
"Kami akan mempersembahkan sebuah seni teater untuk kalian semua" seru, Luthfi yang saling berpegangan tangan satu sama lain.
Sorakan dan tepuk tangan membuat suasana yang tadinya horor kini menjadi lebih riuh.
Luthfi dan Syifa sedang duduk disebuah taman. Syifa memegang botol minum, sedang, Luthfi berada di sampingnya sibuk merapikan rambut, Syifa
"Aku ngga bisa buka", Syifa menyerahkan botol minumannya kepada, Luthfi. "Susah bukanya, tanganku sampai sakit" lanjutnya dengan manja
Luthfi hanya tersenyum menerima botol minum tersebut dan membuka tutupnya, lalu menyerahkannya kembali kepada, Syifa. "Ini", Luthfi kembali merapikan rambut, Syifa
"Terima kasih" ujar, Syifa. "Oh ia, Gio", Luthfi mendongak kearah, Luthfi yang memerankan toko, Gio. "Besok aku diajakin jalan sama, Nita boleh ngga?" ijin, Syifa
"Mau jalan kemana?"
Luthfi melirik, Syifa dan tetap merapikan rambutnya
"Ngga tau juga" saut, Syifa yang menggeleng. "Tanyain ke, Nita. Mau ngajakin kamu kemana? Kalau jauh aku ngga kasih izin" tegas, Luthfi
"Kok gitu sih", Syifa nenegakkan tubuhnya sedikit menjauh dari, Luthfi dengan wajah cemberut. "Kan cuma pengen jalan sama, Nita aja masa ngga boleh" rajuknya
"Bukannya ngga boleh. Kalau tempatnya dekat ngga apa-apa. Tapi kalau jauh, ngga boleh", Luthfi menarik lengan, Syifa untuk medekatnya lagi, menyampirkan satu tangannya untuk menjadi penyangga punggung, Syifa lalu memainkan rambut, Syifa
Teriakan para gadis terdengar menggema melihat, Luthfi yang seakan terlihat memeluk, Syifa dengan satu tangannya
"Luthfi bikin gue baper"
"So sweet"
Luthfi dan Syifa berusaha untuk tidak menghiraukan ocehan teman-teman mereka
"Tapi kalau ke pantai ngga apa-apa kan?", Syifa melirik kearah, Luthfi yang berada diatas kepalanya. "Kalau dekat boleh" jawab, Luthfi dengan lembut. "Benar yah? Awas kalau bohong. Aku, cubit perut kamu", Syifa mencubit perut, Luthfi
"Eh. Jangan dicubit sekarang", Luthfi memegang tangan, Syifa lalu menarik menuju bibirnya, memberikan kecupan di punggung tangan, Syifa
"Gue mau"
"Luthfi!!!!!!"
"Gue cemburu"
Syifa hanya tersenyum dan melingkarkan tangannya yang satu ke pinggang, Luthfi
"Terima kasih" ucap, Syifa mendongak kearah, Luthfi hingga keningnya tepat dibibir, Luthfi, ia mengecupnya dengan singkat.
Lagi-lagi, jeritan para gadis terdengar histeris. Namun, Syifa dan Luthfi berusaha untuk tidak peduli demi suksesnya pertunjukan mereka
"Arsy?" panggil seseorang dari belakang mereka berdua
"Nita", Syifa melepas tangannya yang melingkar di pinggang, Luthfi. Senyumnya melebar dengan kedatangan teman yang mengajaknya pergi tadi.
"Sorry gue ganggu" tukas, Nita.
