Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Jangan tahan lagi


__ADS_3

Syifa yang baru saja hendak merebahkan tubuhnya di kasur, terhenti karna, Luthfi yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa membuat, Syifa mengerutkan keningnya dengan penuh keheranan


Yah. Mereka sudah pulang dari rumah, Fahri beberapa jam yang lalu. Risa merengek memintanya untuk menginap dirumahnya. Namun, Syifa juga tidak enak jika harus menginap terus-terusan di rumah orang lain. Yah, setidaknya, rumah itu sudah tidak menjadi tempat tinggal yang menetap bagi dirinya lagi


"Ada apa?" tanya, Syifa


"Fahri dihadang sama preman di jalan setelah mengantar, Vigo. Sekarang dia di rumah sakit. Kamu tunggu disini yah. Aku mau ke rumah sakit" sahut, Luthfi yang terlihat terburu-buru meraih jaket dan kunci mobil miliknya


"Aku ikut" seru, Syifa


"Jangan. Kamu di rumah aja yah? Bahaya kalau kamu keluar malam"


"Tapi aku juga ngga mau di rumah sendirian. Aku takut. Please, biarin aku ikut. Aku pengen tau keadaan, Fahri. Dan, Risa? Gimana sama, Risa?", Syifa baru tersadar pada sahabatnya itu


"Sekarang dia lagi dijemput, Vigo sama Viona. Ya udah. Kamu ikut. Aku juga takut kalau aku tinggal kamu di rumah sendiri" ujar, Luthfi yang mengambilkan satu jaket untuk istrinya. "Ayo"


***


"Risa, Viona" seru, Syifa yang menghampiri kedua temannya yang sedang terduduk di depan ruang IGD. Vigo menunggu mereka di parkiran tadinya


Risa dan Viona menoleh pada suara yang memanggil nama mereka dengan begitu cemas dan berlari kecil ke arah mereka


"Jangan lari, Fa" tegur, Viona


Syifa menarik napas dan duduk di samping, Risa yang menatapnya dengan sendu. Ia tau, sahabatnya itu berusaha menahan tangis. Bahkan, Viona menggeleng pelan kepadanya ketika ia hendak bertanya pada, Risa yang tampak kacau


"Semuanya akan baik-baik saja. Fahri pasti ngga akan kenapa-napa", Syifa menggenggam tangan, Risa


"Ia, Sa. Loh harus percaya. Fahri baik-baik aja" cetus, Viona yang merangkul pundak, Risa


Risa mengulas senyum yang ia paksaan "Ia. Gue tau itu" ucapnya dengan suara berat


"Gimana sama pelakunya?" tanya, Luthfi pada, Vigo


"Mereka di kantor polisi sekarang" sahut, Vigo yang menghela napas berat


"Kenapa mereka menyerang, Fahri?" tanya, Luthfi yang masih penasaran


Ketiga gadis itupun menoleh bersamaan kepada, Vigo yang sudah hendak menjawab pertanyaan, Luthfi. Karna mereka juga sangat penasaran


"Salah satu dari mereka adalah mantannya, Dini. Orang yang menjadi pelarian, Dini waktu mau menghindari, Fahri dulu. Tapi sekarang, Dini mutusin dia dengan alasan mau balikan sama, Fahri. Makanya, dia mau balas dendam sama, Fahri" tutur, Vigo lalu menghela napas


Tatapan ke-empat orang itu membulat sempurna. Terlebih, Viona yang begitu mengenal lelaki yang dimaksud kekasihnya itu


"Maksud loh, Revan?" seru, Viona yang berdiri karna begitu terkejut


"Ia, Revan" sahut, Vigo dengan berat


"Benar-benar kurang aja dia. Berani-beraninya dia", Viona mengepalkan kedua tangannya


"Risa?" panggil, Syifa ketika melihat keadaan, Risa yang menatap ke satu arah dengan pandangan yang begitu kosong


