
"Akhirnya selesai juga acaranya. Pegal banget badan gue" seru, Risa yang melepaskan pernik-pernik di kepalanya
"Betis gue rasanya beku berdiri terus" cetus. Viona
"Baru gitu aja udah ngeluh" tukas, Syifa
"Kayak loh ngga pernah aja ngerasain" ketus, Risa
"Udah. Jangan berantem terus" tegur, Luthfi
***
"*Kini ku tahu bila cinta tak bertumpu pada status
Semua orang tahu bila kita sepasang kekasih
Namun status tak menjamin cinta
Kini ku tahu bila cinta tak bertumpu pada lidah
Lidah bisa berkata namun hati tak sejalan
Kata-kata tak menjamin cinta
Untuk apa untuk apa cinta tanpa kejujuran
Untuk apa cinta tanpa perbuatan
Tak ada artinya
Untuk apa untuk apa cinta tanpa pembuktian
Untuk apa status kita pertahankan
Bila sudah tak lagi cinta
Kini ku tahu bila cinta tak bertumpu pada lidah
Lidah bisa berkata namun hati tak sejalan
Kata-kata tak menjamin cinta
Untuk apa untuk apa cinta tanpa kejujuran
Untuk apa cinta tanpa perbuatan
Tak ada artinya
Untuk apa untuk apa cinta tanpa pembuktian
Untuk apa status kita pertahankan
Bila sudah tak lagi cinta
Untuk apa untuk apa cinta tanpa pembuktian
Untuk apa kita pertahankan
Bila sudah tak lagi cinta
Untuk apa*"
Suara seorang perempuan bernyanyi di belakang rumah membuat langkah, Rasya terhenti saat ia ingin ke dapur. Ia melihat, Syilla sedang memangku seorang anak kecil yang kira-kira usianya empat tahun
"Nyanyi lagi" pinta anak kecil tersebut dengan lucu
"Sayang. Tante Syilla kan udah nyanyi dua kali" sahut, Syilla
"Sekali lagi" pinta anak kecil itu, "Dayi tadi tante Sila nyanyi lagu itu teyus"
Syilla tersenyum, "Ia sayang. Soalnya Tante Syilla lagi suka lagu itu"
"Hai", Rasya menghampiri keduanya setelah mendengarkan keduanya berbicar
"Hai" balas, Syilla yang mendongak
"Hai anak kecil" sapa, Rasya menunduk panda anak kecil tersebut
"Ayo sayang. Salim sama Om Rasya" sahut, Syilla
Anak kecil tersebut mencium tangan, Rasya
"Ini, Najwa. Anak kakak gue" cetus, Syilla
"Cantik banget kayak tantenya" puji, Rasya
"Om Yasa siapa?" tanya, Najwa
"Sayang. Namanya Om Rasya. Bukan Om Yasa" tegur, Syilla
"Yasa?", Najwa tetap kesulitan menyebut nama, Rasya
"Ngga apa-apa. Namanya juga anak-anak" sahut, Rasya yang tersenyum
"Om Yasa bisa nyanyi?" tanya, Najwa
"Najwa mau Om Rasya nyanyi?" tanya balik, Rasya
Najwa mengangguk dengan pasti. Syilla tersenyum gemas melihat tingkah ponakannya
"Suara Om Rasya ngga bagus" cetus, Rasya
"Nyanyi" rengek, Najwa
"Sayang. Ngga boleh gitu. Ngga boleh maksa orang" tegur, Syilla
"Dayi tadi Tante Sila nyanyi lagu itu teyus. Najwa bosan" gerutu, Najwa dengan lucu
"Ya udah. Tante Syilla ganti lagunya yah sayang" sahut, Syilla
"*Jangan tanyakan perasaanku
Jika kau pun tak bisa beralih
Dari masa lalu yang menghantuimu
Karena sungguh ini tidak adil
__ADS_1
Bukan maksudku menyakitimu
Namun tak mudah 'tuk melupakan
Cerita panjang yang pernah aku lalui
Tolong yakinkan saja raguku
Pergi saja, engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Hidup memang sebuah pilihan
Tapi hati bukan 'tuk dipilih
Bila hanya setengah dirimu hadir
Dan setengah lagi untuk dia
Pergi saja, engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Bukan ini yang kumau
Lalu untuk apa kau datang?
