
Reza menghampiri, Syifa yang masih menangis sesegukan saat pertunjukan mereka telah berakhir. Ia terus menyeka air mata, Syifa yang tidak mau berhenti keluar
"Kok nangis terus? Dramanya kan udah kelar", Reza terus membantu, Syifa menghapus air matanya
"Ngga bisa berenti" saut, Syifa di sela-sela tangisnya
Reza akhirnya membawa, Syifa ke samping panggung untuk menenangkannya
"Terbawa suasana yah?" tanya, Reza dengan lembut. Syifa hanya mengangguk
"Dramastis sekali pertunjukan kelompok tiga ini. Arsyifa sangat mendalami perannya sampai masih menangis disana" dosen tersebut menunjuk, Syifa masih menangis ditemani, Reza
"Luthfi. Sana tenangin, Syifa. Kasian tuh" perintah, Viona kepada, Luthfi
"Ada, Reza disana" saut, Luthfi dingin
"Ih, dasar ngga peka" tukas, Viona
"Ketikung loh, Fi ntar" tegur, Vigo memperingati, Luthfi. Namun ia tidak menjawabnya
"Kita istirahat sebentar yah anak-anak. Dua jam lagi, kembali ke tempat ini" tutur dosen tersebut
"Baik bu"
Beberapa dari mereka kini bisa kembali bergabung dengan teman selain dari teman kelompok seni teater mereka. Risa mengajak, Syifa dan Fahri untuk bergabung bersama, Viona, Luthfi dan Vigo di ujung ruangan. Syifa sebelumnya mengajak, Reza untuk bergabung bersama mereka namun, Reza terlebih dahulu diajak oleh sahabatnya yang lain
"Syifa. Kok loh bisa nangis kek tadi sih? Padahal cuma drama loh" seru, Viona saat mereka sudah berkumpul diluar ruangan
Syifa melirik, Luthfi sejenak. "Ngga tau juga. Tiba-tiba aja nyesek sendiri. Gue sih cuma ngebayangin, gimana jadinya kalau orang yang gue sayang benar-benar ninggalin gue" ucap, Syifa dengan nada sedih
"Ngga usah nangis lagi deh. Dramanya udah selesai" tegur, Risa yang tidak ingin, Syifa kembali menangis
"Tapi gue masih sedih gimana dong" suara, Syifa sudah mulai menunjukkan akan menangis
"Ngga ada, Reza yang bakal hapus air mata loh. Jadi pendam aja dulu" cetus, Fahri yang membuat, Luthfi melirik kearahnya
"Apaan sih. sembarangan" rajuk, Syifa
"Btw, Reza dimana?" tanya, Vigo
"Oh. Dia lagi sama temannya tadi" jawab, Syifa
"Loh benaran PDKT sama, Reza?" tanya, Viona dengan polos
"Nggalah. Ngaco" seru, Syifa mengerucutkan bibirnya
"Viona" tegur, Risa menatap, Viona
"Apa? Kan gue cuma nanya" saut, Viona
"Gue mau beli minum dulu. Ada yang mau nitip?", Luthfi berdiri dari duduknya tanpa memperdulikan mereka.
"Gue mau dong nitip minum" seru, Viona. "Gue juga" saut, Vigo. "Gue juga nitip" timpal, Fahri
"Gue juga yah. Tapi kayaknya, Luthfi ngga bisa bawa minuman itu sendiri. Syifa, loh bantuin, Luthfi yah" perintah, Risa kepada, Syifa
"Gue?", Syifa menunjuk dirinya sendiri
"Loh ngga kasian sama, Luthfi?" tanya, Risa melirik, Luthfi
"Ngga usah. Gue ngga apa-apa kok sendiri" saut, Luthfi yang hendak pergi
"Gue ikut", Syifa berdiri lalu pergi bersama, Luthfi
__ADS_1
Risa mencubit perut, Fahri. Memukul tangan, Vigo dan menoyor pelipis, Viona saat, Luthfi san Syifa sudah tidak berada disana
"Apaan sih loh?" kesal, Viona. "Punya salah apa gue sama loh?" saut, Vigo. "Punya dendam apa loh sama gue?" timpal, Fahri
"Kalian tuh yang kenapa?" seru, Risa dengan kesal. "Kalian sengaja yah nyebut-nyebut nama, Reza depan, Luthfi?"
