
"Jadi loh marah karna apa?" tanya, Syifa sudah begitu kesal. "Emang gue tadi bilang marah", Luthfi malah balik bertanya.
"Ngga loh bilang juga udah keliatan dari muka loh" tukas, Syifa. "Marah kenapa sih?" imbuhnya.
"Jangan jalan sama laki-laki lain. Apalagi senyum-senyum yang menggoda" ujar, Luthfi tanpa melihat, Syifa. Syifa refleks memukul dada, Lutfi,
"Sembarangan loh kalau ngomong. Kapan gue pernah senyum-senyum menggoda gitu? Loh pikir gue cewek apaan" seru, Syifa yang jengkel.
"Loh senyum itu udah menggoda mereka" jelas, Luthfi menatap dalam bola mata, Syifa.
"Menggoda apaan sih? Kenapa juga gue ngga boleh senyum-senyum ke cowok lain? Gue kan punya bibir jadi bisa senyum. Coba gue ngga punya bibir, yah baru ngga bisa senyum lah gue" papar, Syifa dendam detailnya.
"Loh ngelarang gue jalan sama cowok lain, padahal loh sendiri juga jalan tuh sama, Celia" lanjutnya.
"Yang jalan sama, Celia siapa? Gue cuma nganterin dia ke toilet" tutur, Luthfi yang berusaha menjelaskan,
"Yah mana gue tau loh kemana habis dari toilet gitu", Syifa mengangkat kedua bahunya.
"Gue ngga kemana-mana dan langsung balik ke sini. Loh yang ngga tau karna loh jalan sama, Reza saat gue ngga ada disini" sindir, Luthfi yang melirik, Syifa.
"Loh nyindir gue ceritanya?" seru, Syifa yang menajamkan tatapannya.
"Ngga. Loh yang kesindir sendiri" bantah, Luthfi lalu mengalihkan pandangannya.
"Ngapain juga loh nyuruh-nyuruh gue buat ngga dekat-dekat sama cowok lain. Kita kan cuma teman. Loh aja bisa bebas mau dekat sama siapapun. Masa gue ngga boleh. Kan ngga adil" gerutu, Syifa yang mencibikkan bibirnya.
"Gue ngga pernah dekat sama siapapun" ucap, Luthfi dengan sungguh-sungguh. Syifa menatap, Luthfi yang menampakkan wajah seriusnya.
"Oh ia yah. Dia kan ngga pernah dekat sama cewek manapun. Bodoh banget sih gue" batin, Syifa yang meruntuki kebodohannya.
"Tapi tetap aja, lo.. " ucapan, Syifa terpotong oleh ucapan, Luthfi
"Ayo nikah", Syifa membulatkan kedua matanya mendengar ucapan, Luthfi. Degupan jantungnya berpacu dengan cepat, wajahnya memerah
"A..... Apa? Ta... Tadi... Loh bilang apa?" ucap, Syifa yang terbata-bata dengan salah tingkah.
__ADS_1
"Ayo kita nikah", Luthfi mengulang perkataannya, dan tetap saja membuat jantung, Syifa semakin berdegup kencang. Mulutnya sejenak bungkam.
"Syifa?" panggil, Luthfi dengan pelan.
"Tunggu!", Syifa menaikkan tangannya untuk mencegah, Luthfi berbicara.
"Tadi loh bilang apa? Nikah? Perkara nikah itu ngga boleh di bikin bercanda, Luthfi" ujar, Syifa setelah berhasil menguasai dirinya.
"Gue ngga lagi bercanda. Ayo kita nikah", Luthfi kembali mengulang perkataannya dengan bersungguh-sungguh.
"Loh ngajakin gue nikah kek loh mau ngajakin gue naik gunung aja tau ngga" seru, Syifa yang jengkel.
"Terus gimana? Gue harus ngelamar loh di depan teman-teman?", Luthfi menaikkan kedua alisnya. Tentu saja itu mendapat cubitan di perutnya dari, Syifa.
"Kalau ngomong asal aja. Ngga mau yah gue dilamar-lamar gitu. Sok romantis banget", Syifa bergidik ngeri jika membayangkannya.
"Lagian ngapain juga loh ngajakin gue nikah?" imbuhnya.
"Biar gue punya hak buat ngelarang loh" tutur, Luthfi dengan santainya.
"Gitu doang? Loh pikir nikah cuma buat bisa ada larang-larangan doang? Ngga sesimple itulah" jengah, Syifa mendengar jawaban, Luthfi.
"Jadi? Jawaban loh apa?", Luthfi kembali bertanya setelah tidak mendapat jawaban dari gadis tersebut.
