
"Syifa?" panggil Mommynya dengan dahi yang mengkerut
"Ngga usah dengerin mereka Mom. Kan ngga ada yang tau kecuali, Syifa, Luthfi, dan Tuhan" ia mencoba membelah dirinya
"Jujur aja kenapa sih sama Mommy" desak, Risa yang menahan tawanya
"Itu Privat yah buat orang yang udah nikah. Loh kalau mau tau suruh, Fahri nikahin loh sekarang" balas, Syifa setengah kesal pada, Risa
"Terserah loh deh. Mumpung suasana hati gue lagi baik hari ini. Jadi ngga apa-apa loh mau ngegodain gue sama, Fahri sampai loh semua puas" ujar, Risa dengan santainya dengan suasana hati yang tenang
"Loh ngga apa-apa, tapi gue yang apa-apa" tegur, Fahri yang menyandarkan punggungnya
"Sejak kapan loh jadi baper? Oh my god, jangan bilang loh udah mulai suka sama gue yah" ujar, Risa yang berpura-pura menutup mulutnya dengan. telapak tangannya, seperti layaknya orang yang terkejut
Fahri tidak menjawab. Ia hanya menatap, Risa dengan tajam dan mengisyaratkan kata-katanya hanya lewat tatapannya
"Bercanda, Fahri. Apaan sih serius banget", Risa memukul lengan, Fahri yang membuat semuanya tertawa geli dibuatnya
"Ya udah, Mommy tinggal dulu ke dapur" pamit Mommynya
"Kalian mau bulan madu kan? Kapan?" tanya, Viona setelah Mommy, Syifa sudah pergi
"Loh ngga dengar apa tadi Mommy bilang apa? Setelah gue pulang dari rumah, Luthfi" ketusnya
"Kakak kok lemas sih? Harusnya kakak kan senang mau datang ke rumah mertua" tegur, Syafa yang melihat wajah cemberut kakaknya
"Adik loh aja tau, Fa" timpal, Vigo yang terkekeh
"Itu karna nih bocah sok tau dan ngga tau apa-apa" sahut, Syifa yang menatap adiknya malas
Ddrrttttt ddrrtttttt
Ponsel milik, Luthfi berbunyi disaku celananya. Ia segera meraihnya dan menatap layar ponsel tersebut. Senyumnya lalu mengembang dan tentu saja membuat, Syifa bertanya-tanya.
"Siapa yang nelpon dia? Kok sampe senyum-senyum gitu? Apa, Marcelia yah?" batin, Syifa
"Halo sayang" ucap, Luthfi setelah menggeser icon hijau dan meletakkan benda pipih itu di telinganya
Syifa dan yang lainnya membulatkan kedua matanya mendengar suara lembut, Luthfi dan mengatakan 'sayang' pada seseorang disana. Dan itu sudah pasti seorang wanita
"Ia. Besok kami kesana" ucap kembali, Luthfi yang tidak menyadari semua pasang matanya tengah mengarah padanya terlebih, Syifa di sampingnya
"Ia sayang. Dah", Luthfi mengakhiri percakapannya dan baru tersadar semua orang tengah menatapnya
Ia menatap, Syifa yang juga menatapnya tanpa berkedip. Luthfi menjadi gugup mendapat tatapan seperti itu dari istrinya
"Tadi itu, Fia" jelas, Luthfi yang lagi-lagi membuat semuanya tercengang dan sudah menduganya bahwa ia seorang wanita
"Hmm.. Maksud gue. Itu Luthfia adek gue" tutur, Luthfi yang menjelaskan kepada istrinya dan tidak mempedulikan yang lainnya
"Adek loh?" tanya, Syifa yang mengerutkan dahinya
Luthfi mengangguk cepat. "Itu, Fia adek gue"
"Tadi loh bilang namanya, Luthfia, kenapa sekarang jadi, Fia? Yang benar yang mana?" tanya, Vigo
"Namanya Luthfianisa Vanjaya. Masa loh mau manggil, Luthfi juga? Dia dipanggil, Fia. Kan ngga lucu kalau dia juga dipanggil, Luthfi" ketus, Luthfi yang jengah
"Beneran?" tanya, Syifa yang masih ragu
"Beneran. Dia nanya besok kita jadi ke rumah atau ngga" papar, Luthfi yang membelai kepala, Syifa
"Kakak! Syafa masih disini. Tolong hargai mata, Syafa yang masih perawan ini" tegur, Syafa yang membuat, Syifa dan Luthfi salah tingkah
"Paling juga di rumah, Luthfi akan jadi malam pertama mereka" ledek, Fahri yang disambut tawa, Risa
"Terserah kalian deh. Malas gue" gerutu, Syifa
Mereka terus mengobrol hingga siang hari. Syafa yang masih baru diantara mereka mencoba mengimbangi dan tidak malu untuk ikut bergabung bersama teman kakaknya itu.
