Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Pengantin Baru


__ADS_3

Pagi harinya. Syifa bangun terlebih dahulu. Ia perlahan menyingkirkan tangan, Risa dari perutnya serta tangan, Viona dari bahunya. Dengan pelan ia turun dari tempat tidurnya lalu memilih menuju dapur. Saat hendak melewati ruang tamu dimana para pria itu tidur, sejenak ia berhenti dan melihat ketiga pria tersebut masih tertidur.


Syifa menengok jam dinding yang menempel ditembok menunjukkan pukul 6 pagi. Syifa tidak ingin membangunkan teman-temannya mengingat ini adalah hari libur. Ia melangkahkan kakinya menuju dapur lalu mulai memasak di sendirian disana. Hampir sejam ia berperang dengan alat-alat dapur tanpa menciptakan keributan.


"Selesai" ucapnya setelah meletakkan semua hidangan makanan yang sudah ia buat tadi di atas meja makan, "Apa gue bangunin mereka yah?" ia menggigit bibir bawahnya untuk berpikir, "Tapi kasian juga yah? Ini kan hari libur. Mereka pasti capek"


"Boleh minta minum?" suara khas orang yang baru bangun tidur menyentak telinga, Syifa yang sedari tadi berbicara dengan sendirinya


"Astaga", Syifa berbalik badan sambil melihat, Luthfi berdiri di depannya, "Loh ngagetin gue tau" gerutunya. "Kalau gue jantungan gimana? Mau tanggung jawab loh emang?", Syifa terus saja mengomel


"Gue haus. Boleh minta minum ngga?", Luthfi tak menghiraukan omelan, Syifa. Gadis itu pun langsung mengambilkan segelas minuman untuknya. Luthfi terduduk dan menerima gelas yang diberikan, Syifa, lalu perlahan meneguknya sampai habis.


"Lagi?" tanya, Syifa. Luthfi hanya menggeleng lalu melipat kedua tangannya diatas meja dan menaruh kepalanya disana. Ia merasa kepalanya sedikit pusing.


"Loh kenapa? Sakit?", Syifa menyentuh kening, Luthfi yang tersembunyi dibalik tangannya. Luthfi hanya menggeleng perlahan tanpa mengangkat kepalanya.


"Tidur lagi aja kalau loh ngerasa ngga sehat" suara, Syifa melunak. Luthfi mengangkat kepalanya dan menyandarkan punggungnya ke kursi yang ia tempati.


"Kepala gue cuma pusing. Mungkin sebentar lagi baikan" ucapnya dengan memijat keningnya.


"Loh mau minum obat ngga?", Syifa duduk dikursi hadapan, Luthfi. Namun pria tersebut bukannya menjawab, ia malah memejamkan matanya seakan menahan rasa sakit pada kepalanya.


"Loh yakin ngga kenapa-kenapa? Tunggu, gue bangunin, Vigo sama Fahri dulu", Syifa yang sudah berdiri dan hendak keluar untuk membangunkan kedua teman prianya tersebut, namun, Luthfi dengan cepat menahan tangannya hingga, Syifa kembali duduk.


"Jangan. Ngga usah bangunin mereka", Luthfi memijat kepalanya. "Loh mau gue pijitin kepala loh?", Syifa menawarkan diri dengan gugup. Namun, Luthfi hanya mengangguk dan menurunkan tangannya lalu memejamkan matanya.


Syifa melangkah ke belakang, Luthfi dan mulai memijat kepala tersebut dengan pelan. Ia memutar-mutar ibu jarinya di pelipis, Luthfi. Sedang pria tersebut tidak bergerak sama sekali. Hanya dengkuran napasnya yang terdengar sangat lembut.


Syifa memperhatikan wajah, Luthfi yang benar-benar pucat. Tidak ada gairan keceriaan disana.


"Sudah", Syifa terlonjak dengan ucapan, Luthfi yang sama sekali tidak membuka matanya, "Apanya?" tanya, Syifa. "Mijitnya udah. Tangan loh bakal sakit", Luthfi meraih tangan, Syifa dari pelipisnya.


Ia kemudian membenarkan posisi duduknya, "Bangunin yang lain untuk sarapan" perintah, Luthfi. Syifa hanya mengangguk dan keluar untuk membangunkan kedua gadis yang masih terlelap di kamar. Setelah itu, Syifa menyuruh, Viona untuk membangunkan, Vigo dan Fahri.


Setelah mereka sudah lengkap di meja makan. Syifa menyuruh teman-temannya untuk sarapan bersama meski, Syifa lagi-lagi mendapat omelan dari kedua sahabatnya karna tidak membangunkan mereka untuk membantunya menyiapkan makanan. Namun, Syifa tidak pernah mempermasalahkan akan hal itu.


Setelah mereka selesai sarapan. Risa dan Viona yang bertugas mencuci piring, juga sudah selesai dengan pekerjaan mereka. Kini, mereka sudah berada di ruang tengah, tepatnya depan TV. Dan lagi-lagi mereka lebih suka melantai dan menyandarkan punggung mereka ke sofa.


