Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Di kamar dengan Dua Laki-laki


__ADS_3

"Tidak! Aku tidak melihatnya! Lihat saja aku baru saja selesai mandi!"jawab Dito sedikit keras, karena dia kesal, privasinya jadi terganggu.


"Ma'af jika anda terganggu! Kami permisi!" kata salah satu diantara orang-orang yang ada di luar kamar.


"Hm...!" Dito hanya berdehem saja da dia kemudian menutup dan mengunci kembali pintu kamarnya.


Pemuda yang hanya memakai selembar handuk, yang mana handuk itu dililitkan untuk menutupi bagian sensitifnya.


"Huft, ada-ada saja!" gumam Dito yang kemudian dia menghela napasnya yang lumayan panjang.


Kemudian Dito melangkahkan kakinya menuju ke lemarinya, karena dia akan mengambil pakaian gantinya.


Pada saat Dito sudah berada di depan lemari kayu miliknya, kemudian dia membuka Lemari pakaiannya itu.


"Klek....!"


"Hah...!"


Betapa terkejutnya dia melihat Rani, gadis berkacamata yang duduk sebangku dengannya itu, pada saat ini berada di dalam lemari.


"Rani..!" panggil Dito yang masih saja terkejut.


"Ah, Di...dito!" seru Rani yang tak kalah terkejutnya.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Dito yang penasaran..


"A..aku, sebentar aku ceritakan, aku harus keluar dulu." kata Rani yang berusaha keluar dari lemari.Tapi karena sempit, lemari mau ambruk menimpa mereka.


"Brukkl....!’"


Dengan reflek Rani memeluk Dito dan menarik tubuh Dito kemudian menggulingkan tubuh pemuda itu untuk menjauhi lemari. Tapi sebelumnya Rani sempat menarik kalung Dito dan menggenggamnya erat-erat.


Pada saat ini kedua anak muda yang sedang bergulingan di tanah untuk menghindari lemari yang ambruk itu, kini sudah berhenti dan posisi Dito berada di atas gadis berkacamata itu.


Gadis itu terkejut dan secara reflek Rani mendorong Dito sampai terduduk di depan Rani, dan terang saja handuk yang membalut tubuh area sensitif pemuda itu jadi terlepas terlepas.


"Aahh....!"


Rani menjerit dan refleks memalingkan tubuhnya membelakangi Dito.


Gadis berkacamata itu menggunakan kesempatan tersebut untuk menyimpan kalung dalam tasnya. Kemudian dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Dengan cepat Dito melilitkan kembali tubuhnya dengan selembar handuknya itu.


Mendengar suara gaduh dan jeritan itu, seseorang berusaha untuk membuka pintu kamar Dito.


"Dukk....dukk....!"


"Drakk...!"


Rani dan Dito seketika itu terkejut dan mereka melihat siapakah yang datang itu.


"Rani, Dito....! apa yang kalian lakukan!” seru seseorang laki yg yang melangkahkan kakinya dan menghampiri Dito yang telah bangkit berdiri.


Kemudian laki-laki itu mendorong Dito yang telah membalutkan handuknya dan kembali pemuda otu mundur beberapa langkah.


Laki-laki itu menghampiri Rani yang masih menutupi wajahnya.


"Rani...! ini Saga" kata Laki-laki itu lembut yang tak lain adalah Sersan Saga.


"Sersan..!" kata Rani saat membuka matanya dan langsung memeluk Sersan Saga, entah apa yang berkecamuk dalam dada gadis itu.


Rani terisak mana kala gadis itu mengingat Dia harus berguling-guling dengan Dito yang tanpa baju, demi sebuah kalung yang berliontin kunci.


Sementara itu Sersan Saga kaget karena Rani tiba-tiba memeluknya. Dia membiarkan sampai Rani daoat tenang kembali.


"Huft! Baru saja hatiku senang sekali saat bersama Rani, kenapa juga Saga ada disini?" gerutu Dito pada saat hendak menutup kamar mandinya PM, dan melihat Rani dan Sersan Saga yang masih berpelukan.


Pemuda itu menutup pintu kamar mandinya dengan kesal dan kemudian dia memakai pakaiannya.


