Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Senangnya dipeluk suami


__ADS_3

"Manja banget" guman, Melda


"Loh bilang apa?" tanya, Winda yang mendengar, Melda berbicara, namun tidak tau apa yang ia bicarakan


"Ngga ada" jawab, Melda


"Ayo makan dulu. Jangan ngobrol terus" tegur, Vigo


Suasana makan siang mereka menjadi rame. Vigo dan Viona seperti biasa, saling menampakkan kemesraan mereka. Risa sedikit menjauh dari, Fahri. Berbicara ketika ditanya saja. Sedangkan sepasang suami istri terlihat begitu romantis dengan, Luthfi yang tidak pernah berhenti menyuapi istrinya


"Pulangnya ke rumah, Risa sama Viona dulu yah?" pinta, Syifa pada, Luthfi di sela-sela makannya


"Terserah kamu" jawab, Luthfi sambil terus menyuapi, Syifa


"Harus itu, Fa" cetus, Viona


"Gue sama Melda boleh ikut ngga?" tanya, Winda


Ke tujuh pasang mata itu menoleh pada, Winda yang tiba-tiba ingin ikut bergabung


"Hmm. Boleh" sahut, Vigo


Fahri dan Syifa serentak menoleh ke arah, Risa yang tidak menggubris dan hanya terus melanjutkan makanannya


"Risa gimana?" tanya, Luthfi


"Gimana apanya?" tanya balik, Risa


"Gue kira loh mau keluar kan setelah ini?" tanya, Luthfi yang kembali mengingatkan, Risa


"Ia. Kenapa memangnya?" lagi,-lagi, Risa bertanya balik


"Nanya balik mulu loh" seru, Syifa


"Ya kenapa emang? Gue kan cuma memastikan doang" ketus, Risa


"Mau kemana?" tanya, Fahri


"Kemana aja boleh" jawab, Risa dengan cuek tanpa menoleh ke arah, Fahri


"Gue di samping loh. Bukan di depan loh" seru, Fahri


"Apaan sih? Kenapa loh jadi ngegas?", Risa tidak kalah meninggikan suaranya


"Gue nanya sama loh. Harusnya loh ngeliat ke arah gue. Bukan ke depan" bentak, Fahri


"Gue ngga mau emang kenapa? Masalah buat loh?" kesal, Risa hingga membuat, Fahri mendesah dan memalingkan wajahnya


"Risa" panggil, Syifa


Risa memalingkan wajahnya membelakangi, Fahri. Air matanya tiba-tiba terjatuh namun dengan cepat ia menghapusnya


"Risa" panggil, Viona ketika melihat temannya menangis


"Loh nangis, Sa?", Vigo keget melihat air mata, Risa meski sudah berkali-kali gadis itu hapus


"Vigo" tegur, Luthfi yang menggeleng


Fahri dengan cepat menoleh pada, Risa dengan wajah yang membelakanginya ketika mendengar, Vigo mengatakan, Risa menangis


"Sa?", Fahri memegang lengan, Risa


"Apa sih? Jangan sentuh gue", Risa menepis tangan, Fahri dengan kembali mengusap air matanya


"Loh beneran nangis?", Fahri terkejut dan segera meraih wajah, Risa untuk menghadap ke arahnya, "Loh kenapa nangis?"


"Gue ngga apa-apa. Lepasin gue, Ri", Risa dengan lemah menepis tangan, Fahri namun sia-sia


"Gue minta maaf, Sa. Gue keras yah ngomongnya?", Fahri tetap memegang kedua pipi, Risa


"Loh ngebentak gue" ujar, Risa dengan tangis yang memecah


Beberapa pengunjung tengah melihat ke arah mereka. Ke-empat teman mereka tertawa kecil karna kembali melihat adegan lucu keduanya. Namun tidak dengan, Winda. Gadis itu menatap tidak suka pada, Risa

__ADS_1


"Loh sendiri yang bikin gue kesal" ujar, Fahri lalu mengusap air mata, Risa. "Jangan nangis deh. Loh ngga malu apa diliatin banyak orang"


