
"Beneran ngga apa-apa?", Luthfi mengambil bantal untuk menjangga punggung, Syifa.
"Ngga apa-apa kok" jawab, Syifa dengan memaksakan senyumnya, "Loh ngga mau istirahat?" tanya balik, Syifa kepada, Luthfi yang sedari tadi hanya duduk menemani dirinya.
"Ngga. Gue nemenin loh aja" saut, Luthfi tanpa mengubah posisinya.
"Gue jadi ingat dulu loh pernah nyelamatin gue di kolam renang", Syifa terkekeh sendiri sedang, Luthfi hanya melihatnya tanpa ekspresi apapun.
"Apa yang lucu?" tanya, Luthfi yang melihat, Syifa terkekeh.
"Ngga ada", Syifa malah tertawa, "Garing yah gue?".
"Hmm", Luthfi hanya berdehem, "Loh mungkin ngantuk, ngomongnya jadi ngawur".
"Ngawur apaan? Gue kan cuma mau nyambungin ke sana doang. Emang ngga boleh?" pertanyaan, Syifa membuat, Luthfi sedikit menghela nafas.
"Kenapa? Apa gue salah ngomong yah?" lanjutnya.
"Mending loh tidur aja. Mungkin ini pengaruh dari badan loh yang sakit" perintah, Luthfi dengan lembut.
"Apa hubungannya coba?", Syifa mengerutkan keningnya.
"Loh ngga pernah ngomongin ini kan? Jadi mungkin aja loh kelelahan dan ngomongnya mulai ngawur" ujar, Luthfi yang membuat, Syifa memukul pelan dada, Luthfi, "Sembarangan loh kalau ngomong? Seakan-akan gue kek orang gila aja bagi loh" gerutunya
Luthfi menjadi bingung sendiri, "bukan itu maksud gue...".
"Terus apa coba?", Syifa memotong ucapan, Luthfi dengan wajah yang mulai cemberut.
Luthfi yang tadinya duduk bersilah menaikkan setengah kaki kirinya dan merengkuh kepala, Syifa lalu ia menaruhnya di lutut kirinya, "Tidur" ucapnya.
"Ngga mau", Syifa hendak bangun namun, Luthfi memegang kepala, Syifa agar tidak bangun, "Gue ngga ngantuk, Fi".
Luthfi tidak mengindahkan ocehan, Syifa. Ia malah menaruh dagunya di kelapa, Syifa, dekat pelipisnya dan diatas telinga kanan, Syifa.
Deg
Jantung, Syifa memacu dengan cepat bersamaan dengan air ludahnya yang ia rasa susah untuk ia telan. Debaran jantungnya membuat dirinya tidak bisa bergerak lagi ataupun sekedar mengoceh.
Ia membungkam mulutnya dan merasakan desiran darah dalam tubuhnya memanas dan mendingin secara bersamaan, namun ia tetap mengontrol mikik wajahnya seperti sedang tidak terjadi apa-apa pada dirinya padahal tubuhnya ingin sekali hancur seketika itu juga.
__ADS_1
"Maaf" guman, Luthfi yang sangat terdengar di telinga, Syifa. Syifa berusaha menelan ludahnya dengan susah payah, dirinya begitu kalang kabut dengan ucapan maaf yang baru saja dilontarkan oleh, Luthfi.
"Maaf kenapa?", Syifa memberanikan diri untuk bertanya.
"Untuk semuanya" saut, Luthfi yang menatap kedepan dengan pandangan kosong.
Syifa ingin sekali melihat, Luthfi. Namun ia bahkan tidak bisa bergerak dengan kepala, Luthfi yang berada di atas kepalanya.
"Luthfi?" panggil, Syifa dengan berat.
"Hmmm", Luthfi hanya berdehem.
"Gue punya salah yah?" tanya, Syifa dengan gugup.
Luthfi tidak menjawab, ia hanya menghela napas tanpa mengubah posisinya.
"Kok loh ngga jawab pertanyaan gue?", Syifa kembali bertanya kepada, Luthfi untuk mendapatkan jawaban dan ia tidak ingin merasa canggung jika tidak berbicara kepada, Luthfi padahal hanya ada mereka berdua disana.
"Loh ngga punya salah" cetus, Luthfi yang mengusap anak rambut milik, Syifa yang sedikit menutupi wajahnya.
"Tapi loh bilang maaf ke gue tadi" tukas, Syifa. "Artinya gue yang salah" titah, Luthfi dan, Syifa hanya terdiam. "Maaf" imbuhnya
Syifa hendak bangun namun, Luthfi tidak ingin memindahkan kepalanya, "Tapi kan loh ngga salah. Loh.. ".
