
"Sialan loh" seru, Celia saat, Fahri sudah pergi mengikuti, Luthfi dan Syifa.
"Tunggu! Luthfi bukannya temanan sama, Syifa kan sejak mereka SMU? Berarti, Luthfi ngga ada perasaan apa-apa dong sama, Syifa selain teman? Luthfi juga biasanya suka ngebelain, Risa. Karna mereka juga teman SMU. Pikiran gue nih, aduh", Celia memukul pelan kepalanya sambil tersenyum, "Terus apa yang bikin resah coba?" ia terus berbicara kepada dirinya sendiri. Senyumnya terbit lalu ia berlari kecil mengikuti ketiga teman kelompoknya.
"Syifa?" panggil, Risa dan Viona sambil berlari kecil kearah, Syifa yang diikuti, Reza dan Vigo. Tangan yang tadinya digenggam oleh, Luthfi ia segera melepasnya karna tidak ingin membuat temannya yang lain menjahili dirinya.
"Hai" sapa, Reza kepada, Syifa dengan melambaikan tangannya.
"Hai juga" jawab, Syifa dengan senyum tulusnya.
"Ehemm", Risa berdehem untuk mengusir kecanggungan diantara mereka.
"Kalian kok ninggalin gue sih?" ketus, Celia saat sudah kembali bergabung dengan mereka
"Dia lagi" guman, Viona yang memutar malas bola matanya lalu melipat kedua tangannya di atas perut.
"Loh nyindir gue?" seru, Celia yang menajamkan matanya kearah, Viona.
"PD banget loh?", Viona yang tidak takut, malah menantang balik tatapan, Celia.
"Loh mau mulai nyari ribut lagi?" sergah, Fahri yang mendapat lirikan sinis dari, Celia
"Loh ingat kata-kata gue kan tadi?" cetus, Luthfi menatap dingin, Celia. Celia yang takut dengan tatapan dingin, Luthfi mengangguk meski ia ingin sekali memaki-maki teman, Luthfi yang ia rasa selalu mencari masalah dengannya.
"Loh udah makan?" tanya, Reza kepada, Syifa di sela-sela keributan kedua gadis tersebut.
Syifa yang mendapat pertanyaan dari, Reza sedikit terkejut, "Gue?" ia menunjuk dirinya sendiri. Dan, Reza hanya mengiyakannya.
"Loh nanya, Syifa udah makan padahal dia lagi sama gue dan Luthfi? Tenang aja", Fahri menepuk pundak, Reza, "Dia ngga akan kelaparan ataupun kenapa-napa selama dia dalam pengawasan gue dan, Luthfi" ujar, Fahri yany melirik, Luthfi namun lelaki tersebut memilih untuk tidak menjawab.
"Udah gue bilangin. Ngga akan kelaparan, Syifa selama, Luthfi dan Fahri ada sama dia. Seperti halnya gue, gue ngga akan biarin, Viona dan Risa kelaparan" timpal, Vigo.
"Bukan itu maksud gue", Reza berusaha menyangkal agar tidak menjadi salah paham, "Gue tau kok, kalian berdua ngga akan ngebiarin, Syifa kelaparan ataupun sampai kenapa-napa. Gue cuma pengen nanya ke, Syifa aja, siapa tau dia cuma malas makan atau apa kan kita ngga tau", Reza terus berusaha menjelaskan
"Apaan sih kalian ini? Terlalu lebay tau ngga. Dia", Celia menunjuk, Syifa, "Kalau lapar juga pasti minta makan. Ngga usah lebay gitu kali" ketus, Celia.
"Bilang aja loh iri karna ngga ada yang perhatiin" telak, Risa yang membuat lainnya menahan tawa.
"Loh bilang apa barusan? Gue ngga salah dengar?", Celia tersenyum mengejek. "Loh ngga tau aja, banyak dari teman-teman kelas kita yang selalu ngirimin gue pesan buat ngga lupa makan. Itu karna apa? Banyak yang perhatian sama gue" saut, Celia dengan bangga
"Ia. karna loh ngga dapat perhatian dari orang yang loh suka, makanya mereka perhatian ke loh, takut loh mati kelaparan karna ngga ada yang perhatiin" tawa, Risa pun meledak diikuti yang lainnya.
__ADS_1
"Jaga ucapan loh yah", Celia menunjuk, Risa dengan emosi yang membara. "Yang harusnya ngejaga ucapan, itu loh", Viona menurunkan telunjuk, Celia dari, Risa.
"Udah-udah. Malah berantem disini", Syifa berusaha menyudahi keributan diantara mereka.
"Ngga usah sok baik deh loh" seru, Celia yang menampakkan wajah tidak sukanya kepada, Syifa.
"Marcelia", Ucapan, Luthfi yang dingin menyentak hati, Celia hingga gadis tersebut tediam namun terus mengumpat dalam hatinya
***/
"Kalian semua sudah siap?" ujar pembina mereka.
