
"Pulang yuk? Nanti yang lain nyariin kita. Pinggang gue juga udah baikan dan udah bisa jalan lagi kek sekarang. Makasih yah, Reza" ucap, Syifa yang berterima kasih lalu mengajak, Reza pulang.
"Masih kuat jalan?" tanya, Reza yang memperhatikan kaki, Syifa.
"Masih kok, tenang aja. Gue ngga akan minta digendong" ujar, Syifa yang tertawa.
"Padahal kalau loh minta juga, udah gue siapin nih punggung gue buat ngegendong loh" tukas, Reza yang serius dengan ucapannya. Syifa menepuk pundak, Reza dengan tersenyum
"Gue pasti bilang kok kalau gue capek. Tapi sekarang gue benar-benar ngga apa-apa. Loh liat sendiri kan gue baik-baik aja"
"Ya sudah. Ayo" ajak, Reza dan Syifa mengangguk cepat. Mereka berdua akhirnya kembali ke tenda setelah puas berjalan-jalan menikmati pemandangan di siang hari dengan cuaca yang tidak panas hingga terik tidak harus menyengat kulit mereka.
Sepanjang jalan, Reza dan Syifa berbincang dan tak lupa menyelipkan candaan untuk sekedar menghilangkan kecanggungan diantara keduanya. Tibalah mereka di depan tenda, Reza segera membuka penutup tenda tersebut untuk membiarkan, Syifa terlebih dahulu masuk sebelum dirinya menyusul.
"Gimana jalan-jalannya?" tanya, Risa saat, Syifa sudah duduk di sampingnya. Syifa melirik, Luthfi sekilas sebelum menjawab pertanyaan, Risa
"Bagus kok" ucapnya dengan tersenyum pekik, "Udaranya segar" imbuhnya.
"Udaranya yang segar atau segar karna perginya sama, Reza?" sindir, Celia yang tiba-tiba bersua.
"Sirik loh? Karna ngga ada yang ngajakin loh jalan?" saut, Viona yang tertawa.
"Jangan sembarangan loh kalau ngomong" tunjuk, Celia kepada, Viona denga kesal.
"Apa? Gue ngomongin fakta tuh" bentak, Viona yang balik menantang.
"Udah-udah. Apaan sih jadi ribut" sergah, Syifa yang menghentikan keributan keduanya.
"Tau nih, Marcelia. Doyan banget nyari ribut" timpal, Vigo yang berada di sebelah, Viona.
"Sudah" seru, Luthfi dan semuanya langsung terdiam. Syifa menatap, Luthfi namun, Luthfi tak menghiraukannya.
"Loh ngga mau balik ke tenda loh?" tanya, Fahri kepada, Vigo.
"Loh ngusir gue ceritanya?" ledek, Vigo.
"Terserah loh" pasrah, Fahri yang sudah lelah bila harus meladeni lagi temannya yang satu ini.
"Mungkin mereka mau istirahat. Sebaiknya kita kembali ke tenda juga untuk istirahat" ajak, Reza kepada teman-teman kelompoknya.
"Tuh, Reza aja peka. Masa kalian ngga" cetus, Celia dengan sindirannya kepada kedua gadis tersebut.
"Diam loh" bentak, Risa. "Ayo kita pulang. Fa, gue balik dulu yah? Nanti gue kesini lagi" ucap, Risa, "Fi, jagain, Syifa" lanjutnya. Syifa dan Luthfi hanya mengangguk.
"Gue pulang, Ri", ucap, Vigo yang menepuk pundak, Fahri. Mereka berempat pun kembali ke tenda mereka untuk istirahat dan mengisi perut mereka yang sudah mulai keroncongan.
"Marcelia, temenin gue ngambil makanan di tenda pembina" ajak, Fahri kepada, Celia.
"Ngga mau. Loh aja sana" tolak, Celia yang tidak ingin berkutik dari tempatnya.
"Eh, tangan gue cuma dua. Loh pikir gue bisa bawa makanan dan minuman? Kalau loh ngga mau ikut, ngga bakal gue ngambilin jatah loh" ancam, Fahri agar, Celia mau pergi menemaninya dan memberi ruang, Syifa serta Luthfi yang terlihat canggung.
__ADS_1
"Kok loh jahat banget sih?" kesal, Celia. "Loh mau ikut apa ngga nih?" tukas, Fahri. "Ya udah ayo. Ngeselin banget", Celia menyentakan kakinya lalu mendahului, Fahri keluar dari tenda. Fahri pun mengikut setelah berpamitan kepada, Syifa dan Luthfi.
hening
hening
"Jalan-jalan dimana tadi?", Luthfi membuka suara setelah beberapa menit keheningan melanda mereka.
"Di sekitar sini aja kok. Ngga jauh", jawab, Syifa yang terus menggigit bibir bawahnya.
"Oh" ucap, Luthfi, dengan singkat.
"Loh juga jalan yah setelah nemenin, Celia dari toilet?" tanya, Syifa dengan hati-hati.
Luthfi menatapnya dengan mengerutkan dahinya, "Ngga! Gue langsung pulang dan ngga ngeliat loh lagi disini" ujarnya yang memalingkan wajahnya
"Reza tadi ngajakin gue jalan. Kan ngga enak kalau gue nolak. Dan gue juga harus banyak-banyak gerak kan supaya bisa jalan normal lagi" jelas, Syifa dengan pelan yang kesusahan menelan salivanya.
