
"He'em", Viona mengangguk kesal
Akhirnya, Viona dan Risa tidak membalas ucapan, Syifa hingga mereka mengerjakan tugas dengan sangat tenang. Sampai pada batas waktu yang telah ditentukan, semua mahasiswa mengumpulkan tugas mereka pada ketua tingkat
"Akhirnya selesai juga", Vigo meregangkan otot-otot jarinya yang beberapa saat lalu sempat menegang
"Tangan gue pegal banget" seru, Viona yang juga meregangkan jari-jarinya yang sedikit kaku
"Nih dosen ngasih tugas ngga tanggung-tanggung" gerutu, Syifa. "Sumpah yah, jari-jari gue rasanya peng patah", Syifa pun ikut mensenamkan jari-jarinya
"Benar banget. Berasa kaku jari-jari gue. Mana bahu gue berasa kek mau retak lagi" timpal, Risa yang memutar pelan bahunya
"Gimana caranya bahu bisa retak coba?" seru, Luthfi yang berada di belakang, Risa
"Mungkin bahunya kaca kali" timpal, Luthfi yang membuat mereka berlima tertawa namun tidak dengan, Risa
"Maksud gue tuh tulang gue. Ah" seru, Risa dengan kesal
"Ngga usah teriak-teriak tuh bisa ngga sih? Ganggu orang lain aja deh lo" tegur, Syifa
"Kesal gue" gerutu, Risa yang cemberut
"Udah udah. Gue lapar nih. Kalian ngga lapar?" tanya, Fahri untuk menyudahi perdebatan yang biasa terjadi ini
"Ayo" ketus, Risa. "Keburu makan hati gue lama-lama disini"
"Makan aja hati loh sana", Viona terkekeh
"Sebelum gue benar-benar kesal nih yah" seru, Risa yang sudah menunjukkan raut wajah kesalnya
"Udah ayo" ajak, Syifa yang sudah memegang lengan, Risa dan memberi kedipan, Viona untuk mengikut tanpa bantahan
"Ayo", Luthfi mengajak, Fahri dan Vigo untuk berdiri dari duduk mereka
Mereka ber-enam keluar dari ruangan dan berjalan menuju, Kantin yang tidak jauh dari kelas yang mereka tempati saat ini
"Pilih yang ujung itu yah?", Viona menunjuk salah satu tempat paling ujung dan tidak terlalu mencolok, cocok untuk mereka bisa berdebat tanpa mengganggu
"Sengaja loh milih itu yah biar loh bisa teriak-teriak", Risa terkekeh
"Larat yah. Biar loh bisa teriak-teriak" seru, Viona yang langsung meninggalkan mereka lalu menuju tempat duduk kosong tersebut
"Apa-apaan dia" ketus, Risa saat melihat, Viona sudah tidak bergabung dengan mereka
"Udah ah. Banyak drama. Ayo", Syifa menarik lengan, Risa untuk mendekat ke, Viona
__ADS_1
Saat mereka sudah duduk. Vigo memanggil pelayan untuk memesan makanan mereka masing-masing. Saat pesanan telah selesai dicatat, pelayan itupun pergi dan segera membuatkan pesanan mereka
"Eh, ngomong-ngomong. Kalian berdua tadi dari mana?" seru, Risa kepada, Luthfi dan Syifa
"Eh ia. Gue sampai lupa nanya itu" timpal, Viona kepada, Syifa yang duduk diantarnya dan Risa
"Kepo nih kalian para cewek" saut, Fahri yang tepat dihadapan, Risa
"Tersera kita dong. Syifa kan teman kita" gerutu, Risa yang mengerutkan keningnya mantap kesal, Fahri
"Ampun deh gue sama tatapan cewek kalau gini", Fahri mengusap kasar wajahnya
"Peka dong loh" tawa, Vigo yang berada diujung
Saat, Fahri ingin membalas ucapan, Vigo. Pelayan terlebih dahulu datang membawa pesanan mereka hingga, Fahri mengurungkan niatnya untuk bersuara karna tidak ingin perdebatan tidak berguna mereka didengar oleh orang lain
"Terima kasih" ucap, Syifa kepada pelayan
"Sama-sama. Saya permisi dulu" ucap pelayan tersebut dan berlalu pergi
"Jadi mau cerita ngga nih?" tanya, Viona
"Cerita apa?" saut, Luthfi
"Yah alasan tadi kemana kalian?" ujar, Viona. "Tapi yang paling pengen gue tau, alasan loh, Fa" tunjuk, Viona kepada, Syifa yang berada di sebelahnya. "Tadi loh kenapa jutek banget sama, Luthfi?" lanjutnya
"Kok gitu sih", Viona sedikit kecewa, terdengar dari suaranya
