Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Awal suka sama Syifa


__ADS_3

Setelah hampir seharian bermain. Mereka kembali pulang ke rumah, Risa dan Viona. Selalu terselip candaan yang membuat tawa mereka bergerola sepanjang perjalanan pulang


"Capek banget gue" seru, Vigo yang menghempaskan tubuhnya di sofa setelah mereka sampai di rumah tujuan mereka


"Gue juga. Tapi cuma butuh pelukan buat penghilang penat" ujar, Viona yang duduk di samping, Vigo dan memeluk kekasihnya itu


"Mulai deh, Viona" gerutu, Risa yang duduk berhadapan dengan mereka


"Dasar jomblo" ketus, Viona


"Sini", Luthfi menuntun, Syifa untuk duduk di sampingnya dengan hati-hati


"Hati-hati loh, Fa. Ponakan gue bisa kesakitan kalau loh banyak gerak" tegur, Risa ketika melihat, Syifa terburu-buru ingin duduk


"Jangan lebay deh, Sa" sahut, Syifa yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa


"Punggung gue rasanya remuk" cetus, Fahri yang memijat pundaknya


"Oh. Ia. Kalian berdua kayaknya punya utang penjelasan nih sama kita" seru, Vigo kepada, Luthfi dan Syifa


"Utang penjelasan?" ulang, Syifa


"Utang apaan?" tanya, Viona


"Loh ingat ngga, Fi? Waktu di rumah sakit, loh pernah bilang kan mau ngasih tau kita, tentang kenapa loh milih, Syifa jadi istri loh", Vigo mengingatkan, Luthfi kembali


"Oh itu" sahut, Luthfi, Syifa dan Viona bersamaan


"Kok gue ngga tau?" ujar, Risa yang mengerutkan dahinya


"Gue juga ngga tau" timpal, Fahri


"Ya ialah. Orang loh masih belum sadar waktu itu" jawab, Syifa. "Loh juga waktu itu tidur" tunjuknya pada, Risa


"Oh", Fahri membulatkan bibirnya


"Jelasin, Fi" seru, Vigo


"Ngga sabaran banget loh" cetus, Syifa


"Dih. Bilang aja loh senang. Dasar sok malu" celoteh, Risa


"Apaan sih" ketus, Syifa


"Gue juga pengen dengar ini" ucap, Fahri


"Hmmm. Harus banget sekarang?" tanya, Luthfi


"Udah berapa bulan loh, Fi. Gue baru ingat tadi waktu si banci itu ngegoda, Luthfi. Sampai bilang, dia suka, Luthfi dari dulu" cetus, Vigo


"Syifa juga dari dulu udah suka sama, Luthfi kali" cetus, Risa


"Sembarangan", Syifa memukul paha, Risa yang berada di sampingnya


"Ngapain sih pake gengsi segala. Udah halal juga" gerutu, Risa


"Loh ngga tau aja gimana rasanya pe'a" kesal, Syifa

__ADS_1


"Hallah" cetus, Risa


"Daripada gue dengerin nih orang berdua debat mulu. Mending cepetan cerita deh, Fi" desak, Viona


"Bingung gue mulainya dari mana" sahut, Luthfi


"Loh suka, Syifa sejak kapan?" tanya, Fahri


"Gercep", Vigo mengacungkan jempolnya


"Gue ngga ingat pastinya sih sejak kapan" jawab, Luthfi yang berusaha mengingat


"Masa ngga ingat? Kayak udah lama aja" cetus, Syifa yang penasaran


"Emang udah lama" sahut, Luthfi


"Lamanya kapan?" seru, Risa


"Kenapa loh yang kesal?" ujar, Fahri


"Luthfi nih. Lama banget jawabnya. Kan gue penasaran" kesal, Risa


"Jangan bertele-tele, Fi. Si, Risa udah mulai ngamuk tuh" ledek, Vigo


"Masa orientasi kayaknya" cetus, Luthfi


"Lama apaan? Itu baru tau" ketus, Syifa


"Belum genap setahun" sahut, Viona


"Maksudnya?" tanya, Syifa yang masih bingung


"Jangan bilang loh suka sama, Syifa sejak pertama kali masa orientasi di SMU", Fahri mencoba menebak


