
Syifa yang sudah merasakan nyaman, melingkarkan kedua tangannya di pinggang, Luthfi tanpa memperdulikan ketiga gadis yang melihat dirinya dengan risih. Ingin sekali, Syifa memamerkan kemesraannya dengan, Luthfi kepada, Dinar yang sudah membuatnya kesal tadi
"Setelah ini kalau loh masih ngarepin suami gue? Jangan bermimpi mendapatkannya" batin, Syifa
"Lanjut main atau ngga nih?" gerutu, Dini
"Gue yang putar botolnya", Dinar meraih botol kosong tersebut dan mulai memutarnya
Dinar memutar botol tersebut hingga terhenti tepat di hadapan, Viona
"Viona" terika yang lainnya kecuali 3 gadis itu
"Truth-nya sesayang apa, Vio sama gue?" tanya, Vigo dengan senyum manisnya
"Curang!", Viona memukul lengan, Vigo dengan begitu malu namun tampak cemberut
"Jadi mau dare nih?" ledek, Vigo
"Bisa lebih ganas loh, Vi kalau pilih dare. Loh tau sendiri, Vigo gimana" cetus, Fahri
"Ngga apa-apa dong. Seru tau" sahut, Risa
"Loh tinggal. milih aja susah banget sih" ketus, Lury
"Jangan mulai" tegur, Luthfi dan Lury pun langsung bungkam
"Jadi gimana, Vio?" tanya, Vigo yang menggoda, Viona
"Ngga ada pertanyaan yang lain?" ketus, Viona
"Ada" jawab, Vigo
"Apa?" sahut, Viona dengan semangat
"Mau nikah sama gue ngga?" tanya, Vigo
"Vigo" seru, Viona yang malah kesal
"Cocok, Go", Luthfi mengacungkan jempolnya
"Jadi pilih mana, Vi? kalau gue sih pasti jawab yang kedua dong" seru, Risa dengan semangat sekaligus menggoda sahabatnya itu
Fahri hanya tersenyum dan mengusap rambut, Risa yang selalu bertingkah lucu. Dan tentu saja perlakuannya itu sangat tidak menyenangkan di mata, Dini yang masih menyukainya
"Jawab sayang" desak, Vigo
"Mau jawab yang mana?" ketus, Viona
"Terserah, Vio mau jawab yang mana", Vigo mengacak rambut, Viona
"Kenapa lama banget sih?" tanya, Dinar yang sudah tidak sabar
Viona menatap, Dinar dengan tidak suka. "Ia. Gue mau nikah sama loh" ucapnya pada, Vigo
"Yeay!!!!" teriak, Risa yang begitu senangnya mendengar jawaban, Viona
Vigo menarik lengan, Viona dan memeluk erat gadisnya itu lalu menghujani ciuman di kepala gadis yang kini sedang berada di dekapannya
Viona yang begitu malu yang membalas pelukan, Vigo. Padahal ini hanyalah sebuah permainan. Namun jawaban, Viona membuat hati, Vigo semakin tenang dan semakin berharap penuh
"Udah dong. Apaan sih. Ini kan cuma permainan" celoteh, Lury yang tidak senang melihatnya
"Ayo main lagi" ajak, Dini
Namun ketika, Dini hendak memutar botol tersebut. Dinar menahan tangan, Dini
"Kenapa kak?" tanya, Dini yang mengerutkan dahinya
"Dia tidur", Dinar menunjuk, Syifa yang kini sedang tertidur di dalam pelukan, Luthfi
