
Celia terus saja Menggurutu dan mengumpat, Syifa yang ia pikir hanya sedang berpura-pura kesakitan agar mendapatkan perhatian, Luthfi dan Fahri. Ketidaksukaannya pada, Syifa terus saja membuat dirinya memaki nama, Syifa
"Loh jalan yang benar", Fahri menarik tangan, Celia yang berbelok kearah lain karna sibuk dengan pikirannya. Saat ia tersadar, ia hanya berdehem untuk menghilangkan rasa malunya.
"Ini semua gara-gara, Syifa. Coba aja dia ngga pura-pura kesakitan, Luthfi pasti bakal lebih perhatian sama gue", Celia terus saja memaki dalam hati
"Gue berat ngga, Fi?" tanya, Syifa di pundak, Luthfi.
"Ngga", Luthfi menjawab tanpa menoleh ke arahnya.
"Loh marah sama gue?" tanyanya lagi yang sudah menunjukkan wajah cemberutnya hingga, Luthfi terpaksa menoleh kepadanya. "Ngga. Gue ngga marah. Loh kan lagi sakit, kenapa banyak bicara"
"Yang sakit kan pinggang sama tangan gue, bukan mulut gue, jadi gue masih bebas bicara. Atau jangan-jangan loh malah ngedoain mulut gue juga sakit biar ngga bisa ngomong?" seru, Syifa yang menuduh, Luthfi.
Luthfi menghela napas, "Pikiran loh dangkal banget".
"Yah terus maksud loh kek tadi apa? Kalau bukan ngedoain" saut, Syifa.
"Loh lagi sakit, masih aja bawel, Fa" cetus, Fahri yang berada di belakang mereka.
"Tuh kan. Kalian pasti ngedoain biar gue langsung mati sekalian" seru, Syifa dan, Luthfi seketika menghentikan langkahnya lalu menatap, Syifa dengan tatapan marah
Nyali, Syifa langsung ciut ketika tatapan amarah, Luthfi terpancar dari matanya, "Bercanda, Fi", Syifa kembali menaruh dagunya di pundak, Luthfi tanpa berkata apapun lagi. Luthfi pun melanjutkan langkahnya menuju tenda. Fahri yang berada di belakang terkekeh dengan pemandangan yang ada di depannya.
"Orang tuh kalau sakit diem aja, ngga usah bawel" celetuk, Celia tanpa menoleh ke belakang ataupun menghentikan langkahnya, namun tentu saja kata-katanya itu ia tunjukkan kepada, Syifa.
Syifa yang malas membalas hanya memutar malas bola matanya, Luthfi pun hanya menggeleng kepada, Syifa agar ia tidak menghiraukan ucapan, Celia
"Lebih baik yang ngga dianggap juga diem aja deh" saut, Fahri yang membalas sindirian, Celia.
"Loh nyindir gue?", Celia menghentikan langkahnya dan menghadap ke belakang persis mengarah ke, Fahri.
"Loh kesindir? Yah gue sih ngga tau", Fahri berpura-pura menaikkan bahunya padahal ia tau.
Celia yang hendak membalas dicegah oleh, Luthfi.
"Udah-udah. Jalan sana. Atau loh mau gue tinggal disini? Syifa sakit kek gini juga gara-gara loh. Harusnya loh bisa sedikit lebih bersimpatik. Bukan malah ngomong ngga jelas" ujar, Luthfi. Tanpa berkata, Celia kembali melanjutkan langkahnya meski ia tidak berhenti memaki, Syifa dalam hatinya
***/
Kelompok, Reza juga sudah selesai menyelesaikan laporan mereka. Kini, mereka mengambil gambar untuk kelompok mereka. Setelah semuanya selesai. Reza menyuruh, Vigo untuk mengumpulkan kembali alat-alat yang mereka pakai untuk meneliti tadi dan kembali memasukkannya ke dalam ransel yang telah mereka siapkan sebelumnya
"Ayo balik" perintah, Reza kepada anggotanya.
"Ayo"
"Jangan lupa bawa barang-barangnya, Vigo", Reza mengingatkan, Vigo agar tidak lupa dengan alat yang sudah ia masukkan ke dalam ransel.
"Siap", saut, Vigo
"Kelompok, Syifa gimana yah? Apa mereka juga udah selesai?" tanya, Viona kepada, Risa.
"Kalau masalah kek gini, ngga usah ngekhawatirin, Syifa. khawatirin diri sendiri aja" saut, Risa yang sudah siap dengan rasel miliknya
"Kenapa emang?", Viona mengerutkan keningnya karna tidak mengerti ucapan, Risa.
"Gue sih udah yakin. Syifa dan kelompoknya udah balik duluan" tukas, Risa dengan santai
__ADS_1
"Loh yakin?" kini giliran, Vigo yang bertanya.
"Seratus persen" jawab, Risa dengan mantap.