"Ngga kok. Ada apa?" sergah, Syifa. "Sini duduk dulu", Syifa menggeser sedikit posisi duduknya mendekat ke, Luthfi dan memberi tempat untuk, Nita. "Kamu bisa nemenin aku malam ini ngga dirumah? Soalnya mama aku lagi keluar kota. Dan, mungkin rencana jalan-jalan kita besok ngga jadi" ujar, Nita yang duduk di samping, Syifa
__ADS_1
Syifa melirik, Luthfi. "Boleh ngga?", Syifa meminta izin kepada, Luthfi dengan mengembungkan pipinya. "Tanya sama bunda dulu. Bunda ngebolehin ngga?", Luthfi menoel-noel pipi, Syifa. "Tapi kalau bunda ngebolehin aku nginap dirumah, Nita. Berarti kamu juga ngebolehin kan?", Syifa mengeluarkan sifat manjanya akan ampuh membuat, Luthfi luluh menurutnya
"Tergantung", Luthfi menaikkan kedua bahunya. "Tadi katanya yang penting dibolehin sama bunda", Syifa mulai cemberut dan akan membuat, Luthfi benar-benar luluh. "Kalau kamu nurutin kata-kata aku, kamu boleh nginap dirumah, Nita", Luthfi ingin memberikan syarat agar, Syifa bisa menginap dirumah, Nita
"Ya udah. Apa? Aku disuruh nurutin kata-kata kamu yang mana?" seru, Syifa yang mulai kesal. "Jangan keluar malam-malam. Tetap dirumah, Nita. Kalau kamu ingkar, kamu tau kan apa yang akan aku lakuin?", Luthfi berbicara dengan serius kepada, Syifa
"Siap boss", Syifa menaikkan tangannya seperti sedang hormat, Luthfi hanya tersenyum dan mencubit gemas pipi, Syifa. "Nita, tapi aku harus minta izin sama bunda juga dulu yah?" seru, Syifa. "Aku udah minta izin sama bunda kok tadi. Tapi bunda bilang terserah, Gio. Kalau, Gio ngijinin kamu, bunda ngikut katanya" tukas, Nita yang menyakinkan, Syifa
"Bunda mah emang suka gitu. Lebih percaya sama, Gio daripada sama aku" gerutu, Syifa yang mendapat cubitan di pipinya dari, Luthfi. "Kamu masih aja cemburuan". Syifa melirik tajak, Luthfi, "Gimana ngga. Aku mau ngelakuin apapun harus ada persetujuan kamu dulu" gerutu, Syifa. Luthfi tertawa mendapat ocehan menggemaskan dari, Syifa. Ia menarik gadis itu kedalam pelukannya
Jeritan para wanita diruangan tersebut kembali riuh dengan adegan, Luthfi yang lagi-lagi membuat mereka baper dengan memeluk gemas, Syifa
"Hey. Aku masih disini. Kalian malah peluk-pelukan depan aku" seru, Nita yang membuat, Syifa melepas pelukan, Luthfi. "Gio nih. Main peluk-peluk aja", Syifa mencubit pelan perut, Luthfi. "Kamu juga suka", Luthfi menoel hidung, Syifa. "Ya sukalah" saut, Syifa yang tersenyum lebar
"Udah dong. Ayo, Arsy. Kita kerumah aku sekarang" ajak, Nita yang malas berlama-lama menyaksikan kedua temannya sedang bermesraan. "Ayo", Syifa bangkit dari duduknya
"Arsy?" panggil, Luthfi dengan lembut. "Ia?", Syifa menoleh kearah, Luthfi. "Kamu ingat kata-kata aku kan?" lagi-lagi, Luthfi mengingatkan, Syifa. "Aku ingat, Gio" seru, Syifa memanyungkan bibirnya. "Hanya mengingatkan", Luthfi berdiri dan mengusap kepala, Syifa
"Ayo, Arsy", Nita sudah bersiap-siap pergi dari sana. Tapi sebelum, Syifa pergi meninggalkan, Gio, ia berbalik kearah, Gio dan memeluknya dengan sangat erat seakan dirinya tidak ingin meninggalkan, Luthfi disana
"So sweet"
Ketiga pemeran drama diatas tidak memperdulikan mereka yang sedang teriak-teriak karna hanya akan menganggu fokus mereka dalam pertunjukan ini
