Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Suruh dia pergi


__ADS_3

Syifa memutar malas bola matanya mendengar ucapan, Luthfi yang terakhir. Namun ia tidak bisa menolak jika situasinya seperti ini


"Sabar, Syifa. Sabar"


"Ayo sini", Luthfi menarik tangan, Syifa untuk ikut merebahkan tubuh mereka


"Di rumah aja yah? Kamu ngga aneh apa kita tidur berdua gitu di rumah orang?", Syifa berusaha membujuk, Luthfi untuk tidak melakukannya malam ini. Ia ingin mengulur waktu


"Ngga! Lagian ini rumah sahabat kita. Bukan rumah orang lain" sahut, Luthfi


Syifa menghela napas dan mencibikkan bibirnya karna merasa kalah berdebat dengan, Luthfi


"Lagian, aku udah dua hari nahan loh" ujar, Luthfi


"Dua hari?", Syifa mengerutkan keningnya dan memperbaiki posisi tidur yang nyaman baginya


"Hmm. Dua hari yang lalu kita nginap ditempat, Risa. Dan kemarin kamu nangis, jadi aku cuma nenangin kamu. Masa malam ini ngga lagi?" ketus, Luthfi


"Pake diitung segala" guman, Syifa


"Kamu ngga mau yah?" tanya, Luthfi yang menyentuh pipi, Syifa. "Ngga apa-apa kalau kamu ngga mau. Ayo tidur" ucapnya


"Aku mau kok" sahut, Syifa dengan cepat yang tidak mau membuat, Luthfi kecewa


Luthfi tersenyum, "Kenapa jadi kamu yang ngebet?" ia tertawa


"Aku? Ngebet? Sembarangan", Syifa memukul dada, Luthfi namun pelan


"Padahal tadi aku udah pasrah loh kalau kamu ngga mau" seru, Luthfi yang menghentikan tawanya


"Ya udah ngga jadi", Syifa membalikkan tubuhnya dan membelakangi, Luthfi


Luthfi terkekeh dan perlahan melingkarkan tangannya di perut, Syifa


"Apa sih? Aku mau tidur" seru, Syifa yang menepis tangan, Luthfi di perutnya


"Ngga boleh nolak suami" ucapan, Luthfi tentu saja membuat, Syifa pasrah dan terdiam


"Kunci pintu dulu sana" perintah, Syifa


"Kenapa? Ngga akan ada yang masuk" cetus, Luthfi


"Kunci dulu aja tuh kenapa sih? Kita kan ngga tau kalau tiba-tiba aja ada yang masuk tanpa permisi" ketus, Syifa


"Ia, ia Nyonya bawel", Luthfi mencium singkat pipi, Syifa lalu beranjak menuju pintu dan menguncinya. "Sudah" ucapnya ketika ia sudah kembali berada di atas tempat tidur itu


"Bentar aja tapi yah? Tiga jam aja" tawar, Syifa


"Tiga jam? Kamu ngajak main petak umpat atau apa? Tiga jam mana cukup" gerutu, Luthfi


"Yah masa sampai pagi lagi? Ngga tidur dong aku" ketus, Syifa yang cemberut


"Kamu tidur aja" ucap, Luthfi


"Aku mana bisa tidur itu" ketus, Syifa


"Yah udah. Kamu temenin aku begadang aja" jawab, Luthfi dengan santai


"Emang kamu pernah lihat aku begadang? Hmmm, ya udah deh gini aja. Sekarang kan hampir jam sebelas tuh" ucap, Syifa setelah melihat jam yang berada di atas meja, "Sampai jam tiga aja gimana?" ia mulai menawar


"Sampai jam lima", Luthfi ikut menawar


"Ngga bisa. Sampai jam empat. Udah fixed. Aku ngga mau tawar-tawar lagi. Kalau kamu ngga mau ya udah, ngga usah" titah, Syifa


Luthfi tidak langsung menjawab. Ia menimbang jawaban yang akan ia berikan. Setelah menghitung dengan singkat. Ia pun mengangguk setuju


"Seenggaknya gue masih punya waktu buat tidur dua sampai tiga jam" guman, Syifa lalu menghela napas


Luthfi mulai melepaskan pakaiannya satu persatu. Dan hendak membantu, Syifa melepaskan pakaiannya


"Aku kayaknya ngga usah lepas pakaian yah? Ini kan hujan? Kalau aku kedinginan gimana coba?", Syifa kembali hendak bernego


"Ini gimana ceritanya? Kalau kamu banyak protes, bakal sampai pagi aku ngelakuinnya" seru, Luthfi


"Ngga mau" seru, Syifa. "Ia ia. Aku lepas pakaian" ketusnya sembari melepas pakaiannya satu persatu. "Bahaya kalau dia udah ngomong gitu. Bisa-bisa aku ngga tidur lagi"


"Ayo. Kenapa jadi ngelamun", Luthfi menarik tangan, Syifa untuk berbaring ketika istrinya masih saja terduduk setelah melepas pakaiannya

__ADS_1


"Ingat. Jam empat", Syifa sekali lagi memperingati, Luthfi. Karna suaminya itu suka sekali melupakan peringatannya dan tidak mau berhenti jika sudah melakukannya dan lupa waktu