"Eh ia. Syifa tidur" cetus, Risa. "Ayo, Fi. Bawa, Syifa ke kamar lain. Dimana lagi kamar kosong, Ri?" tanyanya pada, Fahri
"Ayo gue antar. Loh bisa ngangkat, Syifa sendiri kan?" tanya, Fahri yang kini sudah berdiri
"Bisalah. Luthfi tidurin, Syifa aja bisa" tukas, Vigo dan langsung membuat, Luthfi dan Fahri tertawa
"Vigo!" bentak, Viona dan Risa
"Maksudnya nidurin di tempat tidur. Masa mau nidurin, Syifa di kolom jembatan? Kan ngga mungkin", Vigo mencoba mengelak
"Tunggu! Ini beneran? Mereka berdua harus tidur bareng?" tanya, Dinar yang masih tidak percaya
"Kalian benar bakal ngebiarin mereka berdua tidur bersama? Kalian ngga akan mikir kedepannya bakal seperti apa?" cetus, Dini
"Gue rasa. Kalian benar-benar keterlaluan kali ini" timpal, Lury
"Udah deh. Kalau kalian ngga tau apa-apa tuh diam aja kenapa sih? Ribet banget" tegur, Viona yang sudah mulai terlihat kesal
__ADS_1
"Tau nih. Ribet banget. Makanya, cari pasangan dong biar ngga ngurusin hubungan orang lain mulu" sahut, Risa dan sontak membuat, Fahri tertawa lalu menarik pipi, Risa yang semakin lucu saja menurutnya
"Ayo, Fi" ajak, Fahri tanpa mau menghiraukan ocehan ketiga gadis itu yang tidak tau apapun tentang hubungan, Luthfi dan Syifa
"Pelan-pelan, Fi. Kasian, Syifa" cetus, Vigo
Luthfi perlahan memindahkan tangan, Syifa yang melingkar di perutnya, dan menaruhnya di lehernya. Perlahan ia mulai mengangkat tubuh, Syifa
Ia mengikuti, Fahri keluar kamar dan meninggalkan teman-temannya yang seketika itu sedang menggodanya dirinya
"Gue ngga rela kalau sampai, Luthfi benar-benar tidur berdua sama cewek itu. Gue yakin banget. Cewek pasti udah ngepelet, Luthfi. Gue yang lebih kenal, Luthfi. Gue udah suka semenjak dia mulai masuk sekolah di SMU. Gue yang ngikutin dia dari awal. Tapi kenapa cewek itu yang bisa dapetin hatinya, Luthfi? Ini ngga adil" gerutu batin, Dinar yang menatap sendu kepergian, Luthfi
"Kak?" panggil, Dini yang tau begitu hancur perasaan kakak sepupunya itu melihat orang yang disukainya bersama dengan gadis lain
"Kakak ngga apa-apa kok dek" ucap, Dinar yang berusaha memaksakan senyumnya
"Sabar yah kak. Karna akan emang selalu ada pengganggu dalam hubungan", Lury melirik, Viona dan berusaha menyindir gadis itu
"Ia kak. Bahkan pengganggu dalam hubungan kita itu bisa berkedok sahabat", Viona balas menyindir, Lury
"Udah sayang", Vigo menarik selimut dan membalutkan ketubuhnya bersama, Viona karna malam sudah semakin larut dan hujan yang tak kunjung berhenti juga
"Uuuhhh. So sweet deh" ledek, Risa. Bahkan ia melirik, Lury untuk membuat gadis itu cemburu
Fahri masuk ke dalam kamar setelah mengantarkan, Luthfi dan Syifa ke kamar tamu yang berada di rumahnya itu.
