Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Ujung dunia


__ADS_3

"Viona mana? Kok loh yang jawab. Dan... "


Ucapan, Dini terhenti dan matanya membulat sempurna ketika melihat, Fahri berada di samping, Risa. Bahkan pria itu menarik sedikit selimut yang dipakai, Risa untuk berbagi bersama. Dan, Risa tidak keberatan, bahkan menarik selimut itu agar bisa menutupi tubuh, Fahri


"Fahri!"


Fahri yang merasa namanya terpanggil menatap layar ponsel, Viona yang disimpan di atas meja oleh, Risa tadi, dan menampilkan wajah mereka berdua dari jarak dekat.


"Ada apa?" tanya, Fahri yang acuh tak acuh


"Fahri. Kok loh bisa berdua sama dia disitu? Dan selimut..... Maksudnya apa?"


Mereka berdua saling menoleh ketika, Dini membahas selimut. Sebelumnya, Fahri dan Risa bahkan tidak menyadari jika mereka sudah berbagi selimut. Itu bahkan mengalir begitu saja karna terbiasa


Risa menjauhkan sedikit wajahnya agar keluar dari layar ponsel, Viona. Wajahnya menahan kesal dan bahkan giginya ia gertakan. Teman-temannya sontak tertawa melihat tingkah, Risa yang ingin sekali mencakar wajah gadis yang berada di balik layar ponsel milik, Viona


Fahri menarik tangan, Risa untuk kembali mendekat, "Jangan jauh-jauh" godanya


"Gue baru ngejauh bentar aja loh udah rindu. Belum gue Amerika juga. Udah gila loh pasti saking rindunya sama gue" celoteh, Risa yang seperti biasanya dan sementara tidak menyadari, Dini masih disana


Fahri tertawa begitu riang. Dini yang melihatnya merasakan nyilu pada dadanya. Bagaimana bisa gadis itu membuat, Fahri tertawa walau hanya sekadar mengomel padanya


"Tuh dengerin teman gue, Ri" seru, Syifa


"Nanti gue ngejar loh sampai ke ujung dunia sekali pun" sahut, Fahri lalu kembali tertawa


"Fahri"


Dini kembali memanggil nama, Fahri ketika pria itu tidak lagi menyadari kehadirannya. Bahkan, Fahri sendiri tersentak dan baru kembali menoleh


"Hmmm. Ada apa?" tanya, Fahri dengan wajah serius


"Loh di rumah?"


"Mata loh masih berfungsi kan?" tanya, Risa dengan tampang polos padahal ia sudah geram


"Maksud loh apa?"


"Gue rasa telinga loh juga masih berfungsi" ketus, Risa


"Loh", Dini sudah mulai geram


Fahri kembali tertawa diikuti temannya yang lain. Risa benar-benar akan mencakar wajah gadis itu


"Fahri? Gue boleh ke rumah loh juga ngga?"


"Mau ngapain?" suara, Fahri tidak enak terdengar


"Gue cuma mau ke rumah loh juga. kayak teman-teman loh"


Rahang, Fahri terlihat mengeras dan Risa menyadarinya. Keempat temannya memberi kode kepada, Risa untuk menenangkan, Fahri


Risa memutar malas bola matanya dan merapatkan selimut lalu kian mendekat kepada, Fahri dan memeluk pria itu tanpa permisi


Fahri yang terkejut sesaat, namun menjadi biasa saja setelah melihat, Dini di layar ponsel itu dan mata gadis yang berada di layar ponsel itu hampir keluar dari tempatnya


Fahri merangkul pundak, Risa, "Dingin yah?" tanyanya. Risa hanya mengangguk, karna memang dirinya kedinginan dengan hujan deras yang turun dan sempat membasahi pakaiannya

__ADS_1


"Fahri? Ijinin gue datang"


Viona mengode, Fahri dan Risa untuk mengiyakan agar bisa membuat, Dini cemburu dan berhenti mengganggu mereka


"Ya udah sih datang aja" ketus, Risa setelah menerima kode dari, Viona


"Ok. Gue datang sama, Lury sama dan sepupu gue juga yah"


Viona tersentak mendengar nama itu. Ia menoleh kepada, Vigo yang tersenyum padanya dan membelai kepalanya. Seakan menenangkan kekasinya itu. Yah, mereka juga tau jika, Dini dan Lury berteman baik


Fahri mengabaikan, Dini yang begitu girang karna diperbolehkan datang ke rumahnya. Viona menunjukkan raut wajah tidak senang setelah mendengar bahwa, Dini akan datang bersama, Lury


"Mereka beneran bakal datang?" tanya, Syifa yang sebenarnya tidak mempercayai ini


"Ngga usah ngurusin mereka. Kalau mereka datang, jangan ikut-ikutan. Yah?" perintah, Luthfi dengan lembut dan Syifa hanya mengangguk patuh


"Patuh banget sama suami" ledek, Risa


"Itu harus, Sa. Loh juga nanti kalau udah nikah sama, Fahri. Harus nurut" cetus, Vigo


"Vigo" ucap, Fahri lalu tertawa


"Jangan mulai yah", Viona menatap tajam, Vigo


"Kan gue cuma ngomong itu", Vigo, mencubit pipi, Viona


"Tapi, tadi dia bilang bakal datang sama teman sama sepupunya juga. Ngga sekalian mau bawa keluarganya gitu? Rame banget" seru, Syifa


"Ini kan rumah, Fahri. Terserah, Fahri" ujar, Luthfi


Teman-temannya kembali tertawa termasuk, Fahri yang masih merangkul pundaknya.


