Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Peringatan yang tak dihiraukan


__ADS_3

Sudah selusin kali, belum termasuk setiap kali selalu saja ketinggalan."


"Aku tidak mengerti mengapa selama ini apa yang ada dalam tas tidak hilang semua?" Jimmy menyeletuk.


"Persoalannya adalah - bagaimana agar kita dapat masuk ke dalam?" Mildred membuka suara. Mildred adalah gadis yang bijaksana, yang selalu langsung menuju pokok permasalahan walaupun ia tidak secantik Pat yang impulsif dan ribut. Keempatnya kehilangan akal menghadapi pintu flat yang tertutup. "Apakah portir tidak bisa membantu?" Jimmy mengusulkan.


"Tidakkah ia punya kunci induk atau semacamnya?" Pat menggeleng.


Hanya ada dua kunci. Satu di dalam flat, tergantung di dapur. Sedangkan satunya ada - atau seharusnya ada - di dalam tas yang sialan itu.


"Kalau saja flat ini di lantai dasar," Pat meratap.


"Kita bisa menjebol jendela atau apa. Donovan, maukah engkau masuk ke dalam flat melalui pipa saluran air atau tembok seperti kucing?" Dengan tegas tapi sopan Donovan menolak.


"Flat di lantai empat memang agak menyulitkan," kata Jimmy.


"Bagaimana dengan tangga penyelamat kebakaran?" Donovan mengusulkan.


"Tidak ada."


"Seharusnya ada," sergah Jimmy.


"Gedung berlantai lima harus mempunyai tangga penyelamat kalau terjadi kebakaran."


"Harusnya begitu," Pat menanggapi.


"Tapi, apa yang mestinya ada tidak menolong kita saat ini. Bagaimana aku bisa masuk ke flat-ku?"


"Tidak adakah sejenis, apa itu?" kata Donovan.


"Yang dipakai para penjual sayur untuk menaikkan belanjaan ke dalam?"


"Lift servis," sahut Pat.


"Ada, tapi cuma sejenis keranjang berkabel Tunggu - aku tahu. Bagaimana dengan lift untuk menaikkan batu bara?"


"Nah," seru Donovan,

__ADS_1


"ini baru ide!" Mildred mengemukakan saran yang mengecilkan hati.


"Tapi pintu dapur Pat pasti dipalang dari dalam, ya kan?" Pemikiran ini langsung ditolak.


"Mana Mungkin?" kata Donovan.


"Tidak, kalau pintu dapur Pat," tambah Jimmy.


"Pat tidak pernah mengunci maupun memalang apa-apa."


"Ya, kukira aku tidak memalang pintu dapur," Pat membuka suara.


"Pagi tadi aku mengeluarkan keranjang sampah dan aku yakin aku tidak memalangnya sesudah itu dan rasanya aku tidak lewat tempat itu lagi."


"Well," kata Donovan,


"kenyataan ini berguna sekali bagi kita malam ini. Meskipun begitu, Pat, kukatakan kepadamu bahwa kebiasaan menyepelekan seperti ini membuatmu menjadi sasaran pencuri - bukan cuma kucing - setiap malam." Peringatan ini tidak dihiraukan.


"Ayolah," serunya.


Ada keranjang sampah di situ. Dengan hati-hati Donovan mengangkat keranjang sampah itu lalu melangkah ke dalam lift. Dikernyitkannya hidungnya.


"Agak menjijikkan," katanya.


"Tapi, tak apalah. Apakah aku pergi sendirian, atau ada yang menemaniku?"


"Aku ikut," sahut Jimmy. Ia melangkah ke sisi Donovan.


"Moga-moga lift ini kuat menahanku," katanya ragu-ragu.


"Pasti engkau tidak lebih berat daripada satu ton batu bara," ujar Pat.


"Sebentar lagi kita akan segera tahu," kata Donovan riang seraya menarik tali lift. Diiringi bunyi kerekan berciut-ciut keduanya menghilang dari pandangan.


"Lift ini mengeluarkan bunyi yang aneh," Jimmy berkata sewaktu mereka naik melintasi kegelapan.


"Apa pikir orang-orang di flat lainnya?"

__ADS_1


"Hantu atau pencuri, kuharap," jawab Donovan.


"Menarik tali lift ini pekerjaan yang berat. Tugas portir Friars Mansions itu ternyata lebih berat daripada yang kuduga. Jimmy apakah engkau menghitung sekarang sudah sampai lantai berapa?"


"Astaga! Tidak. Aku lupa."


"Untunglah aku menghitungnya. Lantai ketiga yang kita lewati sekarang. Berikutnya tujuan kita."


"Sekarang," gerutu Jimmy,


"jangan-jangan Pat memalang pintunya." Kekhawatiran ini tidak menjadi kenyataan. Dengan satu sentuhan pintu kayu itu terbuka. Keduanya melangkah ke dalam dapur Pat yang gelap-gulita.


"Seharusnya kita bawa senter tadi," kata Donovan.


