
Dito terdiam, dia menatap Rani yang trus berjalan hingga hilang dari pandangannya.
Rani terus melangkahkan kakinya seraya menebarkan pandangannya ke sekitarnya.
"Hm..Besar dan luas juga Sekolah ini. Kantinnya kira-kira dimana ya?" tanya dalam hati Rani sambil melihat sekelilingnya.
Dari kejauhan Rani melihat Kakaknya sedang mengobrol dengan beberapa orang wali murid yang lainnya.
"Lho itu kan kak Raditya? Katanya mau pergi, kenapa masih berada disini?" kembali Rani bertanya dalam hatinya dengan rasa penasarannya.
Saat Rani hendak menghampiri Kakaknya, tiba-tiba ada yang menabraknya.
"Brukk....!"
Dengan sigap Rani bisa menguasai keseimbangan tubuhnya.
Tapi beda dengan yang menabraknya, jatuh terjengkang membentur samping tiang Aula.
"Aduh...!"
Suara seorang gadis yang mengerang kesakitan, dan ternyata lengan kiri gadis itu lecet karena tergores tiang Aula.
"Aduh sakit! Kau kalau jalan pakai mata!' seru gadis itu yang mengaduh dan menatap Rani.
"Ma..maaf saya bantu berdiri, ada yang luka apa tidak?" tanya Rani dengan ramah dan berusaha membantu gadis itu untuk berdiri.
Tapi Gadis itu malah mendorong Rani.
"Bugh...!"
"Eh...!" Rani terkejut, tapi dengan sigap Rani mempertahankan keseimbangannya.
"Dasar cupu! kau harus membayar apa yang kau lakukan ini!" seru gadis itu dengan geram dan dia segera berdiri.
Gadis itu segera melayangkan pukulan ke arah Rani. Mengetahui hal itu, Rani menghindar dengan mundur dua langkah, dan kibasan tangan kanan gadis itu mengenai ruang hampa.
"Lebih baik menghindar bila membalas, kacaulah penyamaranku" batin Rani.
"Kau...kurang ajar, awas kau...!" seru gadis itu yang tak lain teman sekelas Rani yang bernama Bella.
Rani terus menghindar dengan berjalan mundur dan menjauhi Bella.
"Tak ada gunanya meladeni dia, lebih baik cari Kak Radit" batin Rani.
Tiba-tiba ada yang menarik rambut kepangnya dari belakang, Rani pun menjerit kesakitan.
"Auw....!"
Tak ayal dia jadi pusat perhatian orang yang lalu lalang di Aula.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan pada gadisku, kau juga harus rasakan juga...!" seru suara laki-laki dengan nada geram.
Rani menoleh ke belakang karena penasaran siapa yang menarik rambut kepangnya, dengan kedua tangannya yang memegang rambutnya untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Hah..! Pemuda yang satu kelas dengan aku. Namanya bukannya Dio....!"batin Rani seraya menghempaskan rambutnya,agar terlepas dari Dio.
"Sa..saya tak la..lakukan a..apa..apa...!" seru Rani yang pura-pura gugup dan menunduk untuk membenarkan kacamatanya.
"Mana tangan kirimu, akan ku buat seperti apa yang dirasakan Bella!" bentak Dio yang hendak meraih tangan sebelah kiri Rani.
Rani mundur beberapa langkah, pura-pura terjatuh di taman yang terdapat batu dan kerikilnya.
Ketika Dio hendak meraih lengan Rani, tiba-tiba datang seseorang berada diantara Dio dan Rani.
"Jangan...pukul saja aku..pukul saja aku!" seru pemuda yang tak lain adalah Dito.
"Dito...!" panggil Rani yang terkejut dan kemudian gadis itu bangkit berdiri, dia melangkahkan kaki bersembunyi di antara kerumunan orang-orang yang melihat peristiwa itu.
"Baik kesini kau...!" seru Dio dan dengan kasar menyeret Dito, kemudian Dio mencakar Dito.
"Aghh...!"
Dito mengerang kesakitan.
"Rasakan...! Ingat untuk semuanya! Jangan ada yang macam-macam dengan Bella atau akan berhadapan denganku!" seru Dio dengan tatapan kedua matanya yang tajam, mengarah ke semua orang.
Tiba-tiba terdengar bunyi yang mengagetkan semuanya.
