Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Jangan sebut nama dia


__ADS_3

Luthfi memalingkan wajahnya menghadap jendela. Vigo dan Fahri saling bersitatap seperti sedang menemukan sebuah jawaban


"Ceritalah, Fi. Ngga enak tau dipendam sendiri" bujuk, Vigo


"Tapi beneran. Gue ngga pernah punya hubungan apapun sama, Syifa. Bahkan ngobrol aja jarang. Untuk bertegur sapapun, gue rasa ngga pernah", Luthfi menoleh kearah, Vigo dan Fahri secara bergantian


"Tapi loh pernah ada cerita apa gitu sama, Syifa?" tanya, Vigo


"Cerita apa memangnya?", Luthfi menautkan kedua alisnya


"Seperti yang pernah ditanyakan, Vio sama Risa saat kita main truth or dare" jelas, Vigo


"Oh ia. Gue baru ingat itu" timpal, Fahri


Luthfi menghela napas


"Bukannya udah jelas?" tanya, Luthfi


"Ngga. Itu belum apa-apa" sangkal, Fahri


"Ayolah, Fi. Cerita" timpal, Vigo


"Yang mana?" tanya, Luthfi dengan malas


"Semuanya" jawab, Vigo dan Fahri dan kompak


Akhirnya mau tidak mau, Luthfi menceritakan walau tidak sampai dengan alasan yang paling spesifik sekalipun


***/


"Risa!!!! "Teriak, Syifa yang berada di ruang tv. "Ada yang nelpon di hp loh"


"Angkat aja, Fa. Bilang aja gue lagi di toilet" teriak, Risa yang berada di dalam toilet


Tanpa membalas, Syifa meraih ponsel yang ada di meja depannya. Ia melihat nomor yang tidak dikenal lalu mulai menekah tombol hijau


"Halo" jawab, Syifa lalu, menekan tombol speaker


"Halo" jawabnya


"Ini siapa?" tanya, Syifa


"Loh lupa sama gue?" tanyanya dengan songong


"Siapa?", Syifa, mengernyit kebingungan


"Risa" panggil orang tersebut yang berada di panggilan telepon


"Sorry. Gue bukan, Risa. Risa lagi di toilet. Ini siapa? Biar nanti gue bilangin ke, Risa" saut, Syifa


"Ini, Syifa yah?" tanya orang tersebut dengan pelan


"Ia", Syifa mengerutkan keningnya. "Ini siapa yah?"


"Ini gue, Dika" jawabya


"Dika? Dika siapa?" tanya, Syifa heran


"Loh juga ternyata lupa sama gue?" tanya seseorang dibalik telepon tersebut dengan lemas


"Jangan bilang ini, Dika mantannya, Risa yah?", Syifa sudah mewanti-wanti


"Ia. Ini gue" sautnya dengan sombong


"Kenapa? Kenapa loh masih ngehubungin, Risa?", Syifa mulai tidak menahan intonasi suaranya


"Gue cuma pengen minta maaf sama, Risa" tukasnya


"Untuk apa?" tanya, Syifa yang menunjukkan suara tidak sukanya


"Emang harus punya alasan buat gue minta maaf?" tanyanya diseberang sana


"Ya ialah. Loh pikir gue ngga tau sifat busuk loh itu?", Syifa menaikkan nada suaranya


"Syifa. Gue cuma pengen minta maaf apa salahnya?" tanyanya


"Ya salahlah. Udah deh, Dika. Ngga usah lagi loh gangguin, Risa. Sekarang dia udah bahagia tanpa loh" hardik, Syifa yang semakin kesal


"Risa sekarang udah punya pacar?" tanyanya dengan pelan


"Ya ialah. Loh pikir cuma loh doang laki-laki di dunia ini? Ngga usah sok kegantengan deh loh. Sekarang, Risa udah bahagia, bahkan lebih bahagia saat ini daripada sama loh dulu" tutur, Syifa dengan penuh penekanan


