
Fahri enggan untuk membalas sapaan seseorang tersebut di telepon. Risa akhirnya mencubit lengan, Fahri. "Ngomong ih" cetus, Risa dengan nada yang sedikit pelan
Fahri menghela napas. "Halo. Ini gue, Fahri" balas, Fahri dengan nada yang tidak ramah
"Ia, Fahri? Ada apa?" tanya suara tersebut dengan lembut
"Sorry gue ganggu malam-malam" ucap, Fahri acuh tak acuh
"Ia ngga apa-apa. Ada apa, Fahri?" tanyanya lagi dengan begitu lembut
"Gue lagi main trurh or dare bareng teman-teman gue dikampus termasuk dua kampret, Vigo sama Viona", Fahri menatap keduanya dengan sinis. Tapi yang ditatap hanya tersenyum
"Gue ditantang nelpon loh, mau bilang kalau gue kangen. Tapi loh ngga usah salah paham, ini cuma game" imbuhnya
"Oh. Cuma game?" suara diseberang sana menjadi lemas
"Udah yah. Gue matiin. Sorry ganggu loh malam-malam" tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Fahri sudah menekan tombol merah. "Puas loh berdua. Ngeselin" ujar, Fahri dengan kesal
"Puas dong" jawab, Vigo dan Viona kompak
"Putar botolnya. Ngga usah marah-marah", Luthfi menyerahkan botol tersebut kepada, Fahri
Fahri mengambil botol tersebut dengan malas. Ia lalu memutarnya asal-asalan karna masih kesal. Botol tersebut hanya berputar sekali hingga berhenti tepat dihadapan, Luthfi
"Wow", Risa membulatkan bibirnya
"Kesempatan nih" seru, Viona
"Truth or dare?" tanya, Vigo dengan semangat
"Dare dong" tukas, Fahri
"Truth aja" sahut, Risa
"Truth. Gue pilih truth" sergah, Luthfi
"Gue nanya duluan", Risa dengan cepat mengangkat tangan
"Emang mau loh aja itu" cetus, Syifa
"Bodo amat. Langsung ke pertanyaan gue aja yah" seru, Risa dengan semangat
"Semangat amat luh, Sa" ujar, Fahri
"Ia dong. Kapan lagi. Luthfi? Dulu kan waktu, Syifa nolak, Kino, loh sempat berantem kan sama, Kino pass, Kino ngedorong, Syifa? Gue pengen tau alasan loh berantem sama, Kino apa?" tutur, Risa
Syifa mencubit pelan lengan, Risa. "Nanya tuh yang benar" cibir, Syifa
"Loh pikir gue nanya ngga waras?" ketus, Risa
"Udah, Fi jawab aja" sergah, Vigo
"Yang jujur loh, Fi" tukas, Viona menunjuk, Luthfi
"Karna gue ngga suka sama dia" jawab, Luthfi dengan santai
"Ngga seru ah loh jawabnya" sahut, Risa
"Emang loh mau jawaban apa?" tukas, Syifa
"Loh kan nanya alasan gue kenapa berantem sama dia? Jawabannya karna gue ngga suka sama dia" ujar, Luthfi
__ADS_1
"Yah maksud gue, alasan loh ngga suka sama dia itu apa gitu" cetus, Risa yang belum puas dengan jawaban, Luthfi
"Loh ngga ada nanya itu" tukas, Luthfi
"Cakep", Syifa mengacungkan jempolnya kepada, Luthfi
"Lanjut pertanyaannya" seru, Fahri
"Gue dong mau nanya", Sahut, Viona
"Balas dendam, Vi" tukas, Risa dengan semangat
"Tenang. Luthfi? Kenapa loh bisa tau kalau, Syifa ada ditengah kolam dan hampir tenggelam waktu itu?" pertanyaan, Viona sukses membuat, Luthfi menatap, Syifa
Syifa pun terkejut dan langsung menatap tajam, Viona. Risa hanya terbahak mendengar pertanyaan, Viona. Vigo dan Fahri hanya saling menatap satu sama lain karna tidak tau apapun
