Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Jaga harga diri


__ADS_3

Luthfi hanya tersenyum dan tanpa sadar mencium kepala, Syifa dengan gemas dan langsung memeluknya erat. Bahkan, Syifa tidak keberatan. Bola mata, Dinar seakan ingin keluar dari tempat persembunyiannya ketika melihat, Luthfi mencium dan memeluk, Syifa layaknya mereka mempunyai sebuah hubungan yang...........


"Luthfi? Loh?.......", Dinar membulatkan kedua matanya melihat, Luthfi mencium dan memeluk, Syifa. Seingatnya, dari mereka SMU, Luthfi sama sekali tidak pernah dekat dengan siapapun dan gadis manapun. Jangankan dekat, didekati saja dia sampai risih. Tapi apa yang dilihatnya saat ini sangat bertolak belakang dengan, Luthfi yang ia kenal


Syifa sontak menjauh dengan panik. Wajahnya memerah karna malu. Luthfi menatapnya tanpa ekspresi apapun pada wajahnya ketika melihat, Syifa yang tiba-tiba menjauh darinya.


"Loh? Kak Dinar kenal sama dia?" tanya, Dini yang mengerutkan keningnya ketika sepupunya itu menyebut nama, Luthfi


"Dia cowok yang sering Kakak cerita" jawab, Dinar namun padangannya masih tidak lepas dari, Luthfi


"Kalian berdua?...... Pacaran?" tanya, Dinar menunjuk, Luthfi dan Syifa dengan terbata


Syifa menoleh kepada, Luthfi yang masih tidak bergeming menatapnya. Syifa tau, Luthfi saat ini sedang kesal padanya. Namun ia sangat takut jika ketiga gadis itu tau jika mereka sudah menikah


"Ia kak. Mereka udah jadian" cetus, Risa yang melihat kedua sepasang suami istri itu tidak ada yang mau menjawab. Terlebih, Syifa


Dinar terlonjak tidak percaya. "Gue ngga percaya ini. Luthfi? Bukannya loh dari dulu ngga pernah mau pacaran? Alasan loh nolak gue dulu juga karna loh ngga mau pacaran kan? Terus ini maksudnya apa?" tutur, Dinar yang tidak habis pikir dan tidak terima pada kenyataan di hadapannya itu


"Kenyataannya emang gitu. Mereka berdua udah jadian" sahut, Viona dengan santai


Lury menatap tidak suka pada, Viona. "Itu urusan mereka. Kayaknya loh ngga perlu ikut campur"


"Urusan teman gue, juga urusan gue" titah, Viona yang balas menatap, Lury dengan tidak suka


"Lury. kita datang kesini bukan buat nyari ribut" tegur, Dini kepada, Lury


"Loh datang kesini aja emang udah nyari ribut" ketus, Risa yang semakin merapat pada, Fahri


"Diam loh!" bentak, Dini


"Loh yang diam" bentak, Fahri kepada, Dini


Dini, Vigo, Viona dan Lury terkejut mendengar bentakan dari, Fahri kepada, Dini. Selama ini, Fahri sama sekali tidak pernah membentak, Dini.


"Fahri? Loh ngebentak gue demi cewek ini?", Dini tidak terima dan malah menunjuk, Risa dengan kesal. "Gue ngga percaya ini"


"Risa!" tegur, Syifa ketika, Risa hendak membuka mulutnya untuk bersuara. Ia tau, jika sahabatnya itu sudah bersuara dalam keadaan kesal, ia bisa saja memaki siapapun yang membuatnya kesal


"Sini", Luthfi kembali menarik, Syifa hingga membelakangi, Luthfi. Ia hanya hanya merapatkan selimut yang mereka pakai dan memeluk, Syifa dari belakang


"Luthfi!" ucap, Dinar menatap, Luthfi dengan tatapan memelas. Namun, Luthfi sama sekali tidak menghiraukannya. Ia sangat cuek pada gadis itu


"Aaaaa... Dingin banget" ucap, Viona dengan manja dan memeluk, Vigo erat-erat. Viona sengaja melakukan itu agar membuat, Lury sakit hati karna gadis itu pernah membuat hubungannya dan, Vigo retak


"Dasar cewek gatel" batin, Lury menatap sinis, Viona


"Gue juga. Dingin banget..... " dengan suara manjanya, Risa mengelus-eluskan pipinya di dada, Fahri sembari melirik, Dini yang sedang terbakar api cemburu


Fahri terkekeh dengan tingkah, Risa. Jika hanya ada mereka ber-enam saja. Sudah bisa dipastikan, Fahri akan tertawa keras. Namun ia tahan dan membiarkan, Risa melakukan apapun yang ia mau

__ADS_1


"Hujannya makin deras. Beneran kita nginap disini?" tanya, Syifa yang mendongak dan tepat keningnya berada di bibir, Luthfi


Dinar terkesiap dengan adegan itu. Namun, Luthfi dengan santainya menempelkan bibirnya pada kening, Syifa. "Ngga apa-apa. Besok kan kita libur" ucapnya dengan lembut.


Dinar tidak tau apa terlintas dipikirkannya saat ini. Ia tidak pernah mendengar, Luthfi berbicara selembut itu, apalagi pada seorang gadis.


