Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Serba dadakan (Lamaran)


__ADS_3

"Loh mau nikah barengan, Go?" tanya, Luthfi


"Gue sih mau. Siapa tau habis gue nikah terus punya anak cewek juga kan bisa jodohin sama anak loh" jawab, Vigo


"Ish", Viona memukul pelan lengan, Vigo, "Jangan mulai ngomong sembarangan" ancamnya


"Ngga sembarangan sayang. Orang yang udah nikah kan pengen punya anak cepat-cepat" tukas, Vigo


"Terserah deh. Lamarannya aja belum. Udah main nentuin aja" cetus, Syifa


"Orangtua loh gimana?" tanya, Fahri kepada, Vigo


"Mereka mah gampang" sahut, Vigo


"Jangan sok ngegampangin loh" tukas, Risa


"Udah. Besok kalian lamaran" usul, Rasya


"Gue kan belum jawab" cetus, Viona


"Terus jawaban loh apa?" tanya, Vigo


"Beneran, Go?" tanya balik, Viona


"Beneran sayang. Gue kan sering bilang cuma nunggu loh jawab ia aja" sahut, Vigo


Viona mengangguk dengan tersenyum, "Mau"


"Akhirnya" teriak, Vigo


"Tapi gue mau nikahnya bulan ini. Sebelum tanggal 23" seru, Risa


"Kok mendadak?", Fahri mengerutkan keningnya


"Mendadak apaan? Itu masih seminggu sebelum tanggal 23" sahut, Risa


"Karna, Dika nikahnya ditanggal itu" cetus, Syifa yang menutup mulutnya dengan terkekeh, "Risa ngga mau nikah keduluan mantan" lanjutnya


Fahri mendesah, "Gue kira apaan"


"Gue kan pernah bilang mau nikah duluan sebelum mantan" seru, Risa


"Kenapa ngga sekalian hari itu aja" kesal, Fahri


"Ngga maulah. Kalau samaan kan ngga bisa datang ke kondangan bawa pasangan" tukas, Risa


"Oh. Jadi ceritanya loh mau nikah sama gue cuma buat pamer doang kalau loh udah punya pasangan? Cuma pengen lihat mantan loh cemburu?" cetus, Fahri


"Ngga lah. Ngarang. Yakali gue ngorbanin diri gue sendiri cuma buat mantan gue cemburu" gerutu, Risa


"Di luar luas tuh. Ayo" ajak, Viona dengan kesal


"Mau ngapain di luar?" tanya, Rasya


"Berantem lah. Ngapain lagi" sahut, Syifa


"Astaga"


Hari itu, Fahri benar-benar menghubungi orangtuanya. Sebenarnya pria itu hanya berniat bergurau. Namun ternyata respon dari keluarga, Risa sangat baik hingga keraguannya mulai hilang


Sama halnya dengan, Fahri. Vigo pun menghubungi orangtuanya untuk datang beserta orangtua, Viona. Meskipun serba dadakan, para orangtua di rumah itu menyiapkan berbagai jenis makanan untuk perlengkapan acara lamaran besok


Malam harinya. Rasya mengajak Syafa untuk ikut keluar mencari peralatan yang masih mereka butuhkan. Bian dan Fia pun ingin ikut. Hingga mereka berempat pergi bersama menggunakan mobil, Luthfi


"Abang udah pergi yah?" tanya, Mama Risa


"Udah, Ma. Kenapa?" sahut, Syifa


"Mama mau nitip sesuatu juga" cetus Mama Risa


"Mau nitip apa tante? Biar, Fahri yang keluar" tawar, Fahri


"Ngga apa-apa Nak?" Mama Risa merasa tidak enak


"Ngga apa-apa tante" jawab, Fahri


"Biar, Risa ikut sama Fahri. Mama mau nitip apa?" tanya, Risa


"Bilang aja pengen jalan berdua" ledek, Vigo


"Ngga apa-apa. Sebelum nikah" timpal, Luthfi


"Otak-otak" seru, Risa hingga membuat yang lainnya tertawa


Fahri dan Risa pun pergi menggunakan mobil, Fahri setelah Mama Risa menitipkan sesuatu pada mereka. Tadinya, wanita paruh baya itu ingin menitipkan sesuatu pada putranya. Namun ternyata ia lupa