"Karna, Syifa ngga bisa berenang" jawab, Luthfi yang masih terus menatap, Syifa
"Itu doang?" goda, Viona
"Itu udah dijawab" gerutu, Syifa
"Gue lihat, Syifa lepasin tangannya dari pegangan pinggir kolam, terus dia ketengah, dan gue tau dia ngga bisa berenang. Jadi gue nolong dia" ujar, Luthfi dengan raut wajah yang tau apa maknanya
"Loh perhatiin, Syifa bro?" goda, Vigo memeg bahu, Luthfi
"Ngga", Luthfi memalingkan wajahnya. "Dia emang terlihat" guman, Luthfi
"Apa?" tanya, Vigo
"Ngga", Luthfi melihat jam yang melingkar di tangannya. "Astaga", Luthfi menepuk jidatnya. "Sudah jam 12 lewat"
"Ha?" mereka semua serentak melihat jam dinding
"Loh nginap disini aja, Vi. Kemalaman loh pulangnya. Besok kan libur" ajak, Syifa
"Loh ngga nawarin kita juga nih?" ledek, Vigo
"Kalian kan cowok. Pasti ngga takut dong pulang malam" cetus, Risa
Syifa menoyor pelipis, Risa. "Ini bukan masalah takut atau ngganya. Tapi masalah keselamatan. Loh ngga baca berita apa tentang begal ditengah malam" ujar, Syifa
"Ia juga sih", Risa mengangguk. "Ya udah, kalian nginap disini aja"
"Ngga usah. Kita pulang aja" ucap, Fahri
"Ini tengah malam loh. Kalau sampai kenapa-kenapa di jalan gimana?" seru, Syifa
"Loh ngehawatirin kita apa cuma, Luthfi aja nih?" goda, Vigo
"Semua lah" gerutu, Syifa. "Ya udah kalau ngga mau. Pulang sana" kesal, Syifa
"Bercanda, Fa" ucap, Vigo
"Kalian nginap disini aja" tukas, Viona
"Ngga apa-apa kalau kita nginap disini?" tanya, Luthfi
"Ngga apa-apa. Daripada di jalan kenapa-kenapa" jawab, Syifa
"Jadi kita tidurnya dimana nih? Badang gue rasanya pengen istirahat" cetus, Fahri
__ADS_1
"Kalian tidr disini aja. Nanti kita cewek-cewek tidur dikamar" tukas, Risa
"Ok"
Mereka membersihkan tempat tidur untuk para pria. Setelahnya, para gadis masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Risa pun ikut tidur dikamar, Syifa karna ingin tidur bertiga dengan, Viona
Saat malam semakin larut, Syifa masih belum bisa memejamkan matanya. Ia kemudian terbangun dan keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil air minum. Saat hendak berbalik, ditengah kegelapan malam, Syifa melihat ada bayangan yang berjalan melewati sofa. Keringat dingin mulai menghampirinya. Namun saat dirasa bayangan tersebut sudah menghilang, Syifa dengan cepat meneguk habis air dalam gelas tersebut lalu menyimpannya kembali. Saat hendak berbalik, bayangan tersebut berada dihadapannya. Syifa hendak berteriak namun satu tangan membekap mulut, Syifa
"Jangan berisik, ini gue, Luthfi" ucap, Luthfi dengan berbisik di telinga, Syifa. Saat dirasa, Syifa sudah tau, ia melepas tangannya dari mulut, Syifa
Syifa kemudian memukul dada, Luthfi. "Loh ngagetin gue" suara, Syifa bergetar karna menangis
"Loh nangis?" panik, Luthfi. "Sorry, gue ngga tau loh ada disini", Luthfi menghapus air mata, Syifa
"Loh ngapain disini?" tanya, Syifa saat sudah bisa menguasi dirinya
"Gue ngga bisa tidur" ujar, Luthfi. "Loh sendiri ngapain disini?"