"Aku kan tahu sifat Pat. Semua barangnya berceceran di lantai dan kita akan menabrak barang-barang sebelum aku mencapai tombol lampu. Jangan bergerak ke mana-mana sampai lampu kunyalakan, Jimmy." Dengan hati-hati ia berjalan sambil meraba-raba.


"Sialan!", gerutunya dengan keras ketika sudut meja dapur menyenggol tulang rusuknya. Ia mencapai tombol lampu. Sebentar kemudian terdengar lagi umpatan "Sialan!" dari kegelapan. "Ada apa?" tanya Jimmy. "Lampunya tidak menyala. Mungkin bola lampunya mati. Tunggu sebentar. Akan kuhidupkan lampu ruang duduk." Ruang duduk adalah ruangan yang pintunya persis di sisi seberang. Jimmy mendengar Donovan keluar dari pintu sambil menyumpah-nyumpah. Jimmy sendiri dengan hati-hati berjalan miring melintasi dapur. "Ada apa?" "Aku tidak tahu. Pada malam hari ruangan-ruangan menjadi seperti disihir, aku yakin ini. Rasanya semuanya porak-poranda. Kursi dan meja ada di tempat yang tidak semestinya. Oh, persetan! Ini lagi!" Akan tetapi, pada saat itu secara kebetulan Jimmy menyentuh tombol listrik dan menekannya ke bawah. Menit berikutnya kedua pemuda itu saling berpandangan dalam keheningan yang menakutkan. Ruangan itu bukanlah kamar duduk Pat Mereka telah salah masuk. Pertama-tama, ruangan itu jauh lebih sesak daripada ruang duduk Pat. Tak heran jika tadi Donovan berulang kali menabrak kursi dan meja. Di tengah ruangan terletak meja bundar yang besar, tertutup kain wol tebal. Ada tanaman aspidistra di jendela. Kedua laki-laki itu yakin bahwa ruangan itu adalah milik seseorang yang eksentrik. Dalam kebisuan yang menyeramkan keduanya melihat ke meja yang di atasnya tergeletak setumpuk surat. "Nyonya Ernestine Grant," Donovan menarik napas, mengambil surat-surat itu dan membaca namanya. "Ya ampun! Kaupikir dia mendengar kita?" "Ajaib kalau ia tidak mendengarmu," sahut Jimmy. "Bagaimana dengan sumpah serapahmu dan caramu menabrak perabotan" Demi Tuhan! Ayo kita cepat-cepat keluar dari tempat ini." Buru-buru mereka mematikan lampu dan berjingkat-jingkat menyusuri langkah mereka tadi. Jimmy menarik napas lega ketika mereka telah mencapai lift itu tanpa insiden lebih lanjut. "Aku sungguh-sungguh suka wanita yang tidurnya nyenyak," katanya lega. "Nyonya Ernestine Grant punya kelebihan-kelebihan tersendiri." "Sekarang aku tahu," celetuk Donovan, "mengapa kita salah, dalam menghitung lantai maksudku. Tadi kita naik dari ruangan bawah tanah." *** Donovan menghela tali dan lift melaju naik. "Kali ini kita tidak keliru lagi." "Dengan sepenuh hati aku harap demikian," Jimmy menimpali. Kembali kegelapan menyergap sekeliling mereka.


"Saraf-sarafku tidak tahan lagi mengalami kejutan seperti tadi." Tidak ada lagi ketegangan. Begitu lampu dinyalakan mereka langsung melihat dapur Pat. Kemudian mereka membuka pintu depan serta mempersilakan kedua gadis yang menunggu di luar itu masuk.


"Kalian lama sekali," Pat menggerutu. "Aku dan Mildred menunggu sampai lama sekali." "Kami baru saja bertualang," kata Donovan.


"Bisa-bisa kami diseret ke kantor polisi sebagai penjahat berbahaya." Pat telah berlalu, masuk ke ruang duduk, menyalakan lampu, dan menjatuhkan selendangnya ke sofa. Dengan penuh minat dan semangat ia mendengarkan laporan petualangan Donovan.


"Syukur engkau tidak tertangkap basah," komentar Pat.


"Orang tua itu buruk perangainya. Pagi tadi aku mendapat pesan darinya. Dia ingin bertemu denganku kapan-kapan. Ada yang ingin ia keluhkan - pianoku, kukira. Orang yang tidak suka mendengar suara piano seharusnya tidak tinggal di flat. Donovan, tanganmu terluka. Kena darah semua. Basuhlah di bawah kran." Donovan melihat tangannya dengan terperanjat. Segera ia keluar dari ruangan itu dan memanggil Jimmy.


"Halo," sahut Jimmy.


"Bagaimana" Engkau tidak luka parah, kan?"


"Aku tidak luka sama sekali." Ada yang aneh dalam suara Donovan sehingga Jimmy menatapnya dengan terkejut. Donovan mengulurkan tangannya yang sudah bersih dibasuh. Jimmy melihat tidak ada luka ataupun goresan sedikit pun.


"Aneh sekali," kata Jimmy seraya mengerutkan dahi.


"Darahnya banyak sekali. Dan mana darah itu?"

__ADS_1


__ADS_2