
Debaran jantung serta gemetar pada tubuh, Syifa perlahan mulai berganti dengan rasa nyaman yang diciptakan, Luthfi lewat pelukan serta belaiannya. Syifa tersenyum dan membalas pelukan tersebut.
"Terima kasih" ucap, Syifa yang menyandarkan kepalanya di dada, Luthfi yang membuatnya nyaman.
"Untuk?" tanya balik, Luthfi yang terus membelai kepala istrinya itu. "Untuk segalanya" sahut, Syifa
"Terima kasih juga" ucap, Luthfi dengan benar-benar tulus. "Untuk?" kini, Syifa yang bertanya ulang tanpa melihat suaminya itu. "Untuk segalanya" ucap, Luthfi.
"Curang", Syifa mencubit perut, Luthfi. "Curang apa?", Luthfi memegang tangan, Syifa yang mencubitnya namun belum melepaskan pelukannya.
"Itu kan kata-kata gue" cetus, Syifa. "Terserah. Sudah mau tidur?" pertanyaan, Luthfi membuat, Syifa diam dan sama sekali tidak menjawabnya
"Atau loh mau kita tidur sambil pelukan?" goda, Luthfi dan itu sukses membuat, Syifa melepas pelukannya dengan cepat, "Ngga"
Luthfi hanya tersenyum dibuatnya. "Ayo tidur" perintah, Luthfi. Syifa pun mengangguk dan mulai membaringkan tubuhnya dengan gemetar. Luthfi menaikkan selimut sampai leher istrinya dan mengusap pelan keningnya.
"Selamat tidur" ujar, Luthfi lalu ia membaringkan tubuhnya membelakangi, Syifa. "Selamat tidur juga" tukas, Syifa yang gugup setengah mati.
Syifa mengubah posisinya membelakangi, Luthfi. Hingga mereka saling membelakangi saat ini. Jantung, Syifa masih belum bisa menyesuaikan dirinya dengan keberadaan, Luthfi di sampingnya. Ia tidak pernah punya kekasih, namun ia bisa langsung menikah. Hal baru baginya berbagi ranjang dengan seorang pria. Ia tidak bisa tidur, ia terus saja mengubah posisi tidurnya karna merasa tidak nyaman. Matanya terpejam namun ia belum menemukan alam mimpinya
"Kenapa?", Luthfi menghadapkan tubuhnya ke arah, Syifa. "Hah?", Syifa membuka matanya dan terkejut mendapati wajah, Luthfi tepat di hadapannya.
"Ngga bisa tidur?" Tanyanya dan, Syifa mengangguk pelan, "Maaf. Gue bangunin loh yah?" ucapnya dengan pelan. "Ngga kok. Sini", Luthfi mejadikan tangannya bantalan untuk istrinya.
Syifa pun menurut, hingga kini tangan, Luthfi menjadi bantalan kepalanya. Luthfi sedikit ragu untuk memeluk, Syifa. Namun saat menyentuhnya, Syifa tidak bergerak atau bergetar, ia memberanikan dirinya untuk sekedar memeluk istrinya tersebut. Luthfi mengusap punggung serta kepala, Syifa agar ia bisa tertidur. Syifa yang merasa nyaman semakin meringsut lebih dalam ke dada suaminya.
Tanpa membutuhkan waktu lebih lama, ia pun tertidur dengan sendirinya. Luthfi memundurkan wajahnya untuk melihat wajah, Syifa dan memastikan bahwa ia benar-benar sudah tertidur. Luthfi yang sejenak ragu, perlahan mendekatkan bibirnya pada kening istrinya dan memberikan ciuman selamat tidur disana. Hingga kini keduanya benar-benar sudah terlelap bersama.
__ADS_1
***
~
Syifa yang masih terlelap mendengar suara bising dari luar kamarnya. Ia mengerjap dan menyesuaikan cahaya masuk ke dalam matanya. Ia lalu mendudukkan tubuhnya. Ia tidak lagi menemukan, Luthfi di sampingnya.
"Apa dia udah bangun yah?" ia beberapa kali menguap, "Tapi kok dia ngga ngebangunin gue sih" gerutunya. Ia beranjak turun dari tempat tidurnya dan meraih handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi sebelum ia keluar menemui yang lainnya
***
"Kok bangunnya cepat nak? Syifa mana?" tanya, Mommy yang menuangkan segelas air dan memberikannya kepada menantunya yang duduk di meja makan ditemani teman-temannya.