"Tapi ingat yah. Kalian jangan ada yang ngasih tau ke siapapun nanti kalau gue mau nikah", Syifa memperingati teman-temannya.


"Kenapa emangnya? Loh malu nikah karna masih kuliah?" ledek, Risa yang padahal ia sudah tau. "Malu karna siapa nih? Malu karna nikahnya sama, Luthfi?", Viona ikut-ikutan meledek, Syifa.

__ADS_1


"Kalian ini yah" geram, Syifa melototkan matanya ke arah dua gadis di sampingnya. "Bukannya ngebantu malah ngebully" ketus, Syifa yang cemberut


"Gimana sama, Reza nih?", Vigo sengaja menyebut nama, Reza di depan, Luthfi. "Dia pasti bakal sakit hati banget dengar, Syifa mau nikah sama, Luthfi", Fahri pun ikut-ikutan menggoda kedua calon pengantin itu.


"Tau ah. Kesal gue", Syifa beranjak dan masuk, ke dalam kamar. Tawa dari yang lainnya pun pecah termasuk, Luthfi yang menganggap tingkah, Syifa benar-benar lucu meski ia penasaran bagaimana hubungan calon istrinya dan Reza.


Hari-hari mereka jalani dengan penuh semangat, mengingat sebentar lagi ujian akan berlangsung. Mereka sangat antusias dan lebih sering kerja bersama saat dosen memberikan mereka tugas. Tempat, Syifa dan Risa yang selalu menjadi saksi bagaimana mereka melewati hari-hari berat menjelang ujian.


"Ujian sebentar lagi. Gue jadi deg-degan", Syifa memegang dadanya yang berdegup kencang.


"Gimana ngga deg-degan. Bentar lagi nikah" sahut, Viona saat mereka berada di toilet. "Jaga kesehatan dong calon pengantin. Ngga boleh terlalu banyak pikiran" timpal, Risa yang memperbaiki tatapan rambutnya di depan cermin


"Ssstttt" tegur, Syifa. "Kalian ini yah, cerewet banget. Ngga tau apa kita masih diarea kampus? Kalau ada yang dengar gimana coba" ketus, Syifa.


"Udah. Ngga usah ngomel terus. Ayo balik ke kelas" ajak, Risa. Viona dan Syifa hanya mengikut untuk kembali ke dalam kelas mereka yang saat ini mereka gunakan untuk belajar pelajaran pertama.


Dan kini, ujian benar-benar sudah di depan mata. Semua mahasiswa sudah mempersiapkan mental mereka menghadapi ujian akhir semester satu. Semua peserta telihat tenang dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan dosen mereka hingga ujian terakhir sekalipun. Ujian pada hari terakhir membuat semuanya bersemangat untuk menghadapinya.


"Akhirnya selesai juga" teriak, Vigo yang kini mereka berada di kantin saat ujian telah berakhir. "Otak gue hampir beku karena berlajar terus. Gila nih perguruan tinggi, bikin otak beku aja" ujarnya


"Libur selama dua bulan. Rasanya gue pengen liburan", Fahri merenggangkan otot-ototnya yang kaku ia rasa.


Syifa tidak menjawabnya, "Astaga gue lupa. Syifa sama Luthfi kan mau nikah setelah ini" heboh, Risa yang mulutnya langsung dibekap oleh, Syifa.


"Hati-hati loh kalau ngomong. Gimana kalau yang lain dengar?" kesal, Syifa kepada sahabatnya itu. Untung saja hanya ada sedikit orang disana. Kantin tidak ramai seperti biasanya. Mungkin mereka lebih memilih merayakannya di luar.


"Hehe. Ia maaf-maaf. Lupa", Risa terkekeh, "Jadi kapan kalian nikah?" lanjutnya


Syifa tidak menjawab, ia hanya menoleh ke arah, Luthfi, "Dua hari lagi gue sama, Syifa harus balik" sahut, Luthfi. "Dua hari lagi? Cepat banget" tukas, Viona


"Kita boleh ikut ngga?" tanya, Fahri. "Gue rencananya juga mau berangkat sama kalian. Karna ngga mungkin gue berangkat sama, Syifa" jawab, Luthfi


"Pake mobil gue aja", Vigo menawarkan diri. "Ngga usah. Pake mobil gue aja. Cuma yang cewek-cewek gimana?", Luthfi menatap, Syifa


"Pake mobil, Vigo aja. Biar gue yang bawa" ujar, Viona.


"Loh bisa bawa mobil, Vi?" tanya, Risa. Pasalnya, ia tidak pernah melihat, Viona mengendarai mobil.


"Bisalah. Ngeremehin gue loh?" tantang, Viona


"Udah-udah. Jadi nanti gue, Risa sama Viona jalan bareng" jelas, Syifa. Semuanya mengangguk setuju.

