
"Apa loh liat-liat" tegur, Risa yang melihat, Fahri menatapnya lewat spion tengahnya
"Loh pernah pacaran, ngga mungkin loh ngga tau apa maksudnya" seru, Fahri menaikkan aslinya
"Gue tuh pacaran buat senang-senang yah. Bukan buat main teki-teki ngga jelas gitu" sahut, Risa yang menendang kursi, Fahri
"Biasa aja dong loh. Ngga usah nendang-nendang gue" tegur, Fahri
"Loh kalau mau nendang, Fahri boleh. Tapi nikah dulu sama, Fahri. Biar saling nendang di kamar. Kan udah sah" seru, Vigo yang langsung tertawa
"Otak loh kenapa seharian ini?" sahut, Luthfi yang ikut tertawa namun ditatap sinis oleh, Syifa hingga ia menutup mulutnya untuk menahan tawa
"Otak loh ngeres mulu, Go. Sana nikahin, Viona. Kayaknya loh deh yang kebelet nikah" sindir, Fahri yang tertawa diikuti, Luthfi
"Kalian tuh dari tadi bahas apa sih? Melar kemana-mana ceritanya" ketus, Syifa
"Tau nih. Gue aja kesal dengarnya" timpal, Viona
***
"Selamat datang anak mantu Bunda" Bunda, Luthfi keluar menyambut anak dan menantunya yang sudah datang didampingi oleh teman-temannya
"Selamat datang nak" ia memeluk menantunya itu
Syifa hanya tersenyum dan masih malu-malu. Ia membalas pelukan ibu mertuanya. Luthfi dan yang lainnya hanya tersenyum senang melihatnya
"Kakak!" teriak seseorang yang keluar dari dalam rumah dan langsung memeluk, Luthfi
"Hai sayang", Luthfi, membalas pelukan gadis di yang masih muda dihadapannya
"Ayo masuk dulu nak", Bunda Luthfi mempersilakan menantu dan teman-temannya untuk masuk
"Ayah mana Bun?" tanya, Luthfi ketika ia sudah duduk di ruang keluarga namun tidak melihat Ayahnya
"Ayah sudah ke kantor tadi" sahut Bundanya
"Kalian teman-temannya, Luthfi sama Syifa yah selama kuliah?" tanya, Bunda Luthfi kepada teman-teman anaknya
"Ia tante"
"Terima kasih yah, sudah menjaga anak-anak tante" ucapnya dengan penuh keikhlasan
"Bian mana, Bun? Sekolah?" tanya kembali, Luthfi
"Ia. Bian sekolah. Cuma sih, Fia ini yang ngga mau ke sekolah sekarang. Nunggu kamu pulang" sahut Bundanya yang menunjuk putri bungsunya
"Kok ngga sekolah dek? Nanti nilainya jelek loh", Luthfi membelai lembut kepala adiknya
"Fia kangen kakak. Fia juga udah minta izin kok" sahut, Luthfia yang masih duduk di bangku SMP
"Kalian juga menginap disini kan? Tante sudah siapin kamar untuk kalian juga" ujar Bunda Luthfi
"Terima kasih Tante"
"Ya sudah. Kalian disini dulu yah. Bunda mau ke dapur bikin minuman dulu. Ayo, Fia. Jangan ganggu kamu dulu" Bunda dan adik Luthfi berlalu menuju dapur
"Itu adik loh, Fi?" tanya, Fahri
"Ia. Itu, Luthfia adik gue" sahut, Luthfi
"Ingat. Dia masih kecil. Jangan jadi pedofil loh" tegur, Risa yang mengira, Fahri menyukai adik, Luthfi
"Loh pikir gue naksir adik, Luthfi? Ngeres otak loh. Atau jangan-jangan loh juga udah mulai suka sama gue", Fahri akhirnya membalas godaan, Risa
"Ngaco", Risa melempar bantal sofa ke wajah, Fahri
Melihat wajah, Risa yang kembali cemberut, semuanya hanya menertawakan dirinya. Terlebih, Fahri yang senang sudah membalas godaan, Risa saat di rumah, Syifa kemarin
***
"Senangnya Bunda kalau meja makan jadi rame begini" ujar Bunda Luthfi yang sengaja mempersiapkan meja makan yang lebih besar dari biasanya saat makan siang berlangsung