Luthfi melirik, Syifa dengan ujung matanya tak berkata.
"Kenapa?" tanya, Syifa dengan gugup.
"Ngga apa-apa. Gue pengen tidur", Luthfi membaringkan tubuhnya di samping, Syifa dengan menutup matanya menggunakan pergelangan tangannya.
"Kenapa sih dia ini? Apa dia marah? Tapi marah kenapa coba? Gue kan ngga ada salah" batin, Syifa yang menggaruk pipinya.
***/
"Ia. Beres-beres aja dulu" saut, Vigo. "Pagi ngga sih?" tanya, Risa.
"Apanya?", Reza malah bertanya balik. "Pulangnya, Reza" tukas, Risa. "Oh. Kita pulangnya sore ke penginapan yang kemarin" jawab, Reza.
"Za? Loh suka sama, Syifa yah?" tanya, Risa yang terang-terangan. "
Gue?", Reza menunjuk dirinya yang terkejut dengan pertanyaan, Risa.
"Apaan sih, Sa. Kok jadi nanya gitu ke, Reza", Viona menegur, Syifa saat melihat, Reza salah tingkah.
"Menjebak" ujar, Vigo yang tertawa. "Gue kan cuma nanya doang, salahnya dimana coba" ketus, Risa yang mencibir.
"Yah. Gila kali loh yah, nanya-nanya hal privat gitu. Ngga liat apa loh, Reza jadi malu gitu loh tanya", Viona menunjuk, Reza dengan ekor matanya.
"Pertanyaan gue salah yah, Za?" tanya, Risa dengan polosnya.
"Ngga sih", Reza menggaruk kepalanya yang enggan menjawab pertanyaan, Risa.
"Udah ngga usah jawab, Za. Risa ini nanya suka ngawur emang" sergah, Viona hingga, Reza hanya tersenyum pekik.
"Pengen tidur dulu gue" ucap, Vigo.
***/
__ADS_1
"Beres-beres dulu yuk. Besok kita kembali ke penginapan" ajak, Syifa kepada ketiganya.
"Beresin barang gue juga dong. Gue capek banget" pinta, Celia kepada, Syifa.
"Loh punya tangan sendiri kan? Beresin sendiri barang loh sana. Ngapain nyuruh-nyuruh, Syifa" tegur, Fahri.
"Gue kan nyuruh, Syifa, bukan nyuruh loh" lagi-lagi perdebatan dimulai oleh keduanya.
"Kalian ini kenapa sih? Ribut mulu kerjaanya" sergah, Syifa yang jengah dengan keributan keduanya.
"Marcelia, beresin barang-barang loh sendiri. Jangan nyuruh orang" perintah, Luthfi dengan dingin kepada, Celia
"Ia, Luthfi. Sorry" ucap, Celia dengan takut. Fahri hanya menahan tawanya. Sedang, Syifa memperhatikan sikap, Luthfi yang dingin dan cuek.
"Setelah ini gue boleh ngomong sama loh ngga? Diluar tapi" pinta, Syifa kepada, Luthfi. Luthfi hanya mengangguk cuek.
Fahri menyadari kerenggangan keduanya, "Ngobrolnya di sini aja. Biar gue sama, Celia ke tenda, Risa"
"Ogah gue kesana. Lagian ngapain coba kesana?" tolak, Celia yang bergidik.
"Loh ngga dengar, Syifa mau ngomong sesuatu sama, Luthfi?" tanya, Fahri yang kesal.
"Ya udah sih ngobrol aja" ketus, Celia.
"Keluar" cetus, Luthfi dengan suara dinginnya hingga terpaksa membuat, Celia keluar dari tenda mengikuti, Fahri
"Loh marah yah sama gue?" tanya, Syifa saat hanya ada mereka berdua di sana.
"Ngga" jawab, Luthfi dengan singkat.
"Ngga marah, tapi ngga mau ngeliat gue ngomong" sindir, Syifa.
"Apa?", Luthfi akhirnya melihat kearah, Syifa dengan malas.
"Kalau gue ada salah tuh ngomong, jangan diam" gerutu, Syifa yang cemberut. Luthfi bermalas-malasan menanggapi pertanyaan, Syifa.
"Jawab! Kenapa loh diam aja" seru, Syifa yang kesal dengan, Luthfi karna mengabaikan dirinya. Luthfi menghela napas kasar
"Ngapain tadi jalan berdua sama, Reza?" tanya, Luthfi yang menaikkan intonasi suaranya.
"Apa salahnya coba kalau gue jalan sama, Reza? Loh aja mau nemenin, Celia ke toilet" seru, Syifa yang tidak ingin salah.
"Itu karna gue ketua kelompok" titah, Luthfi yang menjelaskan.
"Dan itu, juga karna gue pengen bisa jalan lebih cepat" ujar, Syifa yang juga tidak ingin kalah.
"Alasan" guman, Luthfi.
"Loh aja tuh yang alasan" bantah, Syifa yang mendengar gumanan, Luthfi.
"Selalu saja" batin, Luthfi.
__ADS_1
"Ngeselin" batin, Syifa