"Apaan sih. Gitu aja loh sampai noyor gue" gerutu, Viona
"Salah sendiri sih, Luthfi, ngga peka sama, Syifa" lanjut, Vigo
"Lebih peka, Reza. Gue sih sengaja nyebut-nyebut nama, Reza depan, Luthfi. Biar dia bisa peka" timpal, Fahri
Risa mendengus kesal.
"Tolong deh yah kalian ini. Kalian tuh ngga tau aja sifat, Luthfi sama Syifa yang sebenarnya. Apalagi, Luthfi, dia itu emang kek gitu, tapi ngga seburuk yang kalian pikirin juga" ujar, Risa
"Yang mikir buruk tuh siapa?" tukas, Fahri
"Tau loh. Gitu aja juga" timpal, Viona
"Jangan terlalu baper, Sa" lanjut, Vigo
"Terserah kalian deh. Gue tau sifat mereka jadi gue ngga bisa ikut-ikutan kek kalian tadi" seru, Risa dengan pasrah dan tak mau lagi menghiraukan balasan ketiga temannya itu yang menurutnya tidak mengerti sama sekali
Viona, Vigo dan Fahri saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya mengerti.
"Ia. Maaf. Gue ngga tau mereka sedalam loh tau mereka berdua" ucap, Viona semakin membuat, Risa terdiam dengan kesal
"Eh. Maksud gue bukan gitu, Sa. Maksud gue itu. Gue emang ngga tau mereka seperti loh tau sifat, Syifa dan Luthfi. Makanya kita bertiga cuma mau, Luthfi jadi sedikit peka ke, Syifa" lanjut, Viona
"Gue ngga bilang tau mereka banget juga tuh ngga. Tapi gue berusaha mengerti mereka. Dan gue juga berusaha ngerti maksud kalian, tapi ngga gitu caranya" jelas, Risa
"Ia ia. Sorry, kita salah" saut, Vigo melerai
"Kok jadi nyudutin gue sih" gerutu, Risa
"Biarin. Wle", Viona menjulurkan lidahnya
***/
"Harusnya loh ngga usah nemenin gue", Luthfi mengeluarkan suaranya saat beberapa lalu membungkam yang masih berjalan kearah kantin
"Kasian kalau loh harus sendiri bawa minuman banyak" saut, Syifa tanpa menoleh
"Gue bisa kok sendiri" ujar, Luthfi
"Sekuat apa loh emang?" tanya, Syifa melirik, Luthfi
"Loh ngatain gue lemah?", Luthfi melirik, Syifa
"Loh aja yang mikir gitu. Gue ngga ada tuh ngomong gitu" seru, Syifa menaikkan kedua bahunya
"sama aja" guman, Luthfi namun bisa didengar oleh, Syifa
"Beda lah" seru, Syifa
"Ia ia beda. Tapi suara loh kecilin volumenya" tukas, Luthfi
Mereka berdua membeli enam botol minuman dan tak lupa membeli beberapa cemilan untuk mereka makan mengingat waktu istirahat mereka cukup lama.
