ia gue tau, gue tuh cantik banget. Sampai-sampai loh ngga bisa berpaling dari gue"
Fahri mendengus lalu tertawa, yang, diikuti oleh teman-teman mereka yang lain. Mereka bersyukur punya, Risa yang selalu bisa mencairkan suasana canggung menjadi kembali ceria
Dddrrrrr dddrrrtttt
Getaran ponsel, Viona kembali terdengar. Viona menelan ludah dengan susah payah ketika melihat nomor yang sama menghubungi lagi
"Jawab aja kali, Vi" tegur, Risa
"Hmm. Ini..... Da.. Dari..." ucap, Viona dengan gugup
"Dari, Dini?" tanya, Risa dan Viona mengangguk
"Jawab aja kali. Dia kan cuma mau ketemu sama loh. Ngga akan dia berani ketemu sama, Fahri. Berhadapan sama gue langsung" seru, Risa dengan menantang walau hanya sekedar bergurau
"Halo" jawab, Viona dengab hati-hati
"Gue di depan Fakultas loh" sahutnya di seberang sana tanpa basa basi
"Ha? De... Depan Fakultas gue?" kaget, Viona yang langsung melirik, Fahri dan Vigo
"Please loh kesini sekarang"
__ADS_1
"Tapi gu..." ucapan, Viona terpotong
"Temuin dia" potong, Fahri
"Hmm. Tunggu gue disitu", Viona menekan tombol merah. "Fa? Temenin gue yuk?", Viona mengajak, Syifa untuk menemui, Dini
"Kalian tunggu disini yah? Atau kalian ke kantin duluan aja. Ntar gue sama, Viona nyusul" perintah, Syifa
Viona dan Syifa keluar untuk menemui, Dini. Sedangkan, Luthfi, Vigo, Fahri dan Risa menuju kantin sembari menunggu, Syifa dan Viona
***
"Ada apa loh kesini, Din?" tanya, Viona ketika mereka sudah bertemu
"Ini yang namanya, Dini? Hmmm, lumayan. Tapi masih lebih cantik, Risa" guman, Syifa dalam hati
"Viona. Sebenarnya gue pengen ketemu sama, Fahri. Tapi gue takut. Loh bisa kan bantuin gue buat ketemu sama, Fahri? Please, kali ini aja" pinta, Dini membuat, Viona tidak tau harus menjawab apa
"Nih cewek maksa banget sih" gerutu batin, Syifa
"Viona, please", Dini mengatupkan kedua tangannya memohon kepada, Viona
"Tapi gue ngga yakin, Fahri bakal mau ketemu sama loh" ujar, Viona
"Ngga masalah, Vi. Yang penting ketemuin gue sama, Fahri dulu" pinta, Dini dengan memelas
"Ya udahlah, Vi. Biarin aja. Tapi setelah sampai disana, kalau, Fahri ngga mau ketemu sama loh, loh ngga boleh maksa" seru, Syifa
"Ia. Yang penting gue harus ketemu sama, Fahri" sahut, Dini dengan girang
Syifa mengode, Viona. Mereka bertiga menuju kantin untuk menemui teman-teman mereka disana
***
"Bentar yah, gue mau ke toilet dulu" seru, Risa yang beranjak dari duduknya
"Jangan lama-lama. Ntar, Syifa sama Viona balik, pasti nyariin loh" cetus, Fahri
"Ia bawel. Yang mau nginap di toilet juga siapa" sewot, Risa kemudian berlalu
"Galak bener sih, Risa. Untung cantik kan, Ri? Sayang juga" ledek, Vigo
"Mutiara jangan di sia-siain" timpal, Luthfi
"Yang bilang dia debu siapa?" ucap, Fahri lalu tertawa bersama kedua temannya
"Fahri" panggil seseorang yang tidak asing di telinga, Fahri
Fahri menoleh, "Dini?" ucapnya dengan pelan. Ia terkejut karna harus bertemu lagi dengannya
"Fahri, gue boleh ngomong berdua ngga sama loh?" tanya, Dini yang begitu gugup
"Ngomong disini aja" sahut, Fahri yang memalingkan wajahnya dengan dingin
"Please. Gue butuh bicara berdua sama loh" pinta, Dini yang begitu memelas
Fahri mendengus dan beranjak meninggalkan teman-temannya meski jarak mereka tidak jauh. Dini pun mengikuti, Fahri pergi menjauh
"Mau ngomong apa?" tanya, Fahri yang tidak lagi ingin berbasa basi
"Fahri. Gue tau gue salah. Tapi ini sepenuhnya juga bukan salah gue" ujar, Dini yang memulai pembicaraannya
"Jadi sekarang loh nyalahin gue?", Fahri menatap tajam, Dini
"Bukan itu maksud gue, Ri", Dini berusaha menyangkal
Risa yang baru saja kembali dari kamar mandi melihat, Fahri sedang berbicara dengan seorang gadis yang tidak ia kenal. Namun ia tidak menghampirinya, ia lebih memilih menghampiri teman-temannya.
"Siapa cewek yang lagi sama, Fahri?" tanya, Risa ketika ia sudah bergabung dengan teman-temannya
"Dini" jawab, Syifa yang menoleh ke arah, Risa
"Bantuin, Fahri sana, Sa" seru, Viona
"Dini? Cewek yang disukai, Fahri?" tanya, Risa
Teman-temannya hanya mengangguk. Lalu, kembali tatapan mereka mengarah ke, Fahri dan Dini
"Tunggu gue disini" ucap, Risa lalu menghampiri, Fahri, "Sayang" ucap, Risa dengan begitu manja bergelayut di lengan, Fahri
Fahri dan Dini terkejut dengan kedatangan gadis yang tiba-tiba memanggil, Fahri dengan sebutan 'sayang'
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like dan beri tip yah 😊 Terima kasih yang sudah mendukung 🤗