"Risa lebih bahagia tanpa gue?" tanyanya seperti tidak percaya


"Hahah", Syifa memaksa tertawa "Loh ngga percaya? Pacar, Risa sekarang jauh lebih baik daripada loh. Dia sayang banget sama, Risa. Dia ngerti banget sama, Risa. Bahkan saat, Risa, ngambek, dia bukannya ninggalin, Risa tapi dia malah membelai lembut kepala, Risa dengan, penuh kasih sayang untuk meredakan kemarahan, Risa", Syifa mengucapkannya dengan penuh penekanan

__ADS_1


"Sebahagia itu dia tanpa gue?" tanyanya seperti sedang meremehkan


Syifa kemudian kembali tertawa. "Tentu. Bahkan wajah cowoknya, Risa seribu kali lebih ganteng dari loh" hardik, Syifa lalu menekan tombol merah dengan sangat kesal


"Kesal gue sama nih orang", Syifa menyimpan ponsel, Risa dengan kesal


"Kenapa sih loh marah-marah?" tanya, Risa saat dirinya sudah keluar dari toilet


"Mantan loh tuh ngeselin" jawab, Syifa dengan masih kesal


"Mantan gue? Siapa?" tanya, Risa yang sudah ikut terduduk di samping, Syifa


"Emang loh punya mantan berapa?" tanya, Syifa yang kesal


"Cuma satu" saut, Risa dengan polos


"Ya udah itu dia" kesal, Syifa lalu menyandarkan punggungnya di sofa


"What?? Tunggu-tunggu. Maksud loh yang nelpon gue tadi, Dika?", Risa setengah berteriak mendapati kenyataan bahwa mantannya menelpon dirinya


"Kenapa?" tanya, Syifa dengan sinis. "Loh baper lagi? Ngga usah deh, Sa. Cukup loh makan hati selama ini. Lagian juga udah gue bilang loh punya pacar sekarang"


"Syifa!!!!!" teriak, Risa. "Kok loh ngomong gitu sih" kesal, Risa


"Loh tuh kenapa sih? Loh masih ngarepin dia yang jelas-jelas udah ngehianatin loh selama ini? Buka mata loh, Sa. Jangan mau dibegoin sama cinta", Syifa menunjuk-nunjuk pelipisnya


"Tapi, Fa... " cetus, Risa


"Ngga ada tapi-tapian, Sa. Gue juga selama ini ngga kuat loh di bikin gila karna cinta" tukas, Syifa


Risa menghela napas. Lalu memeluk lengan, Syifa. "Makasih yah, Fa. Selama ini loh selalu ngebelain gue"


"Makanya jangan gila-gila amat karna cinta" seru, Syifa


"Tapi gue juga kesal sama loh", Risa melepas tangannya dari lengan, Syifa. "Ngapain coba loh pake ngomong segala kalau gue udah punya pacar? Kalau ketahuan ngga ada gimana? Ahhh", Risa jadi kesal sendiri


"Kok loh jadi kesal sih?" kesal, Syifa. "Harusnya loh bersyukur. Seenggaknya, habis ini dia ngga akan ngeganggu loh lagi" ujar, Syifa


"Ia juga sih", Risa menggaruk pelipisnya


Syifa memutar malas bola matanya. "Udah ah gue ngantuk. Mau tidur dulu", Syifa hendak beranjak pergi meninggalkan, Risa. "Loh belum mau tidur?". Risa menggeleng. "Ya udah, gue duluan yah", Syifa berlalu meninggalkan, Risa


Risa merenungi setiap ucapan yang dilontarkan, Syifa tadi. Ia sejenak membenarkan perkataan, Syifa. Kemudian menarik napas lalu membuangnya perlahan "Gue harus bisa ngelupain dia" ucapnya pada diri sendiri


***/


"Kita yang kecepatan apa mereka yang lambat sih ini?" gerutu, Risa saat hanya ada mereka berdua di dalam kelas


"Ngga tau juga gue", Syifa meraih ponselnya yang berada di tas lalu mengotak-atik ponsel tersebut


"Mau ngapain?" tanya, Risa saat melihat, Syifa sedang mencari-cari nama dikontaknya. "Mau nelpon, Luthfi?" goda, Risa