Viona tersentak dari kemarahannya dan kembali duduk merangkul pundak, Risa. "Risa"


"Gue ngga apa-apa kok. Kalian semua juga pasti cemas mikirin, Fahri" ucap, Risa menahan tangisnya yang ingin memecah

__ADS_1


"Risa", Syifa memeluk, Risa dan menyandarkan kepalanya di pundak sahabatnya


***


Pintu ruang IGD terbuka dan nampaklah seorang Dokter bersama Suster keluar dari sana. Mereka pun menghampiri Dokter itu


"Bagaimana keadaan teman kami, Dok?" tanya, Risa yang tergesa-gesa


"Tidak apa-apa. Dia hanya mengalami benturan yang cukup keras dibagian kepala dan punggungnya. Saya sudah memberinya obat penghilang rasa nyeri. Dia harus banyak istirahat agar tidak mengalami patah tulisan punggung" jelas Dokter itu


"Patah tulang punggung?" ulang, Vigo


"Ia. Kami belum bisa memastikannya dengan baik. Itu sebabnya saya memberinya obat penghilang nyeri dan obat tidur" tutur Dokter tersebut


"Apa kami sudah bisa melihatnya Dok?" tanya, Luthfi


"Tunggu sampai teman kalian dipindahkan ke ruang inap"


"Baik Dok. Terima kasih" ujar, Syifa


"Sama-sama. Saya permisi dulu"


"Revan" geram, Viona


"Vio? Loh disini dulu yah sama, Syifa sama, Risa. Gue sama, Luthfi mau keluar bentar" ujar, Vigo


"Mau kemana?" tanya, Syifa


"Cuma sebentar. Sekalian mau beli makanan dan alat tempat tidur. Mungkin saja kita tidur disini buat jaga, Fahri" cetus, Luthfi


"Ia" sahut, Luthfi


"Gue pergi yah, Vio? Jaga, Fahri. Dan juga..... Risa" ujar, Vigo dengan ragu menatap, Risa yang tidak seceria seperti biasanya


Viona hanya mengangguk lalu menatap, Risa dengan penuh rasa iba. Luthfi dan Vigo segera berlalu dari sana. Dan selang beberapa menit. Beberapa Suster tengah mendorong ranjang milik, Fahri untuk menuju kamar yang akan ia tempati. Syifa yang melihatnya segera menyadarkan, Risa dan Viona hingga mereka bertiga mengikut di belakang para Suster itu


"Terima kasih" ucap, Syifa setelah para Suster itu sudah keluar dari ruangan


"Fahri" panggil, Viona. "Loh ngga cocok tidur disini, Ri. Ayo bangun. Kita pulang" cetus, Viona yang tidak rela melihat temannya yang sudah lama bersamanya dan, Vigo itu terbaring disana. "Loh pernah bilang ke gue sama, Vigo kan, kalau loh orang yang ngga akan pernah terbaring di rumah sakit" ucapnya seraya menahan tangis


Syifa yang memang mudah sekali menangis, sudah tidak lagi bisa menahan air matanya untuk tidak terjatuh membasahi pipinya. Berbeda dengan, Risa. Ia tidak mengeluarkan air matanya. Namun tatapannya tidak beralih dari wajah, Fahri yang menampakkan banyak bekas lebam di wajah itu


"Risa" panggil, Syifa disela tangisnya yang menghampiri sahabatnya, "Gue tau loh sedih. Gue tau loh pengen nangis, Sa. Tolong jangan loh tahan lagi" ucap, Syifa dengan berderai air mata, "Gue ngga kuat lihat loh kek gini"


Air mata, Risa benar-benar terjatuh setelah mendengar ucapan, Syifa. Perlahan, suara isakannya mulai terdengar. Hingga, Viona ikut menghampirinya dan memeluk kedua temannya dengan tangis mereka yang memecah seisi ruangan dengan pilu


