
Syifa menutup kedua telinganya karna, Viona dan Risa berteriak tepat di telinganya. Syifa menatap tajam kedua temannya dengan kesal sambil melepas kedua tangannya di telinga
"Berisik tau ngga. Gendang telinga gue pengen pecah rasanya" gerutu, Syifa
"Bodo amat lah yah. Loh pilih truth atau dare nih?" tanya, Risa yang sudah tidak sabaran
"Santai dong" ketus, Syifa. "Truth deh. Gue pilih truth aja" sahut, Syifa
"Kenapa ngga dare?" tanya, Luthfi menatap, Syifa
"Ngga mau. Gue tau banget kegilaan, Risa kalau udah menyangkut game ini" seru, Syifa yang melirik tajam, Risa
"Truth mah bisa lebih gila lagi gue. Tapi sebenarnya sih emang gue maunya loh pilih dare, biar gue bisa nyuruh loh nembak, Luthfi" ucap, Risa dengan tawanya
"Benar" tunjuk, Viona kepada, Risa yang juga ikut tertawa
"Malas banget gue" ketus, Syifa
"Jadi apa nih pertanyaan buat, Syifa?" cetus, Fahri
"Loh aja, Fi", Vigo menyenggol lengan, Luthfi
"Risa tuh mau nanya", Luthfi malah menunjuk, Risa dengan dagunya
"Gue satu pertanyaan, loh satunya lagi yah. Kan dua kali pertanyaannya" seru, Risa kepada, Luthfi. Luthfi hanya mengiakan
"Ok gue mulai yah. Hmmm", Risa berpikir sejenak. "Oh ini. Kalau, Luthfi sama Reza nembak loh secara bersamaan. Loh pilih siapa? Pilih, Luthfi atau Reza?", Risa berusaha keras menahan tawanya
"Ngga ada yah pertanyaan kek gitu. Ngga mau gue" gerutu, Syifa
"Adalah. Ini gue nanya. Jangan curang loh" seru, Risa
"Ayo ganti dong, Sa. Please", Syifa mengatupkan kedua tangannya untuk memohon kepada, Risa dengan merengek
"Ngga mau gue. Cepatan jawab" kikah, Risa yang tidak ingin mengganti pertanyaannya
"Ish. Percuma juga gue mohon-mohon ke loh. Loh emang teman gue yang ngga ada ngebantunya sama sekali" gerutu, Syifa dengan mencibir
"Gue penasaran nih. Loh penasaran ngga, Fi?" tanya, Vigo kepada, Luthfi
"Udah pasti lah. Nyangkut nama dia lagi" goda, Fahri
"Mana sama saingan lagi" timpal, Viona menahan senyumnya
"Ih", Syifa memukul pelan paha, Viona. "Ngaco" cibir, Syifa
"Dia bukan saingan gue" cetus, Luthfi dengan santai
"Jadi loh ngga pernah punya saingan yah bro" ledek, Vigo sambil menaik turunkan alisnya
Luthfi tak menjawab. Ia hanya duduk menunggu jawaban, Syifa. Sedang, Syifa terus menggerutu dengan pertanyaan gila yang dikeluarkan oleh, Risa
"Ayo dong jawab. Lama banget" seru, Risa yang sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban, Syifa
"Berisik loh" ketus, Syifa mencibir
"Jangan ngeles mulu deh, Fa. Cepetan jawab" cetus, Viona
"Jawab jawab jawab" ucapan itupun terlontar dari mulut mereka
"Ngga tau" jawab, Syifa dengan merengek
"Ngga boleh gitu ih" tukas, Risa
"Jadi maksud loh? Loh ngga bisa milih antara, Luthfi sama, Reza? Artinya, Reza juga berarti dong buat loh" ujar, Vigo yang sengaja memancing, Syifa
__ADS_1
Syifa langsung terkejut atas pernyataan, Vigo. Ia langsung menoleh kearah, Luthfi. Luthfi langsung memalingkan wajahnya begitu, Syifa menoleh kepadanya
"Ngga. Bukan itu maksud gue" sergah, Syifa dengan panik
"Terus apa?" timpal, Fahri yang juga sengaja menggoda, Syifa
"Udah. Ngga usah dilanjutkan pertanyaannya. Lanjut putar botolnya aja" ujar, Luthfi tiba-tiba hingga membuat keempatnya menoleh kepada, Syifa
"Jawab loh, Fa. Luthfi kecewa tuh" ucap, Risa dengan pelan
"Ngga. Gue ngga kecewa. Ayo, lanjut putar botolnya" perintah, Luthfi
