
"Bunda" ucap, Luthfi dengan lemah menatap sendu Ibu yang melahirkannya
"Ia Nak" dengan berderai air mata, Bundanya memeluk, Luthfi
"Luthfi minta maaf kalau banyak salah sama, Bunda" air mata, Luthfi tumpah memeluk erat Bundanya
"Ia Nak. Jaga istri dan anak kamu baik-baik"
Luthfi terus meminta maaf kepada kedua orangtuanya, kedua mertuanya yang telah melahirkan istrinya. Dan tak lupa mengucapkan rasa terima kasih kepada kedua adiknya dan iparnya. Terlebih kepada teman-temannya yang senantiasa membantunya menjaga istrinya
Perawat pun memindahkah, Syifa ke ruangan lain bersama sang buah hati. Dan Dokter sudah memperbolehkan semua keluarganya untuk menjenguk, Syifa
"Cucu ku. Ganteng sekali kamu, Nak" puji, Mommy Syifa ketika cucunya berada di dalam gendongannya
"Syafa juga mau gondong ponakan, Syafa Mom" ujar, Syafa
"Lihat aja dulu yah Nak" bujuk Mommynya
"Ya uda deh" pasrah, Syafa
Para orangtua tengah sibuk mengajak si bayi yang baru lahir bercengkarama. Sedangkan para remajanya berkumpul mengerubungi, Syifa
"Gimana rasanya punya bayi, Fa?" tanya, Risa dengan heboh
"Senang banget. Sekarang bisa ngerasaiin jadi Ibu" jawab, Syifa dengan raut wajah bahagia
"Ngelahirinnya gimana, Fa?" tanya, Viona
"Jangan bilang deh, Vi. Udah kek mau mati gue. Beneran, sakit banget" sahut, Syifa yang masih nyilu membayangkan proses kelahiran anaknya
"Sakit banget kak?" tanya, Syafa
"Banget dek. Beneran deh. Langsung ingat Mommy gue. Ingat semua kesalahan gue sama Mommy. Gue pikir, tadi udah jadi hari kematian gue. Beneran, sakit banget. Tulang-tulang gue semuanya serasa retak bersamaan" jelas, Syifa
"Kok, Fia jadi takut yah" cetus, Luthfia tiba-tiba
"Takut apaan dek? Nikah aja belum" tegur, Bian
"Yang diceritain sama, Kak Syifa tadi ngeri" ujar, Fia
"Tapi dek. Kalau udah lahir. Sakitnya tuh langsung hilang. Tergantikan sama suara tangisnya yang langsung bikin bahagia luar biasa" sahut, Syifa
"Sampai, Luthfi dibikin lemas" ledek, Vigo
"Baru kali ini gue ngeliat, Luthfi nangis" ucap, Fahri yang menimpali perktaan, Vigo
"Gimana ngga. Rasanya jantung gue loncat-loncat ngeliat, Syifa teriak kesakitan" tutur, Luthfi yang masih ngeri membayangkan perjuangan istrinya
"Udah liat kan loh gimana perjuangan sahabat gue buat ngelahirin anak loh juga? Jadi, sekarang loh ngga punya alasan buat marah-marah ke, Syifa" tukas, Risa menunjuk, Luthfi
"Emang kapan gue pernah marah-marah ke, Syifa" kesal, Luthfi
"Yah kan gue cuma ngingatin loh aja" ujar, Risa
"Bahagian banget deh liat kalian kek gini. Sekarang punya anak yang lucu juga. Semoga pernikahan kalian tetap bersama sampai Tuhan memanggil salah satu dari kalian. Jujur, gue bahagia banget liat kalian" ujar, Viona dengan doanya
"Aamiin. Gue juga berharap loh bisa bahagia sama, Vigo. Cepat nikah, dan punya anak. Makasih banget, Vi, Go. Selalu ada di samping gue" ucap, Syifa yang memegang tangan, Viona dengan penuh rasa terima kasih, " Makasih juga, Sa, Ri. Kalian juga selalu ada disaat-saat gue melemah" ia juga memegang tangan, Risa
"Loh tenang aja. Lagian kita ngga keberatan kok" sahut, Fahri
"Ia, Fa. Dari awal kita berteman. Gue nganggap kalian semua lebih dari sekedar teman atau sahabat. Gue nganggap kalian adalah keluarga. Yang harus selalu ada ketika membutuhkan" cetus, Vigo
"Makasih, Go, Ri", Luthfi memegang pundak kedua temannya itu
"Oh ia. Syifa belum ngucapin makasih buat adik-adik, Syifa yang pastinya selalu ngedoain, Syifa. Makasih yah deh. Syafa, Fia, Bian. Makasih kalian udah datang" cetus, Syifa
"Sama-sama kak" ucap mereka bertiga
"Orangtua loh mana, Sa? Katanya mau datang?" tanya, Luthfi
"Ia nih. Ngga tau mereka udah pada dimana. Gue lupa juga lagi ngabarin mereka kalau, Syifa udah lahiran. Bentar yah, gue telpon mereka dulu" sahut, Risa yang keluar dari ruangan tersebut
