
Sesudah kejadian yang menegangkan malam itu, Rani tidur lelap. Persis sebelum pukul 13.00, sewaktu Rani masuk ke ruang duduk, Rani terkejut melihat Komisaris Saga bersandar di kursi. K
otak dari Cina itu terbuka di sebelahnya dan dengan tenangnya ia membaca surat yang diambilnya dari kotak itu. Komisaris Saga tersenyum mesra kepada Rani lalu menepuk surat yang dipegangnya.
"Dia betul, Lady Millicent, maksudku. Tidak akan pernah Duke memaafkan surat ini. Isinya beberapa ungkapan kasih sayang yang paling mesra yang pernah kubaca."
"Oh, Komisaris Saga," kata Rani dengan muak. "Kukira tidak seharusnya engkau membaca surat itu. Hal semacam ini tidak biasa dilakukan orang."
"Sudah dilakukan oleh Hercule Komisaris Saga," sahutnya tenang sekali.
"Dan hal lain lagi," Rani melanjutkan,
"memakai kartu resmi Inspektur Alex kemarin sungguh bukan main-main."
"Tapi Rani memang tidak main-main, Rani. Rani sedang menyelidiki satu kasus." Rani mengangkat bahu.
Percuma berdebat soal sudut pandang pribadi.
"Langkah-langkah di tangga," kata Komisaris Saga.
"Itu pasti Lady Millicent." Klien kami yang cantik masuk dengan wajah cemas yang berubah gembira melihat kotak dan surat yang dipegang Komisaris Saga tinggi-tinggi.
"Oh, M. Komisaris Saga! Bukan main hebatnya Anda! Bagaimana Anda mendapatkannya?"
"Dengan cara-cara kurang pantas, milady. Tapi Lavington tidak akan menuntut. Ini surat Anda, kan?" Lady Millicent menatap sekilas.
"Benar. Oh, bagaimana saya harus mengucapkan terima kasih" Anda mengagumkan dan luar biasa. Di mana surat ini disembunyikan?" Komisaris Saga mengisahkan petualangannya.
"Bukan main cerdiknya Anda!" Lady Millicent mengambil kotak itu dari meja.
__ADS_1
"Akan saya simpan kotak ini sebagai kenang-kenangan."
"Milady, saya sudah berharap Anda akan mengizinkan saya untuk menyimpannya, juga sebagai kenang-kenangan."
"Saya akan mengirim kenang-kenangan yang lebih baik daripada ini kepada Anda pada hari pernikahan saya. Saya orang yang tahu berterima kasih, M. Komisaris Saga."
"Bagi saya rasa bahagia dalam melayani Anda lebih berarti daripada selembar cek jadi Anda memperbolehkan saya menyimpan kotak ini?"
"Oh, jangan, M. Komisaris Saga. Saya perlu memiliki benda ini," seru Lady Millicent sambil tertawa. Perempuan itu mengulurkan tangannya, tetapi Komisaris Saga lebih cepat. Kedua tangannya diletakkan di atas kotak itu. "Saya kira tidak," suara Komisaris Saga berubah.
"Apa maksud Anda?" nada bicara Lady Millicent terdengar meninggi.
"Biarkanlah saya menunjukkan isinya lebih lanjut. Anda lihat lubang yang asli sudah dikurangi separuhnya. Di dalam lubang atas terdapat surat yang menarik perhatian itu, di bawah - " Komisaris Saga melakukan gerakan yang cepat, lalu mengulurkan tangannya.
Di telapak tangannya bergemerlapan empat batu permata besar dan dua buah mutiara berwarna putih susu.
"Kawan lama Anda, saya yakin," dengan sopan Komisaris Saga berkata kepada Lady Millicent.
"Tertangkap basah. Demi Tuhan!" Lady Millicent berkata dengan sikap yang berubah seratus delapan puluh derajat.
"Kamu, setan tua yang dingin!" Pandangannya mengandung rasa hormat dan kagum.
"Well, Gertie sayangku," Alex membuka suara, "kali ini permainan sudah berakhir. Bayangkan, bertemu Anda lagi dalam waktu sesingkat ini! Kawan Anda sudah tertangkap juga. Laki-laki yang dulu datang kemari dan mengaku sebagai Lavington. Sedangkan Lavington sendiri, alias Croker, alias Reed, saya ingin tahu anggota komplotan yang mana menikamnya di Belanda. Anda mengira ia membawa barang itu, ya kan"
Ternyata tidak. Dengan cerdik ditipunya Anda disembunyikannya hasil curian itu di rumahnya sendiri. Anda menyuruh dua lakilaki mencari benda itu. Lalu Anda meminta bantuan Komisaris Saga. Dan untungnya, ia menemukan barang-barang itu."
