
Sehingga darah itu berjalan lancar kembali.
"Terima kasih." Kata pemuda perkasa itu.
Pemuda berdada bidang masih curiga terhadap lawannya. Demikian ia mengetahui lawannya sudah dapat berdiri dengan tegak dan menggunakan tangannya dengan baik, ia meloncat mundur beberapa langkah.
Tidakkah seperti yang diduganya. Pemuda perkasa itu membungkuk hormat, dan saat melengakkan kepalanya ia berkata,
"Aku mengaku kalah. Dan mulai saat ini aku memanggilmu dengan sebutan kakang."
"Terima kasih adikku." Jawab pemuda berdada bidang.
"Bagus itulah namanya satria. Mengakui dengan jujur segala kekurangan dan kelebihannya. Dan selesailah persoalan yang dituduhkan. Ternyata lawanmu tidak
bersalah. Bukankah demikian?" Kata macan betina.
"Tentu tuanku puteri."
"Bagus. Persoalan selesai. Kalian boleh meninggalkan tempat ini." Perintah macan betina dengan mengerling Ratri yang berdiri tidak jauh dari padanya.
Baru saja beberapa langkah meninggalkan tempat itu, tiba-tiba sebuah belati melayang dengan cepat mengarah punggung pemuda perkasa itu. Cepat pemuda berdada
bidang mendorongnya dan pemuda perkasa jatuh tersungkur. Betapa terkejutnya, tetapi sewaktu ia mendongakkan kepala dilihatnya sebuah belati terpasak pada dinding padas hampir seluruh matanya.
Pemuda perkasa itu berdiri dan menarik napas dalam, ia menoleh dan melihat macan betina itu dalam sikap siaga.
"Terima kasih kakang." Katanya dengan menghormat.
"Hati-hati macan betina itu merasa tersinggung."
"Hai, jangan kau meninggalkan tempat ini. Ambilkan pisauku yang terpasak itu."
Pemuda yang bertubuh perkasa itu akan mengambil belati tetapi cepat macan betina itu berteriak,
"Bukan kau yang kuperintah!!"
"Ia marah kepadaku." Kata pemuda berdada bidang setengah berbisik. Ia mengambil belati, kemudian dengan lunglai menyerahkan kepada macan betina.
"Duduklah di tempat yang rindang itu. Dan tinggalkan tempat ini. Masuk dalam ruangan di depanmu," Perintah itu dikerjakan oleh kedua pemuda tanpa membantah.
Pemuda berdada bidang duduk di bawah pohon rindang, sedang pemuda yang bertubuh perkasa masuk ke dalam ruangan
"Ratri tutup pintunya!" Perintah macan betina. Ratri segera pergi dan menutup ruangan itu.
"Ratri mari kita ke pohon yang rindang itu." Kedua perempuan itu menuju tempat pemuda berdada bidang
"Siapa sebenarnya kau." Tanya macan betina waktu tiba di dekat pemuda berdada bidang.
"Seperti tuanku putri mengetahui, aku adalah anak buah Lurah Singalangu." Jawabnya dengan menggigil.
"Tak usah kau takut kepadaku. Sebab ternyata kau memiliki ilmu yang lumayan."
Macan betina itu memandang dengan nafsu.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja berbuat demikian tuanku putri," Macan betina itu tidak berkata lagi, tetapi langsung menampar muka pemuda berdada bidang. Sengaja pemuda ini tidak
membalas untuk memberi hati, sebab kalau macan itu kalap dan mengadukan kepada Singalangu. nasibnya akan berbahaya.
"Oh." Kata pemuda itu dengan heran. Sedang darah segar meleleh dari mulutnya.
Dengan memandang ia akan menyapu mulutnya. Tetapi dengan cepat macan betina itu menendang, sehingga tangan pemuda tergapai.
"Gila benar perempuan setan ini." Pikirnya.
Tiba-tiba saja macan betina itu berjongkok, kemudian dengan pandang sayu ia menyapu mulut pemuda berdada bidang itu dengan kasihnya, sedang Ratri menempelkan tubuhnya yang montok itu pada punggung pemuda berdada bidang itu.
Perbuatan demikian sama sekali tidak diduganya. ia menghela napas panjang, benaknya menjadi tak
keruan. Sebagai laki-laki dewasa terselip rasa gairah, perlakuan itu membangkitkan semangat dan membangun perasaan yang terpendam.
Tetapi ia tidak ubahnya bagaikan
berpijak di atas duri yang berbisa, yang sewaktu-waktu dapat menggores tubuhnya.