__ADS_1


Mereka pulang kerumah masin-masing untuk mempersiapkan keperluan yang akan mereka bawa nantinya. Setelah dua hari berlalu tanpa ada kegiatan yang mereka lakukan hanya berdiam di rumah saja, kini mereka kembali berkumpul untuk menuju rumah, Syifa dan Luthfi.


Orang tua, Luthfi sudah menghubunginya dan mengatakan semua sudah mereka persiapkan. Begitpun dengan orang tua, Syifa. Mereka akan melakukan resepsi di rumah, Syifa. Yang diundang pun hanya keluarga dan tetangga dekat saja. Mengingat, Syifa melarang keras orang tuanya mengundang banyak orang. Ia ingin pernikahannya tidak dipublikasikan karena ia masih kuliah.


"Cantik banget calon pengantin Mommy" ucap Mommy, Syifa yang masuk ke dalam kamar pengantin putrinya.


Syifa yang mendengarnya tampak malu.


"Mommy berharap kamu bahagia nak" Mommy, Syifa mengusap punggung tangan putrinya itu.


"Mommy jangan ngomong gitu. Nanti, Syifa nangis. Make up nya jadi luntur nanti", Syifa berusaha keras untuk menahan air matanya agar tidak jatuh


Mommynya pun hanya tersenyum. "Sebentar lagi acara pernikahannya akan segera dimulai. Kamu siap-siap yah?" senyum Mommynya mampu menenangkan, Syifa yang sedari tadi gelisah dan jantungnya yang berdebar-debar tiga kali lipat lebih cepat dari biasanya, "Mommy tinggal keluar dulu", Syifa hanya mengangguk melihat punggung Mommy nya yang menghilang.


"Ingat jangan nangis. Nanti kalau make up loh luntur dan ngga cantik lagi, bisa-bisa, Luthfi bakal berubah pikiran" ledek, Risa untuk menghibur sahabatnya itu.


Syifa memukul pelan paha, Risa, "Ngaco" ketusnya. Viona dan Risa hanya tertawa pelan hingga pintu kamar terbuka dan masuklah Mommy, Syifa untuk membawa putrinya keluar diikuti, Viona dan Risa di belakangnya karna pengantin pria sudah tiba disana.


Ikrar janji suci pernikahan telah, Luthfi ucapkan. Syifa menitikkan air matanya tatkala melihat cinta pertamanya, yaitu Ayahnya yang sedang memeluknya erat. Ia tak kuasa menahan air matanya untuk tidak tumpah membahasi pipinya.


"Tanggung jawab Ayah sudah pindak kepada Suami mu nak. Jangan sekali-kali kamu membantah ucapan suami mu nanti. Patuhi dia seperti kamu mematuhi Ayah", Ayahnya menghapus air mata putri kecilnya.


"Ayah" panggil, Syifa dengan berlinang air mata, "Maafin, Syifa Ayah. Syifa banyak salah sama Ayah" ucap, Syifa yang sesegukan.


"Tidak nak. Tidak ada yang lebih berharga dari kebahagiaan mu. Semoga selalu bahagia nak" ucap Ayahnya dengan suara yang bergetar memeluk putrinya. Setelah itu ia memeluk menantunya dan menyuruh menantunya menjaga putri kecilnya tersebut. Luthfi mengangguk pasti membalas pelukan sang mertua.


Hingga sore hari menjelang petang, tamu undangan sudah tidak lagi terlihat. Syifa merengek meminta mengganti pakaiannya karna ia sudah merasa tidak nyaman. Mommynya hanya bisa mendesah dengan tingkah anak gadisnya itu.


Syifa sudah selesai mengganti bajunya dengan pakaian santai saat tamu undangan tak lagi terlihat kecuali para keluarga dan temannya.


"Kok pakai baju biasa loh, Fa?" tanya, Risa saat, Syifa duduk di sampingnya. "Terus loh maunya gue pakai baju apa? Baju pengantin sampai besok?" ketus, Syifa mendengar pertanyaan konyol, Risa


"Pakai baju tidur dong, Fa. Kan loh udah mau tidur" timpal, Viona menahan senyumnya.


"Ngomong apaan sih kalian?", Syifa yang masih tidak mengerti maksud dari teman-temannya lebih memilih tidak menghiraukannya.


"Jadi dimana kamar tidur kalian berdua?" pertanyaan, Vigo secara terang-terangan menyindir, Luthfi dan Syifa.


Syifa yang mendengar pertanyaan, Vigo seketika wajahnya langsung memerah. Kini, ia sudah mengerti maksud dari pertanyaan konyol, Risa tadi. Semua orang langsung tertawa melihat perubahan wajah kedua pengantin baru yang wajahnya sudah memerah karna malu, tak terkecuali orang tua keduanya yang masih berada disana.


"Kalian berdua ngga mau istirahat dulu di kamar?" lagi-lagi wajah mereka semakin memerah dengan pertanyaan konyol, Fahri. Syifa sudah ingin sekali memukul teman-temannya yang membuatnya malu setengah mati.

__ADS_1


__ADS_2