"Kenapa?", Luthfi membelai kepala, Syifa dalam pelukannya. Syifa menggeleng, "Ngga apa-apa", Syifa melepas pelukannya. "Ya udah. Aku pergi dulu" pamit, Syifa. Ia melambaikan tangannya sebelum menghilang dari hadapan, Luthfi
Nita berjalan bersama, Syifa menuju rumahnya. Setelah mereka sampai, Nita mengajak, Syifa masuk ke dalam kamarnya. Syifa pun langsung merebahkan tubuhnya saat melihat kasur
"Ngga ada capeknya aku kalau sama, Gio" senyum, Syifa selalu terbit jika menyebut nama, Gio. "Sebahagia itu kamu sama, Gio? Sampai nyebut namanya aja langsung senyum-senyum sendiri kamu kayak orang gila", Nita tertawa pelan dengan tingkah, Syifa yang sedang berbunga-bunga hatinya
"Bahagia banget, Nit. Aku bahagia banget, Gio yang di samping aku dan selalu menemani aku. Dia mau menerima segala kekurangan aku", Syifa tidak bisa membohongi perasaannya jika saat ini ia sangat bahagia
Nita hanya tersenyum dan, memainkan ponselnya sampai malam tiba. Sedangkan, Syifa tertidur setelah kelelahan berkirim pesan dengan kekasihnya
"Lapar", Nita menyimpan ponselnya yang sedari tadi ia mainkan. Nita melihat, Syifa yang sedang tertidur pulas. Ia membangunkannya karna hari sudah malam. "Arsy, ayo bangun", Nita menggoyang-goyangkan tubuh, Syifa
Syifa mengerjap sebentar lalu duduk dengan mengucek kedua matanya. "Udah jam berapa sih, Nit?" tanya, Syifa.
"Udah jam sembilan. Keluar yuk cari makan, lapar nih" ajak, Nita. "Aku juga lapar" saut, Syifa memegang perutnya. "Ya udah ayo. Kamu, cuci muka dulu. Aku tunggu kamu di depan yah" ujar, Nita dan berlalu keluar dari kamar
Syifa dengan malas turun dari tempat tidur tersebut lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air, lalu mengeringkannya. Setelah itu, ia bercermin sejenak sebelum keluar dari kamar menuju, Nita
"Ayo", Syifa sudah berdiri di depan, Nita. "Ayo", Nita hendak berdiri sebelum menyadari sesuatu. "Sy? Bukannya tadi, Gio nyuruh kamu buat ngga keluar malam-malam?", Nita mengingatkan, Syifa dengan peringatan yang diberikan, Gio. "Oh ia. Hampir aku lupa", Syifa menepuk jidatnya. Ya udah, aku ke kamar dulu yah mau ngambil hp" ujar, Syifa, Nita hanya mengangguk
Syifa kembali ke kamar mengambil ponselnya. Setelah itu, ia berjalan keluar kamar dengan menempelkan benda yang ada di tangannya itu ke telinganya. "Gio kemana sih ini? Kok ngga jawab telepon aku sih", Syifa beberapa kali menghubungi, Luthfi namun tidak ada jawaban. Syifa terpaksa mengirimkan, Luthfi pesan untuk mengabarinya jika harus keluar mencari makan. Setelah itu ia dan, Nita keluar untuk mencari makan
Syifa dan Nita makan di tempat biasa mereka makan. Disana hanya ada satu pelanggan lelaki. Lelaki tersebut menghampiri, Nita dan Syifa yang baru selesai menghabiskan makanan mereka. Lelaki tersebut meminta berkenalan namun hanya, Nita yang menanggapi. Meski beberapa kali lelaki tersebut melirik-lirik, Syifa. Namun, Syifa tidak perduli. Ia hanya sibuk menghubungi, Luthfi yang masih tidak menjawab telepon darinya
"Kamu keluar dan ngingkarin janji kamu setelah aku nyuruh kamu tadi ngga keluar malam-malam" suara, Luthfi mengagetkan, Syifa dan Nita yang berada disana. Syifa sontak membalikkan badannya dan melihat, Luthfi, berdiri disana. Ia tersenyum dan berjalan menuju, Luthfi. Namun, Luthfi hanya menatapnya dingin. "Aku nelpon-nelpon kamu tapi kamu ngga jawab. Aku ngirim pesan tapi kamu ngga balas" ujar, Syifa.