"Itu sih emang mau loh, Sa" goda, Viona


"Alasan, Risa aja tuh. Bilang aja emang mau meluk-meluk, Fahri, terus mau nyium, Fahri" timpal, Vigo lalu tertawa bersama, Luthfi dan Fahri


"Mulai deh, Vigo", Syifa menggelengkan kepalanya


"Pengen deh, Go gue sumpel mulut loh pake kain yang udah gue injak-injak biar loh bisa diam" geram, Risa


Ketiga pria itu bukannya berhenti tertawa, malah semakin mengeraskan tawa mereka, bahkan, Syifa dan Viona pun ikut tertawa. Risa yang sedang kesal terpaksa harus ikut tertawa karna tawa temannya yang menular.


Tok tok


Suara ketukan pintu samar-samar terdengar di tengah guyuran hujan yang kian semakin deras pula.


"Tunggu bentar yah", Fahri melepaskan rangkulannya di pundak, Risa untuk melihat siapa yang datang


Ceklek


Ketika, Fahri membuka pintu, terlihat tiga gadis sedang berdiri di hadapannya. Fahri hanya mengenali, Dini dan Lury. Namun gadis satunya pun tidak asing di matanya.


"Fahri, gue datang" seru, Dini yang begitu bersemangat


"Hmm. Masuk" ujar, Fahri dengan nada tidak ramah dan membiarkan ketiga gadis itu masuk


"Kak Dinar?" guman, Risa setelah melihat, Dinar kakak kelasnya berada di antara kedua gadis itu

__ADS_1


Kepala, Syifa dan Luthfi seketika menoleh bersamaan ketika, Risa menyebut nama, Dinar yang membuat pertengkaran kecil terjadi diantara, Luthfi dan Syifa malam kemarin


"Lury?" guman, Viona dan Vigo semakin menggenggam erat tangan, Viona


"Hay, Vigo" sapa, Lury yang begitu senang melihat, Vigo. "Viona" Namun menyapa tidak suka pada, Viona.


"Loh? Luthfi? Kok loh bisa ada disini?" tanya, Dinar yang begitu heran


Fahri baru menyadari jika gadis itu adalah gadis yang bertemu mereka kemarin. "Duduk dulu". Fahri mempersilakan, dan ia sendiri kembali bergabung bersama, Risa dan kembali menarik selimut untuk berbagi berdua dengan gadis itu


Dini memandang tidak suka pada pemandangan di depannya. Begitu pun dengan, Lury yang menatap tidak suka pada, Viona yang memeluk, Vigo dalam balutan selimut mereka. Dinar tidak memahami kenapa, Luthfi bisa memeluk, Syifa layaknya seorang kekasih.


"Hai, Vigo. Lama kita ngga ketemu", Lury membuka suara setelah hening beberapa detik lalu


"Ia" sahut, Vigo yang tersenyum paksa karna menghargai, Lury. Namun pelukannya pada, Viona semakin ia eratkan, takut jika gadis itu ingin melepaskan diri setelah melihat, Lury


"Hmmm. Kalian? Balikan?" tanya, Lury dengan hati-hati.


"Gue ngga pernah balikan sama, Vio" sahut, Vigo.


Viona membulatkan kedua matanya dan mendongak menatap, Vigo tidak percaya. Bahkan keempat temannya yang lain pun menatap, Vigo dengan bingung. Terlintas wajah, Syifa dan Risa penuh kecemasan menatap, Vigo dan Viona


Lury sendiri tersenyum lebar mendengar penuturan, Vigo. Bahkan, Dini sedikit tersentak mendengar jawaban, Vigo. Berbeda dengan, Dinar yang tidak tau apapun, ia hanya memilih diam


"Karna nyatanya. Gue ngga pernah putus sama, Vio. Jadi untuk apa gue balikan kalau gue sama, Vio sendiri ngga pernah putus" cetus, Vigo yang tersenyum hangat kepada, Viona yang sudah berkaca-kaca karna, Vigo tidak mengakui hubungan mereka tadi


Senyum lebar, Lury sirna seketika. Dan kelegaan dirasa oleh keempat temannya yang tadinya sudah cemas dengan jawaban, Vigo


"Baru aja gue pengen nendang muka loh, Go" seru, Risa disela-sela keharuan itu


Fahri langsung tertawa, "Kok lucu?" dengan gemasnya ia mengapit kedua pipi, Risa dengan satu tangannya


"Emang gue lucu. Tapi tangan loh", Risa menepuk tangan, Fahri yang mengapit kedua pipinya


"So sweet" ledek, Syifa yang tersenyum lebar


Luthfi hanya tersenyum dan tanpa sadar mencium kepala, Syifa dengan gemas dan langsung memeluknya erat. Bahkan, Syifa tidak keberatan. Bola mata, Dinar seakan ingin keluar dari tempat persembunyiannya ketika melihat, Luthfi mencium dan memeluk, Syifa layaknya mereka mempunya sebuah hubungan yang...........


"Luthfi? Loh?......."


*


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa like dan votenya yah 😊 Terima kasih bagi yang sudah mendukung 🤗 Jadi, aku selalu pantau siapa2 aja sih yg sering like, komen, dan sering ngasih votenya ke karya aku ini. Pokoknya terima kasih banget buat yang selalu like dan vote. Juga teman2 yg sering nongol di Grup Chat 🤭 Terima kasih untuk kalian semua 😍

__ADS_1


__ADS_2