
Vigo menjauh dari, Viona. Tatapan, Viona sangat menakutkan bagi, Vigo saat ini. Tidak ada yang berani mendekati, Viona. Bahkan, Lury meronta untuk minta dilepaskan. Namun, Viona tidak bergeming dan semakin menajamkan tatapannya pada, Lury
"Viona lepasin gue", Lury mencoba meronta berharap, Viona melepas kerah bajunya
"Jangan pernah loh macam-macam sama gue", Viona menunjuk wajah, Lury dengan suara yang begitu ia tekankan
"Siapa yang macam-macam sama loh? Lepasin gue", Lury berteriak di depan wajah, Viona
"Tutup mulut loh dan jangan berteriak di depan gue" seru, Viona dengan kilatan marah
Lury sudah mulai kesal melayangkan tangannya untuk menampar, Viona yang berada tepat di hadapannya. Namun, Viona dengan cepat menangkis tangan, Lury. Bahkan dengan tangan satunya, ia malah melayangkan tangannya dan mendarat begitu saja di pipi, Lury. Bahkan gadis itu terpental karna tamparan, Viona yang begitu keras
"Viona" teriak teman-temannya
"Lury" teriak, Dini dan Dinar lalu menghampiri, Lury yang terduduk di lantai
"Loh ngga apa-apa?" tanya, Dini ketika ia memeriksa wajah, Lury yang memerah
"Viona" panggil, Syifa dengan lembut menyentuh pundah temannya yang sedang terbawa emosi
Viona menoleh pada, Syifa lalu menghembus napas beratnya. Lury tiba-tiba saja bangkit dan hendak membalas perlakuan, Viona. Namun, Vigo dengan cepat menghadangnya
"Jangan berani macam-macam sama, Vio" peringat, Vigo kepada, Lury
"Tapi dia yang mulai" seru, Lury menunjuk, Viona
"Mending loh diam deh" seru, Risa. "Loh pengen mancing amarah, Viona lagi, hah?" kesalnya
"Kenapa loh jadi nyuruh teman gue diam? Jelas-jelas, Viona yang mulai" tukas, Dini
"Viona ngga akan mulai kalau ngga ada yang mancing" seru, Syifa
"Siapa yang mancing? Kenyataannya emang dia yang duluan narik kerah baju, Lury" kesal, Dinar
"Itu karna, Lury sendiri yang mancing, Viona. Lury nuduh-nuduh, Viona ngerusak hubungannya sama, Vigo. Padahal jelas-jelas, Lury yang ngarang cerita biar, Viona ngejauhin, Vigo" seru, Syifa
"Apa?" sontak, Dini dan Dinar terkejut
"Kalian percaya sama omongan dia? Gue udah bilang kan? Dan loh, Dini? Loh tau sendiri gimana gue sama, Vigo dulu kan?", Lury berusaha menyangkal
"Apa? Loh mau ngarang cerita lagi? Ngga guna, tau ngga" seru, Viona yang hendak maju
"Sayang udah", Vigo menghadang tubuh, Viona. "Dan loh?" ia berbalik menunjuk, Lury, "Gue udah tau semua kelakuan busuk loh. Jadi jangan sekali-sekali loh nyentuh, Vio. Atau loh bakal berurusan sama gue" ucapnya dengan penuh penekanan. "Ayo, Vio" ia pun menarik tangan, Viona untuk menuju kamar utama milik, Fahri
"Ayo masuk", Luthfi menarik tangan, Syifa untuk masuk ke dalam kamar yang mereka tempati dan menutupnya kembali tanpa mempedulikan orang-orang yang berada diluarnya
"Ayo", Fahri pun menarik tangan, Risa untuk pergi dari sana. Ia menuju sofa untuk mengambil selimut miliknya dan juga milik, Vigo, Viona.
