
"Cieee. Kak Syifa malu-malu. Mukanya sampai merah tuh" adik, Syifa pun ikut menggoda kakaknya tersebut.
"Syafa diam" perintah, Syifa menunjuk adiknya, "Mommy" panggil, Syifa dengan manjanya untuk mencari perlindungan dari bullyan teman-temannya
"Ya sudah. Tidak usah hiraukan mereka. Istirahat saja nak di kamar dengan suamimu" ucapan Mommy nya malah membuat suara tawa kembali terdengar.
"Mommy ih apaan sih? Malah ikut-ikutan" rajuk, Syifa yang memanyungkan bibirnya. "Loh? Memangnya Mommy salah ngomong? Kan benar kalian mau istirahat" ujar Mommynya
"Mommy yah. Bukannya ditawarin makan dulu kek gitu. Malah langsung disuruh istirahat. Bilang aja Mommy mau buat, Syifa sama Luthfi kelaparan" celoteh, Syifa. Sedari tadi memang dan Luthfi tidak makan apapun kecuali air putih saja yang masuk ke dalam perut mereka. Dan tidak ada yang menyadarinya
"Astaga. Mommy sampai lupa" Mommy Syifa beranjak mengambilkan makanan untuk kedua pengantin baru tersebut. Ia benar-benar terlupa mengambilkannya
"Ia nih. Sampai lupa, Luthfi harus makan biar makin kuat" ledek, Vigo yang menahan tawanya. "Jangan gitu, Go. Luthfi ngga makan pun dia udah kuat" timpal, Fahri melirik, Luthfi menahan tawanya
"Kalian ini" ujar, Luthfi dengan wajah datarnya. "Loh kalau udah ngebet pengen nikahin, Viona juga boleh tuh, Go. Mumpung dekorasi pernikahan, Syifa sama Luthfi belum selesai dibongkar" goda, Risa yang terkekeh melihat wajah kesal, Viona
"Boleh sih kalau, Viona mau", Vigo menatap, Viona yang bahkan kekesalannya tadi ia tunjukkan kepada, Risa kini beralih padanya, "Berani loh ngomong itu lagi? Muka loh gue bikin bonyok" kesal, Viona yang malu karna ada banyak keluarga, Syifa dan Luthfi diantara mereka.
"Wih. Sadis banget cewek loh bro. Nanti pass malam pertama kalian, bukannya senang muka loh di pagi hari malah bonyok yang ada" goda, Fahri yang tidak bisa lagi menahan tawanya diikuti beberapa orang yang ada disana. Merasa lucu dengan tingkah mereka.
"Jangan gitu dong kalian. Kasian tau, Viona. Kalau beneran, Vigo sampai bonyok gimana" ujar, Syifa yang tadinya, Viona mengira ia akan membelanya, tapi nyatanya malah ikut menggodanya
"Kesal ah gue sama kalian" cemberut, Viona. "Bercanda kali, Vi. Serius banget loh", Risa merangkul pundak, Viona. "Gue kan malu. Disini tuh ngga hanya ada kita. Yah malu lah gue" gerutu, Viona
"Syifa?" panggil, Luthfi. "Ia? Kenapa?", Syifa beralih menatap, Luthfi. "Bantuin Mommy ngambil makanan" perintah, Luthfi. "Eh ia. Gue lupa", Syifa beranjak dari duduknya hendak menghampiri Mommynya
"Dengerin tuh kak. Suami kakak nyuruh bantuin Mommy. Udah jadi istri kan harus selalu ngeladeni suami dengan baik" ujar adiknya yang lagi-lagi mulai menggodanya yang tersenyum manis
"Diam!" perintah, Syifa. Namun adiknya malah tertawa. Baru saja, Syifa melangkah, Mommynya sudah menghampiri mereka dengan pelayan di belakangnya yang membawa beberapa makanan. Mommy Syifa menyuruh pelayan tersebut untuk menyimpan makanan di tengah-tengah mereka.
"Ayo makan dulu" ajak, Mommy Syifa
"Makan, Fi biar makin kuat" ledek, Vigo sebelum mengambil makanan. "Loh juga makan, biar makin kuat hadapi, Viona", Luthfi melirik, Viona yang tengah menatap kesal dirinya, "Bercanda, Vi" ujarnya
__ADS_1
"Udah ah. Debat mulu. Makan gih", Risa mengambil makanan dan menuangkan dipiringnya. "Loh juga" ketus, Fahri. "Apa?" kesal, Risa menatap kesal, Fahri
"Dasar jomblo" ucap, Syifa, Luthfi, Viona dan Vigo bersamaan. "Ish, apaan sih kalian. Ngeselin banget" gerutu, Risa yang memanyungkan bibirnya
"Biar loh bisa ngerasain gimana jadi gue sama, Syifa" tawa, Viona meledak yang disambut gelengan kepala dari yang lainnya termasuk orangtua, Luthfi dan Syifa.