"Udah?" tanya, Risa ketika, Fahri duduk di sampingnya
"Udah" jawab, Fahri. "Oh ia. Karna di rumah gue kamarnya cuma dua. Ngga apa-apa kan kalau kalian semua tidur disini?" tanyanya
"Ngga apa-apa gue mah. Yang penting gue selalu dekat loh" gombal, Risa lalu tertawa sendiri
"Belajar gombal dari mana?", Fahri mengapit kedua pipi, Risa dengan satu tangannya
"Dari hati" sahut, Risa lalu tertawa
"Ayo tidur. Mesra-mesraannya udahin dulu" tegur, Dini yang tidak suka melihatnya
"Tau nih. Ngga lihat orang banget" cetus, Lury
"Jadi kita tidur dimana?" tanya, Dinar
"Kalian tidur di tempat tidur. Biar gue sama, Fahri tidur di bawah" sahut, Vigo
"Dingin, Vigo" tukas, Viona
"Ngga apa-apa. Kalian tidur disini. Gue sama, Vigo tidur di bawah sini" ujar, Fahri
"Ngga usah. Loh pake aja. Gue ngga apa-apa", Fahri menahan tangan, Risa
"Jangan gitu dong. Gue tau, loh juga pasti butuh" ucap, Risa yang menjadi tidak enak
"Ngga apa-apa beneran. Loh pake aja", Fahri semakin merapatkan selimut yang dipakai, Risa
"Udah. Berdua aja deh loh. Daripada bingung" cetus, Viona. "Gue sama, Vigo mau berdua aja" imbuhnya lalu melirik, Lury
"Maksud loh?" tanya, Lury dengan cepat
"Vigo mau gue tidur bareng dia disini. Kenapa? Masalah?" tanya balik, Viona
"Vigo?" panggil, Lury
"Hujan bakal buat, Vio uring-uringan dan ngga bisa tidur. Harus ada yang meluk dia supaya dia bisa tidur" ujar, Vigo dengan santai
"Tapi harus banget loh?" tanya, Dini
"Kenapa ngga, Risa aja?" cetus, Dinar
"Risa tidurnya sama gue. Risa suka kedinginan kalau hujan" seru, Fahri tiba-tiba dan membuat mata, Risa membulat sempurna mendengarnya
"Fahri!" bentak, Dini
Fahri menatap, Dini. "Apa?" tanyanya
"Sejak kapan loh jadi bejat gini?" seru, Dini dengan begitu marah
"Dek?" tegur, Dinar yang memegang tangan, Dini
"Karna dia?", Dini menunjuk, Risa dengan marah. "Karna cewek kayak dia yang bisa buat loh jadi bejat begini? Fahri ingat! Loh tuh cowok baik-baik. Dan loh mau tidur sama cewek kayak dia? Sadar, Fahri", Dini benar-benar mengeluarkan amarahnya
"Apa maksud loh karna cewek kayak gue? Apa loh pikir gue cewek yang gampang ditidurin? Loh nganggap gue cewek murahan? Apa maksud loh?" kesal, Risa yang menunjuk-nunjuk, Dini
"Karna itu emang fakta. Loh tuh cewek murahan, gampangan, dan ngga ada harga diri" teriak, Dini
Risa merasakan sesak pada dadanya dengan ucapan yang dilontarkan oleh, Dini. Tangannya mengepal. Rahangnya mengeras. Dan ia hendak melayangkan tamparan di pipi, Dini jika saja, Fahri tidak cepat menahan tangannya
"Pulang sekarang" teriak, Fahri pada, Dini
__ADS_1
"Fahri" ucap, Dini lirih
"Gue bilang pulang sekarang" bentak, Fahri
Dini menjadi takut dengan sikap, Fahri yang membentak dan berteriak padanya. Wajahnya merah padam karna marah. Bahkan, Viona dan Vigo terkejut mendengar teriakan dan bentakan, Fahri
"Fahri. Ini udah malam. Ngga mungkin kami pulang malam gini. Apalagi hujan. Gue mohon sama loh, Ri" pinta, Lury yang memohon pada, Fahri
"Ia, Fahri. Gue juga mohon. Besok pasti kami akan pulang" cetus, Dinar. Namun tidak dengan, Dini yang masih terdiam dengan tubuh yang begitu kaku
"Gue harap setelah ini loh sadar dengan perkataan loh, Dini. Risa pacar, Fahri. Dan loh ngata-ngatain, Risa di depan, Fahri. Siapa yang ngga marah kalau pacarnya loh hina" jelas, Viona yang begitu kecewa pada, Dini
"Loh harus tau. Fahri sayang banget sama, Risa. Dan ngga ada yang rela orang yang kita sayang dihina depan mata kita" cetus, Vigo
Dini semakin membeku dengan perkataan, Viona dan Vigo. Otaknya sedang tidak berjalan dengan lancar. Sekujur tubuhnya benar-benar kaku