"Ia" ucap, Luthfi mencium lembut bibir milik istrinya itu. Malam pertama bagi mereka setelah kembali dari rumah orangtuanya


***


"Kalian tidur disini aja yah? Gue sama, Risa tidur di ruang tamu" seru, Luthfi kepada, Vigo dan Viona yang kini duduk di sofa ruang tv


"Ia. Maaf yah, Ri. Loh harus sama, Risa dulu malam ini. Loh tau sendiri, Vio suka uring-uringan kalau hujan gini. Gue juga takut ngerepotin, Risa. Risa juga pasti ngga tau mau ngelakuin apa kalau tiba-tiba, Vio jadi uring-uringan" cetus, Vigo


"Ia. Gue ngerti kok. Ngga apa-apa. Loh jaga, Viona aja" sahut, Fahri yang sudah mengerti situasinya


"Ngga apa-apa kan, Sa? Maaf yah? Gue ngga bisa tidur sama loh dulu malam ini. Takut sakit gue kambuh dan malah ngerepotin loh" ujar, Viona yang merasa tidak enak hati


"Ngga apa-apa kok. Lagian juga gue percaya sama kalian" tukas, Risa yang tersenyum


"Yah. Dan gue juga percaya sama, Fahri. Dia ngga bakal ngelakuin apapun ke loh. Jadi loh tenang aja" ucap, Viona


"Gue malah ngga ada mikir kesana" sahut, Risa yang melihat, Fahri


"Udah. Ayo. Mereka juga harus istirahat", Fahri menarik tangan, Risa untuk meninggalkan kedua sahabatnya itu dan mengikuti, Fahri yang membawanya ke ruang tamu


"Kita tidur disini? Gimana ceritanya? Selimut cuma satu" cetus, Risa setelah melihat keadaan dan situasi yang tidak memungkinkan, apalagi ditengah guyuran hujan sederas ini


"Ayo, bantuin gue mindahin meja ini dulu", Fahri mendekati meja dan mulai mengangkatnya.


Risa yang masih bingung hanya menurut saja dan membantu, Fahri memindahkan meja itu


"Sekarang bantu gue mindahin sofa ini kesana", Fahri menunjuk, Sofa panjang


"Kok dipindahin kesana?" tanya, Risa yang heran


"Udah. Pindahin aja dulu. Nanti loh juga tau sendiri" cetus, Fahri


Risa menaikkan kedua bahunya lalu kembali hanya menurut dan membantu, Fahri memindahkan sofa yang berukuran sedang untuk menuju sofa yang berukuran panjang itu


"Sudah" seru, Fahri yang menepuk kedua tangannya karna debu yang masih menempel di tangannya


"Terus kita tidur dimana?" tanya, Risa yang masih belum mengerti maksud, Fahri


"Kita tidur disini", Fahri menunjuk sofa yang sudah mereka gabungkan tadi


Fahri menoleh ke kiri dan ke kanan dengan kening yang berkerut. "Memang selain kita? Disini ada orang lain lagi?" ketus, Fahri


"Yah kan? Tapi? Hmmmm", Risa menjadi gugup dan melirik sofa yang sebenarnya sudah luas


Fahri mendekati, Risa menjentikkan jarinya di kening, Risa hingga gadis itu mengaduh kesakitan


"Apaan sih? Kenapa nyentil kening gue? Loh pikir ngga sakit?" seru, Risa yang kesal


"Loh punya suara gede banget sih?" tegur, Fahri


"Kenapa emang? Siapa yang mau marah?" seru, Risa


"Loh pengen, Luthfi datang kesini dan marah-marah lagi cuma karna dengar teriakan loh itu?" cetus, Fahri


Risa terdiam setelah mendengar ucapan, Fahri. Benar saja. Ia sudah melihat kemarahan, Luthfi tadi.


"Tapi harus banget gitu disini?", Risa menunjuk sofa dengan raut gugup kembali terlihat di wajahnya


"Pikiran loh jangan aneh-aneh. Buang jauh-jauh" kali ini, Fahri mendorong pelan kening, Risa dengan jari telunjuknya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa yang sudah mereka gabungkan


"Ish" ketus, Risa yang mencibir


"Loh mau tidur disini atau tidur berdiri disitu?" tanya, Fahri ketika, Risa tidak bergeming di tempatnya


"Loh aja sana yang tidur berdiri. Gue sih ogah", Risa ikut merebahkan tubuhnya di samping, Fahri


"Yah barangkali loh mau tidur berdiri disitu di samping Kuntilanak" ucap, Fahri yang bergurau


"Loh bilang apa?" kedua mata, Risa membulat sempurna dan perlahan melirik ke arah tempatnya berdiri tadi. "Kun... Kuntilanak? Gue tadi berdiri di samping Kuntilanak?" tanyanya dengan polos, bahkan raut wajahnya mulai memucat


"Dia percaya? Gue kan bercanda. Tunggu! Apa dia takut kuntilanak? Ah, gue tau sekarang " guman, Fahri yang berusaha menahan tawanya