Syifa melirik tajam tanpa menoleh. "Ngga usah sebut-sebut nama dia lagi"


"Kenapa loh? Loh lagi ada masalah sama, Luthfi?", Risa akhirnya menghadapkan tubuhnya kearah, Syifa


"Gue bilang jangan sebut nama dia" teriak, Syifa dengan kesal


"Loh kenapa sih jadi gini? Punya salah apa, Lut", Risa mengurungkan niatnya menyebut nama, Luthfi. "Punya salah apa coba dia sama loh? Perasaan kemarin baik-baik aja deh" kening, Risa mengkerut dengan tingkah, Syifa pagi ini


"Gue nelpon, Viona. Loh diam aja deh, jangan bikin gue kesal", Syifa menekan tombol panggil pada kontak, Viona dengan raut wajah yang ditekut


Saat, Syifa mulai menempelkan benda tersebut di telinganya. Suara deringan ponsel terdengar diluar kelas yang hendak memasuki kelas tersebut.


Syifa menoleh kearah pintu yang sudah ada, Viona disana sedang menunduk melihat layar ponselnya yang sedang berdering


"Kalau mau jawab yah jawab. Kalau ngga yah matiin" suara, Syifa membuat, Viona mendongak dan mendapati, Syifa dan Risa sudah berada disana


Viona hanya tersenyum lalu berjalan mendekati mereka dan duduk disamping, Risa


"Ngga bareng, Vigo?" tanya, Risa saat, Viona sudah duduk di sebelahnya


"Ngga. Mungkin bareng, Fahri sama Luthfi kali" jawab, Viona. "Luthfi ngga ngehubungin loh, Fa?" tanya, Viona kepada, Syifa


Risa sontak memutar tubuhnya setelah mendengar, Viona menyebut nama, Luthfi. Risa tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi, Syifa setelah mendengar nama, Luthfi. Tadi saja dirinya harus berperang melawan rasa kesalnya karna tidak ingin membuat, Syifa semakin kesal meski ia tidak tau alasan, Syifa kali ini


"Ngga tau. Ngapain nanya ke gue" sewot, Syifa disambut tatapan bingung, Viona


"Kenapa loh? Berantem sama, Luthfi?" tanya, Viona dengan heran


Tatapan tajam, Syifa kembali ia layangkan kepada, Viona. "Jangan sebut nama dia depan gue" ucapnya denga penuh penekanan


Viona mengernyit heran. Namun, Risa dengan cepat menatap, Viona lalu mengedipkan matanya untuk tidak lagi memperpanjang masalah ini. Beberapa teman sekelas merekapun sudah mulai berdatangan termasuk ketiga pemuda yang sempat dibicarakan tadi


"Tumben cepat datang, Vio", Vigo, tersenyum kepada, Viona lalu duduk di belakangnya. Diikuti, Fahri di sampingnya yang berada di belakang, Risa lalu diikuti oleh, Luthfi yang berada tepat di belakang, Syifa

__ADS_1


Luthfi menatap, Syifa sebelum dirinya duduk. Namun, Syifa sama sekali tidak menatap ataupun sekedar melirik dirinya. Risa hanya berusaha menerka-nerka ada apa dengan mereka berdua. Namun jika dilihat dari tingkah, Luthfi sepertinya tidak terjadi apa-apa. Tapi mengapa, Syifa menjadi sensitif bila menyangkut nama, Luthfi pagi ini


"Teman-teman. Pak Diwan hari ini tidak masuk. Namun beliau memberikan kita tugas yang harus dikumpul saat jam kuliahnya selesai" ketua tingkat bersuara saat baru mendapat sms dari dosen mereka


"Kenapa ngga dari tadi sih"


"Tau gitu gue tidur aja sampai siang"


"Gini nih dosen terbaik. Kita bangun pagi-pagi terus ke kampus cepat-cepat, eh, dia malah ngga masuk"


Ocehan-ocehan terlontar dari mulut para mahasiswa/i dalam kelas mereka. Namun tetap mengikuti peraturan dengan mengerjakan tugas yang diberikan kepada mereka