Syifa menjadi kalang kabut dibuatnya. Ia terus memutar otaknya untuk berfikir. Risa masih memegang botol tersebut dan enggan untuk memutarnya sebelum, Syifa menjawab
"Kok ngga loh putar?" tanya, Luthfi yang melihat, Risa tidak juga memutar botolnya
"Tunggu, Syifa jawab dong" sahut, Risa
"Dia ngga akan jawab" tukas, Luthfi
"Siapa bilang?" ujar, Syifa tiba-tiba. "Gue mau jawab kok" ucapnya yang disambut senyum senang keempat temannya
"Nah gitu dong. Ini baru teman gue, ngga pengecut", Risa merangkul, Syifa dengan senang
"Apaan sih. Lebay", Syifa melepaskan tangan, Risa yang menggantung di bahunya
"Ngga apa-apa deh loh ngatain gue lebay. Yang penting loh mau jawab" senyum, Risa terlihat mengembang
"Jadi apa nih jawabannya?", Fahri mulai tidak sabaran
"Hmmmm.... Hmmm... Karna gue belum kenal, Reza dengan baik. Jadi gue pilih, Luthfi. Tapi ini cuma seandainya yah, jangan mulai ngegosip" ancam, Syifa menutupi kegugupannya
Deheman dari yang lainnya mulai keluar satu persatu. Wajah, Syifa kini tampak memerah, namun ia berusaha tampak santai. Sedangkan, Luthfi? Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya. Raut wajahnya sangat susah untuk ditebak. Raut wajahnya, tampak seperti biasa. Cuek
"Senang loh, Fi" ledek, Viona
"Padahal dalam hati senang loh" timpal, Vigo dengan tersenyum
"Dia kan jawabnya karna belum terlalu kenal, Reza. Nanti kalau udah dekat juga berubah jawabannya" ucap, Luthfi yang membuat mereka semua diam saling menatap satu sama lain
"Kan gue ngga pernah bilang mau dekat sama, Reza" kening, Syifa berkerut menanggapi pernyataan, Luthfi
"Nanti juga loh dekat" tukas, Luthfi tanpa menoleh
Saat, Syifa hendak menjawab, Risa hanya memegang tangan, Syifa lalu menggeleng. Syifa terpaksa menghela napas. Sedangkan, Viona, Vigo dan Fahri hanya terus memandang satu sama lain
"Sekarang pertanyaan loh, Fi" seru, Vigo untuk mencairkan suasana yang mulai tegang
"Yang romantis yah" timpal, Fahri memegang pundak, Luthfi
"Bikin, Syifa kejang-kejang kalau perlu" ucap, Viona disusul tawanya
"Loh pikir gue Ayam mati kejang-kejang" gerutu, Syifa
"Kali aja, Luthfi bisa bikin loh kejang-kejang" tawa, Risa pun meledak
"Senang yah kalian" ketus, Syifa
"Senang dong" jawab, Risa dan Viona kompak dengan tawanya
"Ayo, Fi. Pertanyaan loh apa?" cetus, Vigo
Luthfi menatap, Syifa sebelum mengeluarkan pertanyaannya. Syifa sudah dibuat was-was olehnya. Yang lain pun turut penasaran akan pertanyaan yang akan dilontarkan, Luthfi
"Kalau seandainya gue pergi dari kehidupan loh? Apa yang bakal loh lakuin?", Luthfi terus menatap, Syifa sambil bertanya
__ADS_1
Syifa yang mendengar pernyataan, Luthfi seketika langsung menoleh kearah, Luthfi dengan mata yang berkaca-kaca tanpa menjawab. Keempat lainnya terlihat mulai tegang tanpa ingin menyahut walau sekedar ingin bercanda
"Jawab" dengan santai, Luthfi menaikkan dagunya sekilas saat, Syifa hanya menatapnya tanpa menjawab
Syifa kemudian menunduk, lalu menggeleng dengan pelan. Mulut, Syifa sekan terkunci rapat, sedang matanya sudah mulai penuh dengan kristal bening menghiasinya
"Fa?" panggil, Risa dengan pelan sambil memegang lengannya. Syifa tidak menjawab, tidak juga menaikkan pandangannya. Risa kemudian memeluk, Syifa. "Wah, gila pertanyaan loh, Fi sampai, Syifa ngga bisa jawab", Risa mencoba membuat nada suaranya seakan sedang bercanda, padahal ia tau, Syifa sedang menangis.