***
"Setelah ini. Kalian siapin perlengkapan untuk besok ke rumah Mama kamu yah. Eh kamu panggilnya apa nak ke Mama mu?" Mommy memperingatkan anak dan menantunya setelah makan
"Bunda, Mommy" ujar, Luthfi yang masih kaku memanggil mertuanya dengan sebutan Mommy
"Ya sudah. Kalian siap-siap yah. Mungkin kalian hanya 3 hari disana. Setelah itu, kalian pergi Honeymoon yah. Ajak teman-teman kalian" ujarnya
"Tempatnya dimana Mommy?" tanya, Luthfi
__ADS_1
"Ayah kamu ini punya Villa di pedesaan. Nanti kalian akan diantar sama supir kesana" tutur Mommynya
"Nanti Villa itu akan jadi milik, Syifa" ujar Ayahnya
"Terus nanti, Syafa dapat apa kalau, Syafa juga udah nikah?" tukas, Syafa kepada Ayahnya
"Sekolah dulu loh yang benar. Ngga usah mikir yang jauh-jauh" tegur, Syifa kepada adiknya
Syafa mengerucutkan bibirnya. Mommy, Ayah dan Luthfi hanya tersenyum melihat tingkah kedua kakak beradik itu sering beradu mulut
Luthfi dan Syifa masuk ke dalam kamar. Luthfi menselonjorkan kakinya di tempat tidur dan meraih ponselnya di atas nakas. Sedangkan, Syifa sibuk memasukkan pakaiannya dan juga pakaian, Luthfi yang sekiranya cukup ia bawa ke rumah mertuanya
"Sini gue pijatin kaki loh", Syifa duduk di tempat tidur dan menaikkan kaki, Luthfi ke pangkuannya
"Ngga usah" tolak, Luthfi yang hendak menarik kakinya
"Ngga apa-apa. Tadi Mommy nyuruh, Syifa ini" terang, Syifa yang sudah memijat pelan kaki, Luthfi
"Biar apa?" tanya, Luthfi yang mengernyit
"Kata Mommy. Kalau loh udah kerja nanti, gue harus terbiasa buat selalu mijat kaki loh. Kata Mommy juga, suami yang pulang kerja itu capek. Jadi sebagai istri harus mengerti dan memijat suaminya. Jadi sebelum loh kerja, Mommy nyuruh gue harus belajar dari sekarang, biar nanti terbiasa" jelasnya tanpa menoleh ke arah, Luthfi. Ia sibuk memijat kaki, Luthfi
"Termasuk ngga melihat wajah suami ketika sedang memijat kakinya?" tanya, Luthfi yang menahan senyumnya
"Ngga! Mommy ngga ada bilang gitu", Syifa menoleh ke arah, Luthfi
"Tapi tadi loh ngga lihat ke gue saat mijat kaki gue" tukas, Luthfi yang tetap menahan tawanya
"Kan gue baru belajar mijat. Kalau gue pijatin kaki loh tapi muka gue ke loh, yang ada ntar gue malah salah pijat" ketus, Syifa menghentikan pijatannya
"Salah pijat juga ngga. Kan udah sah" goda, Luthfi
Syifa sontak mendorong kaki, Luthfi ke lantai hingga tubuhnya pun ikut terjatuh. Syifa terkejut sendiri dibuatnya hingga ia membantu, Luthfi berdiri
"Aww. Sakit. Loh kenapa sih? Emang Mommy juga nyuruh loh mendorong suami?" kesal, Luthfi yang tiba-tiba didorong oleh, Syifa
"Ya maaf. Habisnya loh sih. Pikirannya jadi mesum" kesal, Syifa yang bercampur rasa bersalah karna telah mendorong kaki, Luthfi hingga terjatuh
"Udah. Gue mau tidur" ujar, Luthfi yang membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut sampai ke perutnya
"Loh marah yah?", Syifa yang ragu mendekati, Luthfi
Syifa ikut membaringkan tubuhnya menghadap ke, Luthfi yang sedang membelakanginya
"Luthfi?! Jangan marah. Tadi gue ngga sengaja", Syifa menusuk-nusuk punggung, Luthfi
Luthfi tidak menjawab sama sekali. Syifa semakin merasa bersalah karna membuat, Luthfi marah padanya. Berkali-kali ia menahan perasaan sesak di dadanya karna merasa diabaikan, berkali-kali juga ia menengadah ke atas untuk menahan butiran kristal di matanya agar tidak terjatuh
Namun usahanya sia-sia karna cairan bening itu berhasil lolos dari bola matanya hingga membasahi bantal yang ia kenakan saat ini. Sesaat ia menahan napas untuk tidak sesegukan
Luthfi membuka matanya dan mengubah posisinya menghadap ke, Syifa. Samar-samar ia mendengar suara isakan yang berusaha tertahan
Ketika, Luthfi menyentuh pipi, Syifa, ia terkejut karna wajah istrinya kini sudah basah dengan air matanya. Luthfi segera menyalakan lampu kamar di atas, meja tersebut dan melihat wajah, Syifa dipenuhi air mata
"Syi... Syifa? Loh kenapa nangis?" panik, Luthfi yang setengah terbangun
Syifa menggeleng. "Maaf karna buat loh marah" ucap, Syifa yang sudah tidak bisa lagi menahan isakannya
"Astaga. Gue ngga marah", Luthfi langsung memeluk tubuh mungil istrinya, "Please jangan nangis lagi. Gue, minta maaf", Luthfi mengusap-usap kepala dan punggung, Syifa untuk menenangkannya
"Tapi tadi loh marah sama gue" ujar, Syifa yang masih terisak dalam dekapan, Luthfi
"Ngga. Gue ngga marah. Maaf yah" ucap, Luthfi dengan lembut dan berkali-kali mencium kepala istrinya
"Sekarang tidur yah? Besok kita ke rumah Bunda" perintah, Luthfi dengan lembut namun tidak melepaskan pelukannya
Syifa hanya mengangguk. Suara isakan tangisnya pun, mulai mereda dan menghilang dibalik pelukan suaminya. Syifa terlelap dengan posisi memeluk Suaminya. Luthfi memundurkan wajahnya sedikit dan melihat istrinya sudah tertidur.