"Maaf gue gagal ngejaga loh", Luthfi memposisikan kepalanya seperti kepala, Syifa hingga pipi mereka bertemu dan, Luthfi memeluk leher, Syifa.
"Maaf gue ngga nepatin janji gue sendiri buat ngejaga loh. Gue gagal" ucapnya dengan memelas
Tidak ada lagi debaran yang diarasakan, Syifa ketika dekat dengan, Luthfi. Kini ia lebih memilih bertanya-tanya pada hatinya maksud ucapan, Luthfi.
Syifa benar-benar bingung dengan, Luthfi saat ini. Juga, ini pertama kalinya, Luthfi berbicara seperti itu. Syifa bisa merasakan dan mendengar nafas, Luthfi yang naik turun yang memburu dadanya.
"Fi? Tapi gue ngga kenapa-kenapa sekarang" ucap, Syifa dengan pelan meski ia tidak tau apapun saat ini.
"Gue pernah berjanji buat ngejaga loh. Dan memastikan loh ngga akan terluka selama gue ada. Tapi ternyata gue gagal" jelas, Luthfi yang membuat, Syifa kembali merasakan debaran jantungnya yang seperti sedang berlomba.
Ditambah ucapan, Luthfi yang membuat jantungnya seperti sedang di lempar batu hingga merasakan sakit dan nyilu pada dadanya. Dan tanpa terasa, butiran kristal di matanya terjatuh hingga membasahi lutut, Luthfi.
Luthfi yang merasakan sesuatu membasahi lututnya, segera mengangkat kepalanya dan melihat, Syifa yang kini terus mololoskan bening kristal di matanya.
__ADS_1
"Kok loh nangis?", Luthfi mengangkat kepala, Syifa hingga terlihat jelas wajah, Syifa yang ini dipenuhi air mata. Ia segera menghapus air mata, Syifa.
"Loh yang bikin gue nangis. Ngapain coba pake ngomong kek gitu segala? Udah tau gue cengeng" rengek, Syifa yang menghapus sendiri air matanya.
"Ia gue minta maaf", Luthfi terus membantu, Syifa menghapus air matanya dan mengusap lembut kepala, Syifa.
"Sekarang jelasin ke gue" perintah, Syifa setelah perasaannya mulai membaik.
"Jelasin apa?" dahi luthfi mengkerut.
"Yah alasan loh dari tadi minta maaf terus ke gue, padahal loh ngga ada salah apa-apa sama gue" titah, Syifa yang membuat, Luthfi menghela napas.
"Loh ngga mau?" wajah, Syifa kembali menampakkan raut cemberutnya.
Luthfi menggaruk kepalanya dengan gugup. Ia tidak tau harus mulai menjelaskan dari mana. Ia sendiri tidak mengerti kenapa kata-katanya itu bisa lolos dari bibirnya. Padahal selama ini, ia tidak pernah mengungkit akan hal itu.
"Luthfi" panggil, Syifa dengan mengembungkan sedikit pipinya yang menandakan bahwa ia sedang marah.
"Gue ngga tau. Gue lupa" ujar, Luthfi yang menyengir.
"Lupa?", Syifa mejadi kesal seketika dan menautkan kedua alisnya serta menajamkan matanya kepada, Luthfi.
Luthfi meraih kepala, Syifa dan menaruhnya di dadanya, "Intinya gue minta maaf karna gagal menjaga loh". Ucapan dan perlakuan, Luthfi membuat, Syifa tidak bisa lagi untuk berkata-kata.
Sejak kapan, Luthfi bisa melakukan hal semanis ini pada seorang wanita? Begitulah kira-kira yang ada di benak, Syifa saat ini
Luthfi membelai lembut kepala, Syifa. Syifa mendongak untuk melihat, Luthfi. Luthfi pun menunduk pandangannya dan bertemu dengan pandangan, Syifa,
"Ada apa?" tanyanya dan, Syifa hanya menggeleng lalu tersenyum menundukkan pandangannya dan kembali mendekap dada, Luthfi tanpa membalas pelukan, Luthfi.
"Kok gue jadi baper sih? Ternyata, Luthfi bisa romantis juga. Sejak kapan dia bisa semanis ini" guman, Syifa dalam benaknya yang terus tersenyum dalam dekapan, Luthfi
***
***
***
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote yah teman2. Meski kemarin gk sempat up, hari ini udah aku usahain cepat upnya. Oh ia. Terima kasih juga buat yang ngefollow aku dan yang selalu ngelike setiap epsnya meski gk pernah komen (^_^).
Terima kasih juga buat para viewers yang menyempatkan waktunya untuk membaca novelku ini. Pokoknya, terima kasih banget untuk kalian semuanya. Saranghae 😍