Risa dengan kesal tak menghiraukannya lagi. Mereka makan dengan sangat tenang meski diselipi godaan untuk sang pengantin baru tersebut.
***
~~
"Jaga baik-baik istrimu. Kakak yang minta Bunda untuk melamarnya dengan cepat begini. Jika kalian ada masalah, bicarakan dengan kepala dingin. Bunda tau usia kalian masih terbilang belum dewasa. Tapi Bunda yakin dengan Kakak, itu sebabnya Bunda membiarkanmu menikahi, Syifa. Kakak juga tau kan, Syifa masih bergantung dengan orangtuanya. Bunda benar-benar sangat mempercayakan, Syifa ke Kakak. Meski Bunda tau Kakak sudah menyukai, Syifa sejak lama. Tapi itu tidak menjamin Kakak tidak akan menyakitinya" Bunda, Luthfi memperingatkan putranya sebagai anak tertuanya yang sudah menikah, saat mereka hanya berdua di luar rumah.
"Ia. Kakak tau Bun. Terima kasih Bunda sudah mau mendengarkan Kakak", Luthfi memeluk Bundanya, "Kakak janji akan menjaga, Syifa Bun" ujarnya
"Bunda percaya sama Kakak" Bundanya melepas, pelukannya, "Sekarang ajak istrimu untuk istirahat. Dan juga ingat pesan Bunda. Jangan memaksanya jika istrimu belum siap" tuturnya dengan begitu dalam
Luthfi terkekeh, "Bunda tenang aja. Kakak ngga akan maksa, Syifa. Lagian alasan Kakak nikahin, Syifa kan juga bukan hanya untuk itu" ucapnya
"Lama loh, Fi. Syifa udah lama nunggu loh tau" ujar, Risa yang mendapat cubitan dari, Syifa. "Ngaco nih anak" ketusnya. "Ngga usah gengsi deh, Fa. Udah jadi suami juga" goda, Risa berusaha tidak tidak tertawa.
"Loh juga, Fi. Jangan cuek-cuek sama teman gue. Kan udah sah. Udah bebas tuh" ledek, Viona yang nyengir karna mendapat tatapan tajam dari, Syifa. "Bercanda, Fa. Mata loh ntar keluar", Viona mengusap wajah, Syifa
"Jangan goda mereka terus. Udah sana kalian berdua masuk kamar. Pasti pegal kan seharian berdiri terus layani tamu" seru, Vigo. "Selamat beristirahat" timpal, Fahri yang tersenyum lebar
Ingin sekali, Syifa memaki-maki teman-temannya. Namun ia urungkan mengingat mertuanya masih ada disana. Syifa hanya mendengus kesal lalu meminta izin kepada orangtuanya dan orangtua, Luthfi untuk beristirahat. Syifa tidak mengiraukan godaan teman-temannya saat ia dan Luthfi masuk ke dalam kamar. Rasa kesalnya membuat ia tidak sadar sudah berada di dalam kamar hanya berdua dengan, Luthfi.
"Boleh minta handuk? Gue mau mandi" suara, Luthfi sukses menyentak telinga, Syifa yang berdiri memunggunginya. "Loh?", Syifa berbalik dan menujuk, Luthfi dengan terkejut, kemudian ia tersadar jika ia dan, Luthfi sudah menikah, "Astaga. Bodoh banget gue" lirih, Syifa, "Tunggu, biar gue ambilin", Syifa membuka lemarinya dan mengambilkan, Luthfi handuk disana. Ia menyerahkan handuk tersebut kepada, Luthfi tanpa menatapnya. ia bahkan susah menelan ludahnya.
Luthfi menerima handuk tersebut tanpa berkata apapun dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah, Syifa merasa, Luthfi sudah tidak lagi terlihat, ia terduduk dengan lemas di tempat tidur yang sudah terhias sempurna dengan dekorasi ala pengantin baru. Ia memegang dadanya yang berdetak hebat.
"Jantung gue yang mana sih ini?" Ia memegang dadanya, perutnya, kepalanya, kakinya dan terakhir wajahnya, "Jantung gue ada dimana-mana" ujar dengan kepolosannya. Jika saja ada teman-temannya, sudah bisa dipastikan ia akan kembali dibully
__ADS_1
Syifa memilih mengambil handuk dan menggantungnya di bahunya. Sembari menunggu, Luthfi, ia memasukkan pakaian suaminya itu ke dalam lemari pakaian yang sama dengannya. Mengingat selama dua bulan ia akan berada di rumah orangtuanya karna sedang libur.