"Paling yang disalahin juga loh" cetus, Risa


"Mulai lagi", Fahri mendorong pelan kening, Risa dengan telunjuk jarinya


"Loh juga mulai" geram, Risa mencubit lengan, Fahri


"Uhhh. Sayang deh" ledek, Syifa yang memang senjaga


"Udah biasa banget endingnya jadi gini" cetus, Viona


"Jadi apa?" tanya, Winda


"Biasa. Kalau udah saling sayang yah gitu" ujar, Vigo yang membuat, Risa terkejut


"Vigo" geram, Risa yang melirik ke arah, Winda


"Semua orang juga tau, Sa" tukas, Luthfi


"Bisa ngga sih kalian berhenti sekarang" gerutu, Risa. "Ngga enak sama, Winda tau ngga"


"Kenapa sama, Winda?" tanya, Melda


"Udah sih. Ngga perlu diperjelas" seru, Syifa dengan cuek


"Buset bumil gue ini" cetus, Viona


"Gue kan cuma nanya. Emang salah?" ketus, Melda


"Jangan ikut campur urusan orang lain" seru, Luthfi dan tentu saja membuat, Melda diam tak berkutik


"Giliran suami gue aja yang ngomong" guman, Syifa


"Ayo lah. Kita disini buat senang-senang. Cuma mau bilang aja sama kalian berdua. Jangan kaget kalau tiba-tiba ada kata-kata yang bikin kalian tersinggung. Karna kalau kami kumpul, emang sering gini. Jadi santai aja" tutur, Vigo


"Ah. Gue kenyang" cetus, Risa


"Cacing udah terisi?" ledek, Luthfi


"Pantesan berat loh kelihatan banget nambahnya, Sa" ledek, Viona


"Viona" seru, Risa yang menajamkan tatapannya


"Viona kalau ngomong kan selalu benar" cetus, Fahri


Risa mencibikkan bibirnya dengan kesal. Namun lebih kesal lagi ketika melihat, Syifa yang terus mengode, Luthfi minta dipeluk


"Apaan sih, Fa? Disaat kek gini aja masih pengen pelukan. Tunggu nyampe di rumah tuh bisa ngga sih?" serunya dengan kesal


"Dasar jomblo karatan. Kerjaannya ngiri mulu tiap saat. Sana minta dipeluk sama, Fahri juga kalau mau" tukas, Syifa


"Sini aku peluk. Biar, Risa makin panas" ledek, Luthfi yang sudah mendekap, Syifa ke dalam pelukannya tanpa menghiraukan orang lain


"Aaahhh. Senangnya dipeluk suami", Syifa sengaja meledek, Risa. Dan juga sengaja ingin memperlihatkan keromantisannya kepada, Melda


"Untung ada ponakan gue di perut loh. Coba aja ngga" ketus, Risa


"Kalau ngga kenapa?" tantang, Luthfi yang menaikkab dagunya


"Ya ngga kenapa-napa" sahut, Risa yang akan mengalah jika, Luthfi sudah ikut-ikutan hingga membuat yang lainnya tertawa


"Bantuin, Ri" perintah, Vigo lalu tertawa


"Ah. Fahri mah payah" cetus, Viona


"Senang nih, Risa dibela", Fahri menyenggol lengan, Risa


"Pala loh? Diam aja deh" seru, Risa


"Kok loh daritadi marah-marah mulu kalau ngomong sama, Fahri? Emang loh ngga bisa ngomong pelan gitu?" tegur, Winda


"Maksudnya apa?" tanya, Syifa yang tidak terima temannya diperlakukan seperti itu

__ADS_1


"Syifa?" tegur, Luthfi


"Tadi kan, Vigo udah bilang. Kami kalau ngumpul emang suka gitu" sergah, Viona


"Harus banget? Bahkan sampai pelukan di tempat umum kayak gini?" tukas, Melda yang bermaksud menyindir, Syifa