"Syifa suka mengarang? Maksud gue suka nulis?", Reza pun ikut penasaran.
"Ngga ada yang ngalahin, Syifa waktu di SMU dulu kalau soal mengarang tulisan" jawab, Risa yang membuat mereka bertiga akhirnya mengerti
Meskipun, Viona dan Vigo sudah mengenal, Syifa hampir setahun ini di perkuliahan, namun tetap saja ada banyak hal yang tidak ia ketahui tentang, Syifa termasuk kalau, Syifa adalah anak yang jago dalam penulisan. Hanya, Risa dan Luthfi yang tahu jika, Syifa adalah juara dalam lomba menulis saat mereka di SMU dulu. Itu sebabnya, Syifa mengambil jurusan Sastra Indonesia
"Ayo ah. Lama kalian", Risa membuyarkan lamunan mereka dari, Syifa.
"Ayo"
***/
"Pelan-pelan" ucap, Luthfi yang perlahan berjongkok untuk membantu, Syifa turun dari punggungnya yang dibantu, Fahri dan Celia saat mereka sudah sampai di tenda.
"Marcelia. Loh panggil salah satu pembina sekarang. Bilang salah satu dari kelompok kami ada cedera. Cepat" perintah, Luthfi kepada, Celia yang mau tidak mau, Celia harus melakukannya sebagai rasa tanggung jawabnya telah membuat, Syifa celaka meski ia tidak mengakuinya
"Aaaaaa.... Pinggang gue" rengek, Syifa yang memegang pinggangnya perlahan. Namun karna tangannya juga sakit, ia terpaksa harus menahan rasa sakit pada pinggangnya dan rasa nyeri pada tangannya.
"Tahan yah. Sebentar lagi pembina akan datang", Luthfi berusaha menenangkan, Syifa yang terus saja merintih kesakitan.
"Kayaknya, Syifa bakal di urut deh ini" cetus, Fahri yang berada di samping, Syifa
"Gue ngga mau di urut", Syifa menggeleng, "Gue ngga suka" lanjutnya dengan memelas.
"Pinggang sama tangan loh ngga akan sembuh kalau ngga di urut, Fa" tukas, Fahri.
"Tapi gue ngga mau, Ri. Gue ngga mau di urut", Syifa terus menggelengkan kepalanya
"Tapi gue benar-benar ngga suka, Fi. Gue ngga suka di urut", Syifa terus saja memelas.
"Gue tau, Fa. Tapi ini demi kebaikan loh" tutur, Luthfi dengan lembut yang membelai kepala, Syifa
"Ada apa ini? Siapa yang sakit?" salah satu pembina mereka datang dan langsung masuk ke dalam tenda untuk memeriksa keadaan orang yang sakit setelah, Celia memanggilnya.
"Ini teman kami tadi terjatuh bu" saut, Fahri yang mempersilakan pembina tersebut untuk lebih dekat dengan, Syifa agar bisa memeriksa keadaannya.
"Biar ibu cek dulu yah" pembina tersebut memeriksa tangan, Syifa yang terlihat memerah dan sedikit melepuh, kemudian beralih ke pinggang, Syifa sesuai yang diberitahukan oleh, Luthfi.
"Sepertinya pinggang teman kalian ini mengalami pergeseran urat. Sebaiknya di urut supaya uratnya bisa kembali ke tempatnya semula" tuturnya
"Ngga ada cara lain bu?", Syifa masih tetap bersikokoh tidak ingin di urut.
"Hanya cara ini satu-satunya yang paling ampuh. Rumah sakit disini jauh. Kendaraan susah, jika kamu tidak di urut sekarang, Ibu tidak bisa menjamin ini akan bisa sembuh jika sudah menetap uratnya.
Syifa membulatkan kedua matanya dan menoleh kearah, Luthfi lalu menggeleng dengan cepat.
"Jadi, loh mau kan di urut?" tanya, Luthfi yang terpaksa diiakan oleh, Syifa. Karna tidak jalur yang lebih baik saat ini dari mengurut.
"Kalian bisa keluar. Biarkan perempuan ini yang menemani teman kalian di dalam sini" pembina itu menunjuk, Celia untuk menemani, Syifa.
"Saya ngga mau bu", Celia menolak dan menggeleng. "Maaf bu, tapi saya ngga bisa dengar teriakan dia nantinya", Celia menunjuk, Syifa
"Lalu siapa yang akan menemaninya kalau bukan kamu? Hanya kamu perempuan satu-satunya disini yang bisa menemani teman kamu ini" tutur pembina itu.
__ADS_1
"Maaf bu. Tapi saya benar-benar ngga bisa" tolak, Celia.
"Biar saya saja saja bu yang menemani dia disini", Luthfi menawarkan dirinya untuk menemani, Syifa.
"Kamu kan laki-laki. Masa kamu mau menemani dia" tolak pembina tersebut.