"Miliki aku semampu mu. Semampu waktu yang kau punya. Aku kan biarkan diri jatuh dipeluk mu", Risa terus menyanyikan lagu itu selama di perjalanan, mengikuti alunan musik dari radio di mobil, Fahri


"Itu lagu apa sih? Kok gue baru dengar" tanya, Fahri yang masih fokus menyetir namun sesekali menoleh ke arah, Risa yang terus bernyanyi


"Judulnya 'Miliki aku'. Kalau ngga salah yang ciptain lagu itu Anang Hermansyah" jawab, Risa


"Suka?" tanya, Fahri


"Lumayan. Liriknya bagus. Tapi gue cuma hapal reff nya doang" sahut, Risa yang langsung tertawa


"Penyanyi apaan yang ngga tau lagunya dari awal", Fahri menggelengkan kepalanya


"Ah. Gue suka lagu ini" seru, Risa ketika lagu selanjutnya telah berputar


"Bikin gue kaget aja loh", Fahri mengerutkan keningnya karna terkejut gadis itu langsung berteriak

__ADS_1


Risa hanya terkekeh lalu bernyanyi, "*Ku pejamkan mata ini mencoba membuka


Mata hati dalam kalbu


Merenungkan semua kisah hidupku


Di setiap masa-masa yang t'lah berlalu pasti


Dan kini ku jalani lagi hari-hari


Dengan harapan yang menemaniku selalu


Dan ribuan malam yang ku lewati


Dalam sunyi dalam sepi


Takkan kubiarkan merenggut semua mimpi indah


Ku kan bertahan tegar dan ku yakin cinta s'lalu ada


Tersadari dunia ini hanyalah sementara


Tiada insan yang abadi (tiada yang abadi)


Ku coba untuk memahami s'gala yang terjadi


S'bagai hikmah Sang Ilahi pasti


Dan kini ku jalani lagi hari-hari


Dengan harapan yang menemaniku selalu


Dan ribuan malam yang ku lewati


Dalam sunyi dalam sepi


Takkan kubiarkan merenggut semua mimpi indah


Ku kan bertahan tegar dan ku yakin cinta s'lalu ada


Walaupun badai ribuan malam


Tak ku biarkan merenggut mimpiku


Walaupun badai ribuan malam


Tak ku biarkan merenggut mimpiku


Walaupun badai ribuan malam


Tak ku biarkan merenggut mimpiku


Walaupun badai ribuan malam


Dan ribuan malam yang ku lewati


Dalam sunyi dalam sepi


Takkan ku biarkan


Merenggut semua mimpi indah


Ku kan bertahan tegar


Dan ku yakin cinta s'lalu ada


Ku yakin cinta s'lalu ada*"


Ia benar-benar bernyanyi dengan penuh penghayatan. Meski, Fahri dari tadi sesekali menyela lirik lagu tersebut. Namun, Risa tetap tidak peduli hingga membuat, Fahri menghela napas dan duduk diam menyetir sambil mendengarkan


"Udah bu' nyanyinya?" tanya, Fahri dengan ledekan


"Belum bapak. Belum puas" jawab, Risa yang baru saja meneguk air dalam botol karna kelelahan bernyanyi


"Udah ah. Ntar kuping gue rusak" cetus, Fahri


"Apa? Loh pikir suara gue ngga bagus? Suara gue tuh bagus yah" seru, Risa dengan kesal


"Risa. Jangan teriak-teriak" tegur, Fahri


"Biarin. Ngeselin banget sih" gerutu, Risa yang melipat kedua tangannya di atas perut dengan kesal


"Ia-ia. Suara loh bagus. Udah sana nyanyi lagi. Ngga usah ngambek" bujuk, Fahri


"Ngga mau" tolak, Risa yang mencebikkan bibirnya


***


"Selamat pagi anak Bunda yang ganteng", Syifa mengangkat bayinya yang menangis di pagi hari


