Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Gue udah kotor


__ADS_3

"Kenapa dia selalu nelpon loh?" tanya, Luthfi dengan dingin


Glek


Syifa mulai berkeringat dingin meski tubuhnya sendiri sudah dalam keadaan yang dingin. Namun ketika mendengar pertanyaan, Luthfi, lidahnya menjadi keluh dan tidak bisa menjawab


"Kenapa diam?" tanya balik, Luthfi dengan suara yang masih sama dinginnya


"Ngga tau" ucap, Syifa yang gugup dengan menggigit bibir bawahnya karna takut


"Loh pernah punya hubungan sama dia?", Luthfi memicingkan matanya penuh selidik


Sontak mata, Syifa membesar dan dengan cepat menggeleng dengan gugup


"Tapi kenapa loh sampai gugup gini?" ujar, Luthfi yang semakin mendekatkan wajahnya


Syifa menelan ludahnya dengan paksa, "Luthfi? Ini, Reza nelpon?", Syifa mencari alasan


"Kenapa? Loh mau jawab?", Luthfi menajamkan matanya dengan tatapan dingin seperti ketika ia menatap orang lain. Dan tentu saja itu membuat, Syifa takut padanya


Syifa menggeleng, ia seketika memeluk, Luthfi untuk mencari perlindungan agar pria itu tidak lagi marah padanya dan menanyakan hal aneh lagi


"Gue mau tidur" ucap, Syifa yang setengah mati memejamkan matanya dengan tenang dan beberapa kali menelan paksa ludahnya serta berusaha membuat jantungnya agar tidak berpacu dengan cepat


"Kenapa jantung loh berdebar?" tanyanya setelah, Syifa menempelkan tubuhnya ke tubuh, Luthfi


Lagi-lagi, Syifa harus menelan paksa ludahnya, "Ja... Jantung loh juga berdebar" kikah, Syifa yang berusaha mencari alasan


"Itu karna gue lelah" sahut, Luthfi yang sudah merendahkan suaranya


"Yah gue juga lelah" ujar, Syifa tidak ingin kalah, karna dirinya juga memang lelah saat ini


"Lelah apanya? Kan gue yang gerak-gerak" tukas, Luthfi yang menahan senyumnya


"Mesum" ketus, Syifa mencubit perut, Luthfi. Ia benar-benar malu jika harus diingatkan kembali


Syifa membalikkan tubuhnya membelakangi, Luthfi yang terkekeh dengan tingkahnya. Syifa yang kesal menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Luthfi tersenyum dan ikut masuk ke dalam selimut


"Mau lanjut?" goda, Luthfi yang memeluk, Syifa dari belakang


"No!!! " teriak, Syifa yang menoleh ke belakang dan mendapati, Luthfi sedang tersenyum genit padanya, "Gue capek yah. Ngga mau lanjut-lanjut. Gue kan pengen tidur. Sana ah", Syifa melepas tangan, Luthfi dan kembali dengan posisinya


"Cuma peluk", Luthfi kembali melingkarkan tangannya dan menempelkan pipinya di leher, Syifa


Syifa tidak lagi menolak. Ia justru menghembuskan napas lega setelah tadi meladeni kemarahan, Luthfi yang menakutkan baginya


"Dia kalau marah serem juga. Mulai hari ini, gue harus jaga jarak sama, Reza. Kalau, Luthfi sampai tau, bisa-bisa gue kena marahnya dia lagi" batin, Syifa yang melirik, Luthfi ke belakang


"Sudah tidur?" guman, Syifa dan juga ikut memejamkan matanya. Namun matanya terbuka lebar saking terkejutnya karna sesuatu yang menggelikan baginya


"Luthfi, tangan loh" seru, Syifa menahan tangan, Luthfi yang bergerilya di tubuh depannya


"Loh yang mulai" ucap, Luthfi tanpa membuka matanya, namun tangannya bergerak bebas disana

__ADS_1


"Mulai apa sih? Gue ngga mulai apa-apa", Syifa memberontak dan memukul tangan, Luthfi


"Terus kenapa ngeliatin gue ke belakang?" hembusan napas, Luthfi di leher, Syifa membuatnya merinding


"Gue cuma mastiin loh udah tidur atau belum" jelas, Luthfi. "Luthfi" teriak, Syifa, yang untung saja suara kamar itu tidak terdengar keluar, "Gue ngga mana bisa tidur kalau gini" rengek, Syifa saat, Luthfi berhasil membuat tubuhnya menghadap padanya


***


"Gara-gara dia yang nelpon loh. Tidur gue keganggu tau ngga" ketus, Risa yang mengerucutkan bibirnya


"Loh juga, ngapain jawab?" desah, Fahri yang menyandarkan punggungnya ke sofa


"Ponsel loh berdering terus yah. Dan itu benar-benar mengganggu banget" seru, Risa yang kesal


"Kesalahan loh yah, ngapain sampai bilang kita tidur berdua? Jelas lah dia mikir macam-macam" ujar, Fahri yang masih terlihat santai


"Memangnya kenapa?" tanya, Risa yang masih belum mengerti dimana letak kesalahannya