"Aaaarghh....!"
Ada sebuah benda kecil yang menghantam leher Dio, secara otomatis Dio tak bisa berbicara.
"Tuan muda....! tuan muda kenapa?" tanya salah satu pengawal yang melihat wajah Dio pucat karena menahan sakit.
"Hai pengecut! keluar kau...!" seru pengawal yang lain dengan lantang. Rupanya dia menyadari kalau ada yang menyerang tuan mudanya.
Seruan dari pengawal Dio itu tidak ada yang menanggapi, tapi semua orang kocar-kacir dibuatnya. Mereka membubarkan diri karena ketakutan dengan apa yang akan terjadi nantinya.
Rani merasakan ada kesempatan untuk pergi dari tempat itu, tapi tak lupa juga mengajak Dito pergi.
"Dito...!' panggil Rani pada saat menghampiri Dito yang masih berdiri di posisinya seraya memegang wajahnya yang luka karena cakaran Dio.
"Ra...Rani....!" balas Dito yang menatap wajah Rani.
"Ayo ke ruang kesehatan!" bisik Rani.
"I...iya!" jawab Dito dengan menganggukkan kepalanya secara pelan-pelan dan keduanya melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu, untuk menuju ke ruang kesehatan.
Rani dan Dito melangkahkan kaki menyusuri lorong sekolah dan tak berapa lama mereka sampai di ruang kesehatan.
__ADS_1
Bergegas keduanya masuk dan Rani mengambil kotak P3K untuk mencari obat luka dan juga kapas. Sedangkan Dito duduk di tempat tidur yang telah tersedia.
Setelah menemukan apa yang dibutuhkan, Rani bergegas menghampiri Dito dan membersihkan luka-luka Dito.
"Terima kasih telah bantu aku,tapi kamu tak perlu mengorbankan diri kamu juga." kata Rani pada saat membersihkan luka Dito.
"Tidak apa-apa menolong teman, itu kan baik. Lagi pula suatu saat aku juga butuh pertolongan kamu. Auw...!" kata Dito sambil meringis kesakitan, pada saat Rani sedang membersihkan luka Dito.
"Butuh pertolongan? memangnya ada apa denganmu?" tanya Rani yang penasaran.
"Kalau kamu mau jadi temanku, suatu saat aku akan ceritakan." kata Dito dengan mata berkaca-kaca. Rani semakin penasaran, tapi dia berusaha untuk menahannya.
"Oh..kalau hanya teman, kita bisa lebih dari itu. Maksudku sahabat....!'' kata Rani sambil menunjukan jari kelingkingnya. Dan Dito menyambutnya dan jari mereka saling mengait.
"Sahabat....!" kata Rani dan Dito bersamaan, mereka pun saling mengulas senyum.
"Hm..hm..yang baru jadi sahabat!" seru suara seorang laki-laki yang masuk ke ruang kesehatan itu, dan Rani menoleh.
"Kak Radit..! lho katanya mau pergi, kenapa masih berada disini?" tanya Rani sambil menyelesaikan tugasnya mengobati luka pada Dito.
"Kak Radit tidak jadi kemana-mana, malah Kakak lihat pertunjukannya tadi." kata Radit sambil tersenyum.
"Tidak ada rasa untuk membantu adiknya gitu?" keluh Rani yang kesal.
"Bukan kah sudah ada yang menolong?" ucap Radit yang menggoda adiknya dan masih saja mengulas senyumnya itu, seraya mengisyaratkan pada kedua matanya ke arah Dito.
"Apa'apaan kak Radit ini!" seru Rani sedikit tersipu malu.
"Ran, kamu nggak kenalin teman kamu ini sama kak Radit?" tanya Radit yang memperhatikan cara adiknya yang mengobati pemuda yang ada dihadapan adiknya itu.
"Oh, mau kenalan ya!' seru Rani yang melirik ke arah Raditya. Dan Raditya mengulas senyumnya.
"Kak Radit, ini Dito teman sekelas dan sebangku Rani. Dan Dito, ini kakak Rani yang super cerewet! He...he...he...!" ucap Rani yang memperkenalkan keduanya seraya mengulas senyumnya.
"Raditya...!''
"Dito....!"
Kedua laki-laki itu saling berjabat tangan dan saling tatap mata seraya menyebutkan nama masing-masing.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...
.