"Anak Ayah lapar yah? Lapar yah Nak?", Luthfi ikut mengajak si bayi berbicara


"Ayo Nak Syifa. Gibran butuh makan" cetus Ibu mertuanya


"Ia Bun" sahut, Syifa yang meninggalkan semua orang yang berada di ruang keluarga


"Luthfi. Ikuti istri mu Nak" perintah Ayahnya


"Ia, Yah", Luthfi pun beranjak mengikuti, Syifa


Perlahan ia membuka pintu kamar dan melihat, Syifa sedang memberikan ASI untuk putra kecilnya. Pelengkap kebahagiannya. Syifa menoleh pada, Luthfi yang berdiri di ambang pintu

__ADS_1


"Kok disini? Ngga nemenin yang lain?" tanya, Syifa


"Aku disuruh, Ayah kesini" jawab, Luthfi menghampirinya dan duduk di sampingnya


"Terima kasih" ucap, Luthfi tiba-tiba


Syifa mengernyit heran, "Terima kasih? Untuk apa?"


"Sudah melahirkan, Gibran" jawab, Luthfi


"Itu sudah kewajiban ku" sahut, Syifa yang tersenyum


"Meskipun aku ngga bisa janji, sebisa mungkin kedepannya aku ngga akan buat kamu nangis" ucap, Luthfi dengan sungguh-sungguh


"Sekarang aja kamu ngga pernah bikin aku kecewa" sahut, Syifa dengan senyum teduhnya, "Terima kasih sudah milih aku jadi istri. Aku yang beruntung punya suami yang ngga pemarah kayak kamu"


"Terima kasih juga sudah milih aku jadi suami dan melahirkan anak kita", Luthfi mencium kening istrinya dan tak lupa mencium kening sang buah hati


Tok tok tok


Ketukan pintu menghentikan keromantisan mereka. Luthfi bangkit dan membuka pintu kamar tersebut, hingga menampakkan wajah adik bungsunya disana


"Kenapa dek?" tanya, Luthfi


"Orangtua Kak Viona, Kak Vigo sama Kak Fahri udah datang" jawab, Fia


"Cepat banget. Tunggu Kakak di luar. Sebentar lagi, Syifa sama Kakak keluar" sahut, Luthfi


"Ia kak", Fia pun berlalu dari sana


"Kenapa?" tanya, Syifa


"Orangtua, Viona, Vigo sama Fahri udah datang" cetus, Luthfi


"Cepat banget. Ya udah, kamu duluan aja. Nanti aku nyusul" perintah, Syifa yang masih memberikan ASI kepada sang anak


"Ngga usah. Aku tunggu kamu aja" tolak, Luthfi


"Ya udah" sahut, Syifa


***


"Ayo silahkan masuk" Bunda Luthfi mempersilahkan masuk ketiga pasang suami istri yang baru datang


"Terima kasih"


"Aduh maaf. Serba dadakan" cetus, Mommy Syifa


"Kami juga ngga menyiapkan apapun" timpal Mama Risa


"Ngga apa-apa bu. Ini juga kami ngga bawa apa-apa. Fahri nelponnya mendadak" sahut, Mama Fahri


"Kapan acara lamarannya dimulai?" tanya, Syafa


"Sebentar sayang" sahut Mamanya


"Ayo, Nak Fahri sama Nak Vigo. Dampingi orangtua masing-masing Nak" seru Ayah, Luthfi


"Harus banget?" cetus, Bian


"Harus Nak" jawab Ayahnya


Fahri dan Vigo mendampigi orangtuanya masing-masing. Bersamaan dengan keluarnya, Luthfi dan Syifa dari kamar yang menggendong sang anak


"Risa sama Viona juga" tukas, Ayah Syifa


"Tadikan yang disuruh cuma, Fahri sama Vigo" protes, Risa


"Udah deh dek. Nurut bentar aja kenapa sih? Malu tuh sama calon mertua" tegur, Rasya


"Udah, ayo" ujar, Viona yang menarik tangan, Risa ketika gadis itu hendak membalas perkataan Abangnya


Prosesi lamaran pertama diajukan oleh orangtua, Fahri. Dengan seserahan seadanya, mereka datang melamar, Risa