Keempat temannya yang lain tersenyum puas melihat adegan suami istri itu dan juga, Dinar yang terus melongo menatap tidak percaya


"Luthfi? Syifa kedinginan tuh. Loh meluknya kurang erat kali" ledek, Vigo untuk membuat suasana hati, Dinar semakin memanas


"Vigo" tegur, Viona dengan kesal menatap, Vigo


"Apa sayang?" ujar, Vigo mencium kening, Viona


"Astaga.... Kalian?...", Lury menutup mulutnya dengan telapak tangannya karna terkejut


"Biasa aja kali" seru, Risa namun tidak menatap, Lury. Ia hanya sibuk menggerak-gerakkan kepalanya di dada, Fahri


"Loh juga jadi cewek jaga harga diri dikit dong. Mau-mau aja dipeluk" hardik, Dini dengan kesal


"Iri? Bilang bos ku" sahut, Risa dengan menantang, bahkan ia memindahkan tangannya yang memeluk perut, Fahri dan beralih melingkarkan tangannya ke leher, Fahri


Yang lainnya menatap tidak percaya. Bahkan, Fahri sendiri sedikit terkejut sebelum akhirnya ia merengkuh tubuh, Risa karna melihat, Dini sudah hendak berdiri


"Acting, Risa keren yah?" bisik, Syifa ketika semua mata tengah menuju pada, Risa dan Fahri


"Udah fixed yah hubungan kalian" ledek, Vigo


"Udah dong" timpal, Viona lalu tersenyum senang


"Terserah loh, Go" sahut, Fahri lalu tertawa


"Aaaa.... So sweet" Seru, Syifa yang mengatupkan kedua tangannya dan menaruhnya di pipi


"Loh berdua juga. Malah lebih romantis daripada gue sama, Viona" goda, Risa


"Risa!", Syifa menyipitkan kedua matanya menatap, Risa dengan kesal. Sedangkan, Risa dan Viona sudah tertawa.


"Fahri? Gue juga dingin" ucap, Dini yang memberi koda kepada, Fahri


"Gue juga" seru, Lury melirik, Vigo


"Hmmm. Gue juga", Dinar ikut menimpali dan juga kini tengah melirik, Luthfi


"Ini ada selimut untuk kalian bertiga", Risa menarik satu selimut yang tidak terlalu tebal yang masih membalut tubuhnya dan, Fahri. Itu adalah selimut yang dipakai, Fahri sebelum, Risa bergabung padanya


"Ini ngga muat buat kita bertiga" sahut, Lury. "Mungkin..." belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Viona sudah memotongnya


"Udah syukur-syukur dikasih. Mending pake itu aja, daripada ngga ada sama sekali" cetus, Viona

__ADS_1


"Fahri" panggil, Dini dengan memelas


"Pake itu aja. Karna ngga mungkin gue ngelepas, Risa. Dia lagi kedinginan, bajunya sedikit basah" ujar, Fahri yang sudah mengerti kode, Dini


"Dan gue juga ngga akan mungkin ngelepas, Vio. Badan, Vio menggigil" timpal


Kini, semua pasang mata kecuali, Syifa tengah mengarah pada, Luthfi. Dinar benar-benar berharap, Luthfi mau memanggilnya dan berbagi selimut bersama. Mesti itu mustahil


"Syifa kedinginan. Dan gue ngga akan mau berbagi dengan orang lain" cetus, Luthfi dengan cuek namun begitu tegas


Hilang sudah harapan ketiga gadis itu. Wajah mereka menampilkan raut kecewa. Dini yang secara terang-terangan sudah ditolak oleh, Fahri. Lury yang tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk kembali dekat dengan, Vigo. Dan Dinar? Yang sudah dari awal tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bisa dekat dengan, Luthfi


"Lapar" seru, Syifa ditengah-tengah ketegangan itu


"Kamu lapar?" tanya, Luthfi mendekatkan wajahnya ke wajah, Syifa hingga pipi mereka nyaris bersentuhan. Dan tentu saja itu membuat, Dinar tidak suka melihatnya.


Syifa mengangguk. "Ya udah. Kamu tunggu disini. Biar aku keluar beliin kamu makanan yah" tukas, Luthfi


"Jangan!", Syifa menahan lengan, Luthfi yang sudah hendak berdiri, "Diluar lagi hujan. Ngga usah kemana-mana"


"Aku pakai mobilnya, Fahri" tukas, Luthfi


"Ngga usah. Aku ngga jadi lapar" sahut, Syifa


"Kok manggilnya 'aku-kamu' sih?" cetus, Dinar yang sedari tadi mendengarkan dengan seksama panggilan mereka berdua. Ia merasa ada yang aneh


Syifa menatap, Luthfi dengan sedikit cemas. Sedangkan, Luthfi? Seperti biasa, memasang wajah yang susah untuk ditebak.


"Kalian beneran pacaran? Atau........" ucapan, Dinar terhenti sendiri dan mencoba berpikir keras


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa like dan votenya yah 😊 Terima kasih untuk yang sudah mendukung 🤗

__ADS_1


__ADS_2