Selesai memakai pakaiannya, Dito segera keluar dari kamar mandi. Dan pada saat itu Dito melihat Sersan Saga membantu Rani berdiri dan menghapus air mata gadis berkacamata itu.


"Rani, kacamata kamu pecah!" bisik Sersan Saga pada saat mendapati kacamata Rani yang pecah.


"Saya ada cadangannya kok dirumah" kata Rani yang berharap Sersan Saga agar tidak khawatir.


"Hm..hm..! sudah belum mesra-mesraannya. Ini kamar orang, mengganggu privasi aku saja!" seru Dito yang tampak sekali kesal.


"Diam...!" bentak Sersan Saga.


"Sudah nggak apa-apa Sersan, lebih baik kita pergi dari sini." kata Rani menarik tangan Sersan Saga untuk pergi dari kamar Dito, karena Rani melihat suasana hati Sersan Saga sedang kurang nyaman.


Setelah Rani dan Sersan Saga melangkah pergi, Dito segera menutup pintu kamarnya dengan hati kesal. Terlihat sekali kalau pemuda itu sangat cemburu, tapi apalah daya dia tak akan mampu mengalahkan Sersan Saga. Apalagi mana mungkin Rani akan menyukainya yang masih sekolah dan belum punya penghasilan.

__ADS_1


Berbanding jauh dengan sersan Saga yang tampan, punya kerjaan dan juga seperti sayang pada Rani.


Sementara itu Rani dan Sersan Saga, melangkahkan kaki mereka menuju kamar Dio dan mendapati Bella masih berada di kamar Dio.


"Cupu..cupu...lagi! kenapa sih dimana-mana ada Cupu!" seru Bella yang geram.


Sersan Saga dan Rani tak memperhatikan omongan Bella, mereka tetap melangkahkan kaki menemui Dio.


Tiba-tiba ini saja Bella menarik tangan kanan Rani.


"Jangan dekati Dio! menjauhlah kau, dasar cupu!' seru Bella sedikit mendorong Rani.


"Kenapa? kami takut ya kalau Dio suka sama aku? berarti kita selevel dong. Sama-sama Cupu!" seru Rani yang berhasil membungkam Bella.


Bella membelalakkan kedua matanya, dia tak percaya kalau gadis cupu itu bisa membungkam dirinya melalui omongan gadis berkaca mata itu.


Sersan Saga dan Dio berpandangan, tak menyangka Rani si cupu bisa melawan Bella si cerewet yang bertingkah sesukanya itu.


Merasa usahanya gagal, Bella berusaha menampar Rani. Namun sebelum tangan Bella mendarat dipipi Rani, tangan Sersan Saga segera menangkapnya.


"Jangan sekali-kali membulli atau memukul Rani, maka akan berhadapan dennganku!" Ancam Sersan Saga yang menatap Bella dengan tajam.


"A. Apa? Apa kau suka sama gadis cupu ini?" tanya Bella yang sangat terkejut dengan sikap Seran Saga padanya.


"Itu bukan urusan kamu, Bella!" seru Sersan Saga yang menarik Rani untuk kembali berada disampingnya.


"Dio kami pulang, jaga kondisi kamu jangan lupa minum obatnya." lanjut pamit Sersan Saga yang kemudian dia menggenggam tangan Rani dan keduanya melangkah kan kaki keluar dari kamar Dio.


Tanpa sadar, jari tangan Dio mengepal di bawah selimutnya. Ada perasaan aneh yang berkecamuk didadanya. Seperti tidak rela melihat Sersan Saga menggandeng Rani.


Sementara itu Rani dan Sersan Saga sudah naik sepeda motor, kemudian mereka meninggalkan markas geng kobra yang menjadi rumah kediaman Baskoro si ketua geng kobra. Dan kini jelaslah kalau Dio itu benar-benar anak Baskoro.


"Lantas kenapa Dito juga ada disana? Apa dia saudara Dio, ataukah anak pembantu mereka?" gumam dalam hati Rani yang penasaran sekali, karena kamar Dito tak semewah kamar Dio.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2