"Siap Pak"
"Oh ia. Sebelum berangkat, jangan lupa kalian mengambil potret bersama kelompok kalian setelah laporan kalian selesai kerjakan" lanjutnya
"Baik Pak"
"Silahkan mulai penelitiannya. Dan kembali berkumpul setelah lima jam ke depan. Ayo silakan bergegas"
Viona, Risa dan Syifa saling melambaikan tangan untuk berpisah selama lima jam ke depan. Reza juga mengucapkan kepada, Syifa untuk lebih berhati-hati. Mereka kemudian berpisah dan bergabung dengan kelompok mereka masing-masing
***/
"Jangan ngomong sembarang, Sa" tegur, Viona. Risa pun seketika langsung menutup mulutnya dengan tangannya. Reza dan Vigo hanya menggeleng dan tersenyum.
"Tulisan loh rapi ngga?" tanya, Reza kepada, Risa saat ia mengeluarkan pena dan buku dalam ranselnya.
"Viona tuh, tulisannya rapi", Risa menunjuk, Viona. "Sini biar gue aja yang nulis, biar gue ngga mikir lagi", Viona mengambil pena dan buku tersebut dari tangan, Reza dengan tawanya.
"Bisa banget loh yah" protes, Risa.
"Ia dong harus gitu" saut, Viona. Vigo hanya tersenyum dan mengacak rambut, Viona dengan gemas.
"Vigo" seru, Viona, "Rambut gue berantakan" cemberut, Viona yang memperbaiki posisi rambutnya kembali. Namun, Vigo malah tertawa tanpa menghiraukan ocehan, Viona
"Udah-udah. Kita cuma punya waktu kurang dari empat jam sekarang. Ayo, kita mulai penelitiannya" cetus, Reza. "Tau nih mereka berdua. Masih sempat-sempatnya pacaran lagi" gerutu, Risa.
"Eh jomblo. Sirik aja loh" tukas, Viona.
Risa hanya memutar malas bola matanya.
__ADS_1
"Masih mau lanjut berantemnya atau lanjut penelitian nih?" ujar, Reza yang melihat, Risa dan Viona bergantian. "Mereka mah ngga akan berhenti kalau ngga di lerai" cetus, Vigo. "Ok. Ayo" perintah, Reza sebagai ketua kelompok
***/
"Kok serem banget sih tempatnya", Celia yang terus mempertahikan rumah-rumah warga yang menyatu dengan pohon-pohon besar membuat ketakutannya muncul.
"Ngga usah lebay" tegur, Fahri yang mengeluarkan senter dari tas kecil miliknya.
"Gue ngga lebay yah. Emang loh ngga ngerasa apa disini seram banget", Celia masih terus memperhatikan sekitarnya.
"Ngga. Gue biasa-biasa aja. Yang seram tuh yang ini", Fahri menyenter wajahnya dari bawanya hingga terlihat seperti pocong.
"Aaaaaaaaa", Celia berteriak kencang hingga, Fahri langsung membekap mulutnya, "Ribut banget loh. Loh mau diusir dari sini"
"Jangan ribut-ribut, Cel. Jangan ganggu istirahat orang" celetuk, Syifa yang tidak melihat wajah, Fahri tadi. Jika ia melihat juga, maka akan ada dua suara keras yang menggema. Tapi, untung saja, Syifa tidak melihat karna ia sibuk mencari senter di dalam tasnya.
"Yah loh kenapa nakut-nakutin gue coba" ucap, Celia yang melepas tangan, Fahri dari mulutnya.
"Lebay loh" tukas, Fahri.
"Syifa juga kalau lihat wajah loh tadi, gue yakin, dia juga bakal teriak kayak gue" tantang, Celia.
"Syifa? Loh takut gue kayak gini ngga?", Fahri yang hendak mulai menyenter wajahnya dari bawah dan, Syifa yang mulai memperhatikan tiba-tiba mata, Syifa ditutup oleh, Luthfi bersamaan, Fahri yang sudah sempurna menyenter wajahnya dari bawah seperti yang lakukan ke, Celia tadi
"Udah. Ngga usah", Luthfi meraih senter dari tangan Fahri dan melepas tangannya dari mata, Syifa.
"Kenapa? Kan gue belum liat" ujar, Syifa dengan polosnya. "Ngga usah. Ayo mulai penelitiannya", Luthfi mengeluarkan alat-alat yang akan ia gunakan
"Giliran, Syifa aja" umpat, Celia
"Syifa takut?" tanya, Fahri dengan pelan hingga hanya dan, Luthfi yang mendengar. Luthfi melirik, Syifa yang masih sibuk dengan senternya lalu mengangguk membenarkan pertanyaan, Fahri
"Kok senter gue ngga mau nyala sih?", Syifa memukulkan senternya dengan pelan ke telapak tangannya. "Takut sama loh kali" cetus, Celia.
"Pake senter gue aja", Luthfi memberikan senternya kepada, Syifa.
"Terus loh pake apa?" tanya, Syifa yang menampakkan wajah polosnya.
"Nanti gue ngikut aja" saut, Luthfi.
"Berdua aja makenya. Biar, Luthfi yang pegang senternya terus, Syifa loh pegang juga, Fi biar ngga kenapa-napa" usul, Fahri yang sebenarnya hanya untuk menggoda keduanya namun, Syifa menanggapinya dengan serius
__ADS_1
"Benar yang dibilang, Fahri. Biar loh aja yang pegang senternya. Dan biar gue yang ngikut di belakang loh" usul, Syifa. Luthfi hanya mengangguk tidak tau harus menjawab apa selain mengiyakan ucapan, Syifa.
"Kesempatan" bisik, Fahri di telinga.