Syifa melirik, Viona yang tampak kecewa. Ia kemudian mengambil nafas lalu perlahan membuangnya. "Gue ngga kenapa-kenapa kok sama, Luthfi. Gue cuma sedikit kesal aja. Soalnya semalam tuh mantannya, Risa nelpon dan pass banget gue yang jawab. Ya udah, gue ngata-ngatain tuh dia saking kesalnya gue. Pengen banget gue gampar muka tuh orang langsung. Sok kecakepan banget" ujar, Syifa dengan penuh emosi
"Emosinya ditahan dulu" saut, Vigo
"Terus hubungannya sama, Luthfi apa?" tanya, Fahri dengan heran
"Yah ngga ada sih", Syifa menggaruk pelipisnya
"Terus kenapa, Luthfi loh jutekin tadi coba?" timpal, Viona dengan pertanyaan yang makin membuat, Syifa tidak enak hati kepada, Luthfi
"Karna, Luthfi temenan sama mantan gue" saut, Risa dengan tawa yang meledak
"Ha?", Viona, Vigo dan Fahri melontarkan kata yang sama saking terkejutnya mereka
"Ia. Luthfi sama mantan gue temenan di SMU dulu. Mereka sekelas. Jadi deh, Syifa marah ke, Luthfi juga" jelas, Risa yang masih dengan tawanya
"Gila yah loh, Fa. Ngga nyangka gue. Heran deh gue bisa punya teman model gini", Viona menepuk jidatnya lalu menggeleng
__ADS_1
"Bisa berabe semua cowok kalau disalahin sama cewek cuma gara-gara temenan sama mantannya teman mereka", Vigo pun ikut menggeleng
"Makin ngga mau ngerasain cinta gue" timpal, Fahri
"Jadi loh mau jomblo abadi?" pertanyaan, Luthfi sukses membuat mereka semua tertawa
"Jangan sampai deh, Vio loh, kayak, Syifa. Bisa mati gue" ujar, Vigo yang makin membuat mereka tidak berhenti tertawa
"Terus loh ngomong apa aja sama dia, Fa?", Viona masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya
"Dia tuh cowok songong, sok ganteng, sok sempurna. Pokoknya gue kesal banget sama dia. Dia selalu menganggap kalau, Risa sayang banget sama dia sampai, Risa ngga akan bisa bahagia tanpa dia. Yah meskipun emang gue akuin sih, nih bocah, sayang banget sama mantan playboy nya itu", Syifa melirik, Risa yang disambut dengusan oleh, Risa. "Ya udah, gue bilang aja, ngga usah gangguin, Risa lagi. Dia udah punya pacar sekarang dan udah bahagia banget" ujar, Syifa dengan kesal
"Dia langsung percaya?" tanya, Luthfi memicingkan matanya
"Yah, awalnya sih dia ngga percaya. Tapi gue ngarang-ngarang cerita yang romantis biar dia bisa percaya sama omongan gue. Dan akhirnya berhasil, dia percaya sama gue" saut, Syifa yang sudah bisa tersenyum
"Loh sih. Gimana kalau sampai gue ketemu dia coba? Terus nanya cowok gue yang mana? Gue mesti bilang apa? Kan ketahuan juga kalau bohong. Gimana sih" gerutu, Risa yang cemberut
"Tenang aja. Ngga akan dia gangguin loh lagi", Syifa berusaha menenangkan, Risa walau ia pun sempat memikirkan hal itu. Ia sangat tau bagaimana, Dika bisa berbuat senekat yang dia mau
"Kita bantuin kok kalau dia datang" tukas, Viona yang ikut menenangkan, Risa
"Loh tinggal tunjuk, Fahri aja kalau dia datang. Kalian kan sama-sama jomblo" usul, Vigo mencairkan suasana
"Sembarang loh" seru, Fahri
"Boleh tuh. Dika pasti percaya" timpal, Luthfi yang juga sudah mengenal teman SMU nya tersebut
"Malas ah. Sekarang pertanyaan gue lagi. Tadi kalian berdua kemana?" tanya, Fahri yang mengalihkan pembicaraan
"Eh ia. Itu gue sampai lupa" seru, Risa dengan semangat
"Semangat deh giliran bahas gue" ketus, Syifa yang malas
"Jelas semangat dong gue" saut, Risa dengan senyumnya
"Dari mana loh, Fi berdua sama, Syifa?" tanya, Vigo menyenggol lengan, Luthfi
"Loh ngeliat gue keluar berdua bareng, Syifa?" saut, Luthfi dengan santai
"Yah ngga sih", Vigo menggaruk tengkuknya. "Tapi kalian baliknya berdua tuh" lanjutnya setelah mendapat petunjuk
"Cuma mau ngelurusin masalah yang tadi biar kelar" ujar, Luthfi agar tidak ada lagi pertanyaan seputar mereka berdua
"Jadi udah balikan nih?" tanya, Viona yang melihat, Syifa dan Luthfi bergantian
__ADS_1
"Balikan apaan sih", Syifa menjitak pelan pelipis, Viona.