
"Pendengaran loh masih normal kan?" jawab, Risa dengan sinis yang mengabaikan tatapan kesal, Celia. " Gue ngga ngomong sama loh yah tadinya. Gue ngomong sama, Luthfi" seru, Celia yang mengundang hampir semua mata menoleh kepada mereka.
"Ribut banget sih loh. Loh ngga liat apa sekarang orang-orang lagi ngeliatin kita", Viona menunjukkan raut wajah kesalnya kepada, Celia. Karna dia, hampir semua mata menuju pada mereka hingga membuat satu persatu dari mereka melihat orang-orang yang melihatnya.
"Marcelia? Loh kok senang banget sih nyari ribut" cetus, Vigo.
"Hobi banget deh nih anak ngundang perhatian orang" tukas, Fahri.
"Ngga boleh gitu" saut, Syifa.
"Ngga usah sok ngebelain gue deh" sinis, Celia.
"Loh bisa diam ngga sih" ujar, Luthfi yang membuat semuanya terdiam.
"Ada apa ini?", Reza menghampiri mereka yang masih bersitegang. Saat, Risa melihat ada, Reza. Ia dengan cepat menarik tangan, Reza, "Za. Loh di kelompok gue yah". "Tapi gue... " ucapan, Reza dengan cepat dipotong oleh, Reza. "Udah, disini aja. Soalnya kelompok gue kekurangan satu cowok. Soalnya, Luthfi sama, Fahri sekelompok sama, Syifa"
Risa tau jika, Reza pasti akan meminta, Syifa menjadi teman kelompoknya. Itu sebabnya, Risa dengan cepat menjadikan, Reza teman kelompoknya. Fahri tersenyum dan menaikkan sedikit jempolnya di pinggang kepada, Risa. Dan, Risa hanya tersenyum tau makna jempol dari, Fahri
"Berarti kita udah pass yah" cetus, Viona yang menarik semua teman kelompoknya untuk menjadi satu. "Jadi gimana? Gue boleh masuk kelompok kalian ngga?" tanya, Celia kepada, Luthfi, Fahri dan Syifa
"Terserah loh deh" pasrah, Luthfi, karna tidak ingin, Celia membuat masalah lagi yang akan membuat mereka jadi bahan perhatian. Namun tidak dengan, Syifa, ia tampak kecewa dengan pernyataan, Luthfi namun ia berusaha untuk menutupinya.
__ADS_1
"Loh yakin, Fi? Kalau dia bikin masalah gimana" cetus, Fahri. "Bukan gue yang nyari masalah. Loh semua yang suka nyari masalah sama gue" ketus, Celia dengan dengan melihat kedua tangannya di atas perut
"Berantem mulu" kesal, Syifa. "Ayo, ngumpulin kertas nama", Syifa menarik tangan, Risa dan Viona untuk pergi dari sana. Keempat pria tersebut hanya melihat ketiga gadis itu pergi. "Loh jangan bikin masalah" cetus, Luthfi yang ditunjukkan kepada, Celia namun ia tidak melihat, Celia. Dia bahkan berbicara dengan dingin kepadanya
"Gue ngga pernah bikin masalah, Luthfi" jawab, Celia dengan melunak. Vigo, Reza dan Fahri hanya membuang muka malas. Kini, Syifa, Risa dan Viona sudah kembali dan bergabung dengan mereka.
"Kita kelompok lima", Viona membuka surat aturan dan penelitian yang akan kelompok mereka teliti. "Terus kelompok, Syifa?" tanya, Vigo.
