Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Akhirnya tiba


__ADS_3

"Ngga sengaja ketemu" ucap, Fahri dengan cepat setelah mengerti arti tatapan tajam yang dilayangkan calon istrinya kepadanya


"Kalian belanja berdua?" tanya, Winda menunjuk, Fahri dan Risa


Risa tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah dengan ketus. Fahri sudah mewaspadai jika gadis itu akan marah padanya


"Ia. Gue sama Risa belanja bahan makanan", Fahri menarik lengan, Risa agar lebih mendekat


"Ngga usah narik-narik" seru, Risa yang menepis tangan, Fahri dengan kasar


"Kasar banget sih loh" tukas, Winda


"Kenapa? Loh ngga suka?" kesal, Risa


"Jelas lah gue ngga suka" tukas, Risa


"Udah-udah. Jangan berantem. Ayo kita pulang" ajak, Fahri menarik tangan, Risa


"Ngga usah pulang sama gue. Pulang sana sama cewek loh" teriak, Risa yang menghempaskan tangan, Fahri


"Risa! Jangan mulai" bentak, Fahri


"Berani loh ngebentak gue?" kesal, Risa


Fahri mendesak keras, "Ia gue minta maaf. Ayo pulang" suaranya pun kian melunak


"Terus cewek loh gimana?" tanya, Risa dengan kesal


"Dia bukan cewek gue, Risa. Harus berapa kali gue bilang" geram, Fahri


"Fahri" ucap, Winda


"Malas banget gue", Risa memutar malas bola matanya


Fahri menarik, Risa untuk masuk ke dalam pelukannya hingga membuat dirinya tersentak dan terkejut. Pun Winda yang membulatkan kedua matanya karna terkejut


"Bentar lagi kita nikah. Please jangan kek gini" ucapan, Fahri mampu meluluhkan hati, Risa yang tadinya marah


Risa membalas pelukan, Fahri sembari mengejek, Winda yang masih berdiri mematung disana


"Apa? Nikah?" kaget, Winda


"Ia. Kenapa emang?" tukas, Risa


"Udah. Ayo pulang", Fahri menarik tangan, Risa dan membuka pintu mobil dan menyuruhnya masuk, "Gue duluan, Win" serunya dan langsung masuk ke dalam mobil


"Kesal gue sama tuh cewek. Bar-bar banget" emosi, Risa di dalam mobil


"Marah-marah mulu. Ntar keriput loh" ledek, Fahri


"Biarin. Lagian ngapain sih loh ketemu sama dia?" tanya, Risa dengan emosi


"Ketemu gimana? Gue kan ngga sengaja. Loh lihat sendiri tadi" sahut, Fahri


"Tau deh. Kesal gue" cetus, Risa


Fahri menyalakan musik untuk meredam emosi masing-masing diantara mereka


***


"Kesayangannya Bunda", Syifa terus saja mengajak, Gibran bermain. Meski bayi itu baru berusia 1 hari


"Kamu tidur dulu yah? Semalam kan kamu ngga tidur nyenyak karna jagain, Gibran" perintah, Luthfi dengan lembut kepada, Syifa


"Ngga usah. Aku ngga apa-apa kok" sahut, Syifa yang melihat ke arah jam dinding yang menempel di tembok kamarnya, "Lagian udah jam tiga juga. Udah sore. Nanggung banget tidur di jam segini"


"Ya udah. Nanti malam biar gantian aku yang jagain, Gibran. Kamu tidur aja yah" ujar, Luthfi


"Terus kalau, Gibran nangis dan haus gimana?" tanya, Syifa


"Nanti biar aku yang ngasih ASI buat, Gibran" sahut, Luthfi

__ADS_1


"Gimana ceritanya? Emang kamu punya ASI? Jangan ngaco deh" tukas, Syifa yang tertawa


"Maksud aku ASI kamu" cetus, Luthfi


"Apa? Jangan aneh-aneh. Ngga usah kalau gitu. Ngapain. Tetap aja nyusahin" gerutu, Syifa yang sudah sangat hapal betul dengan tingkah suaminya


Luthfi terkekeh dan tidur di samping putranya yang terlelap, "Tidur mulu anak Ayah ini" ia menghujani banyak ciuman di wajah putra kecilnya


"Kerjaan, Gibran sekarang kan emang cuma tidur makan aja"


"Ngompol juga"


"Namanya juga bayi"


"Ia makanya. Ayo baring disini", Luthfi menarik tangan, Syifa untuk tidur di sampingnya. Tepat di sebelah, Gibran. Hingga ia berada di posisi tengah


"Ngga nyangka yah. Risa beneran bakal nikah sama, Fahri" cetus, Syifa yang menatapa langit-langit kamarnya


"Kalau udah sering sama-sama dan suka dijodohin. Pasti bakal ada rasa juga ujung-ujungnya" sahut, Luthfi yang memeluk, Syifa


"Kayak kamu ke, Celia?" ledek, Syifa yang menoleh pada, Luthfi


"Kok, Chelia?" tanya, Luthfi


"Kamu kan sering di jodohin sama, Celia"


"Oh. Maksud kamu kayak. Kayak kamu sama, Reza juga?" tukas, Luthfi


"Malah bawa-bawa, Reza sih", Syifa mengerutkan keningnya


"Kamu yang mulai. Kok malah bawa-bawa nama, Celia"


"Tau ah" ketus, Syifa


"Jangan ngambek sayang", Luthfi mengeratkan pelukannya dan meninggalkan ciuman singkat di pipi, Syifa


"Sayang?" ulang, Syifa


"Mau", Syifa mengangguk dengan cepat, "Mau dong"


"Imbalannya?" goda, Luthfi


"Imbalan? Imbalan apa?"