"Gue juga ngga bisa tidur. Terus gue haus, ya udah gue kesini mau minum. Tapi gue dibikin kaget tadi sama bayangan disana", Syifa menunjuk ruang tamu. "Terus tiba-tiba loh ada di depan gue. Gimana ngga kaget gue" ujar, Syifa dengan rendah
"Maaf yah. Gue ngga bisa tidur. Jadi gue jalan-jalan" tukas, Luthfi, Syifa hanya mengangguk
"Belum ngantuk yah?" tanya, Luthfi, Syifa hanya mengangguk dengan pelan
"Mau temenin gue ngobrol?" tawar, Luthfi
Syifa sejenak menatap, Luthfi dalam kegelapan malam. "Hmm. Boleh. Di belakang aja tapi yah. Takutnya ganggu mereka. Kasian kan mereka lagi tidur" sahut, Syifa
"Ia" jawab, Luthfi
"Ayo", Syifa berjalan terlebih dahulu lalu diikuti, Luthfi di belakangnya
"Disini sejuk" ucap, Luthfi yang langsung duduk disalah satu kursi kosong disana
"Ia. Disini emang sejuk. Gue sama, Risa sering ngobrol disini. Adem" tukas, Syifa yang ikut duduk disamping, Luthfi
"Loh suka natap langit malam kan?" tanya, Luthfi menoleh kearah, Syifa
Syifa mengangguk dan tersenyum. "Soalnya indah banget kalau malam. Langit malam sejuk. Banyak bintang bertaburan" ucapnya dengan menghirup aroma malam dalam-dalam
"Tapi ngga suka ke pantai?" tanya, Luthfi lagi
Syifa mengangguk dengan gemas. "Sebenarnya sih bukan ngga suka. Cuma ngga terlalu suka aja" senyum, Syifa mekar dengan manis
"Karna ngga bisa berenang yah?", Luthfi terus menatap, Syifa
Syifa mengembungkan pipinya dengan gemas lalu mengangguk dengan pelan. Luthfi hanya tersenyum dan mengangkat tangannya mengusap kepala, Syifa. "Nanti juga bisa kalau mau belajar"
"Tapi gue ngga mau belajar berenang", Syifa menggeleng dalam usapan tangan, Luthfi di kepalanya. "Gue trauma" ucapnya dengan manja
"Trauma loh ngga akan hilang kalau loh ngga mau belajar" ucap, Luthfi dengan lembut
Luthfi menarik tangannya dari kepala, Syifa. Lalu menepuk pelan pundaknya menatap, Syifa. Syifa hanya mengerutkan keningnya karna tidak tau maksud, Luthfi. Luthfi kemudian menghela napas lalu meraih kepala, Syifa dan menyandarkan di pundaknya. Wajah, Syifa merah merona seketika. Untung saja, Luthfi tidak melihatnya. Entah sudah berapa lama mereka menghabiskan waktu disana, hingga, Luthfi berniat mengajak, Syifa untuk masuk
"Syifa? Ayo masuk. Ngga baik lama-lama diluar malam begini" ujar, Luthfi namun tidak ada balasan dari, Syifa
Luthfi menunduk untuk melihat lebih jelas wajah, Syifa. "Syifa?", Luthfi mengelus lembut pipi, Syifa dengan ibu jarinya. "Dia tidur?" gumannya
Luthfi mengedarkan pandangannya sejenak. "Kalau gue angkat, nanti dia bangun, kalau gue bangunin, kasian", Luthfi mengacak frustasi rambutnya
"Hmm. Biarin tidur disini aja kali yah", Luthfi melingkarkan tangannya ke bahu, Syifa agar, Syifa bisa tidur dilengan dan bahunya. Luthfi merapatkan jaketnya lalu merengkuh tubuh, Syifa agar tidak kedinginan
__ADS_1
Saat, Luthfi hendak memejamkan matanya, ia melihat bayangan seseorang mendekat kearahnya. Luthfi sudah waspada, ia merengkuh tubuh, Syifa dengan erat
"Ngapain kalian berdua disini?"