"Bunda. Bian minta air minum dulu", Bian adalah anak kedua dan menjadi adik pertama, Luthfi
"Sekolahnya gimana, Bian?" tanya, Luthfi disela-sela makan yang menatap adik lelakinya
"Baik kok kak" sahut, Bian yang sedang meneguk air minum dalam gelasnya
"Setelah makan. Kalian istirahat yah" perintah Bunda, Luthfi kepada semuanya
"Syifa akan cuci piring sebelum istirahat" sahut, Syifa
"Ngga usah sayang. Nanti ada bibi yang akan membersihkannya. Kamu istirahat saja di kamar" ujarnya denga senyum tulusnya
"Anak mantu Ayah ini ngga boleh capek-capek dulu. Kan masih pengantin baru" cetus Ayah mertuanya dengan membelai kepala menantunya
Syifa menjadi salah tingkah sendiri dengan perlakuan Ayah mertuanya. Luthfi sendiri hanya tersenyum menanggapinya, begitupun dengan teman-temannya yang lega melihat, Syifa diperlukan sangat baik oleh keluarga, Luthfi
"Jadi, Fia punya saingan nih?" goda, Fia yang melirik-lirik, Ayahnya
"Kamu ini" Ayahnya hanya mengacak rambut putrinya
"Fia cuma bercanda" ucap, Luthfi kepada, Syifa yang terlihat tidak enak pada adik iparnya
__ADS_1
"Kenapa?" tanya, Fia pada kakanya
"Fia nih. Kakak ipar jadi ngga enak karna, Fia bilang punya saingan" seru, Bian yang sudah selesai makan
"Eh. Fia cuma bercanda kok kak. Beneran" jelas, Fia yang menjadi panik sendiri
"Ngga apa-apa kok" sahut, Syifa yang kaku
"Fia? Loh baru punya satu kakak ipar udah ngerasa punya saingan. Apalagi kalau udah ada dua" ledek, Bian yang menahan senyumnya
"Memangnya Kak Bian juga udah mau nikah?" seru, Fia yang berdiri dari kursinya
"Memangnya, Fia mau lihat Kak Bian ngga akan nikah selamanya?" ujar, Bian yang serius
"Bukan gitu Kak Bian. Tapi kan Kak Bian masih SMA. Emang Kak Bian punya pacar?" tanya, Fia
"Sudah-sudah. Kalian ini mengganggu teman kakak kalian disini" sergah Ayahnya yang menyudahi keributan anaknya
"Ayo kita ke kamar" ajak, Luthfi yang hendak berdiri
"Ngajak siapa? Syifa atau siapa?" goda, Risa yang tidak malu-malu di depan keluarga, Luthfi
Fahri menyenggol lengan, Risa. Sedangkan, Viona menajamkan tatapannya. Vigo malah asyik menahan tawanya untuk tidak meledak
Bahkan Ayah, Bunda, dan Bian hanya tersenyum geli melihat tingkah, Luthfi yang entah mengajak siapa ke kamarnya. Kecuali, Fia yang diam saja karna tidak tau
"Risa!" tegur, Syifa yang tidak enak pada keluarga barunya itu
"Syifa" ketus, Luthfi yang kesal dengan, Risa
Semuanya pun tertawa melihat raut wajah, Luthfi yang kesal. Syifa berusaha menguasai dirinya dengan wajah yang saat ini sudah memerah
"Kakak mau istirahat dulu", Luthfi meninggalkan mereka dan menuju lantai dua ke kamarnya
"Kakak ipar, sekarang ikut kakak ke kamar. Kakak kalau udah ngambek bisa seharian ngga keluar kamar" perintah, Bian kepada kakak iparnya
Meskipun, Syifa tidak mengerti maksudnya, namun ia hanya mengikuti perkataan adik iparnya itu. Namun, Syifa kembali berbalik dan menggigit bibir bawahnya
"Fia. Tolong bantu Kak Syifa ke kamar Kakak yah" Bundanya langsung mengisyaratkan seperti sedang membaca isi pikiran menantunya