"Risa" ucap, Syifa yang semakin tidak kuasa menahan tangisnya. Ia memeluk sahabatnya yang begitu pilu tangisannya. Viona semakin mengeratkan pelukannya kepada keduanya dengan tangisnya


"Gue ngga tau kenapa. Tapi..... Fahri?.... Kenapa dia bisa jadi begini?" seru, Risa yang menangis sejadi-jadinya di pelukan kedua sahabatnya


***


"Masalah loh apa brengsek?" teriak, Vigo yang mencengkeram kerah baju yang dipakai pemuda yang menjadi sasaran kemarahannya


"Harap tenang" tegur polisi itu

__ADS_1


Vigo dan Luthfi pergi ke kantor polisi untuk menemui pelaku yang sudah mencelakai sahabatnya. Luthfi pun tampak mengingat-ingat wajah orang tersebut. Ia seperti pernah bertemu dengannya dulu. Tapi ia lupa pernah bertemu dimana


"Tenang dulu, Go", Luthfi mencoba menenangkan, Vigo dengan melepas tangannya dari kemeja pemuda yang ada di hadapan mereka saat ini


"Kalau sampai, Fahri kenapa-napa. Tangan gue sendiri yang akan menghabisi loh" teriak, Vigo dengan emosi yang meluap menunjuk seorang pemuda yang seumuran dengannya


"Terserah loh, Go. Gue ngga akan berhenti, sebelum gue bisa menghabisi dia dengan tangan gue sendiri" seru pemuda itu yang balik menantang ucapan yang dilontarkan oleh, Vigo


"Revan" Teriak, Vigo yang hendak melayangkan tinjunya. Namun, Luthfi dengan cepat menahannya, karna mereka sedang berada di kantor polisi saat ini. Ia tidak mau mengambil risiko dan harus meninggalkan para gadis yang menjaga, Fahri


"Bawa dia ke sel. Orang ini akan dihukum dengan berat" seru salah satu polisi itu


"Baik pak", polisi satunya hendak membawa, Revan, pemuda yang mencoba menghabisi nyawa, Fahri


"Ingat pesan gue baik-baik, Van. Tangan gue yang akan menghancurkan hidup loh, kalau sampai, Fahri kenapa-napa" geram, Vigo menunjuk, Revan


"Gue ngga takut, Go. Gue terima tantangan loh" seru, Revan melawan tantangan, Vigo dengan tersenyum sinis


Luthfi yang sudah mengingat orang itu, segera melayangkan tinjunya, "Brengsek kau" teriaknya.


"Stop" para polisi itu berteriak


"Loh? Orang yang pernah menyerang gue sama, Fahri kan? Loh orangnya" seru, Luthfi


"Maksud loh apa, Ri?" tanya, Vigo


"Dia pernah nyerang gue sama, Fahri dulu. Tapi beruntung, banyak warga yang datang" sahut, Luthfi menajamkan tatapannya pada, Revan


"Oh? Loh orangnya? Baguslah kalau loh ingat gue" cetus, Revan dengan santai


"Bawa dia pergi" seru polisi itu, "Dan kalian berdua, boleh pulang sekarang" lanjutnya


***


"Apa ini yang loh maksud dengan jarak antara gue sama, Fahri, Fa?" tanya, Risa yang duduk di samping, Fahri. Memegang tangan pria itu


"Mungkin. Gue ngga bisa mendefinisikannya seperti apa itu, Sa" sahut, Syifa yang duduk di sofa bersama, Viona dan membiarkan, Risa bersama, Fahri


"Jangan terlalu dipikirin, Sa. Gue yakin, Fahri pasti akan cepat sembuh" cetus, Viona


"Gue juga berharap gitu" guman, Risa yang tidak lepas menatap wajah, Fahri yang terlelap. ""Gue takut. Ayo bangun, Ri" pinta, Risa yang membatin


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa like dan vote yah teman2 😊 terima kasih untuk yang sudah mendukung 🤗

__ADS_1


__ADS_2