"Jangan tuanku putri berbuat demikian."
"Siapa yang melarang aku?"
"Ki Lurah."
"Salahmu mengapa kau mendorong si tukang kuntit itu."
"Akupun tidak sengaja. Kalau kau menolak aku akan berteriak dan kalau kakang Singalangu kemari akan kukatakan bahwa kau menggodaku."
Hati pemuda itu berontak karena mendapat perlakuan yang tidak pantas. Baginya perbuatan demikian adalah pengkhianatan. Tetapi ia dalam keadaan serba sulit, kalau ia
mau diperlakukan sebagai gula-gula hal itu adalah suatu dosa, lebih-lebih kalau Singalangu sampai mengetahui tentu saja ia akan mendapat hukuman.
Sebaliknya kalau ia menolak permintaan macan betina itu salah-salah ia akan mengalami nasib yang lebih buruk. Ia mengetahui mulut perempuan itu adalah selalu dipercaya oleh Lurahnya.
Macan betina adalah seorang yang cukup mempunyai pengalaman pada jaman jayanya. Melihat tanggapan yang serba sulit itu, ia tersenyum mengulum sambil membelai rambut pemuda itu.
"Kau tidak usah takut, dan tidak perlu mempersulit diri."
Pemuda berdada bidang tidak menjawab. Ia telah menumpahkan segala cinta dan janjinya kepada seorang gadis mana mungkin dapat menerima permintaan yang baginya
adalah tabu.
"Aku tidak akan memilikimu untuk selamanya. Hanya saja selama aku
membutuhkan seperti petunjuk yang diberikan oleh sesembahan kepercayaanku."
"Dan kali ini sesembahan tuan putri memerintahkan?"
"Tanyakan kepada adikku Ratri."
Pemuda berdada bidang itu menoleh kepada perempuan yang masih saja menempelkan tubuhnya, seperti menempelkan sebuah patung pada dinding tembok
__ADS_1
dimana patung itu akan didirikan.
Perempuan itu mengangguk dengan senyum dan menyipitkan matanya.
"Benar-benar sudah gila." Pikir pemuda itu.
"Bagaimana kau masih berkeberatan?"
"Adakah pemujaan tuan putri sudah membisikkan?" Pemuda itu kembali
bertanya.
"Malam nanti ia akan membisikkan demikian kekasih."
"Baiklah esok pagi aku melayani tuan putri."
"Nah. Demikian itu laki-laki namanya." Habis berkata demikian kembali macan betina itu menyapu bibir pemuda berdada bidang yang terlekat bekas darah. Ia merundukkan kepalanya. Demikian kira-kira setengah jengkal dari pipi pemuda ku.
Pemuda itu berusaha mengelak, karena ia mengetahui jalan napas macan betina itu bergolak keras menekan.
"Bagus!! Bagus Jangan layani dia anak muda. Kau akan disengatnya."
Sebuah ucapan dari balik dinding. Perempuan itu terperanjat waktu ia menoleh dilihatnya Uling Bangah dan Welut Kuning membungkukkan badannya menghormat.
"Maafkan aku tuan putri." Kata Uling Bangah. Kepada Uling Bangah, macan betina itu agak segan segan
"Apa maksudmu tuan-tuan??" Tanya macan betina.
"Dari ruang pemujaan aku kemari, karena terasa panas. Ampuni kalau aku mengganggu."
"Tidak! Sama sekali tidak, aku hanya menyapu darah yang mengalir dari mulutnya karena kukemplang tadi."
"Ooooh kusangka ....."
"Main gila maksudmu?" Bentak macan betina geram. Kedua tamu itu tidak menjawab, tetapi memberi hormat.
"Tidak usah kau berlagak menghormati aku, sedang hatimu menyumpahi."
Macan betina itu diam sejenak. Keningnya berkerut, kemudian sambungnya, "Di sini hanya ada kita."
"Baik. Asal kita saling mengerti." Jawab Uling cepat.
"Kau akan memeras."
Uling Bangah menggelengkan kepala. Sedang Welut Kuning mengerlingkan matanya kepada Ratri yang hatinya agak tersentuh dan merenggangkan tubuhnya.
"Yunda sebaiknya kita melanjutkan pekerjaan."
Sebaiknya begitu, dari pada menghadapi kedua tamu kita."
Habis berkata demikian, kedua macan betina itu pergi melewati jalan di dekat kedua tamunya. Waktu berpapasan kedua tamu itu membungkuk hormat, sebaliknya
perempuan itu mengayunkan tangannya menggebug punggung.
__ADS_1