"Maaf" ia, mencium kening istrinya lalu kembali memeluknya dengan erat hingga ia terlelap
***
"Hati-hati yah. Syifa? Ingat kan pesan Mommy?" ujar, Mommynya ketika mereka sudah sampai di depan mobil, Fahri yang akan mengantar mereka ke rumah, Luthfi.
"Ia Mommy. Syifa ingat kok. Syifa berangkat dulu yah Mom", Syifa memeluk Mommynya dan memberi kecupan singkat di kedua pipi wanita itu
"Ia sayang" balas Mommynya
"Luthfi pamit dulu Mommy", Luthfi mencium tangan mertuanya itu. Sebelumnya juga ia sudah berpamitan kepada mertua laki-lakinya dan juga Syafa sebelum ke kantor dan adik iparnya ke sekolah
__ADS_1
"Duluan yah Tante" pamit, Fahri, Vigo dan Viona
"Kita pamit Mom" pamit, Risa
"Daaaahhh" seru Mommy, Syifa saat mobil itu sudah mulai melaju meninggalkan kediamannya
"Mommy loh pengertian banget yah, Fa" seru, Viona ketika mobil yang membawa mereka keluar dari gerbang rumah milik kediaman orangtua, Syifa
"Ia dong. Mommy gue mah terbaik" puji, Syifa dengan bangga hingga senyumnya mekar
"Mama kamu juga pengertian, Vio" sahut, Vigo yang menoleh ke belakang
"Ngga usah ngegombal loh disini" protes, Risa
"Sirik aja loh jomblo" tegur, Viona yang tertawa
Luthfi memalingkan wajahnya keluar jendela. Ia menurunkan kaca mobil tersebut dan mengulurkan tangannya sedikit
"Hujan" ucapnya
"Hujan? Pantesan di kaca depan mobil gue ada titik-titik air" sahut, Fahri
"Enak nih jadi pengantin baru disaat musim hujan datang" tukas, Vigo yang tertawa keras
Fahri dan Luthfi yang mengerti isi otak, Vigo saat ini tertawa. Syifa dan Risa yang tidak paham hanya saling melempar pandang satu sama lain. Berbeda dengan, Viona yang sudah mencubit lengan, Vigo
"Awww. Vio sakit", Vigo meringis akibat cubitan, Viona pada lengannya
Lagi-lagi itu membuat, Fahri dan Luthfi tertawa begitu keras. Fahri sampai berulang kali memukul stir mobilnya karna tidak bisa lagi menahan tawanya
"Fahri, loh fokus aja kenapa sih?" tegur, Risa yang khawatir di saat hujan seperti ini namun, Fahri malah tertawa padahal tidak ada yang lucu baginya
"Tau nih. Ngga ada yang lucu juga" timpal, Syifa
"Semoga hujannya sampai malam" doa, Vigo, benar-benar membuat, Luthfi dan Fahri tertawa
"Vigo!" bentak, Viona dari belakang
"Bercanda, Vio" ucap, Vigo yang tersenyum
"Apa yang lucu sih?" tanya, Syifa kepada, Luthfi
Luthfi menggeleng. "Jangan dengerin kata-kata, Vigo"
"Menyesatkan" timpal, Fahri lalu tertawa
"Apa cuma gue sama, Syifa yang ngga ngerti?" gerutu, Risa lalu menyandarkan punggungnya. Fahri hanya melihatnya melalui spion tengahnya
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Halo. Ada yang nunggu Honeymoon pengantin barunya ngga nih 🤭 Besok aku up bulan madu mereka yang rame-rame yah 😊 Oh ia, kalau kalian suka novel ini, jangan lupa untuk selalu mendukung karya aku yah, jangan lupa untuk like, vote dan komennya jika ada yang mau kalian ungkapin 😅 Pokoknya aku benar-benar berterima kasih kepada semuanya yang sudah mendukung karya aku ini 🤗 Terima kasih untuk semuanya 😍
__ADS_1