"Kayaknya ia" jawab, Luthfi


"What? omg. Beneran, Fi? Gila ini" teriak, Risa yang benar-benar terkejut


"Gila apanya? Ini justru bagus" tegur, Viona


"Beneran, Fi?" tanya, Vigo


Luthfi hanya mengangguk dan menoleh ke arah, Syifa yang beberapa kali mengerjap untuk mencerna dengan baik pernyataan, Luthfi


"Gue pertama kali lihat, Syifa saat orientasi terkahir di sekolah dulu. Ada drama dari kakak kelas, dan dia nangis karna kaget. Terus temannya ada yang pingsan. Dia bantuin temannya sambil nangis" tutur, Luthfi yang membelai kepala, Syifa yang masih tidak mengeluarkan suaranya


"Berarti loh lebih dulu suka sama, Syifa dong. Eh bentar. Itu kan pertama kalinya loh lihat, Syifa. Terus yang bikin loh suka gimana?" tanya, Risa


"Gue lihat air matanya tulus" sahut, Luthfi yang membuat semuanya tertawa kecuali, Syifa mengangkat wajahnya menatap, Luthfi


"Maksudnya gimana, Fi?" tanya, Viona yang tertawa


"Kalian juga pasti tau. Setiap orientasi terakhir. Biasanya ada drama dari kakak kelas. Gue yakin, sebenarnya udah banyak yang tau itu drama. Tapi tetap aja ikut-ikutan nangis. Cuma, Syifa yang gue lihat air matanya tulus" tutur, Luthfi yang kembali menjelaskan


"Benar sih. Gue aja tau itu drama. Tapi kalau, Syifa kan emang anaknya gampang nangis. Mau dia tau itu drama atau ngga. Kalau udah bawa-bawa rasa dan tangis mah, dia pasti ikutan nangis. Bukan karna dia ikutan nangis karna yang lain. Tapi emang karna dia terlalu perasa. Jadi suasana hatinya gampang banget kebawa" jelas, Risa


"Kok gue jadi pengen nangis sih" ketus, Syifa yang terharu mendengar keduanya

__ADS_1


"Jadi awal loh suka sama, Syifa dari situ?" tanya, Fahri yang masih ingin mendengar kelanjutannya


"Awalnya dari situ. Terus kan. Gue sama, Syifa ngga sekelas. Tapi beberapa kali gue sempat lihat dia. Kelas dia kan dulu dilantai dua. Kelas gue di lantai satu, tapi berseberangan. Jadi kadang-kadang gue, ngeliat dia lari-larian sama teman ceweknya. Sama, Risa juga waktu itu. Tapi yang paling bikin gue tersentuh. Tiap kali dia lewat mau ke kantin, dia selalu nunduk kalau jalan. Selalu berada ditengah. Di sampingnya selalu ada, Risa sama Riana. Yang sekarang pacarnya, Dika" jelas, Luthfi namun melirik ke arah, Risa


"Apaan sih, Fi" kesal, Risa


"Jangan baper dong" tegur, Viona


Terus-terus?" cetus, Vigo


"Kalau mau ke kantin kan harus ngelewatin lapangan. Dan di lapangan, itu ngga pernah kosong. Selalu ada yang main bola, Volli, Basket, banyak gitu. Dan dia selalu nunduk. Gue jadi makin penasaran sama nih cewek kan waktu itu. Dan gue selalu nemuin hal-hal unik dari dia. Selalu ketawa lepas kalau sama teman ceweknya. Tapi bakal diam seribu bahasa kalau ada cowok. Kalau ada cowok yang deketin, selalu bersikap cuek dan jutek. Mungkin banyak sih cewek yang lebih dari, Syifa. Tapi gue ngga tau, pandangan gue cuma selalu mau ke dia" penuturan, Luthfi sudah berhasil membuat air mata, Syifa berlomba-lomba berjatuhan ke pipinya


