Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Emang bukan jodoh


__ADS_3

"Udah lama nunggu?" tanya, Dika ketika, Risa sudah masuk ke dalam mobil


"Ngga kok. Teman-teman gue baru aja pergi" jawab, Risa yang meletakkan tas di pangkuannya


"Mereka ngga marah kan loh pergi sama gue?", Dika menoleh pada, Risa


"Ngga. Cuma nanya-nanya aja kenapa loh mau ketemu sama gue. Udah ayo pergi" seru, Risa ketika, Dika hanya memandanginya tanpa melajukan kendaraannya


Dika melajukan kendaraannya menuju taman di dekat danau yang sekiranya nyaman untuk membuat mereka berbicara empat mata


"Jadi ada apa?" tanya, Risa yang duduk di tanah dekat danau di hadapannya


"Gue mau ngomong sesuatu sama loh" ujar, Dika yang menatap penuh harap pada, Risa


"Ia. Gue tau loh mau ngomong sesuatu sama gue" sahut, Risa yang tidak ingin melihat ke arah, Dika


"Risa" panggil, Dika


Risa menelan ludahnya. Dengan gugup, ia menoleh pada, Dika yang kini tengah menatap dirinya. Detakan jantungnya kembali berpacu dengan cepat. Ia mengalihkan pandangannya karna tidak kuasa menahan bersitatap dengan, Dika


"Loh mau ngomong apa sama gue?" tanya, Risa yang menatap lurus ke depan


"Sebegitu bencinya loh sama gue? Bahkan untuk ngeliat gue aja loh sampai ngga mau?", Dika tersenyum kecut


"Ngga gitu, Dik" jawab, Risa dengan cepat dan menoleh pada, Dika. "Teman-teman gue pasti lagi nungguin gue di rumah. Mereka lagi ngumpul di rumah. Kan ngga enak kalau gue yang ngga ada"


"Termasuk cowok loh?" tukas, Dika


Risa sejenak terdiam dan tidak menjawab, "Maksud loh, Fahri?" tanyanya


"Gue ngga tau namanya siapa" sahut, Dika dengan suara yang tidak suka menyebut nama pria itu


"Jadi loh mau ngomong apa? Soalnya gue ngga bisa lama-lama disini" ujar, Risa yang selalu menampilkan sisi feminimnya jika berada di dekat, Dika.


Berbeda jika ia bersama ke-lima temannya itu. Ia selalu menampilkan sisi dirinya yang sebenarnya. Kekonyolannya, keteledorannya, dan semua tingkah alamiahnya


Dika menghembuskan napas panjang, lalu beralih menatap, Risa, "Gue kesini bukan buat minta loh balik jadi pacar gue" ucapnya dengan dalam


Risa terdiam dengan menahan sesaknya, namun sudah tidak sesesak dulu. Bahkan sempat sakit hanya karna, Dika memutuskan hubungan dengannya. Hubungannya dengan, Dika kerap kali putus nyambung. Hingga ia merasa sudah biasa dan akan kembali lagi. Namun semuanya berubah ketika dirinya masuk ke Universitas yang jauh dari, Dika


"Jujur. Gue masih sayang sama loh" ujar, Dika


Risa masih tetap tidak ingin mengeluarkan suaranya. Ia menunggu, Dika melanjutkan ucapannya


"Gue baru sadar. Kalau cuma loh yang bisa nerima semua kekurangan gue" ucap, Dika yang menghela napas. "Tapi sekarang gue mau ngelepasin loh. Karna gue benar-benar ngga tepat buat loh" imbuhnya


Risa mengerutkan keningnya, "Maksud loh?"


Dika mengambil sesuatu dari dalam ransel yang ia bawa sedari tadi. "Ini" kemudian menyerahkannya pada, Risa


"Undangan pernikahan?" batin, Risa dengan gugup


Risa menerima undangan tersebut dengan gemetar, "Ini apa?" tanyanya dengan gugup


"Buka" jawab, Dika


"Ya Tuhan" erang, Risa yang membatin


Perlahan, Risa membuka undangan tersebut, lalu membaca isinya. Matanya membulat sempurna melihat nama yang tertera disana


"Loh sama, Riana mau nikah?" tanyanya dengan penuh keterkejutan menatap, Dika tidak percaya


Dika mengangguk, "Ia. Gue sama, Riana mau nikah bulan ini. Itu undangan buat loh. Gue harap loh bisa datang" lanjutnya dengan pelan


Risa berulang kali membaca nama yang tertera disana. Berharap bahwa matanya salah melihat. Namun tetap saja tidak ada perubahan. Dengan senyum yang ia paksa, ia mengulurkan tangannya


"Selamat yah? Semoga kalian bisa selalu bahagia" ucapnya dengan tangis yang ia tahan sebisa mungkin. Bagaimana bisa ia tidak bersedih mendapat undangan pernikahan dari mantan kekasihnya


"Gue harap loh bisa datang", Dika membalas uluran tangan, Risa


"Oh ia. Gue pulang duluan yah? Takut anak-anak nyariin gue" seru, Risa yang sudah berdiri