Rindu tak bisa diatur
Kita tak pernah mengerti
Kau dan aku menyakitkan
Pergi saja, engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Di waktu yang salah*"
"Suara hati ya?" ledek, Rasya
"Ha?" kaget, Syilla, "Ehem. Ngga kok" bantahnya dengan tersenyum pekik
***
"Kakak. Kak Reza yang tadi itu yang pernah suka sama kakak ya?" seru, Syafa di dalam kamar bersama para anak muda
"Bukan pernah. Sampai sekarang malah" sahut, Risa
"Kebiasaan loh ya. Yang ditanya gue. Bukan eluh" kesal, Syifa
"Loh atau gue yang jawab sama aja" cetus, Risa
"Kenapa sama, Reza dek? Loh naksir?" ledek, Viona
"Siapa yang ngga naksir coba kak? Ih, ganteng banget" jawab, Syafa tanpa malu
"Loh cewek. Jaga harga diri kenapa sih?" tegur, Syifa
"Nurun dari sifat, Risa tuh" tukas, Fahri
"Sembarangan. Loh pikir gue cewek kegatelan?" seru, Risa dengan kesal
"Dek. Jangan gitu. Fahri udah jadi suami loh bukan pacar lagi" tegur, Rasya
"Harus nurut suami sekarang, Sa" ledek, Vigo
"Kakak Risa nanti ngga boleh galak-galak lagi sama Kakak Fahri" cetus, Fia
"Ia. Masa baru nikah udah berantem" timpal, Bian
"Tapi biasanya yang kek gitu bikin langgeng dan ngga ngebosanin dalam suatu hubungan" seru, Syilla
Semua pasang mata langsung menoleh pada, Syilla setelah mengeluarkan kata-kata bijaknya
"Kakak curhat ya?" ledek, Vigo pada kakaknya
"Curhat apaan? Orang kakak cuma ngomong" bantah, Syilla
"Udahlah Kak. Kak Rangga bukan orang yang tepat buat kakak" cetus, Vigo
"Kenapa jadi bawa-bawa nama, Rangga" kesal, Syilla
"Kak Syilla. Kalau Kak Rangga ngga tepat buat kakak. Tuh ada Abang. Tepat banget deh" ledek, Viona yang berusaha mencairkan suasana
"Kok jadi Abang" seru, Rasya
__ADS_1
"Kesempatan Bang" cetus, Luthti
"Cieee. Abang ketemu jodoh" ledek, Syafa
"Eh, Syafa", Rasya menjadi salah tingkah
"Kak Syilla. Abang Risa ini tuh ngga cuma ganteng. Tapi juga baik, dewasa, humoris. Pokoknya baik banget deh kak. Ini, Risa sekalian promosi" heboh, Risa
"Aaaa Abang. Akhirnya ngga akan jomblo lagi", Syifa menggoyangkan lengan, Rasya
"Dek. Jangan malu-maluin Abang" tukas, Rasya
"Kak Syilla. Abang gue ini udah lama ngejomblo. Kasian" ledek, Syifa
"Syifa" tegur, Rasya dengan malu hingga menjadi bahan tertawaan yang lain
"Eh. Foto-foto dulu yuk. Buat jadi kenangan" seru, Fahri
"Ayo"
"Vio. Kamera yang kemarin mana?" tanya. Vigo
"Ada kok", Viona mengambil kameranya lalu menaruhnya di meja. "Ayo semuanya siap-siap"
Mereka mengambil pose dengan berbaris di atas tempat tidur. Syifa dan Luthfi berada di depan dan posisi tengah, diapit oleh, Syafa dan Fia. Bian di sebelah Fia. Risa dan Fahri berada di tengah atas, Syifa dan Luthfi. Rasya dan Syilla berada di ujung atas Bian dan Fia. Vigo pun berada di ujung samping, Fahri dan menyisakan ruang untuk, Viona di sebelahnya
"Siap semuanya yah" teriak, Viona yang langsung berlari ke samping, Vigo
Cekrek
"Sekalian banyakin aja, Vi. Biar loh ngga capek kesana-kemari terus" usul, Syifa
"Oh. Ok", Viona mengatur timer agar bisa mengambil gambar banyak sekaligus, "Mulai" serunya dan langsung kembali bergabung
Berbagai macam pose telah mereka keluarkan secara bersamaan. Sudah tak terhitung berapa kali kamera itu membidik.