Saat ia sedang asyik menata, pintu kamar mandi terbuka namun ia tidak bergeming, bahkan ia mematung di tempatnya
Luthfi yang kala itu keluar dari kamar mandi melihat, Syifa memindahkan pakaiannya, ia menghampiri istrinya yang kala itu berdiri memunggungi dirinya. Ia menaikkan tangannya dan menaruh telapak tangannya diatas kepala istrinya lalu berdiri di sampingnya.
Syifa menahan napasnya dan berkali menelan ludahnya dengan susah payah. Seketika tubuhnya bergetar disertai degupan jantungnya yang seperti habis lari maraton
Luthfi yang menyadari bahwa tubuh, Syifa bergetar, ia menahan tawanya dan menurunkan tangannya. Ia mengambil pakaiannya dan melihat, Syifa masih berdiri mematung,
"Ngga mau mandi?" pertanyaan, Luthfi sontak membuatnya tersadar dan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengatakan apapun. Demi apapun, ia belum pernah merasakan gugup seperti ini. Luthfi yang melihat istrinya lari terbirit-birit hanya tersenyum
Luthfi memakai pakaiannya dan beranjak mengambil ponsel miliknya di atas nakas. Ia lalu duduk menselonjorkan kakinya di atas tempat tidur. Ia membuka layar kunci pada ponselnya dan melihat nama, Marcelia tertera sebagai panggilan tidak terjawab, namun ia tidak menghiraukannya. Ini bukan yang pertama baginya. Selang beberapa menit, pintu kamar mandi terbuka sedikit, terlihat wajah, Syifa keluar dari sana
"Luthfi?" panggil, Syifa dengan canggung. Luthfi yang mendengarnya langsung beranjak mendekat, "Gue mau minta tolong boleh ngga?" ucapnya dengan pelan. "Ada apa?", Luthfi berdiri tepat di depan pintu. "Gue lupa bawa baju ganti" ucapnya dengan menunduk malu.
"Mau gue ambilin?" tanya, Luthfi. "Ngga, ngga bukan itu", Syifa memotong degan cepat. "Hmmmm", Syifa begitu canggung untuk berbicara. Luthfi sedikit mengerti "Gue akan keluar" baru saja, Luthfi berbalik namun, Syifa menahan tangannya
"Ngga usah keluar. Nanti yang ada mereka malah ngeledek" cetusnya. "Terus gue harus apa?", Luthfi mengerutkan keningnya. "Loh cukup berdiri di ujung ngadep tembok", Syifa menunjuk sisi ujung kamarnya.
"Apa gue lagi dihukum?" ujar, Luthfi yang tersenyum. "Bukan gitu, Fi" ucapnya dengan memelas. "Bercanda", Luthfi segera menuju sisi kamar, Syifa dan menghadap ketembok seperti sedang menerima hukuman.
Syifa dengan cepat berlari menuju lemarinya dan mengambil pakaian disana serta memakainya dengan kecepatan kilat.
"Udah" ujar, Syifa dengan gugup. Luthfi kembali membalikkan tubuhnya dan menuju tempat tidur. "Ayo tidur" ajaknya. Sekali lagi, Syifa benar-benar bersusah payah menelan salivanya.
Ia menggigit bibir bawahnya dan menyeret kakinya untuk melangkah meski ia sangat takut dan gugup.
Syifa naik ke atas tempat tidur dengan perasaan cemas. Tubuhnya kembali bergetar. Luthfi melirik, Syifa yang sedari tadi menggigit bibir bawahanya. Ia bahkan telihat pucat di wajahnya.
"Tidur aja. Gue ngga akan ngapa-ngapain loh", Luthfi mengerti kecemasan, Syifa. Sebab itulah pesan dari Bundanya untuk tidak memaksa istrinya.
"Ma... Maaf", Syifa menundukkan pandangannya karna merasa bersalah. "Ngga apa-apa. Tapi gue boleh peluk?" pertanyaan, Luthfi membuat, Syifa menatapnya dan membulatkan kedua matanya.
__ADS_1
Syifa juga tidak ingin menolak, Luthfi. Walau bagaimanapun, kini mereka adalah sepasang suami istri. Syifa menelan salivanya dan mengangguk pelan. Luthfi hanya tersenyum dan memeluk tubuh istrinya yang bergetar hebat. Ia membelai kepala, Syifa dengan lembut seperti berusaha menenangkannya.