"Gue pelukan juga sama suami sendiri" sahut, Syifa dengan sifat sensitif nya muncul


"Aku bilang apa? Ngga usah dengerin orang lain. Tutup telinga aja" tegur, Luthfi dengan lembut


"Gini yah. Gue jelasin. Gue sama teman-teman yang lain emang udah sering banget kek gini. Ini bukan pertama kalinya gue sama, Fahri atau sama yang lain berdebat. Tiap hari juga kami itu berdebat mulu kerjaannya. Gini sih? Susah kalau misalkan loh mau ngelarang, Fahri buat ngomong biasa ke kami. Atau gue harus ngomong biasa aja ke, Fahri. Karna apa? Dari awal pertemanan kami, itu emang langsung kek gini. Debat hal-hal yang penting juga" tutur, Risa


"Gue ngga suka sih tipe pertemanan yang saling menyinggung kek gini" sahut, Winda


"Loh kan bukan pacarnya, Fahri. Jadi, loh ngga berhak dong buat ngelarang, Fahri berteman sama kami" cetus, Syifa


"Syifa? Dia calon pacarnya, Fahri" tegur, Risa dengan dada yang sesak ketika mengucapkannya


"Kan baru calon? Belum jadian. Jadi belum berhak sama sekali. Kalau gue pribadi. Bakal kecewa banget sama, Fahri kalau sampai mutusin pertemanannya sama kita demi ceweknya" hardik, Syifa


"Ngga boleh ngomong gitu. Semua orang punya kehidupan masing-masing", Luthfi memperingatkan, Syifa yang semakin berani berbicara kasar


"Gue ngga akan mutusin pertemanan sama kalian" seru, Fahri


"Udah. Pulang yuk?" ajak, Syifa tiba-tiba


"Cepat banget, Fa" tukas, Vigo


"Anak gue pengen tidur" sahut, Syifa


"Ayo" ajak, Fahri


"Kalian duluan aja. Gue sama, Vigo harus nganterin, Winda sama Melda dulu" ucap, Viona


"Kenapa ngga bareng aja?" tanya, Melda namun tatapannya mengarah ke, Luthfi


"Mobilnya ngga muat" seru, Syifa dengan cuek


"Biar, Fahri aja yang ngantar gue sama, Melda pulang" tawar, Winda


"Gue? Kan ada, Vigo" sahut, Fahri


"Biar, Vigo yang nganter teman-teman kalian pulang. Dan loh nganter gue sama, Melda pulang" ujar, Melda


Fahri menoleh pada, Risa. "Gue boleh ngantar mereka pulang?" ia malah meminta izin pada, Risa


Risa mengerutkan kening, "Loh kenapa jadi minta izin ke gue? Lagian gue sendiri ngga langsung pulang ke rumah. Gue mau ke tempat lain dulu" jawab, Risa yang mengalihkan tatapannya


"Kemana?" tanya, Fahri


"Beneran loh, Sa? Mau kemana?" tanya, Syifa


"Ntar kalau gue pulang. Gue cerita" jawab, Risa


"Mana hp loh?", Fahri menengadahkan tangannya


"Buat apa?" tanya, Risa


"Cepat" perintah, Fahri dengan wajah serius


"Nih", Risa dengan kesal memberikan ponselnya pada, Fahri


Fahri mengotak atik ponsel, Risa dan seketika menatap tajam, Risa


"Apa?" tanya, Risa dengan takut


Fahri dengan raut wajah kesal mengembalikan ponsel, Risa dengan kasar. "Ayo" ajaknya pada, Winda dan Melda


"Kenapa dia?" tanya, Luthfi ketika melihat, Fahri pergi tanpa pamit


*


*

__ADS_1


*


Btw, hari ini author ultah loh. Ngga ada yang mau ngucapin gitu? 🤭😅 Tapi gk usah nanyain usia yah ✌🏻. Jangan lupa like dan votenya yah 😊 Terima kasih untuk yang sudah mendukung 🤗


__ADS_2