"Emang loh ngga lihat? Loh ngga ngerasa?", Fahri ingin menakut-nakuti, Risa


Risa menggeleng dengan cepat. Wajahnya benar-benar memucat. Ia tidak lagi melihat ke arah manapun kecuali mata, Fahri saking takutnya

__ADS_1


"Padahal sekarang dia lagi ngeliatin loh", Fahri benar-benar berusaha menahan tawanya


Bola mata, Risa hampir saja keluar dari persembunyiannya. "Fahri? Jangan ngomong gitu dong. Ahhh, Fahri tolongin gue" ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh, Fahri dan membalutkan selimut sampai menutupi kepalanya dengan takut


"Dia katanya pengen kenalan sama loh" bisik, Fahri ketika, Risa menutupi seluruh tubuhnya


"Ngga mau! Gue ngga mau! Suruh dia pergi. Gue ngga mau" seru, Risa dengan penuh ketakutan dan memeluk erat-erat, Fahri dibalik selimut


Fahri tertawa namun tidak bersuara karna berhasil mengelabui, Risa. Namun ia terhenti tatkala mendengar suara isak tangis


"Risa?" panggil, Fahri yang hendak membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh gadis itu


"Jangan dibuka", Risa menahan tangan, Fahri. "Gue takut" suara isaknya mulai terdengar


"Apa gue keterlaluan?" guman, Fahri yang jadi merasa bersalah karna membuat gadis itu menangis


"Risa" panggil, Fahri yang ikut menutupi tubuhnya dengan selimut agar bisa melihat wajah, Risa


"Gue takut" isak, Risa yang masih memeluk, Fahri dan membenamkan wajahnya di dada, Fahri


"Dia udah pergi" cetus, Fahri agar gadis itu bisa kembali tenang. Ia bahkan merasakan getaran pada tubuh gadis itu karna ketakutan


Suara isak tangis, Risa semakin terdengar jelas di telinga, Fahri. Bersamaan dengan pelukan yang semakin erat di punggungnya karna, Risa


"Jangan tinggalin gue. Gue takut" ucap, Risa di sela-sela isak tangisnya


"Ia. Gue ngga akan pergi. Ayo tidur. Kuntilanak-nya ngga suka dengar orang nangis dan orang yang suka tidur lama" ujar, Fahri membelai kepala, Risa


Risa benar-benar menghentikan tangisnya dan cepat-cepat memejamkan matanya tatkala ucapan, Fahri terdengar jelas di telinganya yang membuat sekujur tubuhnya merinding


"Gue jadi kasian. Ternyata dia beneran takut sama kuntilanak" guman, Fahri yang terus membelai kepala, Risa bermaksud menenangkan gadis itu


Fahri menjauhkan sedikit wajahnya untuk melihat wajah, Risa yang tidak lagi bergerak di dadanya. "Dia udah tidur?" gumannya pada diri sendiri


"Selamat malam. Dan maaf" ucap, Fahri lalu mencium puncak kepala, Risa yang sudah terlelap


Risa dan Fahri sama-sama terlelap dalam balutan selimut yang menutupi seluruh tubuh mereka


***


"Gue udah ngga dengar lagi suara, Risa sama Fahri. Apa mereka udah tidur? Perasaan baru aja gue dengar suara, Risa teriak" seru, Viona yang kini tidur memeluk, Vigo dan beralaskan tangan, Vigo sebagai bantal kepalanya


"Mungkin, Risa udah capek teriak-teriak. Makanya dia tidur" sahut, Vigo yang sudah memejamkan matanya


"Tapi apa ngga apa-apa mereka tidur berdua?" tanya, Viona yang sebenarnya terbesit keraguan


"Gue percaya sama, Fahri. Dan gue juga percaya sama, Risa. Loh sendiri tau gimana mereka, suka berdebat kalau lagi ngga ada, Dini" sahut, Vigo tanpa mau membuka matanya


"Ia juga sih. Hmm. Seenggaknya gue sedikit lega. Karna, Risa yang bersama, Fahri saat ini" cetus, Viona yang tersenyum senang dan semakin mengeratkan pelukannya. "Dan maaf yah. Tengah malam nanti, gue pasti bakal nyusahin loh" ucapnya dengan berat


"Ngga apa-apa sayang", Vigo mencium puncak kepala, Viona. "Ayo tidur" ajaknya


Viona mengangguk dan mulai memejamkan matanya yang diikuti elusan lembut di kepalanya dari, Vigo


***


"Kayaknya kita harus cari cara deh. Masa mereka sekarang lagi tidur berduaan sama pasangan masing-masing. Sementara kita ditinggal disini" seru, Lury yang tidak rela melihat, Vigo dan Viona harus tidur berdua


"Ia loh benar. Gue ngga rela mereka senang-senang di atas penderitaan kita" cetus, Dinar yang kini tengah pusing memikirkan, Luthfi dan Syifa tidur berdua


"Ia kak gue setuju. Karna cewek itu, Fahri jadi bejat" timpal, Dini yang kini sudah sangat kesal


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Jangan lupa like dan votenya yah 😊 Terima kasih yang sudah mendukung 🤗


__ADS_2