
Fahri sudah bisa pulang dan dinyatakan tidak mengalami kerusakan apapun pada tubuhnya. Fahri juga merasa sengat sehat. Meski sekali-sekali, bahunya terasa sakit. Seperti hari ini, ketika mereka sedang berada di kampus, Fahri mengeluh sakit pada bahunya
"Sakit banget yah, Ri?" tanya, Risa yang mendesis
"Ngga kok. Ngga apa-apa" jawab, Fahri
"Mau ke rumah sakit lagi ngga?" tawar, Syifa
"Buat apa? Periksa ponakan gue?", Fahri masih sempat-sempatnya bergurau
"Ri? Kemarin, Dini ngehubungi gue. Dia minta ketemu loh" seru, Viona
"Ngapain lagi sih tuh orang" kesal, Risa
"Sabar, Sa. Percaya sama, Fahri. Dia ngga bakal beralih hati ke, Dini lagi. Hatinya udah fixed di loh" goda, Vigo
"Loh kenapa larinya kesana sih? Heran gue" ketus, Risa yang menatap tajam, Fahri
"Loh beneran ngga apa-apa, Ri?" tanya, Luthfi
"Ngga. Gue beneran ngga apa-apa" sahut, Fahri
"Syifa?" panggil, Reza yang kini tengah berdiri di depan kursi, Syifa
"Hmm. Reza?" ucap, Syifa. "Ada apa, Za?" tanya, Syifa yang perlahan melirik, Luthfi
"Gue boleh ngomong sesuatu sama loh ngga? Tapi diluar", Reza menunjuk keluar
Syifa tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah, Luthfi. Takut jika suaminya itu marah
"Hmm. Luthfi? Gue boleh pinjam, Syifa bentar ngga?", Reza mengerti arti lirikan, Syifa pada, Luthfi. Dan, Reza sebagai lelaki harus meminta izin kepada, Luthfi yang ia ketahui sebagai kekasih, Syifa
"Ia", Luthfi hanya menjawab singkat tanpa ekspresi apapun di wajahnya yang membuat teman-temannya susah menebaknya, bahkan termasuk, Syifa sekalipun yang tidak bisa menebaknya
"Ayo, Fa" ajak, Reza kepada, Syifa setelah mendapat izin dari, Luthfi
Syifa dengan berat melangkah mengikuti, Reza keluar ruangan yang ingin mengatakan sesuatu padanya
"Kasian yah, Reza"
"Ia. Gue kira, Reza bakal jadian sama, Syifa"
"Reza emang baik banget orangnya"
"Tapi, Luthfi juga baik banget orangnya"
"Gue aja kalau jadi, Syifa pasti bingung"
"Bingung kenapa?"
"Bingung milih antara, Luthfi sama Reza. Mereka kan sama-sama ganteng"
Terdengar beberapa teman sekelas mereka berbicara tentang hubungan cinta segitiga antara, Syifa, Luthfi dan Reza
***
"Jadi loh mau ngomong apa, Za?" tanya, Syifa ketika mereka berada di taman dan duduk di kursi panjang tanpa seorang pun disana kecuali mereka berdua
"Loh sama, Luthfi beneran udah jadian?", Reza menanyakan sesuatu yang selama ini mengganjal perasaannya
"Astaga. Dia manggil gue kesini cuma buat nanyain itu? Gue mesti jawab apa kalau gini" batin, Syifa
"Syifa?" panggil, Reza karna, Syifa tidak menjawab pertanyaannya
"Ia, Za" jawab, Syifa dengan tidak enak hati
Reza tersenyum dan menghela napas, "Jadi gue beneran udah telat yah?"
"Maksudnya, Za?", Syifa mengerutkan dahinya karna gagal mencerna ucapan, Reza
"Gue suka sama loh" ujar, Reza yang menatap, Syifa dengan dalam
Glek
Syifa dengan susah payah menelan salivanya mendengar pengakuan, Reza yang baru saja ia dengar.