"Ayo kak. Biar, Fia tunjukin kamar Kakak" seru, Fia yang bergelantung di lengan kakak iparnya
"Bian. Tolong tunjukin kamar teman-teman kakak kamu yah, yang semalam sudah kita persiapkan" ucap Bundanya
"Siap Bunda. Ayo kak, Bian tunjukin kamarnya" Bian mendahului teman-teman kakaknya
"Ini kamar laki-lakinya, dan ini kamar perempuannya", Bian menunjuk kamar untuk, Fahri dan Vigo, juga kamar untuk, Viona dan Risa
***
"Emangnya loh sering ngambek yah?" tanya, Syifa yang sedang melihat-lihat isi kamar, Luthfi disana
" Siapa yang bilang?" tanya balik, Luthfi dengan suara yang tidak suka
Syifa hanya menoleh sekilas, "Gue cuma nanya"
"Ini album apa?", Syifa hendak membuka album tersebut namun, Luthfi dengan cepat mengambilnya
"Kenapa?" tanya, Syifa yang mengerutkan dahinya
"Jangan sentuh album ini" ucap, Luthfi yang tidak enak dengan, Syifa karena langsung mengambil album tersebut dari tangannya
"Memangnya album apa?" tanya, Syifa yang penasaran dengan isi album tersebut
Luthfi tidak menjawab. Ia hanya menatap, Syifa. Syifa sendiri tidak ingin memaksa. Mereka menemui teman-temannya di bawah untuk sekedar mengobrol bersama seperti biasanya mereka lakukan
Selama tiga hari mereka disana, Syifa rajin membantu Ibu mertuanya untuk membersihkan pekerjaan rumah dan menyiapkan makanan yang juga dibantu oleh asisten rumah tangga mereka serta, Risa dan Viona
"Bunda sebenarnya masih kangen sama kalian. Tapi Bunda juga ngga mau nahan-nahan kalian disini. Kalian harus berbulan madu untuk bisa lebih saling dekat" ucap Bundanya yang akan melepas kepergian anak, menantu dan teman-teman anaknya
"Nanti kami kesini lagi Bun" ujar, Luthfi
"Oh ia. Mommy kamu bilang, tunggu orang yang akan mengantar kalian keVilla disini saja. Orangnya sudah dalam perjalanan kemari" ujar Bundanya
"Tapi kami belum siap-siap Bunda" sahut, Syifa
"Mommy kamu sudah mempersiapkan semuanya" balas Bundanya. "Itu dia mobilnya datang"
Mereka akhirnya berangkat menggunakan mobil yang sudah disiapkan oleh orangtua, Syifa dan terpaksa meninggalkan mobil milik, Fahri disana
"Selama berapa hari sih kita disana?" tanya, Viona yang duduk berdampingan dengan kekasihnya
"Cuma tiga hari kok" sahut, Syifa
"Kenapa? Loh mau balik yah?" tanya, Risa yang memutar tubuhnya menghadap ke, Viona
"Ia. Gue kan udah seminggu juga disini. Gue juga kangen rumah" ujar, Viona
"Setelah bulan madu, Luthfi sama Syifa kita pulang" ucap, Vigo yang membelai rambut kekasihnya
"Gue sendiri nih berarti pulangnya" cetus, Fahri
"Memangnya loh ngga mau ikut mereka?" tanya, Risa
__ADS_1
"Gue kan bawa mobil sendiri. Vigo juga bawa mobil" sahut, Fahri yang menoleh ke, Risa. "Kecuali kalau loh mau ikut sama gue" godanya
"Masih sempat-sempatnya yah loh", Risa mencubit perut, Fahri yang duduk di sampingnya
Fahri hanya tertawa karna berhasil membuat, Risa kesal. Bahkan yang lainnya ikut tertawa
Perjalanan menempuh waktu sekitar 4 jam. Bahkan selama perjalanan, mobil yang mereka tumpangi diguyur hujan yang cukup deras. Sebenarnya mereka bisa menempuh waktu hanya 2 jam, namun karna hujan yang cukup deras, membuat mobil mereka kesusahan untuk melaju cepat.