***
"Kamu tidur duluan yah. Gibran biar aku yang nidurin" cetus, Luthfi yang sedang menggedong, Gibran
"Yakin kamu bisa?" tanya, Syifa yang duduk di tepi tempat tidur
"Yakin sayang. Kamu tidur sekarang. Ayo" perintah, Luthfi
"Beneran ya. Awas kalau ntar malam bangunin aku cuma gara-gara. Gibran nangis dan rewel" ancam, Syifa
"Ngga akan. Sana tidur" tukas, Luthfi
"Ya udah. Aku tidur duluan. Kamu tidur di samping aku ya nanti" ujar, Syifa
"Ia. Emangnya aku mau tidur dimana lagi kalau ngga di samping kamu" cetus, Luthfi
Syifa tersenyum, "Ya udah. Aku tidur duluan" ia membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk
***
"Ngga tau lagi gue harus ngomong apa selain bilang makasih" ucap, Viona dengan tulus yang kini tengah duduk di tepi tempat tidur sambil berpelukan dengan, Vigo
"Sayang. Harusnya gue yang berterima kasih. Loh mau nerima gue aja udah senang banget. Hidup gue ngga akan berarti tanpa ada loh", Vigo mencium puncak kepala, Viona dengan penuh cinta
"Sayang banget" tukas, Viona yang semakin mengeratkan pelukannya
"Gue lebih sayang" tukas, Vigo. "Sekarang kita tidur yah" ajaknya pada, Viona yang langsung mendapat anggukan dari istrinya
***
"Mandi sana", Fahri melemparkan handuknya kepada, Risa yang baru saja dirinya pakai mandi
"Fahri jorok" seru, Risa merampas handuk yang masih setengah basah tersebut
"Kebiasaan teriak-teriak" tegur, Fahri
"Loh. Ngeselin banget", Risa menggerutu masuk ke dalam kamar mandi hingga membuat, Fahri terkekeh
Setelah beberapa menit. Risa keluar dari kamar dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Seperti tidak sadar jika ada, Fahri disana. Setelah ia tersadar ada, Fahri. Hampir saja, Risa berteriak jika, Fahri tidak cepat membekap mulutnya
"Hobi banget teriak-teriak. Kalau sampai keluarga dengar dan kesini gimana?" tegur, Fahri yang melepaskan tangannya
"Gue kan kaget. Ya udah. Ngadep sana dulu. Gue mau pake baju" perintah, Risa
"Ia bawel", Fahri membelakangi, Risa
"Jangan ngintip yah. Awas" ancam, Risa
"Terserah loh deh" pasrah, Fahri
"Udah" cetus. Risa
"Ayo tidur" ajak, Fahri yang sudah duluan merangkak naik ke tempat tidur
"Tidur berdua?" tanya, Risa dengan polos
"Terus loh mau ber berapa? Ber-enam? Ngga muat" ketus, Fahri
"Gue kan cuma nanya. Ngapain marah-marah coba" sahut, Risa yang merangkak naik ke tempat tidur dengan kesal
"Loh kenapa jauh banget. Sini, jangan jauh-jauh" tegur, Fahri
"Ngga mau. Nanti loh ngapa-ngapain gue lagi" tolak, Risa
"Terus kalau gue ngga ngapa-ngapain loh, gimana mau punya anak. Jangan sebego itu juga deh, Sa" tukas, Fahri
"Nanti-nanti ajalah" pinta, Risa
"Ya ngga apa-apa" sahut, Fahri
"Beneran?" pancaran sinar mata, Risa terlihat jelas
"Ia ngga apa-apa. Asal loh siap kalau loh bakal ketinggalan jauh dari usia anak, Viona nanti" ledek, Fahri
"Apa? Ngga! Gue ngga mau" seru, Risa yang selalu tidak ingin kalah
Fahri menahan senyumnya. Kenapa istrinya ini begitu polos? Hanya dipancing kecil saja, maka pertahanannya sudah goyah. Kedua pengantin baru itu menikmati malam pertama mereka yang begitu panjang. Sementara para keluarga besar masih sibuk berbincang di ruang keluarga. Suasana yang begitu membahagiakan sangat terlihat. Terutama kepada kedua pasangan yang kini tengah menikmati hasil cinta mereka di kamar pengantin
Tamat
Terima kasih buat teman-teman yang selama ini sudah senantiasa ngikutin novel ku ini. Ngga ada yang bisa aku ucapin selain rasa terima kasih ku kepada kalian semua. Oh ia, meskipun novel ini udah tamat, tapi nanti akan ada extra partnya kok. Pokoknya makasih banget. Tunggu kisah2 lainnya yah. Aku mau fokus dulu untuk nulis novel aku yang disebelah, "Autumn In March". Terima kasih semuanya. I love U ❤ Aku tunggu dukungan kalian di novelku yang lain 🤭❤
__ADS_1