__ADS_1
"Loh.... Loh bilang?", Syifa berharap pendengarannya salah
"Gue suka sama loh, Fa", Reza mengulang pernyataannya dengan lebih tegas
Deg
Debaran jantung, Syifa memacu dengan cepat. Ia tidak menyangka jika, Reza menyukai dirinya
"Gue? Hmm, Za. Loh ganteng dan baik. Banyak yang suka sama loh. Tapi kenapa? Kenapa loh sukanya sama gue? Hmm, dan gue? Gue.... Gue sekarang udah sama, Luthfi" ujar, Syifa menyaksikan langsung tatapan, Reza beralih ketika mendengar nama, Luthfi terucap dari bibirnya
"Apa kesempatan buat gue bersaing sama, Luthfi ngga ada, Fa?", Reza masih tidak berhenti meyakinkan, Syifa jika dirinya pun layak
"Reza. Gue tau loh baik banget. Loh juga ganteng. Banyak yang suka sama loh, Za. Gue yakin, loh bisa dapetin cewek yang jauh lebih baik daripada gue, Za" seru, Syifa
"Tapi nyatanya cuma loh yang baik buat gue, Fa" tukas, Reza menatap, Syifa
"Reza. Please jangan kek gini. Gue minta maaf kalau loh pernah ngerasa gue ngasih loh harapan. Gue benar-benar minta maaf, Za. Gue sama sekali ngga ada niatan buat loh suka sama gue" ucap, Syifa
"Bukan loh yang ngasih gue harapan, Fa. Tapi gue yang berharap lebih ke loh" tukas, Reza
"Reza. Maafin gue", Syifa benar-benar tidak enak hati pada, Reza
"Kasih gue kesempatan, Fa" pinta, Reza
"Reza. Gue sekarang sama, Luthfi. Dan gue ngga mau ngecewain dia, Za" ucap, Syifa
"Luthfi belum jadi suami loh kan? Artinya gue masih punya kesempatan, Fa" seru, Reza
"Reza. Gue ngga mau loh kecewa nantinya. Please lupain gue. Gue yakin banget. Loh bisa dapetin yang jauh lebih baik dari gue. Gue yakin itu, Za. Karena loh cowok yang baik" pinta, Syifa masih tidak ingin mengatakan kepada siapapun jika dirinya dan, Luthfi sudah menikah
"Gue akan lebih kecewa kalau gue ngga bisa perjuangin loh, Fa" seru, Reza
"Reza" guman, Syifa
"Gue berharap loh bisa nerima perasaan gue suatu hari nanti, Fa" ucap, Reza sebelum akhirnya pria itu pergi dari hadapan, Syifa
Syifa menangis karna tidak tau harus melakukan apa. Perasannya benar-benar tidak enak. Terlebih ketika bayangan suaminya melintas di kepalanya. Rasa bersalahnya semakin besar
"Kenapa nangis disini?", Luthfi tiba-tiba duduk di samping, Syifa
"Luthfi?"
Luthfi menghapus air mata istrinya yang berjatuhan dipipinya. "Kenapa nangis?"
"Hmm. Aku... "
"Nyesal nikah sama aku?"
"Aku ngga pernah mikir gitu"
"Terus kenapa nangis? Karna, Reza?"
"Kamu lihat yah?"
"Ia. Aku bahkan lihat dia yang serius bilang akan perjuangin kamu"
"Tapi aku sama sekali ngga nyuruh dia"
"Ia aku tau. Tapi kamu ngga nolak"
"Aku nolak kok"
"Aku ngga dengar"
"Aku nolak, Luthfi"
"Tapi aku ngga dengar"
"Berarti kamu ngga lihat semuanya"
"Aku lihat semuanya"
"Tapi tadi aku nolak, Reza"
"Kamu ngga nolak, Reza. Kamu cuma nyuruh dia buat cari cewek lain"
__ADS_1
"Itu kan sama aja aku nolak, Luthfi" teriak, Syifa
"Ngga usah teriak-teriak. Kasian anak aku", Luthfi mengusap perut, Syifa
"Yah kamu ngeselin"
"Siapa? Aku?"
"Ia"
"Kalau aku ngeselin. Terus, Reza apa? Ngangenin?" ledek, Luthfi
"Berenti bikin kesal, Luthfi"
"Aku sayang kamu"
"Apa?" seru, Syifa yang terkejut
"Apa? Kamu dengar apa?"
"Kamu bilang, kamu sayang aku" jawabnya dengan polos
"Berarti kamu salah dengar"
"Masa sih? Apa telinga ku bermasalah?"
"Mungkin dipenuhi sama suara, Reza"
"Berenti, Luthfi"
"Apa?"
"Kok jadi ngeselin sih"
"Ngeselin? Aku? Terus... "
"Stop. Jangan bawa-bawa nama orang lain"
Luthfi hanya tersenyum untuk menghentikan perdebatan itu. Ia meraih kepala istrinya dan membenamkannya di dadanya
"Maaf yah" ucap, Syifa
"Aku akan jaga kamu. Sampai, Reza ngga bisa masuk ke hati kamu"
"Reza emang ngga pernah masuk"
"Aku ngga bisa menjamin hati kamu ke depannya"
"Tapi anak kita yang akan menjaminnya. Aku ngga akan berpindah ke lain hati, selain Ayah dari anak yang aku kandung" ucap, Syifa yang sudah menitikkan air mata
"Sebenarnya tadi aku sempat takut. Kalau kamu, nerima tawaran, Reza"
"Jangan gila, Luthfi. Gimana bisa aku nerima laki-laki lain? Aku udah nikah"
"Ia aku tau. Terima kasih"
Luthfi memeluk erat tubuh istrinya dan menghujaninya beberapa ciuman dipuncak kepala istrinya. Sejujurnya, terbesit ketakutan dalam dirinya ketika istrinya itu berbicara berdua dengan, Reza, pria yang juga menaruh hati pada istrinya
Namun ketakutannya menghilang ketika, Syifa menolak, Reza dan lebih memilih untuk bersamanya. Meski tidak bisa dipungkiri, Reza masih mau memperjuangkan istrinya itu
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa mampir di novel baru ku yah "Autumn in march" 😍
__ADS_1
Dan jangan lupa like dan beri votenya yah 😊 Terima kasih untuk yang sudah mendukung 🤗