"Anda memang suka bicara, ya kan?" ujar Lady Millicent palsu.
"Tenang saja sekarang. Saya akan pergi tanpa banyak bicara. Kalian tidak bisa bilang bahwa saya bukanlah lady yang sempurna. Selamat tinggal semua!"
__ADS_1
"Sepatunya tidak cocok," Komisaris Sagaris Saga berbicara sambil menerawang sementara Rani masih terheran-heran untuk membuka suara.
"Rani sudah mempelajari kebiasaan orang Inggris. Seorang wanita bangsawan yang sejati benar-benar memperhatikan sepatunya. Pakaiannya bisa saja lusuh, tapi sepatunya pasti bagus. Nah, Lady Millicent yang ini mengenakan pakaian yang mahal-mahal lagi rapi, sedangkan sepatunya sepatu murahan. Rasanya tidak mungkin engkau atau Rani pernah melihat Lady Millicent yang sejati; dia jarang sekali berada di London.
Gadis tadi mirip Lady Millicent. Seperti yang sudah kukatakan, sepatu itulah yang mula-mula membangkitkan rasa curigRani, lalu ceritanya - dan kerudungnya - agak berlebihan, kan"
Kotak buatan Cina dengan surat palsu yang mencurigakan itu pasti sudah diketahui semua anggota komplotan, tapi bongkahan kayu itu adalah gagasan Lavington sendiri. Rani, kuharap engkau tidak melukai perasaanku lagi seperti kemarin dengan mengatakan bahwa Rani tak dikenal oleh kalangan penjahat. Ma foi, bahkan mereka menyewRani pada waktu mereka sendiri gagal!" kata Jenderal Forbes. Jenderal itu berbicara dengan suara antara mendengus dan bersin. Ellie Henderson mencondongkan badannya ke depan. Sehelai rambut kelabunya menyapu wajahnya. Bola matanya yang gelap dan bergerak-gerak bersinar penuh kegembiraan yang menyiratkan niat tidak terpuji.
"Laki-laki yang amat perkasa," katanya dengan keinginan jahat. Kemudian dirapikannya rambutnya ke belakang sambil menanti reaksi atas ucapannya.
"Perkasa!" Jenderal Forbes meledak. Ditarik-tariknya kumis militernya dan wajahnya menjadi merah padam.
"Dia termasuk anggota pasukan pengawal, ya kan?" gumam Nona Henderson untuk menuntaskan rencana yang ada di benaknya.
"Pasukan pengawal" Omong kosong. Dia manggung di gedung kesenian! Ini kenyataan! Dia lalu jadi tentara dan dikirim ke Prancis untuk menghitung plum dan apel. Orang-orang Hun menjatuhkan bom nyasar dan dia pulang dengan tangan terluka. Lalu, kalau tidak salah, dia masuk rumah sakit milik Lady Carrington."
"Jadi, begitulah mereka bertemu."
"Ini kenyataan! Sang pemuda memainkan peran pahlawan yang terluka. Lady Carrington gampang ditipu dan sangat kaya. Carrington tua dulunya bertugas di gudang mesiu. Lady Carrington baru enam bulan menjanda. Pemuda ini langsung menjeratnya. Dengan akal licik Lady Carrington berhasil mendapatkan pekerjaan untuk kekasihnya di markas Angkatan Bersenjata. Kolonel Clapperton! Bah!" dengus Jenderal Forbes.
"Sebelum perang dia manggung di gedung kesenian," kata Nona Henderson seraya merenung; berusaha mencocokkan sosok Kolonel berambut kelabu yang terhormat itu dengan pemain komedi berhidung merah yang menyanyikan lagu-lagu gembira yang merangsang.
"Sungguh!" kata Jenderal Forbes meyakinkan.
"Saya mendengarnya dari Bassingtonfrench tua. Sedangkan dia mendengar kisah ini dari Badger Cotterill tua yang diberitahu Snooks Parker." Nona Henderson mengangguk riang. "Oh begitu!" katanya.
Sebentuk senyuman singkat terlukis di wajah laki-laki bertubuh kecil yang duduk tidak jauh dari keduanya. Nona Henderson menangkap senyuman itu.
Dia memang suka memperhatikan. Senyuman itu menunjukkan penghargaan atas ironi yang mendasari komentar terakhir Nona Henderson - ironi yang sama sekali tidak dicurigai oleh sang Jenderal.
__ADS_1