"Gue antar" tawar, Dika yang ikut berdiri


"Ngga usah. Gue takut, Fahri salah paham. Gue duluan yah" seru, Risa yang berlalu dari sana dan secepat mungkin mencari taksi yang lewat


Sepanjang perjalanan, tangisnya tidak berhenti berderai. Isaknya semakin menjadi-jadi. Dadanya sesak mendengar mantan kekasih yang masih ia sukai, sebentar lagi akan menikah dengan mantan temannya. Bahkan supir taksi yang ia tumpangi beberapa kali melirik dari balik spion tengah. Namun tidak berani untuk bertanya


Bahkan sampai dirinya sudah memasuki rumah. Tangisnya belum juga reda. Dan tanpa mempedulikan teman-teman yang memanggilnya, ia terus berlalu masuk ke dalam kamarnya. Bahkan terdengar samar-samar suara, Syifa yang memarahi, Luthfi


***


"Udah stop. Apaan sih kalian ini. Harusnya kita cari tau kenapa, Risa bisa nangis gitu? Bukannya malah berantem" seru, Viona yang sudah kesal


"Ayo duduk dulu" ajak, Vigo


Luthfi yang sudah beberapa kali menahan kesal, terus menghela napas untuk tidak meluapkan emosinya. Mengingat, Syifa sedang dalam keadaan hamil


"Ayo sini duduk", Luthfi menarik, Syifa yang masih cemberut, "Aku kan disini terus sama kamu. Jadi aku ngga tau, apa aja yang dibicarakan sama mereka. Apalagi, Dika. Kamu pernah lihat aku ngobrol sama, Dika sebelumnya? Kan ngga pernah lagi" ia berusaha menjelaskan pada istrinya

__ADS_1


"Ia, maaf" meskipun selamanya kehamilannya ia mudah marah. Namun, Syifa juga mudah luluh hatinya. Pelukan, Luthfi selalu membuatnya kalah


"Gitu dong" seru, Viona yang merasa lega


"Ini, Fahri kemana? Ngga balik kesini?" tanya, Vigo


"Telpon dia, Go. Ngapain nanya ke kita" seru, Syifa


Vigo hendak membalas. Namun, Luthfi dengan cepat menatap tajam dirinya. Memberi kode untuk tidak membalas. Vigo hanya menghela napas lalu merogoh ponselnya yang berada di saku celananya


Vigo, mengetik nama, Fahri dilayar kontak ponselnya, lalu menekan tombol memanggil. Ia tempelkan ponsel itu ke telinganya


"Speaker aja" perintah, Viona


Vigo menurut. Ia menekan tombol speaker dan meletakkan ponselnya ke depan dadanya


"Halo" seru, Fahri setelah menjawab panggilan, Vigo


"Loh dimana? Lama amat loh" sahut, Vigo


"Gue di rumah. Kenapa?"


"Di rumah? Loh ngga kesini?" tanya, Viona


"Ngga. Lagi malas"


"Kenapa loh, Ri? Sakit hati?" ledek, Luthfi


"Sakit hati apaan? Ngaco"


"Baru aja kita mau minta tolong" seru, Syifa


Ketiga pasang mata itu seketika langsung mengarah ke, Syifa dengan penuh tanda tanya


"Mau minta tolong apa bumil?"


"Mau minta tolong bujuk, Risa supaya keluar dari kamar. Soalnya dia pulang-pulang langsung nangis. Ngga ngomong apa-apa juga sama kita. Langsung aja ke kamarnya. Sekarang belum keluar" ujar, Syifa


Viona Dan Vigo mengacungkang jempolnya pada, Syifa. Sedangkan, Luthfi mengacak gemas rambut istrinya yang selalu menggemaskan


"Risa pulang-pulang nangis? Kenapa?" suara, Fahri terdengar panik


"Karna itu kita ngga tau. Makanya loh kesini" tukas, Syifa


"Ok. Gue kesana sekarang"


Fahri mematikan sambungan telepon milik, Vigo. Syifa tersenyum puas mendengarnya


"Bumil terbaik deh" sahut, Viona


***


"Risa mana?" tanya, Fahri ketika dirinya sudah sampai di rumah, Risa


"Di kamarnya. Ayo" ajak, Vigo


Mereka menuju kamar, Risa yang tertutup rapat. Suara isakan pun terdengar dari balik pintu


"Sa? Risa?", Fahri mengetuk pintu kamar itu


"Sa? Buka pintunya", Viona dan Syifa ikut mengetuk pintu kamar, Risa, namun tidak ada sahutan dari baliknya


"Dobrak aja" seru, Luthfi yang meletakkan telunjuk jarinya ke bibir menandakan bahwa ini hanyalah ancaman belaka


"Dobrak, Ri", Vigo ikut menimpali


"Gue dobrak, Sa" seru, Fahri


*B*ruk!!!!!