"Risa?" panggil, Fahri ketika melihat gadis itu tidak bergerak sedikit pun. Hanya getaran yang ia rasakan di tubuh gadis yang sedang ia genggam tangannya
"Fahri. Gue ma.... " ucapan, Dini terpotong
"Diam" bentak, Fahri menatap sinis pada, Dini
"Fahri" teriak, Dini yang kini sudah hilang kesabaran. "Loh tau gue masih sayang sama loh. Dan gue juga tau loh masih sayang sama gue. Gue tau itu, Ri. Gue tau" teriaknya
Baru saja, Fahri hendak membalas teriakan, Dini. Suara bantingan pintu yang begitu keras terdengar bersamaan dengan tubuh, Luthfi yang berada disana. Bahkan wajah dingin, Luthfi benar-benar terlihat dan membuat semuanya terkejut
"Apa yang kalian ributkan? Kalian ngga tau, Syifa lagi tidur? Dia terbangun karna teriakan kalian" seru, Luthfi dengan suara lantangnya yang berat
Semua yang berada disana tidak ada yang menjawab. Teman-temannya terdiam karna tau jika, Luthfi kini sangat marah dan itu sangat wajar karna mengganggu tidurnya juga, Syifa. Namun berbeda dengan ketiga gadis itu yang saling menggigit bibir bawah karna takut
"Luthfi", Syifa datang memegang lengan, Luthfi. Kemudian ia beralih pada teman-temannya yang diam dan tidak ada yang membalas kemarahan, Luthfi. "Ayo kita kembali ke kamar. Aku ngga apa-apa" bujuknya pada, Luthfi
"Berhenti saling berteriak dan tidur. Apa yang kalian ributkan di tengan malam begini? Kalian tidak tau? jika ulah kalian bisa saja mengganggu istirahat para tetangga" seruan, Luthfi lagi-lagi membuat teman-temannya terdiam
"Udah, ayo", Syifa menarik paksa, Luthfi untuk pergi dari sana sebelum kemarahannya semakin meledak dan menjadi-jadi.
Luthfi kembali membanting pintu hingga tertutup rapat dan terdengar sangat keras. Bahkan membuat semuanya terkejut
"Ini semua karna kalian" tunjuk, Viona pada ketiga gadis itu dan beranjak dari sana lalu keluar dari kamar itu menuju sofa di ruang tv
"Vio", Vigo mengikuti, Viona keluar dari kamar namun tidak lupa mengambil selimut mereka
"Puas loh?" seru, Fahri pada, Dini dan menarik tangan, Risa untuk keluar dari kamarnya yang juga sedang menuju sofa di ruang tamu
"Kenapa jadi gini sih?" cetus, Lury
"Gue ngga tau. Gue pusing. Dek?" ujar, Dinar yang memegang lengan, Dini yang masih diam
***
"Kamu kenapa marah-marah sama mereka?" seru, Syifa ketika ia dan Luthfi sudah berada dikamar
"Aku kesal. Kamu jadi bangun gara-gara mereka" ujar, Luthfi yang kini duduk di tepi tempat tidur dan berusaha mengatur napasnya
"Kasian tau teman-teman kamu marahin" tegur, Syifa yang juga ikut duduk di tepi tempat tidur
Luthfi menghela napas kasar. "Mereka pasti ngerti"
"Ia. Tapi besok kamu harus minta maaf" perintah, Syifa. Ia yakin jika teman-temannya pasti kecewa
Luthfi tersenyum dan mengangguk, "Besok aku minta maaf sama mereka. Ayo tidur" ajaknya
"Janji? Besok minta maaf sama mereka?" tanya, Syifa
"Janji. Ayo tidur. Bantu aku meredam emosi" ujar, Luthfi lalu tersenyum
Syifa memutar malas bola matanya mendengar ucapan, Luthfi yang terakhir. Namun ia tidak bisa menolak jika situasinya seperti ini
"Sabar, Syifa. Sabar"
*
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Ini udah panjang banget yah teman-teman. Ini bahkan eps terpanjang deh, atau salah satu yang terpanjang gitu. Hampir 2000 kata ini. Kurang beberapa kata aja. Kalau masih ada yang bilang ini pendek? Wah, kebangetan 🤠Aku nulis sambil mikir ini tuh butuh waktu 2 jam kalau panjangnya segini 😅.
Jangan lupa untuk like dan votenya yah 😊 Terima kasih yang sudah mendukung 🤗