"Dengerin gue baik-baik", Fahri menghadapkan tubuhnya ke arah, Risa lalu menggenggam tangannya, "Jangan pernah bilang loh tidur berdua sama cowok meski tempat tidur kalian pisah. Karna itu yang bikin orang berpikir macam-macam dan bisa sampai ngata-ngatain loh" jelas, Fahri namun, Risa diam saja dengan alis yang berkerut


"Dengar! Orang akan berpikir loh tidur berdu dalam satu tempat tidur dan melakukan sesuatu tanpa ikatan pernikahan" lanjut, Fahri karna, Risa tak kunjung mengerti


Mata, Risa membulat sempurna. Ia menarik tangannya dari genggaman tangan, Fahri lalu menutup mulutnya karna tidak habis pikir dengan penjelasan, Fahri barusan


"Jadi? Sekarang loh ngerti kan?" tanya, Fahri pelan setelah melihat keterkejutan di wajah, Risa


"Ja.... Jadi... Di... Dia ngatain gue tadi..... ce... cewek m... murahan.. karna itu?" tanya, Risa yang gugup setengah mati setelah mendengar faktanya


Fahri mengangguk. Mata, Risa benar-benar hampir keluar dari tempatnya. Ia tidak mempercayai semuanya.


Bahkan saking terkejutnya, ia sampai terjatuh dari sofa namun ia seperti tidak menyadarinya. Fahri yang panik langsung menghampiri, Risa


"Risa? Loh ngga apa-apa?" tanya, Fahri yang panik karna, Risa tiba-tiba saja terjatuh


"Jadi gue udah kotor? Gue kotor?" ucap, Risa yang setengah sadar dan menatap sendu, Fahri


Pipi, Fahri mengembung menahan tawa. Ia tidak habis pikir dengan, Risa yang bahkan melucu di situasi seperti ini, begitu pikir, Fahri


"Loh kenapa ketawa? Loh ngetawain gue?", Risa berteriak menangis, "Tuh kan? Gue udah kotor. Gue kotor" seru, Risa yang menangis


Fahri tidak lagi bisa menahan tawanya. "Loh kenapa jadi drama?" ujar, Fahri yang tertawa keras


***


"Vio?" panggil, Vigo yang baru saja melihat, Viona sudah menutup matanya saat ia baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ia? Kenapa?" tanya, Viona yang malas karena ia sudah sangat mengantuk


"Bisa pijitin punggung gue ngga? Rasanya punggung gue meriang" ucap, Vigo yang merenggangkan otot-ototnya menghampiri, Viona


"Merindukan kasih sayang maksudnya?" goda, Viona yang tertawa


"Boleh sih" sahut, Vigo yang tertawa. "Ini beneran, Vio. Punggung gue sakit. Loh kan tau sendiri" imbuhnya

__ADS_1


"Ya udah sini, biar gue pijitin", Viona kembali duduk padahal, tadinya ia sudah mengantuk


Vigo duduk membelakangi, Viona. Viona perlahan memijat punggung, Vigo. Vigo memang sering merasakan sakit di punggungnya hingga, Viona tidak mungkin mengatakan, Vigo berbohong


"Ngga mau ke dokter?" tanya, Viona sambil memijat punggung, Vigo


Vigo menggeleng, "Sakitnya kan cuma sebentar. Mungkin cuma kelelahan"


"Kan bisa memastikan sakitnya apa? Yah masa cuma kelelahan? Kan aneh" tukas, Viona yang sudah berapa kali memaksa, Vigo untuk memastikan kondisi punggungnya yang sering sakit


"Beneran, Vio. Setelah dipijat juga pasti baik. Apalagi yang pijat orang tersayang" ledek, Vigo yang tidak, mau membuat, Viona cemas


"Apaan sih? Gombal", Viona memukul pelan punggung, Vigo, lalu kemudian mengelusnya, "Maaf yah. Ini pasti gara-gara tadi ngegendong gue" suara, Viona terdengar sedih di telinga, Vigo


"Ngga, Vio. Biasanya kan juga gue kuat ngegendong loh? Kebetulan aja sakitnya datang sekarang" ucap, Vigo dengan lembut


"Kan tetap aja harusnya gue nolak tadi" suara, Viona mulai bergetar. Sekilas terlintas pikiran buruk di kepalanya


"Ya udah. Peluk aja biar sakitnya berkurang" goda, Vigo untuk mencairkan suasana sedih, Viona


Tanpa ragu ataupun menolak, Viona memeluk, Vigo dari belakang. Ia menyandarkan kepalanya di pundak, Vigo. Vigo menoleh ke arah, Viona dan tersenyum melihat kekasihnya itu. Ia kemudian mengelus lembut kepala kekasihnya


***


Syifa akhirnya tertidur setelah, Luthfi kembali menjamah seluruh tubuhnya. Tampak wajah lelah, Syifa terbalut dalam tidurnya. Luthfi mencium seluruh wajah, Syifa sebelum ia benar-benar berhenti.


"Terima kasih" ia mengecup bibir, Syifa lalu memeluk erat tubuh mungil itu


"Terima kasih karna membuat hatiku hidup kembali"


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Kalau kalian suka novel ini, jangan lupa untuk klik like dan beri tip sebagai dukungan kalian kepada Author dan kepada novel ini. Terima kasih atas dukungannya 🤗


__ADS_2