"Ambilin roti juga buat yang lain. Jangan makanan ringan mulu" tegur, Syifa yang memasukkan beberapa makanan ringan ke dalam kantung plastik
"Tapi kan gue ngga suka roti" saut, Syifa dengan manja. "Kan gue bilang buat yang lain, bukan buat loh" ujar, Luthfi yang membuat, Syifa mencibir dan memasukkan beberapa roti ke dalam kantung plastik tersebut
__ADS_1
Syifa membawa belanjaannya ke kasir yang diikuti oleh, Luthfi. "Loh ngga mau beli sesuatu?" tanya, Luthfi menoleh kearah, Syifa. "Ngga" jawab, Syifa dengan cuek. Luthfi hanya tersenyum tipis lalu pergi dari sana
"Ngeselin" umpat, Syifa yang tidak menghiraukan kepergian, Luthfi
Syifa masih berdiri menunggu di depan kasir yang masih menghitung barang belanjaan miliknya. Satu tangan mendarat di kepala, Syifa yang membuatnya terkejut lalu sebuah Ice Cream berada tepat di depan wajahnya yang bersamaan dengan munculnya wajah, Luthfi di samping wajahnya
Syifa menoleh sejenak kearah, Luthfi lalu meraih Ice Cream tersebut. "Terima kasih" ujar, Syifa dengan tersenyum kepada, Luthfi
"Tadi gue nawarin ngga mau" tukas, Luthfi menahan senyumnya. "Keburu kesal gue sama loh tadi" ujar, Syifa yang langsung cemberut
"Ia maaf" ucap, Luthfi sebelum, Syifa berujung ngambek
"Ini dek. 50 ribu" kata penjaga kantin tersebut
Luthfi mengeluarkan dompetnya lalu menarik uang 50an disana. "Ini bu'. Terima kasih"
Luthfi dan Syifa pergi dari sana. Luthfi menenteng botol minuman karna lumayan berat. Syifa menenteng cemilan yang lumayan banyak mereka beli tadi sambil, Syifa memakan Ice Cream ditangan satunya
"Ngga mau duduk dulu makan Ice Creamnya?" tanya, Luthfi. Syifa menggeleng. "Ngga baik makan sambil berdiri" lanjutnya. "Kalau gue duduk dulu nanti lama. Kasian mereka nunggu kita" jawab, Syifa yang terus memakan Ice Cream miliknya
Luthfi hanya tersenyum tipis. Mereka berdua akhirnya sampai di tempat dimana teman-temannya berada. Ice Cream yang sempat, Syifa makan pun sudah habis sebelum mereka sampai
"Lama deh kalian. Keburu pingsan karna haus gue" seru, Risa saat, Syifa dan Luthfi sudah duduk menaruh barang bawaan mereka di tengah
"Loh pikir cuma kita doang yang beli? Antri dong" saut, Syifa
"Minum sana. Jangan ribut terus" tegur, Luthfi untuk melerai perdebatan mereka yang belum sempat semenit ia duduk
"Tau nih berdua. Ribut mulu kerajaannya" cetus, Viona
"Dih" ketus, Risa. "Baru juga diam loh" timpal, Syifa kepada, Viona
"Bodo amat yah" seru, Viona
Mereka menikmati minuman serta makanan yang dibeli oleh, Luthfi dan Syifa. Mereka menghabiskan waktu istirahat mereka dengan bersenda gurau meski sesekali diselipi perdebatan dari para gadis, namun cukup membuat terhibur
"Ayo anak-anak. Silahkan memasuki kembali ruang Auditorium. Akan ada pengumuman penting yang akan Ibu sampaikan" terdengar suara dosen tersebut dari balik mikrofon
"Ayo masuk" ajak, Fahri
"Sampahnya buang dulu" saut, Vigo
"Buangnya disana aja", Viona menunjuk tong sampah dekat mereka
"Biar gue yang buang", Syifa mengambil kantung plastik sampah tersebut. Luthfi membantunya. "Sini. Biar gue bantuin" tawar, Luthfi
"Kita nunggu loh di dalam aja yah" seru, Risa yang diangguki oleh, Syifa dan Luthfi
Luthfi dan Syifa membuang sampah tersebut lalu kembali menuju ruang auditorium.
"Jangan nangis terus yah", Luthfi mengusap kepala, Syifa saat tidak ada orang diluar ruangan. Syifa hanya mengangguk lalu tersenyum
"Luthfi?" panggil seorang wanita yang langsung membuat, Luthfi menarik kembali tangannya dan, Syifa merapikan rambutnya
"Ada apa?" saut, Luthfi dengan dingin
*
*
*
Terima kasih kembali untuk semuanya. Terima kasih juga karna masih mau menyemangatiku. Terima kasih sekali lagi.
__ADS_1