Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Hukuman Untuk Arya dan Rani


__ADS_3

Namun Sersan Saga menarik lengan Rani, mengakibatkan gadis itu jatuh ke pelukannya dan Sersan Saga mematikan Lampu senter yang sedari tadi menyala. Rupanya Sersan Saga sudah tak bisa mengendalikan nafsunya. Dia mencium kening dan turun ke pipi gadis pujaannya itu.


Rani berusaha melepaskan dirinya dari pelukan dan ciuman Sersan Saga.


"Aduh! dia lagi kumat, cara apa ya supaya bisa lepas darinya ya? ah..iya....!" gumam Rani dalam hati yang kemudian menemukan bagaimana cara membebaskan diri dari nafsu Sersan Saga.


"Bukk...!''


"Aaargghh....!"


Tiba-tiba terdengar jeritan kesakitan dari Sersan Saga.


"Aghh....! apa lagi kejahilanmu Rani!" seru Sersan Saga yang kemudian melepaskan pelukannya pada Rani, berganti memegang kakinya yang di injak oleh Rani.


Ternyata Rani menginjak kaki Sersan Saga untuk melepaskan dirinya dari pelukan dan ciuman dari kekasihnya itu.


"Eh, Maaf kak....! maafkan rani...!" kata gadis itu sambil mundur beberapa langkah agar menjauh dari Sersan Saga.


"Kamu mau main-main ya? baik kakak mau berbuat lebih dari tadi!" ancam Sersan Saga.


"Apa? Rani nggak mauuu....!' seru Rani sambil berlari menembus malam yang hanya di terangi sinar bulan menuju ke pintu pagar perguruan Darma Putih.


Sersan Saga segera menyalakan lampu senternya dan mengejar Rani yang sudah hilang dari pandangannya.


"Rani awas kau!! Ran.i, Ran.....!" seru Sersan Saga yang berlari dan masuk ke halaman perguruan, Darma putih.


Tak berapa lama Rani pun terkejar dan keduanya melangkahkan kaki mereka menuju ke arah pintu gerbang perguruan Darma putih. Rani dan Sersan Saga berjalan beriringan melintasi halaman perguruan yang ditumbuhi rumput yang menghijau.


Tak melanjutkan seruannya karena di lihatnya semua orang berkumpul di halaman.


Sesampainya depan di teras perguruan Darma putih, semua murid berkumpul dan semua keluarga beserta Nenek Lasmi dan ketiga cucunya.


Rani melihat Arya teman seperguruannya yang sedang di hukum lari mengelilingi lapangan oleh kakeknya.


"Kakek...!" panggil Rani.


"Rani...!" balas Kakek Darma yang terkejut dengan kehadiran Rani.


"Itu kenapa cuma Arya yang di hukum? Seharusnya Rani juga di hukum kek...!" seru Rani yang merasa bersalah atas hukuman yang diterima oleh Arya..


"Untuk apa aku menghukum kamu?" tanya Kakek Darma yang merasa aneh akan sikap cucunya yang baru tiba dari menghilangnya itu.

__ADS_1


"Sejak kecil Rani sering memetik bunga mawar putih milik kakek. Hanya kakek saja yang tidak tahu!" ungkap Rani dengan jujur.


"Hah? untuk apa kau petik mawar putih kakek?" tanya Kakek Darma yang penasaran.


"Mawar itu Rani kasihkan ke Guru olah raga Rani." jawab Rani sambil menundukkan kepalanya.


"Kamu...! berani pacaran!" hardik kakek Darma yang nampak kesal.


"Bukan pacaran kakek. Cuma untuk ucapan terima kasih pada pak guru yang membimbing Rani, saat ikut lomba. Bunga mawar putih itu di gunakan pak guru buat mengungkapkan perasaan pak guru olah raga sama ibu guru bahasa Inggris Rani waktu Sekolah menengah Pertama kek, Yuda dan Nando saksinya!" jelas Rani.


"Eh, kenapa kami dibawa-bawa?" gerutu Yuda yang sedari tadi diam menyaksikan semuanya yang sedang mengobrol.


"Biarin....! kenyataannya memang benar demikian! Wekk...!" seru Rani seraya menjulurkan lidahnya.


Tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri Rani dan menatap gadis itu dengan rasa khawatir.