Luthfi langsung mencium bibir, Syifa. Hingga membuat istrinya itu langsung mendorongnya


"Berhenti. Aku belum cukup empat puluh hari. Jadi ngga boleh" perintah, Syifa


"Kenapa lama banget?" ketus, Syifa


"Cuma sebulan lebih"


"Itu lama"


"Ya udah tahan aja"


Luthfi mengehela napas dengan keras


***


Para orangtua tengah sibuk mendekorasi untuk acara pernikahan yang akan diselenggarakan tiga hari lagi. Acara tersebut hanya di hadiri oleh keluarga beserta teman-teman mereka. Setelah itu, untuk acara besar-besaran akan dilangsungkan oleh keluarga besar mempelai pria dan perempuannya.


Mengingat mereka berasal dari daerah dan hanya kuliah di kota. Akan membutuhkan waktu yang sangat banyak jika mendekorasi acara hanya dalam waktu tiga hari. Bahkan untuk undangan pun belum mereka persiapkan. Itu sebabnya mereka memilih menikah di kediaman, Luthfi dan Syifa


"Syafa senang banget" seru, Syafa yang baru meletakkan bunga plastik ke Vas bunga


"Fia juga. Niatnya nengokin ponakan. Eh malah lihat acara lamaran juga" sahut, Fia


"Kerja sana dek. Ngapain ngobrol" tegur, Bian


"Udah-udah" sergah, Rasya, "Gitu aja debat"

__ADS_1


***


Acara yang ditunggu pun akhirnya tiba. Viona dan Risa begitu cantik dengan balutan gaun pengantin yang memanjang belakangnya


Wajah mereka sedang dirias oleh oleh para perias yang sudah mereka sewa sebelumnya. Aura bahagia sangat terpancar dari para kerabat terdekat


"Cantik banget pengantin-pengantin gue" seru, Syifa ketika masuk ke dalam kamar rias pengantin


"Gue deg-degan tau ngga, Fa" ujar, Risa yang memegang dada sebelah kirinya tepat dimana jantungnya berada


"Sama gue juga. Gugup banget gue" cetus, Viona


"Udah. Ngga apa-apa. Udah hal biasa gugup disaat kek gini. Untung kalian berdua langsung. Bisa bayangin rasanya gue sendirian" tukas, Syifa


"Mau gimana pun tetap deg-degan tau" ucap, Risa


"Sumpah yah. Baru kali ini gue deg-degan parah gini" cetus, Viona


"Udah ngga apa-apa. Relax aja", Syifa berusaha menenangkan kegugupan kedua sahabatnya


Wih. Adek Abang cantik banget" seru, Rasya yang baru saja masuk ke kamar rias


"Ia dong. Adik siapa dulu" sahut, Risa dengan bangga


"Mulai deh dramanya" tegur, Syifa


"Udah siap dek?" tanya seorang perempuan muda yang baru saja mencondongkan kepalanya masuk ke kamar tanpa ikut menyuruh tubuhnya untuk masuk


"Kak Syilla" ujar, Viona dengan tersenyum, "Masuk kak. Bentar lagi udah selesai kok kak"


"Cantik banget calon adik ipar kakak ini" puji perempuan yang bernama, Syilla


Syilla. Kakak perempuan, Vigo yang lebih tua dua tahun dari adiknya yang akan menikah hari ini.


"Kak Syilla juga cantik banget" tukas, Vioan dengan malu


"Abang ngapain ngeliatin Kak Syilla terus?" tegur, Syifa yang melihat, Rasya terus saja menoleh pada, Syilla


Rasya menjadi salah tingkah karna ketahuan, "Abang ngeliatin karna baru lihat dia. Abang kan ngga tau dia siapa"


"Itu Kak Syilla. Kakaknya, Vigo Bang. Dia baru datang kemarin" jelas, Risa


"Oh" hanya itu yang sempat diucapkan oleh, Rasya. Dua hari yang lalu dirinya harus balik ke daerah karna mengurus pekerjaannya. Dan baru kembali pagi ini. Itu sebabnya ia tidak melihat Kakak Vigo ini sebelumnya


"Kenalan dong Bang" perintah, Syifa


Rasya mengulurkan tangannya, "Rasya. Kakaknya, Risa"


"Syilla. Kakaknya, Vigo", Syilla membalas uluran tangan tersebut


"Awas Bang kepincut" goda, Risa


"Dek" tegur, Rasya


"Oh. Gue pikir. Rasya kakaknya, Syifa" cetus, Syilla


"Syifa juga udah kayak adek kandung gue" sahut, Rasya


"Hem, gitu. Oh ia dek. Cepatan turun yah. Soalnya tadi udah di suruh turun sama yang lain. Risa juga" cetus, Syilla yang tersenyum manis sebelum akhirnya berlalu dari sana


"Cieee, Abang naksir Kak Syilla yah" ledek, Syifa


"Ngomong apaan sih" bantah, Rasya


"Ngga apa-apa Bang. Biar nanti, Viona bantu dekatin. Soalnya Kak Syilla baru aja putus sama pacarnya" sahut, Viona


"Nanti aja itu urusannya. Ayo cepatan kita keluar. Ini udah selesai kan Mbak"? tanya, Risa kepada perempuan yang merias wajahnya dan Viona


"Sudah Mbak" jawab perias itu


"Ngga sabaran banget loh, Sa" ledek, Syifa

__ADS_1


"Maklum dek. Udah pengen cepat-cepat sah" timpal, Rasya


__ADS_2