"Syifa?" panggil, Luthfi dari belakang dengan pelan


"Apa?", Syifa menjawab dengan judes hingga keempat teman mereka seketika menoleh kearah, Syifa


"Syifa", Risa terlihat menegur, Syifa


"Apa?" jawaban dan raut wajah yang sama masih, Syifa tampilkan


"Loh kenapa, Fa? PMS?" tanya, Fahri heran dengan tingkah, Syifa


Syifa hanya memutar malas bola matanya


"Loh berantem sama, Luthfi?" tanya, Vigo


Lagi-lagi, tatapan tajam, Syifa layangkan kepada, Vigo hingga, Viona harus mengode, Vigo untuk tidak membalas


"Loh berantem sama, Syifa, Fi?" tanya, Fahri kepada, Luthfi


"Ngga", Luthfi menggeleng. "Gue punya salah?" tanya, Luthfi kepada, Syifa dengan pelan


"Ngga" jawab, Syifa dengan semakin judes


Luthfi terlihat menghela napas. "Kalau gue ada salah bilang? Jangan langsung marah"


"Gue bilang ngga ada kenapa sih" sewot, Syifa


Luthfi menoleh kearah, Risa. Namun, Risa hanya mengangkat kedua bahunya


"Syifa? Gue ada salah?" tanya, Luthfi kembali dengan pelan


"Gue bilang loh ngga ada salah. Tapi loh bilangin tuh sama teman loh, ngga usah gangguin, Risa lagi" seru, Syifa yang disambut tatapan heran, Luthfi


"Teman gue?" tanya, Luthfi dengan bingung


Syifa tidak menjawab hanya mencibir


"Bentar-bentar", Risa, mengerjap-ngerjap berpikir sejenak lalu tertawa begitu keras hingga beberapa orang menoleh kearahnya


"Ih. Loh gangguin orang-orang aja deh", Syifa memukul lengan, Risa


"Maaf maaf", Risa meminta maaf kepada teman-temannya yang lain karena merasa terganggu


"Bentar deh, Fa. Loh kesal sama, Luthfi karna masalah yang semalam itu?", Risa berusaha menahan tawanya


Syifa melirik tajam yang disambut tawa, Risa hampir meledak kembali jika saja dirinya tidak menutup mulutnya dengan cepat


"Gila. Lucu banget sumpah" ucap, Risa saat sudah mulai menguasai dirinya


"Kenapa sih, Sa?" tanya, Viona yang penasaran


"Luthfi?" panggil, Risa


"Hmm" hanya deheman yang diberikan, Luthfi


"Semalam, Dika nelpon gue. Terus yang jawab, Syifa karna gue di toilet" seru, Risa


Luthfi mengernyit. "Dika nelpon loh?" tanya, Luthfi dan diiakan oleh, Risa


"Suruh tuh teman loh, bilangin 'jangan gangguin, Risa. Syifa marah, terus marahnya juga ke gue karna loh teman gue'", Risa berusaha keras menahan tawanya


"Ha?", Luthfi ternganga sendiri mendengar penjelasan, Risa. Sedangkan, Syifa hanya diam malas


"Syifa?" panggil, Vigo. "Loh marah sama, Luthfi karna teman dia ada yang gangguin, Risa?" tawa, Vigo pun mulai terdengar namun tidak keras


"Benar-benar yah loh, Fa bikin gue jantungan tadi" seru, Viona dengan kesal


"Mati loh, Fi kalau gini" cetus, Fahri menepuk pundak, Luthfi menahan tawanya


"Tapi kan gue ngga salah apa-apa?" seru, Luthfi kepada, Syifa


"Ia. Tapi dia kan teman loh" kesal, Syifa menoleh kearah, Luthfi dengan tatapan tajamnya yang sempat ia layangkan kepada, Risa, Viona dan Vigo. Beruntung, Fahri tidak kena


"Tapi apa hubungannya sama gue?" tanya, Luthfi menunjuk dirinya sendiri

__ADS_1


"Adalah. Karna dia teman loh" bantah, Syifa yang semakin kesal


__ADS_2