"Rani dari mana saja kamu? baju kamu basah kuyup begitu?" tanya mama Lani khawatir melihat kondisi anak perempuannya.


"Tidak apa-apa kok Ma, cuma ngrasain dinginnya air terjun saja." jawab Rani seraya mengulas senyumnya.


"Tapi sepertinya pakaian kamu basah kuyup?" tanya Nyonya Rani yang khawatir.


"Rani...!" panggil Sersan Saga dengan sedikit menggerutu dan menatap Rani dengan tajam.


"Eh,Kakek...! Rani ikut lari saja. Rani nggak mau di hukum sama kak Saga!" seru Rani yang terus berlari mengikuti Arya.


"Rani....! apa-apaan kamu! hukuman kamu bukan lari!" seru kakek Darma yang melihat cucunya berlari mengikuti Arya.


"Lantas apa kek?" tanya Rani yang terus memberhentikan langkahnya.


"Melawan semua murid kakek tanpa kerikil! ingat kamu hanya melumpuhkan, tidak membuat luka berdarah maupun mati. Karena kakek nggak mau ada masalah di kemudian hari!" perintah kakek Darma.


"Nggak boleh pake kerikil? Kakek, kemampuan Rani kan hanya mengandalkan kerikil!" keluh Rani.


"Cerewet...cepat lakukan.....!" seru kakek Darma dengan geram.


"Kakek, selama ini Rani jika mengalahkan lawannya dalam jumlah banyak dengan kerikil. Jika tidak pakai kerikil? mana mungkin bisa?" tanya Raditya yang sedari tadi juga diam tapi sekarang dia mengkhawatirkan adiknya itu.


"Tenang saja, biarkan dia memikirkan pemecahannya sendiri. Kakek ingin tahu kemampuannya sekarang, agar kakek yakin jika mengirimnya masuk dalam turnamen nanti." jelas Kekek Darma yang terus mengawasi sikap Rani.


Sersan Saga juga tak kalah khawatirnya, walaupun sedikit kesal dengan gadis itu.

__ADS_1


"Nona Rani...! tongkat...!" seru suara dari dalam liontin kalung Rani, dan gadis itu teringat kalau dia punya liontin kalung pusaka.


"Oh iya, tanpa kerikil, Rani kan bisa pakai tongkat. Dengan tongkat juga bisa melumpuhkan lawan! Terima kasih Kity!" gumam dalam hati Rani, yang sambil tersenyum.


Rani segera berjalan ke tengah halaman dan teman-teman seperguruan Rani pun bergegas membuat lingkaran mengelilinginya.


"Sebelumnya Rani minta maaf bila ada yang terluka nantinya." ucap Rani yang kemudian melepaskan kalungnya dan memegang liontin kalung pusaka itu.


"Kalung pusaka bantu Rani ya.!" kata Rani lirih.


"Tongkat panjang....!" teriak Rani, maka jadilah tongkat sepanjang empat meter.


"Hei, kamu bercanda ya liontin? ini galah namanya? terlalu panjang, Rani belum menguasainya," kata Rani lirih dan nampak kerepotan dalam memegang galah itu.


Sementara itu yang lain tercengang melihat pusaka Rani yang muncul secara tiba-tiba.


"Apa itu?" tanya Arya yang berhenti dari larinya karena penasaran dengan batang bambu di tangan Rani.


"Kenapa tiba-tiba ada galah ditangan Rani?" tanya tuan Wibowo yang mewakili nyonya Rani dan yang lainnya.


"Adik tua apa kamu pernah lihat tongkat sepanjang itu?" tanya Raditya yang penasaran setelah menghampiri Sersan Saga.


"Belum pernah!" jawab Sersan Saga yang juga penasaran.


"Kenapa bisa muncul secara tiba-tiba begitu?" tanya Raditya yang mengernyitkan kedua alisnya.


"Entahlah! Apakah mungkin kalung pusaka itu sudah menyatu dengan Rani ya?" ucap Sersan Saga yang balik bertanya.


"Yang aku dengar setiap benda pusaka itu ada penunggunya. Apakah mungkin penunggu kalung pusaka itu sedang menunjukan kebolehannya." jawab Raditya yang menduga-duga dan terus memperhatikan ke arah perkelahian antara Rani dan para murid perguruan Darma putih.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2