"Loh beneran?" tanya, Syifa dengan hati-hati. "Gue ngga bercanda, Syifa" geram, Luthfi kepada, Syifa yang tidak kunjung melihat keseriusannya.
"Setelah kita lulus kuliah?" tanya, Syifa lagi. "Kelamaan" ucap, Luthfi dengan lirih.
"Terus loh maunya kapan?", Syifa mengerutkan dahinya dan memiringkan sedikit kepalanya.
"Setelah ujian bulan depan" ujar, Luthfi dengan santai namun tidak dengan, Syifa. Matanya membulat sempurna ketika ucapan, Luthfi keluar dari mulutnya
"Bulan depan? Jangan gila, Fi. Apa kata orang nanti? Kalau mereka nganggap gue hamil diluar nikah gimana? Masa baru kuliah udah nikah. Yang ada keluarga gue bakal ngecap gue hamil duluan tau" seru, Syifa dengan hebohnya.
"Suara loh pelanin dikit bisa ngga?" pinta, Luthfi dan, Syifa seketika menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Maaf"
"Tapi beneran deh, Fi. Ya masa bulan depan. Ngga mungkin jugalah" cetus, Syifa dengan pelan.
"Apanya yang ngga mungkin?" tanya, Luthfi dengan suara dinginnya.
"Luthfi! Ini tuh cepat banget. Orang-orang bakal ngira gue hamil diluar nikah, makanya gue cepat-cepat pengen nikah biar ada yang tanggung jawab gitu" jelas, Syifa yang membuat, Luthfi menatapnya tanpa berkedip sama sekali.
"Ke...Kenapa loh natap gue gitu?", Syifa terbata dan gugup, Luthfi menatapnya dengan tanpa ekspresi.
"Sampai kapan harus selalu mendengarkan perkataan orang lain?" telak, Luthfi. Kata-kata, Luthfi barusan membuat, Syifa bungkam dan berpikir sendiri.
Memang seperti itulah adanya. Syifa terlalu mendengarkan perkataan orang lain hingga sesak di dadanya ia rasakan sendiri. Ia mungkin sudah terbiasa mendengar hal semacam itu. Namun, Syifa bukan gadis yang sering di gosipkan oleh tetangganya mengingat dia tidak pernah membawa pulang laki-laki kerumahnya.
Dia tumbuh sebagai anak yang manis di lingkungannya. Itu sebabnya, Syifa sangat menjaga imagenya agar tidak ternodai dimata keluarga dan juga tetangganya.
"Loh pasti juga tau kenapa gue jadi gini" ucap, Syifa dengan pelan dan lesu.
"Maaf", Luthfi membelai kepala, Syifa, "Yah. Harusnya gue bisa ngerti. Tapi bukankah pernikahan itu ngga boleh ditunda-tunda jika sudah ada niat yang baik?", Luthfi menatap lembut bola mata, Syifa.
"Tapi kan gue ngga tau mau bilang apa ke keluarga gue. Masa gue bilang, 'bulan depan, Syifa mau nikah yah'. Boro-boro dapat restu, dapat coretan keluar dari KK ia" ocehan, Syifa membuat, Luthfi tertawa.
"Loh juga ngapain ketawa? Orang tua loh juga pasti bakal mikir yang aneh-aneh. Yakali baru semester 2 udah main nikah aja" lanjutnya dengan terus mengoceh.
"Ngga akan mereka mikir yang aneh-aneh. Gue pernah bilang mau nikah muda. Dan menikah saat gue masih kuliah. Gue mau berjuang sama istri gue dari bawah, bukan pada saat gue udah sukses" tutur, Luthfi yang membuat, Syifa tersipu malu.
"Tapi kan emang orang kebanyakan nunggu sukses dulu baru nikah" tanya, Syifa yang penasaran.
"Akan ada banyak gadis yang datang ke gue saat gue udah sukses" jelas, Luthfi.
"Bukannya sekarang juga banyak gadis yang antri mau sama loh yah?" tanya, Syifa dengan polosnya.
"Mereka antri buat jadi pacar gue, bukan buat jadi suami mereka" papar, Luthfi. Syifa menggaruk kepalanya
"Ia sih. Tapi kan emang mereka maunya senang-senang sama pacar mereka" ujar, Syifa yang tidak ingin terlihat kalah.
__ADS_1
"Gue maunya senang-senang sama istri. Bukan sama pacar sebelum pernikahan. Gue pacaran setelah menikah" ucapan, Luthfi lagi-lagi membuat debaran jantung, Syifa ingin lari dari tempatnya.
"Ayo kita menikah bulan depan" ajak, Luthfi