Para lelaki mengangkat koper mereka yang sudah dipersiapkan oleh orangtua, Syifa. Sedang para gadis berlari masuk ke dalam Villa karna curah hujan yang masih belum berhenti
"Sumpah yah. Ini dingin banget. Asli" teriak, Viona menggosok-gosok kedua tangannya karena dingin yang menusuk kulitnya lalu berjongkok
"Disini ngga musim hujan aja, dinginnya udah kebangetan, apalagi ditambah musim hujan. Gila dingin banget" seru, Risa yang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan, Viona
"Badan gue rasanya membeku" cetus, Syifa yang sudah merasa hawa dingin menyengat kulitnya
"Kalian ngapain jongkok disana?" tegur, Fahri yang ketika masuk sudah melihat para gadis terduduk
"Dingin" jawab mereka
"Ayo masuk kamar. Kenapa disini" ajak, Luthfi yang menarik tangan, Syifa yang hampir melepuh untuk masuk ke dalam kamar mereka
"Vigo dingin", Viona menghampiri, Vigo dan memeluknya
"Dih. Loh malah kayak orang yang mau Honeymoon tau ngga" tegur, Risa yang memutar malas bola matanya
"Bilang aja loh iri" tukas, Viona. "Gue masuk kamar dulu yah. Sini koper gue" imbuhnya yang melepas pelukannya dari, Vigo
"Ayo masuk kamar" ajak, Viona kepada, Risa untuk mencari kamar mereka yang sudah terpasang namanya dipintu masuk
"Ayo. Badan gue rasanya ketusuk air es" ujar, Vigo yang juga masuk ke dalam kamar bersama, Fahri
Para pelayan memanggil mereka untuk makan makan. Mereka pun keluar dengan memakai jaket super tebal yang sudah disiapkan oleh orangtua, Syifa. Setelah makan, mereka lebih memilih untuk tidur daripada mengobrol dicuaca yang tidak bersahabat ini.
"Selimut mana" pinta, Syifa yang sudah meringkuk kedinginan padahal ia sudah melapisi tubuhnya dengan jaket yang begitu tebal
Luthfi menaikkan selimut sampai ke leher mereka. "Masih dingin?" tanyanya
Syifa hanya mengangguk memejamkan matanya. Luthfi meraih tubuh, Syifa yang begitu menggigil. Curah hujan tidak berhenti hingga menambah cuaca dingin di Villa tersebut
"Mau apa?" tanya, Syifa dengan lemas membuka kedua matanya
"Sini gue peluk, biar dinginnya berkurang" ujar, Luthfi
Syifa meringsut masuk ke dalam pelukan, Luthfi. Ia bahkan menarik napas dan menghembuskannya di leher, Luthfi. Luthfi merasa aneh ketika, Syifa menghembuskan napasnya di lehernya
"Dingin" ucap, Syifa yang bahkan napasnya menabrak leher, Luthfi yang membuat suaminya merinding
"Luthfi dingin" ucap, Syifa yang menempelkan wajahnya di leher, Luthfi
"Syifa, gue ngga tahan" ujar, Luthfi pelan namun, Syifa tidak mendengarnya karna dingin yang begitu menusuk tubuh mungilnya
"Maaf. Tapi tarikan dan hembusan napas loh buat gue tidak bisa menahan lagi" batin, Luthfi
"Maaf" ucapnya sebelum ia meraih wajah istrinya dan dengan ragu mendekatkan bibirnya ke bibir, Syifa yang memucat
Syifa yang terkejut ingin berteriak namun kehangatan ia dapat dari sana. Setelah tidak ada perlawanan dari, Syifa. Luthfi menindih tubuh, Syifa dan memberikan kehangatan. Ia bahkan sudah membuka pakaiannya di tengah dingin yang menusuk kulit. Ia kemudian membantu, Syifa melepas pakaiannya
"Jangan" tolak, Syifa yang memegang tangan, Luthfi, "Ini benar-benar dingin" ucapnya dengan bergetar
"Ini bisa buat loh ngga ngerasa dingin lagi" sahut, Luthfi yang melepaskan tangannya
"Tapi.... " ucap, Syifa yang masih ragu
"Loh percaya kan sama gue?", Luthfi meyakinkan, Syifa. Setelah, Syifa mengangguk pelan, Luthfi membantunya membuka semua pakaiannya dan melakukan malam pertama mereka yang tertunda.
"Sakit" desis, Syifa mengeluarkan air matanya menahan perih.
"Maaf. Gue pelan-pelan yah" ucap, Luthfi yang menghapus air mata istrinya dan kembali melanjutkan aksinya dan membuat, Syifa harus menahannya
Cuaca yang tadinya dingin mulai bercampur dengan keringat mereka yang sedang beradegan panas selama menjadi sepasang suami istri
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Hai semuanya 🤠Ini eps terpanjang yah selama novel ini. Kalau aku mau crazy up kan eps ini, bisa jadi 3 eps sekaligus 😅 Jadi, kalau kalian suka novel ini, jangan lupa untuk like, vote, dan komennya yg membangun yah, biar aku nulisnya jadi semangat 🤗
__ADS_1