
"Kalian ini ngomong apaan sih? Ngawur banget" celetuk, Celia yang tidak tertawa sama sekali padahal itu hanyalah candaan, Vigo saja
"Apaan sih loh? Loh ngga tau orang lagi bercanda apa?" tegur, Viona.
"Disaat-saat kek gini aja kalian masih bisa bercanda? Kasian tau, Luthfi harus nemenin teman loh di dalam" seru, Celia.
"Biasa aja dong loh" hardik, Risa
"Loh yang harusnya sadar diri? Syifa kayak gini juga karna loh. Coba loh ngga ngedorong, Syifa tadi? Syifa baik-baik aja sekarang" cetus, Fahri yang membuat, Risa, Viona, Reza dan Vigo membulatkan matanya. Sedang, Celia acuh tak acuh dengan perkataan, Fahri yang terus menyalahkan dirinya
"Celia ngedorong, Syifa?" tanya, Reza yang terkejut. Fahri pun hanya mengangguk.
"Nyari masalah loh", Vigo menunjuk, Celia.
"Benar-benar yah loh", Risa yang hendak melabrak, Celia terpaksa mengurungkan langkahnya saat pembina mereka sudah keluar dari tenda tersebut.
"Kalian ini apa-apaan? Ribut disaat teman kalian sedang sakit" tegur pembina tersebut dan berlalu pergi dari hadapan mereka. Seperti sudah tak memperdulikan kekesalannya kepada, Celia, Risa langsung berhambur masuk ke dalam tenda dan mendapati, Syifa yang menangis di pelukan, Luthfi.
"Syifa? Loh kenapa? Mana yang sakit?", Risa dan Viona yang sudah terlebih dulu memasuki tenda langsung mencercah, Syifa dengan bertubi-tubi pertanyaan.
"Jangan ribut" tegur, Luthfi yang membuat, Risa dan Viona tidak lagi bertanya. Mereka berdua hanya sibuk mengusap punggung, Syifa yang masih terus menangis
Vigo, Reza, Fahri dan Celia juga kini sudah memasuki tenda. Syifa yang tadinya berada di dekapan, Luthfi diambil alih oleh Risa.
"Jangan nangis lagi, Fa. Yang ada nanti loh malah makin sakit", Risa terus memberikan usapan lembut pada punggung sahabatnya itu.
"Risa benar, Fa. Jangan nangis terus. Atau loh mau tidur? Biar badan loh bisa enakan" timpal, Viona yang juga mengusap-usap punggung, Syifa namun, Syifa hanya menggeleng
"Pinggang dia masih sakit. Belum bisa baring" cetus, Luthfi hingga semua pasang mata yang berada disana melihat kearahnya.
"Yang di urut tadi pinggang, Syifa" tanya, Vigo.
"Ia. Tangannya juga" saut, Luthfi.
__ADS_1
"Gimana caranya, Syifa bisa jatuh?" tanya, Reza yang tidak mengalihkan pandangannya dari, Syifa
Luthfi tidak menjawab. Ia hanya menatap, Celia dengan dingin. "Gue udah punya firasat yah dari awal, kalau loh pasti punya niat mau mencelakai, Syifa. Ia kan?", Risa menunjuk, Celia dengan penuh kekesalan dirautan wajahnya.
"Risa" tegur, Fahri.
"Biarin aja, Ri. Biar dia bisa nyadar diri" tukas, Celia yang benar-benar kepada, Celia
"Loh kalau mau balas dendam, ngga gini juga dong caranya" timpal, Viona yang menatap tajam, Celia.
"Vio, ngga boleh gitu" tegur, Vigo.
"Kenapa jadi nyalahin gue? Gue udah bilang, kalau gue ngga sengaja", Celia berusaha membela dirinya
"Dari awal loh emang ngga suka kita. Tapi cara loh rendahan banget" hardik, Risa yang terus menuduh, Celia.
"Loh kalau ngomong jangan asal yah", Celia yang tidak tahan dituduh terus memberikan pembelaan pada dirinya
"Marcelia nih nyari gara-gara mulu" tuduh, Viona.
"Lagi-lagi nyalahin gue", Celia tidak ingin dituduh.
"Mending kalian semua keluar sekarang" seru, Syifa yang membuat mereka semua bungkam
"Ehemm. Mungkin kita harus kembali ke tenda, lima menit lagi kita akan berkumpul di depan tenda pembina" cetus, Reza yang mengingatkan mereka akan tugasnya.
"Tapi, Za. Gue ngga bisa ninggalin, Syifa dalam kek gini" saut, Risa. "Gue juga" saut, Viona.
"Syifa juga butuh istirahat, Vio, Risa" ujar, Vigo.
"Biar, Luthfi aja yang nemenin, Syifa disini" tukas, Fahri.
"Ngga bisa gitu dong" sergah, Celia
__ADS_1
"Apaan sih loh" ketus, Viona
"Kalian semua boleh pergi. Gue tadi udah minta izin sama pembina buat jagain, Syifa disini. Jadi kalian ngga usah khawatir" jelas, Luthfi yang membuat semuanya tidak lagi bisa untuk membantah.
Reza mendekati, Syifa dan mengusap lembut kepalanya, "Cepat sembuh yah? Istirahat yang banyak". Syifa hanya mengangguk pelan.
"Hmmm", Risa berdehem, "Ayo kita kembali ke tenda" ajak, Risa kepada kelompoknya.
Namun sebelum benar-benar keluar dari tenda, Risa dan Viona memperingati, Celia, "Awas kalau loh berani maca-macam sama teman gue"
saat mereka berempat sudah pergi, Luthfi meminta, Fahri dan Celia untuk berada di luar tenda, karna ia ingin menenangkan, Syifa terlebih dahulu. Celia yang awalnya tidak mau harus mengalah jika yang berbicara adalah, Luthfi. Setelah lima menit berlalu, Fahri memberitahu, Luthfi jika dan Celia akan berkumpul di depan tenda pembina. Dan kini, hanya ada mereka berdua di dalam tenda.
"Ngga mau tiduran dulu?", Luthfi membantu, Syifa mendudukkan dengan benar tubuhnya.
"Pinggang gue kan sakit? Gimana caranya gue bisa tidur" ketus, Syifa.
"Biar gue bantu loh", Luthfi hendak merebahkan tubuh, Syifa.
"Aaa... Pinggang gue, Fi", Syifa merintih hingga terpaksa membuat, Luthfi kembali mendudukan tubuh, Syifa. "Terus gimana caranya loh bisa tidur nanti malam?", Luthfi menggaruk tengkuknya.
"Gue tidur sambil duduk" saut, Syifa yang memijat pelan pinggangnya
"Pinggang loh masih sakit? Sini biar gue bantuin pijat" tawar, Luthfi namun, Syifa dengan cepat menggeleng. "Ngga ngga. Udah baikan kok"
"Yang ada gue malah geli sendiri nanti" guman, Syifa
***
***
***
Maaf yah. Hari ini aku up lambat. Soalnya tadi ada kerjaan yang numpuk juga. Jangan lupa like dan vote yang teman2. Terima kasih
__ADS_1