Terdengar suara bantingan dari dalam yang mengenai pintu hingga membuat mereka terkejut


"Pergi sana. Gue ngga mau diganggu" teriak, Risa dari dalam


"Jangan gitu loh, Sa" teriak, Viona


"Gue yang dobrak yah pintunya. Biarin aja anak gue kenapa-napa" teriak, Syifa yang mengancam, "Bantuin gue. Hitung sampai tiga" serunya yang mengedipkan matanya ke teman-temannya


"satu"


"dua"


"ti...... "


Ceklek


Risa dengan cepat membuka pintu dengan perasaan dongkol. Menatap kesal pada, Syifa


"Apaan sih? Gue lagi pengen sendiri. Ngapain ganggu gue? Pake bawa-bawa nama ponakan gue segala lagi" serunya dengan kesal. Air matanya masih mengalir disana

__ADS_1


"Loh yang kenapa? Pulang-pulang langsung nangis. Kayak anak alay aja loh", Syifa tidak kalah meninggikan suaranya


"Sini loh", Fahri menarik tangan, Risa untuk menuju ruang tv tempat dimana mereka biasa berkumpul. "Sekarang cerita. Loh kenapa?" lanjutnya


Fahri mendudukkan, Risa di sebelahnya. Ke-empat temannya ikut duduk


"Gue ngga kenapa-napa" jawab, Risa yang masih terisak sesekali


"Ngga kenapa-napa tapi nangis. Dasar cewek" desah, Vigo yang tidak mengerti


"Cerita aja tuh kenapa sih, Sa?" desak, Viona


"Loh nangis gitu kayak orang lagi ditinggal nikah" cetus, Luthfi


"Yah emang gue ditinggal nikah" seru, Risa yang malah semakin menangis


"Ha?", Fahri terkejut dibuatnya


"Serius loh, Sa?" kaget, Vigo


"Siapa? Dika? Mantan loh itu?" tukas, Viona


"Ngapain sih harus nyebut nama?" teriak, Risa


"Dika mau nikah? Sama siapa?" tanya, Luthfi yang tidak kalah terkejut


"Pasti sama, Riana" sahut, Syifa


"Jadi gini yah ternyata rasanya ditinggal nikah" seru, Risa yang menangis deras namun terlihat lucu bagi yang lain


"Dasar bucin" ketus, Syifa


"Loh ngga tau aja gimana rasanya, Fa. Sakit tau ngga. Gini banget nasib gue" teriak, Risa


"Artinya dia emang bukan jodoh loh. Loh putus aja sama dia udah bukan jodoh" tegur, Fahri


"Harusnya gue yang duluan nikah. Bukan dia" ujar, Risa dengan isaknya


"Emang calon loh siapa? Gue? Gue belum siap nikah sekarang" ledek, Fahri


"Fahri" teriak, Risa yang masih menangis


"Astaga", Luthfi mendesah


"Apa gini yah rasanya jadi mereka" racau, Risa di sela-sela tangisnya


"Jadi mereka? Siapa?" tanya, Syifa


"Itu loh. Yang artis-artis ditinggal nikah itu" seru, Risa yang membuat semuanya tertawa


"Pikiran loh dangkal banget", Fahri mendorong kening, Risa dengan telunjuknya


"Emang loh bisa ngeliat pikiran gue? Kan ngga. Terus ngapain loh ngatain pikiran gue dangkal? Pikiran gue tuh dalam yah" seru, Risa dengan kesal yang tidak terima, Fahri mendorong keningnya


"Loh cerewet banget sih? Gimana orang mau simpatik sama loh" ketus, Fahri


"Sakit banget yah, Sa ditinggal nikah?" tanya, Viona dengan serius


"Loh bayangin aja gimana kalau, Vigo ninggalin loh nikah sama cewek lain" seru, Risa


"Jangan sembarangan loh, Sa" tegur, Vigo


"Takut banget loh, Go" ledek, Luthfi


"Ya ialah. Gue kan sayang sama, Viona. Ngga bakal gue tinggalin, Viona demi cewek lain" sahut, Vigo


"Buaya" ledek, Syifa


"Beneran, Fa" tukas, Vigo


"Ini ngga ada yang mau ngajakin gue ngevlog bareng gitu?" tanya, Risa yang masih dalam keadaan menangis


"Ngapain ngevlog? Kurang kerjaan amat" sahut, Syifa yang tidak mengerti


"Yah siapa tau kan bisa trending dan viral dimana-mana, kek vlog artis-artis yang ditinggal nikah itu" seru, Risa yang di sel-sela tangisnya


"Astaga"


Tawa terdengar cukup keras tatkala, Risa membuat lelucon. Padahal dirinya tengah dirundung kesedihan karna akan ditinggal nikah.


"Otak, otak" tukas, Fahri yang mengetuk-ngetuk jidat milik, Risa


*


*


*


*

__ADS_1


*


Panjang loh part ini 🤭 Nih, buat fansnya yg kmrin2 nyerang aku😅✌🏻. Jangan lupa like dan vote 😊 Terima kasih untuk yang sudah mendukung 🤗


__ADS_2