"Kok jadi gini sih?", Dinar menyentakkan kakinya karna merasa kesal
"Terus kita tidur dimana? Ini semua gara-gara loh, Ry. Ngasih ide ngga guna" seru, Dini
"Kenapa jadi nyalahin gue? Kan loh juga setuju. Loh sendiri juga yang mau ngintip, Fahri" ketus, Lury
__ADS_1
Pintu kamar, Luthfi dan Syifa terbuka. "Ngapain kalian masih disini? Malah ribut-ribut. Sana" usir, Luthfi
"Kok loh tega banget sih ngusir kita? Kita nih cewek, Fi? Loh ngga kasian apa" gerutu, Dinar
"Ngapain gue harus kasian sama kalian? Ngga guna juga" ucap, Luthfi dengan cuek
"Jahat banget sih loh" seru, Dini
"Tau loh. Ngga punya perasaan banget" cetus, Lury
"Gue punya perasaan sama orang yang patut diberi perasaan. Tapi kalau cewek modal kayak kalian? Gue ngga akan beperasaan" ujar, Luthfi. "Pergi sana. Jangan mengganggu dan jangan ribut" peringatnya sebelum menutup pintu dengan keras
"Dasar ngga punya hati" maki, Dini namun dengan suara yang tidak begitu keras
"Jangan hina dia gitu. Luthfi itu sebenarnya baik. Dia jadi kek gini karna pelet cewek itu lagi jalan" tegur, Dinar yang masih mengira, Syifa memakai pelet
"Terus sekarang gimana dong kita? Mau tidur dimana coba? Yakali tidur di sofa" ketus, Lury
"Yah mau gimana lagi. Kecuali kalau loh mau tidur diluar" ujar, Dini
"Enak aja. Ngga lah" protes, Lury
"Udah-udah. Ayo kita pergi dulu dari sini. Takut, Luthfi keluar lagi dan marah-marah", Dinar menarik tangan, Dini dan Lury menuju sofa
***
"Vio" panggil, Vigo setelah menutup kembali pintu karna, Fahri baru saja membawakan selimut mereka yang tertinggal di sofa tadi
"Hmm" sahut, Viona menoleh pada, Vigo
"Ngga kok. Malah justru gue jadi ngga enak" ketusnya setelah mengingat kejadian tadi
"Ngga apa-apa. Gue tau loh lagi kesal sama, Lury", Vigo tersenyum dan mengusap kepala, Viona
"Vigo benar-benar baik banget sama gue. Dari dulu dia ngga pernah marah sama gue. Selalu ngalah sama gue. Selalu ngejaga gue. Selalu ada di samping gue. Selalu sabar sama gue. Selalu manjain gue. Dan selalu sayang sama gue" batin, Viona yang menatap dalam kedua bola mata, Vigo
"Kenapa?" tanya, Vigo dengan lembut dan membelai kepala, Viona seperti biasanya
Viona menggeleng dan memeluk tubuh, Vigo. "Makasih. Loh selalu sabar ngadepin sifat gue yang ngeselin, kasar dan manja. Makasih karna selalu ngejaga gue selama ini" ucapnya dengan pelan
"Karna itu adalah tanggung jawab gue buat selalu ngejaga loh", Vigo dengan lembut mengusap kepala dan punggung, Viona dengan lembut
"Tapi gue pasti nyebelin kan?" tanya, Viona lalu cemberut sendiri dengan pertanyaannya
"Semua cewek punya sifat nyebelin. Tapi itu yang justru bikin kangen kalau lagi ngga ketemu" sahut, Vigo lalu tertawa
"Ngeselin", Viona mencubit pelan perut, Vigo namun justru malah ikut tertawa
***
"Ini perpustakaan di rumah loh? Gila. Gede banget!" seru, Risa ketika, Fahri memilih membawanya ke ruang perpustakaan yang terlihat luas itu. Ia memperhatikan seluruh tatanannya disana
"Ia. Ngga apa-apa kan kalau kita tidur disini malam ini? Loh tau sendiri rumah gue cuma punya dua kamar" ujar, Fahri
__ADS_1
"Udahlah. Santai aja kali kalau sama gue. Gue mah ngga apa-apa tidur dimana aja asal layak" cetus, Risa dengan santai
"Yang penting sama gue kan?" goda, Fahri
"Haha. Romantis banget", Risa melirik sinis, Fahri. "Berhenti ngedrama" ucapnya dengan kesal
"Biasanya juga loh baper" seru, Fahri lalu tertawa
"Berhenti deh, Ry. Gue ngantuk. Mau tidur. Minggir", Risa mendorong tubuh, Fahri dari sofa yang berada di ruang perpustakaan itu
"Ngapain dorong gue? Gue kan juga mau tidur disini" protes, Fahri. karna hanya ada satu sofa disana
"Bodo amat" seru, Risa
"Yakin mau tidur sendirian? Hmm. Yah, gue sih cuma ngingatin aja. Jangan lupa tadi di ruang tamu ada apa?" ledek, Fahri dan berhasil membuat, Risa terduduk dan menarik tangan, Fahri untuk mendekat.
"Tidur disini sama gue", Risa menarik tangan, Fahri untuk ia jadikan bantal kepalanya
Fahri harus menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Dan harus berusaha untuk tidak tertawa di hadapan gadis itu karna sudah berhasil membohonginya
***
"Terus, mereka gimana?" tanya, Syifa ketika, Luthfi duduk di sampingnya
"Gimana apanya?", Luthfi mengerutkan dahinya
"Maksudnya tidur dimana? Yah kan, Vigo sama Viona nempatin kamarnya, Fahri. Dan cuma itu kamar yang tersisa " ujar, Syifa
"Ngapain ngurusin mereka? Mereka aja ngga suka sama kamu" ketus, Luthfi
"Kan ngga mesti aku juga harus ngga suka sama mereka" cetus, Syifa yang tidak ingin kalah
"Udah. Ngga usah pikirin mereka. Mereka udah gede. Tau mana yang harus ditempatin tidur. Ayo kita tidur. Ngga usah lagi mikirin mereka. Aku ngga suka. Jangan terlalu baik sama orang" cetus, Luthfi
"Sensi deh" batin, Syifa
"Ia ia. Ayo tidur", Syifa memilih mengalah sebelum berkepanjangan di tengah malam begini
"Tapi kasian juga sama mereka bertiga" batin, Syifa
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih buat selalu komen lucunya 🤭 Kadang aku ketawa sendiri kalau baca komen2 kalian yg benar2 kocak 😅 Jadi hiburan tersendiri bagi aku. Pokoknya makasih banget buat semuanya yang selalu ngedukung karya aku ini. I love U all 😍