"Syifa masih tidur. Luthfi ngga tega mau bangunin, Syifa. Mungkin, Syifa masih capek" ucapnya lalu meneguk air minum yang sudah diberikan mertuanya
"Main berapa ronde emang loh semalam?" ledek, Vigo yang mendapat dekikan tajam dari kekasihnya saat Mommy, Syifa sudah pergi. "Ayo loh, Go. Viona marah tuh" ledek, Risa. Luthfi dan Fahri hanya tertawa
"Loh bangun duluan, tapi malah ngga ngebangunin gue" cetus, Syifa yang langsung duduk di samping suaminya dengan cemberut
"Udah bangun?", Luthfi menoleh kearah, Syifa. "Tadinya mau gue bangunin. Tapi tidur loh nyenyak banget. Jadi gue ngga tega" ujar, Luthfi menatap dalam istrinya.
"Ya ampun. Dasar yah pengantin baru. Masih pagi udah mesra-mesraan buat mata gue ternodai aja" tegur, Viona yang memperhatikan kedua pasangan baru itu.
"Ngga usah sirik. Loh kan ada, Vigo. Kalau yang sirik, Risa. Baru tuh boleh", Syifa terkekeh dengan ucapannya sendiri, yang diikuti tawa yang lainnya kecuali, Risa yang manyung.
"Hay Kakak pengantin baru", Syafa adik, Syifa menyapanya dengan penuh semangat dan senyuman yang lebar secerah mentari di pagi hari
"Apaan sih?" ketus, Syifa. "Galak banget kakak gue", Syafa terkekeh, "Kak, Risa. Selaman aku ketemu sama Kak Dika loh. Dia lagi jalan sama Kak Riana teman kakak dulu" ujar, Syafa yang memberitahukan informasi kepada sahabat kakaknya itu
__ADS_1
"Loh ketemu dia dimana?" tanya, Risa yang sangat antusias. "Di belakang gedung olahraga dekat sekolah" sahut, Syafa dengan cepat
"Syafa", Syifa memberikan gelengan kepada adiknya untuk tidak meneruskan ucapannya. "Udah, Sa. Ngapain juga sih masih kepoin dia? Ngga guna tau ngga" ujarnya
"Gue kan cuma nanya, Fa. Lagian juga gue udah move on kok" cetus, Risa namun tidak melihat mata, Syifa.
Syifa tau bahwa, Risa sedang berbohong, "Yah emang loh harusnya move on. Lagian juga udah ada, Fahri kok yang lebih ganteng dari mantan gak guna loh itu" ledeknya dengan melirik, Risa.
"Apaan sih? Kenapa jadi bawa-bawa nama, Fahri coba", Risa bukannya kesal kepada, Syifa malah menatap kesal kepada, Fahri yang tidak tau apa-apa.
"Loh kalau mau kesal, kesalnya ke, Syifa. Bukan ke gue. Kan bukan gue yang ngomong", Fahri membela dirinya yang ditatap kesal oleh gadis tersebut
"Terima nasib aja loh bro", Vigo tertawa begitu keras yang diikuti oleh yang lainnya dengan begitu senang. "Senang yah kalian" rajuk, Risa yang semakin kesal.
"Kak Fahri ini pacarnya Kak Risa yah sekarang?" tanya, Syafa yang masih belum mengerti sama sekali namun sangat penasaran, mengingat ia sudah menganggap, Risa adalah Kakak kedua baginya
"Ia" belum sempat, Risa dan Fahri menjawab, keempat dari mereka mendahuluinya untuk berbicara. "Kenapa jadi kalian yang lebih tau" seru, Risa yang menajamkan kedua alisnya. "Peramal yah loh pada" timpal, Fahri yang masih terlihat biasa saja
"Syukur deh kalau Kak Risa udah punya penggantinya Kak Dika. Biar ngga ngebucin terus" ujar, Syafa yang tertawa dan berlari dari sana sebelum ia melihat, Risa mengamuk dan mengejar dirinya
Semuanya bahkan tertawa mendengar penuturan adik, Syifa. Risa semakin kesal. Ia tidak lagi berbicara meski yang lain meminta maaf dan mengatakan hanya bercanda. Namun gadis itu tetap diam saja dengan guratan kesal di wajahnya.
"Jangan kesal-kesal mulu loh. Kita kan mau ke rumah loh jalan-jalan habis ini" bujuk, Syifa. Dan itu benar-benar ampuh membuat, Risa luluh dan langsung tersenyum senang.
"Benar yah. Awas kalau bohong" ucap, Risa dengan penuh semangat seakan rasa kesalnya hilang tiba-tiba. Luthfi hanya menggeleng mengingat seperti itulah mereka dari dulu.
"Fahri diajak ngga nih?"
__ADS_1