"Oh. Gue di kelompok empat" saut, Syifa yang menyerahkan kertas aturannya yang sama seperti milik kelompok, Viona
***/
"Loh yang jadi ketua kelompok yah?" seru, Syifa yang menawarkan, Fahri menjadi ketua kelompok mereka saat ia dan kelompoknya sedang duduk di tepi pantai untuk mencatat semua keperluan penelitiannya. "Gue malas, Fa. Luthfi aja deh" tukas, Fahri
"Yah masa gue" cetus, Syifa yang sudah menunjukkan wajah kesalnya. "Hmm. Ia biar gue", Luthfi mengalah setelah melihat wajah kesal, Syifa yang tandanya tidak ingin dibantah lagi ucapannya
"Jadi. Nanti sore kita pasang tenda di sebelah selatan kelompok lima dan tiga", Syifa terus mencatat semua keperluan kelompoknya
***/
"Reza? Loh yang jadi ketua kelompok kita yah", Risa mencatat nama, Reza sebagai ketua kelompok mereka. "Gue belum jawab loh udah nulis duluan", Reza terkekeh.
__ADS_1
"Risa mah ngga butuh jawaban. Semau dia aja" cetus, Viona yang juga ikut terkekeh. "Jadi, Reza yah yang jadi ketua kelompok kita" ujar, Vigo dan semua mengangguk termasuk, Reza
"Tenda kita di sebelah utara tenda kelompok empat dan enam yah". Risa juga sedang mencatat semua keperluan kelompok mereka
**/
"Perhatian-perhatian. Tolong fokus kemari sebentar sebelum kita memulai penelitian kita untuk dua hari ke depan" semua mahasiswa yang ikut mengambil barisan untuk bisa mendengarkan pembina mereka berbicara
"Ada informasi yang mendadak baru saja saya dan pembina yang lain terima. Jadi, untuk penelitian kita, akan diperpanjang selama sepekan ini" sorakan gembira pun terlontar, "Dan untuk penelitian kita selama dua hari ini, kita akan melakukannya di Desa XXX. Setelah dua hari, kalian boleh kembali kemari lagi dan akan melanjutkan untuk penelitian berikutnya" antusias para mahasiswa pun diberikan
"Silahkan mengambil barang-barang yang sekiranya kalian akan gunakan di penelitian dua hari ke depan ini. Pastikan semua alat tiap kelompok harus lengkap. Dan tidak perlu membawa semua barang kalian, karna kita masih akan kembali kesini" ujar pembina tersebut
"Jadi. silahkan bereskan barang-barang yang akan kalian bawa".
"Baik Pak"
Semua mahasiswa pun berhambur masuk ke kamar mereka untuk mengambil beberap barang yang akan mereka bawa untuk dua hari kedepan. Setelah semuanya sudah berkumpul kembali, bus yang membawa mereka kemarin sudah berada di hadapan mereka saat ini untuk kembali membawa mereka menuju Desa XXX di salah satu Desa yang ada di Pulau Lombok untuk melakukan penelitian selama dua hari ke depan
Luthfi duduk dengan, Syifa meski tadinya, Celia yang ingin duduk di samping, Luthfi namun dilarang oleh, Fahri. Hingga, Fahri lah yang duduk dengan, Celia meski sebenarnya ia pun merasa risih dengan gadis tersebut. Viona tentu saja duduk dengan kekasinya, Vigo. Sedang, Risa duduk dengan, Reza. Karena semuanya harus duduk dengan teman kelompok mereka masing-masing agar tidak berhamburan nantinya.
Suasana perjalanan menuju Desa XXX sangat ramai oleh nyanyian dari beberapa teman mereka yang diiringi dengan alunan suara gitar yang sangat merdu. Tidak ada yang tertidur, semuanya bernyanyi mengikuti nada gitar yang dipetik oleh pemiliknya
__ADS_1
"Luthfi?" panggil, Syifa dengan pelan. Luthfi pun menoleh. "Ia? Ada apa?".
"Sini", Syifa menarik bahu, Luthfi lalu membisikkan sesuatu di telinga, Luthfi hingga, Celia yang berada di belakang mereka menjadi kesal dan sengaja menendang kursi, Syifa yang berada di depannya hingga, Syifa terkejut dan sedikit terdorong ke depan hingga bibirnya menempel di pipi, Luthfi. Syifa membulatkan kedua matanya dengan sangat terkejut saat bibirnya menempel tepat di pipi, Luthfi