"Sebenarnya. Kami sempat kaget waktu, Fahri nelpon kami bilang mau nikah. Karna, Fahri pernah bilang ngga mau nikah muda. Tapi sekarang malah mau nikah. Saya sempat berpikiran macam-macam, apalagi saya tau kalau, Fahri memang pacaran sama, Risa. Tapi hati saya menyangkal. Anak saya orang yang baik-baik. Risa pun saya lihat anaknya baik. Ada beberapa temannya juga yang sering sama mereka, termasuk, Vigo. Dan akhirnya pikiran buruk saya hilang" tutur Mama Fahri sebagai pembuka


"Jadi. Atas kedatangan kami kesini. Ingin meminang putri Ibu dan Bapak untuk kami jadikan menantu" cetus Papa Fahri


"Saya juga sebagai Ayah, awalnya masih kurang yakin. Terlebih, Risa putri kami satu-satunya. Dia juga masih kuliah. Tapi, Mama sama Abangnya membujuk saya. Meyakinkan saya kalau, Fahri laki-laki yang baik dan tepat untuk anak saya, Risa yang ceroboh" ujar Papa, Risa dengan penuh haru


"Jika bukan, Fahri yang akan melamar anak saya. Mungkin saya tidak akan menyerahkannya. Risa masih kuliah, dia sangat manja, ceroboh, dan emosinya pun belum stabil. Yang saya takutkan, nantinya anak saya berpisah dengan suaminya karna egonya masih tinggi. Tapi ternyata, Fahri yang datang. Saya dan keluarga juga sudah mengenal Nak Fahri dari acara pernikahan, Syifa sama Luthfi. Dan saya yakin, Nak Fahri bisa menjaga anak saya yang manja dan ceroboh" kata Mama Risa yang berlinang air mata


"Dan saya sebagai Abangnya, Risa. Hanya mau menitipkan adik saya ke, Fahri jika kelak kalian benar-benar menikah" tukas, Rasya


Risa sudah berderai air mata mendengar sepatah kata dari Papa, Mama dan Abangnya. Fahri teus menunduk menahan keras air matanya agar tidak terjatuh. Syifa pun bahkan ikut meneteskan air mata karna terharu hingga mengharuskan, Luthfi yang mengambil alih sang anak


"Kami terima lamaran Nak Fahri untuk putri kami, Risa" seru, Papa Risa sebagai sahnya acara lamaran tersebut


Semuanya mengucapkan syukur dengan penuh haru. Bahkan tak jarang air mata mereka ikut menetes. Kini giliran orangtua, Vigo yang akan meminang, Viona


"Terima kasih atas kesempatan ini. Anak kami, Vigo memang sudah sering menceritakan tentang, Viona. Bahkan beberapa kali sering datang ke rumah untuk berkunjung. Vigo anak yang baik dan penurut. Semoga Nak Viona menerima lamaran anak kami" ujar, Papa Vigo


"Vigo selalu bilang. Mau nikahin, Viona secepatnya. Tapi, dia juga ngga mau maksa, Viona. Dia bahkan selalu bilang ke saya, 'Mah. Harus selalu siap-siap yah. Vigo cuma nunggu, Vio bilang ia. Kalau saat itu tiba. Vigo langsung lamar, Vio'. Jadi saya ngga kaget pass semalam, Vigo nelpon saya mau lamar Nak, Viona. Karna saya sudah persiapkan diri" ujar Mama Vigo dengan tersenyum pada, Viona


"Saya tidak tau harus berbicara apa. Tapi yang saya yakin. Cuma Vigo yang bisa menjaga, Viona. Vigo sudah tau baik buruknya, Viona. Dia juga selalu bilang mau nikah cepat-cepat sama, Viona. Tapi karna, Viona nya memang belum mau waktu itu" ujar Mami Viona


"Saya hanya bisa bilang. Saya terima lamaran Nak Vigo untuk putri ku, Viona" cetus Papi Viona


Suasana penuh haru menyelimuti rumah itu. Kebahagiaan rasanya terasa lengkap dikala lamaran telah berakhir dengan semestinya.


"Yeay. Kak Risa akhirnya mau nikah juga" seru, Syafa

__ADS_1


__ADS_2