"Dia calon suaminya bu. Jadi tidak apa-apa jika dia yang menemaninya" celetuk, Fahri yang membuat tiga pasanga mata membulatkan matanya mengarah ke arah, Fahri, dia adalah, Luthfi, Syifa dan Celia
"Apa benar itu? Kamu calon suami dia" pembina tersebut bertanya untuk memastikannya.
Fahri mengedipkan matanya dan, Luthfi akhirnya mengangguk. "Ia bu. Saya calon suaminya" jawab, Luthfi dengan pelan dan melirik, Syifa yang menganga kepadanya
"Baik kalau begitu. Kalian berdua tolong pergi ke tenda pembina untuk meminta minyak urut disana" pembina itu menyuruh, Fahri dan Celia untuk pergi meminta minyak urut di tenda pembina.
"Baik bu"
Fahri dan Celia pun keluar dari tenda dan pergi menuju tenda pembina untuk meminta minyak urut disana. Setelah mendapatnya, mereka pun kembali dan menyerahkan minyak urut tersebut kepada pembina yang ada di hadapan mereka saat ini lalu mereka berdua menunggu diluar tenda.
Suara teriakan perlahan dari, Syifa mulai terdengar padahal baru tangannya yang di urut. Luthfi terus memegang kedua lengan, Syifa dan menyandarkan kepala, Syifa di dadanya. Syifa terus saja merintih kesakitan bersamaan dengan butiran yang terus saja keuar dari matanya.
Saat pembina itu hendak menaikkan sedikit baju, Syifa agar ia bisa mengurut pinggangnya, pembina melihat, Luthfi, "Walaupun kamu calon suaminya, tolong jangan melihat ketika saya mengurut pinggangnya. Mengerti?" pesan pembina tersebut dan, Luthfi hanya mengangguk.
Dan benar saja saat pembina itu mulai mengurut pinggang, Syifa, Luthfi sama sekali tidak ingin melihatnya. Ia hanya sibuk menenangkan, Syifa sementara pinggangnya terus di urut oleh pembina mereka.
Bersamaan itu, kelompok, Reza juga sudah tiba dan langsung menghampiri, Fahri dan Celia yang berdiri diluar tenda serta suara teriakan, Syifa terdengar sangat keras.
"Kalian kenapa diluar? Terus, Syifa kenapa teriak-teriak?", Risa menghampiri, Fahri dan dahi yang berkerut
"Syifa tadi terjatuh, dan sekarang lagi di urut sama pembina di dalam" saut, Fahri.
"Kok bisa jatuh sih?" tanya, Viona.
Fahri tidak langsung menjawab, ia melirik, Celia yang berada di sampingnya
Risa dan Viona hendak membuka penutup tenda tersebut namun dihalangi oleh, Fahri. "Jangan masuk. Pembina nyuruh kita nunggu diluar. Ada, Luthfi yang nemenin, Syifa di dalam. Viona dan Risa akhirnya memilih untuk menunggu diluar.
Kecemasan terus tergambar di wajah, Risa dan Viona.
"Aaaaaa...... Sakiiiiittttt" teriakan, Syifa terus saja membuat, Risa dan Viona ingin sekali berhambur untuk msuk.
"Semoga, Syifa ngga kenapa-napa", Reza terus berdoa untuk, Syifa. Saat yang lain terlihat cemas kecuali, Celia. Vigo malah berusaha menahan tawanya hingga membuat, Risa dan Viona marah
"Loh kenapa ketawa-ketawa coba? Loh senang liat, Syifa menjerit kesakitan?", Risa menajamkan padangannya ke, Vigo.
"Tau loh. Syifa lagi sakit loh malah ketawa-ketawa" timpal, Viona dengan kesal
"Gue bukan ngetawain, Syifa. Tapi gue ngetawain, Luthfi di dalam" saut, Vigo yang masih berusaha menahan tawanya.
"Kenapa sama, Luthfi?" tanya, Risa yang masih terlihat kesal.
"Luthfi kayak lagi nemenin istrinya yang mau melahirkan" tawa, Vigo akhirnya pecah namun tidak begitu keras. Yang lain tadinya terlihat cemas kini ikut tertawa pelan yang sedikit membenarkan ucapan, Vigo. Yah, saat ini, Luthfi memang telihat seperti seorang suami yang sedang menemani istrinya melahirkan, apalagi ditambah teriakan, Syifa yang terus mengatakan sakit
***
***
***
__ADS_1
Hay teman2. Eps kali ini benar2 panjang banget yah, ini aku sengaja panjangin krn kemarin aku ngga sempat up, ada kerjaan lain yang ngga bisa aku tinggal. Terima kasih untuk yang masih setia menunggu dan menanyakan kapan up novel ini. Oh ia teman2, kalau kalian suka novel ini, jangan lupa buat like dan Vote yah. Kalau mau komen silahkan, engga juga ngga apa2 sih, hehe. Terima kasih Semuanya