"Kok nangis, Fa?" tegur, Viona


"Syifa nangis terharu sayang" cetus, Vigo


"Gila. Gue baru tau loh. Sampai merinding gue", Risa memperlihatkan bulu kuduknya yang berdiri


"Dan akhirnya loh bisa dapetin, Syifa" ujar, Fahri


"Kenapa nangis?" tanya, Luthfi yang mengusap air mata istrinya


"Aku pikir. Perasaan aku selama ini ngga pernah terbalas" ucap, Syifa yang sesegukan


Luthfi tersenyum, "Selama ini aku ngga pernah nunjukin ke kamu. Aku cuma bisa lihat kamu dari jauh. Bahkan aku mikirnya kamu ngga suka sama sekali loh sama aku. Kamu ngelirik aku aja ngga pernah. Lewat di depan aku aja ngga pernah negur" ujar, Luthfi


"Kamu aja yang ngga pernah liat. Aku tuh selalu nyari celah buat lihat kamu. Soalnya kan kamu populer, sedangkan aku biasa aja. Aku malah mikirnya, kamu kenal sama aku aja ngga waktu itu. Soalnya kamu cuek banget. Aku tuh mikirnya, kamu tau aku pass kelas dua. Soalnya kita masuk di organisasi yang sama. Terus ya, masa aku yang negur kamu duluan. Gengsi lah aku" tutur, Syifa


"Nah ini nih. Kena banget. Yang satu cuek, yang satu gengsi. Untung takdir berpihak sama kalian. Coba kalau ngga, meradang tuh perasaan dibenak. Udah pengen dikeluarkan, eh malah tetap dipendam" celoteh, Risa


"Itu sama kayak perasaan loh sama, Fahri sekarang" ledek, Vigo


"Mulai deh, Go. Mulai deh. Selalu aja bawa-bawa gue sama, Fahri" gerutu, Risa


"Gue masih penasaran versi, Syifa nih yang pertama kali lihat dan suka sama, Luthfi gimana" seru, Fahri yang mengabaikan, Vigo dan Risa


"Gue setuju sama, Fahri


"Nanti ajalah gue ceritanya" sahut, Syifa


"Yah. Ngga asik", Viona menekuk wajahny


"Wah. Bumil nih bikin cewek gue cemberut" tukas, Vigo yang melihat kekasihnya cemberut


"Sabar deh, Vi. Anak gue butuh jeda buat bernapas lega dari ketegangan" sahut, Syifa yang membuat semuanya tertawa


*


*


*


*


*


Maaf. Tadi habis dari luar daerah. Jadi capek banget buat nulis. Ini aja aku paksain. Terus yah, aku punya ponakan kecil, kalau ngeliat hp aku, selalu pengen nonton Tayo, jadinya harus dipinjamkan kan biar ngga nangis? Nulisnya jadi telat lagi 🤭 Btw, nulis kisah di part ini tuh rasanya rada nyesak 🤧 Jadi keingat masa SMA dulu ceritanya. Untuk ceritanya sama, tapi bersatunya ngga 🙈 Sama2 pisah pass tamat SMA. Sekarang ngga tau kabarnya dia. Udah saling buka2an kalau suka, eh ternyata pisah daerah buat kuliah. Tapi ngga pernah jadian 😅 Ini aja aku bikin Syifa sama Luthfi bersatu, biar cuma aku sama dia yang ngga bersatu 🤭 tapi belum tau kan yah, soalnya masih sama2 belum nikah 😂 Cukup kisahku yg pisah, Luthfi sama Syifa jangan 😅 Sedikit banyak tuh kisahnya aku yang kutuangkan disini 😅 Tapi cuma 30% kok. Selebihnya alur belaka. Oh ia. Mungkin novel ini bakal aku tamatin di bulan ini. Mengingat jumlah eps nya juga udah bejibun kan yah 🤭 Terimakasih untuk teman2 yang selalu setia membaca novelku ini, yg setia menuangkan jempol likenya, komennya, terutama votenya 😊 Pokoknya makasih banget deh untuk kalian semua ❤

__ADS_1


__ADS_2