"Jangan nyari alasan, Arsy" seru, Luthfi dengan dingin. "Aku ngga lagi nyari alasan, Gio. Aku tadi beneran ngehubungin kamu, mau minta izin keluar karna aku sama, Nita lapar dan di rumah ngga ada makanan" jelas, Syifa saat melihat raut wajah, Luthfi yang sudah menahan amarah, terlebih melihat seorang lelaki bersama mereka. "Siapa dia?", Luthfi menunjuk lelaki yang bersama, Syifa dan Nita. "Aku ngga tau. Dimana tiba-tiba nyamperin aku Sama Nita tadi", Syifa berusaha tenang agar emosi, Luthfi tidak terpancing
"Kamu tau kan aku ngga suka ini", Luthfi menatap, Syifa dengan amarah yang ia tahan.
__ADS_1
Syifa mengangguk takut. "Aku tau. Tapi aku ngga ngeladenin dia", Syifa menggeleng. "Apapun alasannya, Arsy" bentak, Luthfi meski masih dengan nada biasa. "Jangan kasar sama cewek" tegur lelaki tersebut yang tidak tega melihat, Luthfi memarahi, Syifa. "Jangan ikut campur" ujar, Luthfi menatap tajam lelaki tersebut. "Tapi seenggaknya jangan kasar sama cewek. Apalagi sama dia" lelaki tersebut menunjuk, Syifa. Luthfi semakin naik darah mendengarnya. "Kenapa? Siapa yang mau marah?"
Syifa dengan cepat memegang lengan, Luthfi. "Jangan begini, Gio. Ia aku salah aku minta maaf" ucap, Syifa yang sudah setengah takut. "Kenapa kamu harus minta maaf sama laki-laki yang kasarin kamu" seru lelaki tersebut. "Dia pacar aku" seru, Syifa kepada lelaki tersebut. "Dia pacar kamu atau bukan, dia ngga pantas kasar sama kamu. Aku ngga suka lihat kamu dikasarin, apalagi baru pacar" saut lelaki tersebut dengan penuh penekanan
Tanpa aba-aba, Luthfi memukul wajah lelaki tersebut hingga tersungkur ke lantai. Syifa berteriak dan menahan, Luthfi untuk tidak lagi memukul. Sedang, Nita membantu lelaki tersebut untuk berdiri. "Gio udah" ujar, Syifa yang sudah menangis. "Kenapa? Kamu mau ngebelain dia? Kamu marah aku mukul dia? Ia?" seru, Luthfi yang makin membuat, Syifa menangis.
"Ngga, Gio", Syifa menggeleng dengan cepat. Luthfi menghela napas lalu menyeka air mata, Syifa. Namun lelaki tersebut bangkit dan menepis tangan, Luthfi yang berada di pipi, Syifa. "Tangan kamu ini ngga pantas nyentuh dia" lelaki tersebut menunjuk, Syifa. Luthfi lagi-lagi memukul lelaki tersebut lalu pergi dari tanpa menghiraukan teriakan, Syifa
Syifa berlari mengejar, Luthfi namun sia-sia. Luthfi sudah menghilang. Syifa terus berteriak memanggil nama, Gio. Air mata, Syifa membanjiri wajah cantiknya. Nita dan lelaki tersebut keluar menghampiri, Syifa yang sedang menangis histeris
"Kamu ngga pantes dapetin cowok kayak dia" seru lelaki tersebut memegang pundak, Syifa. Syifa menepisnya lalu melayangkan tamparan keras kewajah lelaki tersebut. "Aku benci sama kamu. Gio marah sama aku gara-gara kamu" isak, Syifa pergi dari hadapan lelaki tersebut. Nita mengejar, Syifa dan membawanya pulang kerumahnya
Penonton yang menyaksikan adegan tangisan, Syifa banyak yang ikut menangis. Terlebih, Risa dan Viona yang terbawa suasana dan juga ikut menangis.