Viona melihat, Syifa menyeka air matanya dalam pelukan, Risa tanpa dilihat oleh yang lainnya, juga ikut memeluk, Syifa agar lebih bisa menghapus air matanya tanpa ketahuan. "Wah parah sih. Benar-benar yah loh, Fi. Gue aja sampai merinding dengar pertanyaan loh" timpal, Viona yang juga berusaha bercanda
"Kalian main peluk-peluk, Syifa aja. Sesak tuh anak" seru, Vigo
"Syifa juga belum jawab" tukas, Fahri
"Lepasin dia. Sesak nafas nanti" perintah, Luthfi
Saat, Risa dan Viona hendak bersuara. Syifa tiba-tiba berhambur keluar dari pelukan, Risa dan Viona. "Sesak gue gila" sambil mengipas wajahnya dengan tangan. "Kalian meluk gue apa mau ngebunuh gue sih" gerutu, Syifa yang sudah mulai bisa menguasi dirinya.
"Ngga apa-apa. Biar sekalian gue tenggelamin loh di ketek gue" tawa, Risa pecah disusul kelima lainnya. Bahkan untuk pertama kalinya, Luthfi ikut tertawa walau tidak lepas
"Ngaco" cibir, Syifa dengan memukul pelan lengan, Risa
"Udah ah. Ayo lanjut. Putar botolnya", Viona meraih botol dari tangan, Risa dan hendak memutarnya. Namun tangannya dihentikan oleh, Vigo
"Jangan dulu. Syifa belum jawab" sergah, Vigo yang mengingatkan mereka
"Eh ia. Syifa belum jawab" timpal, Fahri
"Jawab" lagi-lagi, Luthfi menaikkan sekilas dagunya.
Risa dan Viona sudah mulai cemas kembali takut-takut jika, Syifa kembali menangis. Namun, Syifa terlihat santai dan sepertinya sudah ingin menjawab pertanyaan, Luthfi
"Hmmm. Gue ngga tau apa yang bakal gue lakuin. Soalnya kan gue belum pernah ngerasain itu" jawab, Syifa dengan santai. "Kita di SMU bareng, kuliah juga bareng. Jadi gue ngga mau mikirin hal-hal yang belum pasti" imbuhnya
Luthfi hanya memicingkan matanya yang terus menatap, Syifa. Kelegaan tersendiri dirasakan oleh, Risa dan Viona saat, Syifa berhasil menjawab dengan santai. Padahal awalnya, mereka berdua ingin membully, Syifa. Namun ternyata tidak berjalan dengan baik
"Wahhh..... Bijak banget sahabat gue ini", Risa berhambur memeluk, Syifa
"Ngga usah lebay deh" jengah, Syifa dengan tingkah, Risa
"Syifa. Sebenarnya jawaban loh sih ngga nyambung. Pertanyaan, Luthfi kan 'seandainya'. Bukan udah kejadian" papar, Fahri yang tidak puas dengan jawaban, Syifa
"Benar", Luthfi dan Vigo kompak menyahut dengan menunjuk, Fahri
"Syifa kan tadi udah jawab", Viona membela, Syifa agar tidak menjawab untuk kedua kalinya
"Ngga nyambung, Vio" tutur, Vigo dengan lembut
"Nyambung kok" timpal, Risa yang juga ikut membela, Syifa
"Bentar-bentar. Kok kalian tiba-tiba jadi ngebelain, Syifa? Biasanya malah kalian berdua yang paling senang kalau, Syifa di situasi macam ini", Fahri bertanya dengan heran
"Ia yah", Vigo membenarkan perkataan, Fahri
"Mau jawab atau ngga?" tanya, Luthfi kepada, Syifa
"Tadi gue udah jawab" sahut, Syifa dengan rendah
"Bukan itu jawaban yang gue mau, Fa", Luthfi menggeleng namun terus menatap, Syifa
"Gue ngga tau mau ngomong apa" jawab, Syifa dengan lemas
"Gue mau jawabannya sekarang, Fa" ujar, Luthfi yang sudah tidak memperdulikan yang lainnya
"Gue ngga tau dan gue ngga mau tau. Gue ngga mau ngerasain itu, dan gue ngga mau ada kata-kata 'seandainya' sekalipun" ucap, Syifa tanpa sadar hingga membuat, Luthfi memperdalam tatapannya. Bahkan, keempat teman mereka yang lainnya hanya tercengang dengan penuturan, Syifa
__ADS_1
Syifa melihat satu persatu wajah temannya yang ada disana sebelum bersuara. "Gue salah ngomong lagi yah? Jawaban gue ngga nyambung lagi yah?" cetus, Syifa dengan polos walau sebenarnya dirinya sangat malu