__ADS_1
"Kak Viona sama Kak Vigo kapan nyusul nikah?" tanya, Syafa
"Doain aja dek secepatnya" jawab, Viona yang tersenyum pada, Syafa
"Kenapa? Syafa mau nikung?" ledek, Vigo
"Ngga lah kak. Sembarangan" rajuk, Syafa
"Datang, Sa?" tanya, Syifa kepada, Risa yang sudah kembali masuk ke ruangan tersebut
"Tuh, di luar" jawab, Risa yang diikuti oleh orangtua serta Abangnya, Rasya
"Mama, Papa, Abang" sapa, Syifa dengan senyumnya
"Bagaimana keadaan mu, Nak?" tanya, Mama Risa
"Udah baik, Mah" jawab, Syifa yang tersenyum
"Ini yah anaknya?" tanya, Papa Risa yang mendekati bayi tersebut dalam dekapan Neneknya
"Ia. Ini anak, Syifa" sahut, Mommy Syifa
"Gimana dek perasaannya jadi Ibu?" tanya, Rasya
"Bahagia dong, Bang. Bahagia banget. Makanya, Bang. Nikah sana cepetan. Biar tau gimana rasanya punya anak" jawab, Syifa yang justru meledek Abangnya
"Awas loh dek. Kualat" sahut, Rasya
"Atau nunggu dilangkahin, Risa?" ledek, Luthfi
"Emang, Risa punya pacar?" tanya, Rasya
"Wah. Ketinggalan deh, Abang" goda, Syifa
"Jangan ngaco kalian yah" seru, Risa
"Kenapa sih ribut-ribut?" tanya, Mommy Syifa dari sofa tempat para orangtua berkumpul
"Ngga yah. Jangan ngarang loh" kesal, Risa
"Emang, Fahri udah ngelamar, Risa?" tanya, Rasya
"Udah, Bang. Tapi di tolak" cetus, Viona
"Dua kali lagi" timpal, Vigo
"Jangan ngarang cerita apaan sih" seru, Risa dengan kesal
"Siapa yang ngarang? Itu fakta" tukas, Luthfi
"Fakta apaan? Ahhhh. Ngga mau ah" rajuk, Risa dengan manja
"Emangnya, Nak Fahri udah ngelamar, Risa?" tanya Mama Risa
"Tadi udah di jawab" cetus, Syafa dengan pelan namun masih bisa terdengar
"Biar dijawab sama, Fahri langsung dek" sahut, Luthfi yang mengacak rambut, Syafa
"Jawab, Ri" desak, Syifa dan Viona
"Jantan kan?" ledek, Vigo
"Udah tante. Tapi ditolak" jawab, Fahri
"Nah kan? Apa, Syifa bilang. Ditolak, Mah" seru, Syifa yang heboh
"Jangan terlalu banyak gerak" tegur, Luthfi
"Masih mau loh" ledek, Risa
"Risa nolak, Fahri kenapa?" tanya Papa Risa
__ADS_1
"Papa. Itu cuma bercanda doang" sahut, Risa
"Emang gue bilang bercanda?" tukas, Fahri
"Teman gue nih" heboh, Vigo
"Jangan gitu dong, Ri. Ah, ngga mau ah" ketus, Risa
"Kan loh yang selalu ngga mau" ujar, Fahri
"Loh kan selalu PHP-in gue" gerutu, Risa
"Wah. Perang nih" cetus, Viona
"Jangan sok jual mahal loh dek" tegur, Rasya
"Terus? Maksud Abang, Risa harus jual murah gitu? Mikir dikit dong, Bang" seru, Risa
"Dek. Kalau ngomong yang waras dikit bisa ngga sih?" tukas, Rasya yang membuat semuanya tertawa
"Nikah kembar aja sama Nak Vigo sama Nak Viona juga" cetus, Bunda Luthfi
"Siapa, Bun?" tanya suaminya
"Risa, Fahri, Viona sama Vigo" jawabnya
"Kayak mereka anak Bunda aja yang diatur" cetus, Bian
"Kak, Bian iri yah?" ledek, Fia
"Sembarangan" tukas, Bian
"Risa. Kenapa nolak, Fahri?" tanya Papanya
"Pah. Fahri tuh pacar" kesal, Risa
"Ngga. Fahri ngga punya pacar" tukas, Fahri
"Risa ceritanya cemburu" ledek, Syifa
"Apaan sih. Jangan ngomong sembarangan bisa ngga?" kesal, Risa
"Ngga usah teriak juga. Ini rumah sakit" tegur, Fahri
"Biarin" ketus, Risa
"Lamar lagi aja, Ri. Siapa tau sekarang diterima" ledek, Viona
"Mumpung momennya pass" timpal, Vigo
"Kalau Kak Risa ngga mau. Kak Fahri lamar, Syafa aja. Syafa pasti terima kok" seru, Syafa
"Apaan? Ngga ada yah. Sembarangan luh bocah" hardik, Risa
"Kak Risa kok marah? Kan Kak Risa udah nolak Kak Fahri" cetus, Fia
"Adik gue cerdik banget" sahut, Luthfi
"Ayo loh, Sa"
Ledekan terus terdengar hingga membuat, Risa dan Fahri salah tingkah
*
*
*
*
*
__ADS_1
Maaf. Kemarin dan tadi ada tugas negara yang harus aku selesaikan 🤭 Mohon maaf banget yah 🙏🏻 Jangan lupa like dan votenya yah 😊 Komennya jg mohon yg membangun semangat 😅 Terima kasih bagi yang sudah mendukung 🤗