Berhari-hari, Syifa tidak bertemu dengan, Luthfi. Bahkan, Luthfi menon-aktifkan ponselnya. Syifa berkali-kali datang kerumah, Luthfi namun tidak juga bertemu dengannya. Syifa semakin frustasi dan tidak berhenti menangis. Ia duduk di taman biasa ia bersama, Luthfi disana. Air matanya semakin deras tatkala mengingat, Luthfi yang selalu memanjakannya
"Kamu disini?" suara seseorang mengagetkan, Syifa. Ia mendongak dan mendapati, Luthfi berdiri di hadapannya. "Gio" ucap, Syifa lirih. Air matanya semakin deras meski suara tangisnya ia tahan. Ia berdiri, hendak memeluk, Luthfi namun ia masih takut hingga ia hanya berdiri menatap, Luthfi
"Kamu ngga mau peluk aku?", Luthfi merentangkan kedua tangannya. Dengan air mata yang semakin mengalir ditambah suara tangisnya yang sudah tidak dapat ditahan lagi, Syifa langsung berhambur memeluk, Luthfi. "Kamu jahat" isak, Syifa memukul-mukul punggung, Luthfi. "Kamu ninggalin aku sendiri. Kamu jahat" suara tangis, Syifa semakin keras
"Ia. Aku minta maaf", Luthfi melepas pelukannya lalu menyeka air mata, Syifa. "Maaf. Selama beberapa hari aku merenungi kesalahan aku sama kamu. Maaf karna sudah kasar sama kamu hari itu", Luthfi memegang kedua pipi, Syifa. "Selama beberapa hari ini aku jauh dari kamu, aku semakin sadar, kalau aku lemah tanpa kamu" ucapnya dengan serius.
Syifa kembali berhambur masuk kedalam pelukan, Luthfi. "Aku kehilangan semangat saat kamu ngga ada disamping aku, Gio. Aku benar-benar takut kamu bakal ninggalin aku" isak, Syifa. "Aku ngga akan ninggalin kamu" uar, Luthfi memeluk erat, Syifa. "Aku kangen" ucap, Syifa dengan manja. Luthfi tersenyum membelai lembut kepala, Syifa dan mencium pucuk kepalanya. "Aku ngga akan pernah ninggalin kamu. Aku mencintaimu, Arsy. Sangat mencintaimu" ungkapan cinta, Gio kepada, Arsy menjadi adegan terakhir dalam pertunjukan mereka, bersamaan dengan menyalanya lampu-lampu yang sempat dipadamkan tadi dan tertutupnya tirai yang menghilangkan, Luthfi dan Syifa yang sedang berpelukan disana
"Terharu"
"Romantis banget"
"Aku ikut baper"
"Bagaimana anak-anak? Pertunjukannya apa kalian suka?" seru dosen tersebut mengambil alih
"Suka" teriak mereka dengan kompak
"Lagi-lagi, Arsyifa membuat hampir sebagian dari kita ikut menangis. Dan kelembutan, Gioluthfi mampu membuat kita ikut tersentuh" ujar dosen tersebut
"Syifa keren banget" ucap, Risa yang menyeka air matanya.
"Loh nangis, Sa?", Fahri baru memperhatikan, Risa
"Emang loh ngga ikutan sedih?" seru, Risa
"Ngga harus sampai nangis kan" bantah, Fahri yang membuat, Risa kesal
*
*
*
*
Maaf karena ngga bisa up lebih cepat. udah aku usahain, tapi ternyata ada kegiatan lain. Eps ini lumayan panjang yah, dua eps aku jadikan satu. Terima kasih yang masih mau menyemangati ku, membaca novelku, dan me like nya.
__ADS_1